Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Akhirnya Panen Padi


__ADS_3

Setelah mereka makan, mereka duduk sebentar di ruang depan, tempat mereka biasa makan.


"Som... kita besok akan panen," ucap bu Wati.


Somsi mendongak. "Apa ma, kita akan panen besok?"


Somsi heran, secepat itu mereka akhirnya panen juga. Beberapa hari yang lewat Somsi baru pergi ke sana untuk menyemprot hama yang menyerang biji padi agar tidak menghitam atau terganggu isi padinya.


"Horee, kita akan panen," ucap Friska gembira.


"Iya nak, kita akan panen. Semoga kita dapat banyak padinya. Biar kita jual sebagian dan bisa mencukupi kebutuhan selama seminggu," ucap bu Wati tersenyum. Bu Wati senang sekali, "Ayah kamu sampai sekarang belum bisa berdiri. Sudah capek mama tadi mengajari papamu. Jangankan untuk berdiri, menggerakkan tubuhnya saja masih susah."


Somsi dengan mata berkaca-kaca tidak bisa menghentikan air matanya yang jatuh. "Ma, papa kasihan sekali, hikss....hikss."


Mata sembab terus hadir untuk mengisi setiap bulatan yang mengitari matanya. Ia sedih dan tidak berbuat apa-apa.


"Kamu yang sabar ya nak. Semoga papa kamu bisa secepatnya kembali berjalan normal, seprti biasanya."


"Iya ma."


Somsi mengusap matanya. Menghapus air mata di setiap inci wajahnya.


Wajah yang manis, cantik dan enak di pandang siapa pun yang melihatnya.


Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali ke kamar.


Di dalam kamar, Somsi masih belum tidur. Sedangkan Friska sudah tidur duluan.


Somsi masih memikirkan perjalanan kisah hidupnya. Perjalanan setiap detik, menit dan jam. Perjalanan di mana ia harus menempuh kehidupannya dengan sangat menguji kesabarannya.


Somsi beranjak dari duduknya dan pergi ke luar untuk melihat kalender yang ada di sana.


Wah... besok tanggal 17 agustus 1945. Tapi kami harus merayakan ya di sawah.


Lomba yang sudah di tetapkan berubah tanggal. Presiden Indonesia mengatakan bahwa tidak ada lomba pada tanggal itu. Tapi di tanggal selanjutnya lah akan di adakan lomba.


Somsi juga sangat bersyukur sekali. Ternyata masih ada kesempatan untuknya untuk membantu ibunya panen.


Syukurlah... besok jadi bisa membantu mama di sawah.


Somsi tersenyum saat sudah mengetahui tahap selanjutnya yang akan ia lakukan pada hari itu. Tak lama kemudian matanya terlelap begitu saja. Hening ya malam pun berlangsung pada malam yang dingin itu.


...****************...


Pagi-pagi sekali, tepat jam 05:05. Somsi bangun terlalu cepat. Suara ayam berkokok masih belum terdengar jelas. Palingan cuma satu satu yang terjaga dan berkokok pada pagi itu juga.

__ADS_1


Somsi berkutat dengan bahan masakan. Dia memasak begitu senang tanpa ada beban yang harus ia pikirkan.


Meski hari itu adalah hari yang seharusnya merayakan hari ulang tahun Indonesia, tetap ia masih bisa tersenyum sehingga orang-orang yang melihatnya tidak mengetahui kalau ia sedang banyak masalah.


Somsi juga tidak lupa memasak mie gomak. Tapi ala kadarnya saja. Karena hari ini ia tidak akan berdagang. Hari ini ia hanya ingin memperkenalkan masakannya, agar orang yang nanti memakannya, dapat menilai masakannya.


Semangat yang gigih ia kumpulkan dari semalam. Berharap tidak ada yang menjadi penghalang dan semua berjalan lancar.


3 jam kemudian, tepat jam 07:00, Friska dan bu Wati sudah bangun.


Somsi mengumpulkan semua barang-barang yang akan di bawa ke sawah. Dia tidak mau nanti pada saat mereka memulai, ada yang tertinggal.


"Kakak sudah siap memasak," ucap Friska mengejutkan dirinya.


Friska memeluk Somsi dari belakang. Dia tidak bisa ikut sebelum ia pulang dari sekolah. Karena tidak mungkin ia tidak hadir pada saat jam upacara bendera. Upacara merayakan hari ulang tahun Indonesia.


"Iya dek, gih kamu makan cepat. Nanti kamu terlambat lohh dekku yang syantik."


"He he he he, iya kakak. Gombal deh."


Friska pun hendak pergi ingin makan. Tapi Somsi menghentikannya. "Hei dek! kamu uda siap mandi apa belom?"


"Eh, eh .... belum siap kak," jawab Friska dengan senyum di buat-buat.


