Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Kencan Pertama


__ADS_3

45 detik kemudian, mereka akhirnya siap makan. Bi Surti datang dan mengembalikan semua piring kotor ke dapur.


Sedangkan Bram langsung meraih tangan Somsi dan membawanya pergi. "Ayo."


"Hei! kok langsung pergi tanpa permisi sama mama," ucap bu Tere kesal.


Bram berteriak sambil berjalan dengan cepat bersama Somsi yang ia pegang erat. "Kami pergi dulu ya ma........"


Bu Tere hanya menggeleng memperhatikan sosok tubuh Bram dan Somsi sampai bayangan mereka sudah melewati pintu.


Somsi menarik tanganya kuat dan membuat Bram harus melepasnya. "Bram, kita mau kemana?" tanya Somsi penasaran.


"Kita mau ke pantai untuk kencan," ucap Bram menyunggingkan senyum. Sangat tampan. Bram dengan badan tinggi dan putih, membuat lawan jenisnya langsung terpikat dengannya. Meski ia berada di desa, tapi ia tidak hitam seperti yang di kira.


Sedangkan Somsi karena terus pergi ke sawah, membuat kulitnya menjadi hitam. Tapi karena Somsi cantik. Jadi, hitam kulitnya berubah jadi manis di pandang mata.


Somsi melongo heran. "Apa ke pantai? untuk apa kita kesana?"


"Harus berapa kali aku katakan, ya untuk kencan lah sayang."


Sayang? bahkan di sini saja kau masih mengatakan sayang padaku? Dasar aneh.


"Bram, berhenti bicara," lirih Somsi dengan wajah sedihnya.


Dari tadi Bram menyuruh Somsi agar segera naik ke kereta motor ya tapi Somsi tak kunjung naik. Motor Bram adalah keluaran terbaru.


Motor terkenal. Motor sport Yamaha.


Somsi mulai meneteskan air matanya seketika. Ntah apa yang sedang di pikirkan oleh Somsi. Bram tidak tau. Yang ia tau hanyalah membawa Somsi untuk kencan dengannya.


Tapi mengapa mata itu meneteskan air matanya dari pemiliknya sendiri. Bram kasihan kepada Somsi, langsung turun dari motornya.


Ntah keberanian apa lagi yang datang pada dirinya. Ia sendiri tidak bisa menahan gejolak yang terjadi padanya. Bram memeluk Somsi. Rasa hangat tubuh Bram yang menjalar terasa bagi Somsi saat mereka berpelukan.


Somsi tidak marah saat Bram memeluknya. Bahkan ia merasa kalau ia pantas menerimanya.


"Bram... kenapa kau membuatku seakan harus berharap padamu, hiks hiks.... hiks," ucap Somsi sambil menangis. Ia sesenggukan saat menangis. Matanya kembali sembab saat air mata jatuh tepat di pipinya.


"Maaf Som... maaf, kalau kau tidak suka," ucap Bram sambil menghapus air mata Somsi dengan tanganya lembut.


Bram kembali memeluk Somsi. Dengan leluasa ia mencium kening Somsi. "Itu tanda kalau kau akan bahagia nanti."


Bram tersenyum melihat Somsi mulai membaik. Ia tidak mengira kalau Somsi bakal menangis karena sesuatu yang telah ia lakukan.


Bram melakukannya tidak untuk main-main. Tapi ia hanya ingin membuat Somsi jatuh cinta padanya. Ia ingin perlahan Somsi jatuh cinta padanya dan memiliki rasa yang utuh tanpa melihat pembuktian ya. Rasa yang di dasarkan dari hati tanpa menunjukkan secara langsung.


"Iya, aku maafin kau Bram. Tapi aku ingin penjelasan dari mu. Kenapa kau memberiku harapan kalau kau akan seutuhnya milikku. Bram aku tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi. Aku tidak mau," jelas Somsi. Air matanya sekarang mengalir deras tiada henti.


Bram meraih dagu Somsi dan menatap mata Somsi yang sembab. "Som... berhenti menangis. Aku tidak bisa melihat mu menangis karna ulahku sendiri. Aku minta maaf Som. Ku mohon jangan menangi lagi."

__ADS_1


Somsi menggeleng dan mendorong Bram. "Kenapa Bram? kenapa aku harus berhenti menangis. Bukankah semua pria senang kalau sedang melihat ku menangis. Hentikan semua drama ini Bram, hentikan, hiks hiks hiks..."


Somsi memukul dada bidang Bram. Badan yang kekar sekarang terkulai lemah. Bram tidak sanggup melihat Somsi menangis.