"Astaga......."


Friska sendiri baru sadar kalau ia belum mandi. Kalau saja kakaknya tidak mengingatkannya, bisa-bisa ia akan pergi ke sekolah tidak mandi.


Friska belum kali ini saja pergi tidak mandi, ia sering kali pergi tidak mandi, sehingga giginya ada kerak nasi kekuningan, bau mulutnya membuat orang yang menciumnya akan pingsan, bahkan Friska selalu bahan ejekan hanya gara-gara kelupaan ya untuk mandi.


Somsi dan bu Wati sudah siap untuk pergi ke sawah. Somsi sudah menyandang tas plastik, tentunya bukan tas gaya, yah tas biasa yang di bawa pergi ke sawah. Bu Wati juga menyandang tasnya. Tidak lupa bu Wati memberi isi di dalam tas itu berupa sirih dan tembakau.


Sebelum pergi Somsi teringat sesuatu. "Eh, belum permisi pada papa."


Somsi menurunkan dahulu makanan yang sudah ia junjung dari tadi. Ia berlari cepat menuju kamar orang tuanya. Somsi menemukan pak Nius sedang melotot ke atap rumah.


Somsi datang menghampiri pak Nius. Memeluk pak Nius dengan deraian air mata. Tapi ia segera menghapus air matanya agar pak Nius tidak tau kalau ia sedang sedih.


"Pak... hari ini kita panen, mama dan Somsi mau pergi ke sawah. Kami hanya sebentar kali pa."


"Somsi sudah buat makanan untuk papa, siapa tau kalau kami lama pulang, papa bisa makan tanpa harus menunggu kami lagi."


Somsi menyunggingkan senyum pada pak Nius. Kasih sayang ya pada pak Nius tiada tara ya. Sekali lagi ia memeluk pak Nius dalam posisi masih terbaring.


"Pergilah nak. Jangan sedih ya nak kalau papa mu ini belum bisa buat kamu bahagia," ucap pak Nius seketika meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Papa jangan sedih, yaudah Somsi pergi ya pa.."


Somsi akhirnya pergi meninggalkan pak Nius seorang diri di dalam kamar. Ia sedih mendengar perkataan ayahnya barusan. Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan berkata seperti itu.


"Ayo ma, kita pergi cepat. Nanti kita terlambat lagi ma," ucap Somsi pada bu Wati.


"Iya ayok nak."


Mereka pun berangkat menuju sawah yang selama ini mereka tanam bibit padi, sekarang mereka bisa mencapai hasilnya.


Beberapa menit menuju sawah, akhirnya mereka sampai juga.


Somsi segera menurunkan makanan yang ia junjung dari tadi. Ia segera mengganti pakaian ya. Dan segera turun ke sawah dengan memegang alat, yaitu sabit.


"Wah.... padi kita ternyata sangat berisi ma. Dan hama hama tidak sedikit pun mengganggu pertumbuhan padi kita ini ma," ucap Somsi sangat senang.


Dia senang sekali melihat padi mereka yang begitu terawat, merunduk secara bersamaan, sehingga orang yang melihatnya ingin segera menyabit padi tersebut.


"Ha ha ha ha ha, masa sih nak. Kalau mama masih kurang percaya. Mama masih takut sebelum mama melihat hasilnya. Siapa tau ini hanya cantik di dalam."


Ya benar saja, padi yang merunduk belum tentu padinya berisi. Mungkin saja kosong.


"Ahhh tidak mungkin ma, padi kita cantik kok."


Somsi dan bu Wati akhirnya turun dengan semangat menyabit padi itu. Tidak ada keluh kesah meski pinggang mereka sudah encok. Namun di saat mereka begitu fokusnya menyabit padi, Siti dan Bram dan juga Dryver datang mengejutkan mereka.


Baaaaa, kami datang..........


"Aduh pisangnya lagi di masukkan, pada makan kopi," ucap bu Wati latah.


" Ha ha ha ha, tante lucu ya."


Bram tertawa terbahak-bahak melihat bu Wati yang berbicara latah saat terkejut.


"Kalian siapa nak?" ucap bu Wati yang tidak mengenal Bram dan Dryver kecuali Siti.


"Ahh masa sih calon istri aku gak ngasih tau mama mertua," ucap Bram tanpa rasa malu.


Somsi langsung gagap ketakutan bila bu Wati mengatakan sesuatu. Selama ini ia selalu menutupi kalau sedang dekat dengan pria mana pun.


"Calon istri?" ucap bu Wati keras. Bu Wati begitu heran mendengar ucapan Bram. Ia langsung menoleh ke arah Somsi dan menatap tajam mata putrinya itu.


"Apakah itu benar?"


Bersambung.............

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like, dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya yaa😚😚😚


__ADS_2