Tiba-tiba Somsi jatuh terduduk di teras rumah Bram yang beralas keramik itu. Dengan segera Bram menarik tubuh Somsi jatuh ke pelukannya


lagi. Mengelus rambutnya, menghapus air mata yang jatuh ke pelupuk pemiliknya dan berusaha menghibur Somsi bagaimana pun caranya.


"Som.... jangan seperti ini, aku mohon. Percayalah padaku, aku tidak mempermainkan mu."


Rasa bingung yang menimpa hati seorang Bram, membuatnya harus melakukan banyak cara. Salah satunya, ia terpaksa melakukan celukbaa mirip seperti anak kecil lakukan. Tapi tidak ada juga perubahan dari wajah Somsi kalau ia terhibur.


Dengan susah payah Bram memikirkan cara lagi, dia tidak ingin berlama-lama melihat Somsi selalu menangis. Ia pun memanggil tukang bakso keliling, menyuruh tukang bakso itu bernyanyi, tetap saja Somsi belum juga tersenyum.


Apa ya cara untuk membuat Somsi tersenyum lagi? Kalau ia selalu seperti ini, kapan kami kencannya coba.


Bram berpikirlah sesuatu.


Bram bingung sekali, semakin lama Somsi semakin memperkeras suaranya. Apa yang harus aku lakukan? Ya ide ini pasti lolos. Bukan ya waktu itu Somsi langsung menyetujui semua yang aku katakan kalau sudah mengatakan ya.


Ya itu cara yang terbaik.


Bram tersenyum smirk, ia akan melakukan rencana yang sudah ia bangun itu. Dengan berat hati ia akan melakukan ya. Terpaksa, agar Somsi mau menurut padanya.


"Som, kalau kau belum juga diam, jangan salahkan aku jika berbuat sesuatu yang tak pernah kau kira dan lakukan selama ini," ancam Bram.


"Hei, apa yang mau kau lakukan ha! jangan mendekat! atau aku memukul mu! dasar buaya darat gak tau diri," kecam Somsi.


"Berhenti menggodaku Bram!" ucap Somsi yang sudah menyeimbangkan perasaan ya. Dari tadi ia menangis, karena ulah Bram ia berhenti, ia tidak mau Bram merebut ciuman pertama ya. Yang akan mengambilnya adalah hanya seseorang yang sangat ia cintai. Selebihnya tidak ada yang boleh menyentuhnya, termasuk Bram.


Ciaelah .... siapa juga yang mau mencium mu. Kau kan harus di buat seperti ini. Kalau tidak kau akan menangis seharian, aku juga yang repot. Apa lagi aku dikerumuni oleh tetangga lagi. Kalau saja mereka tau, image yang ku jaga sampai tahap ini bisa hilang hanya gara-gara kamu.


Gerutu Bram membawa ya ke dalam hayalan. Hayalan dimana para tetangga ya datang untuk melemparinya dan menghinanya. Sungguh tidak ia inginkan selama ini.


Somsi yang melihat Bram diam tak bergeming, ia pun menyadarkan Bram agar cepat sadar.


"Bram.... kenapa kau jadi bengong?" ucap Somsi sambil menggoyangkan tubuh Bram.


"Eh, a-aku pilot, apa Som, kenapa?" tanya Bram terbata.


Somsi tersenyum. "Ha ha ha ha ha ha, kau lucu Bram, kau sangat menghiburku dengan wajah lucu mu tadi."


Iyakah kau terhibur, lalu untuk apa lagi kita berlama disini. Cepat Som... aku sudah tidak sabar lagi.


"Som... apa kau mau ikut kencan bersama ku?" tanya Bram dengan sangat lembut.


Somsi melongo heran. Kenapa ia bertingkah selucu ini sih.


"Iya Bram."

__ADS_1


Eh kok iya sih, mati lah aku.... kenapa aku mengatakan iya sih.


Dengan sigap Bram menarik tangan Somsi sambil memeluknya lagi. "Terima kasih Som," ucapnya senang. "Aku tidak akan membuat mu kecewa." Sambungnya lagi.


Terlihat dari sorot matanya yang senang melihat Somsi menganguk. Ia pun menyuruh Somsi segera naik ke motor ya.


Somsi hanya menurut saja.


"Kamu sudah siap Som? pegang yang erat-erat!" ucap Bram seketika dan melajukan gasnya dengan cepat. "Pegang pinggang saya Som.... ha ha ha ha ha ha ha."


Kesempatan.


"Gak ah gak mau," ucap Somsi lantang.


"Kalau gak mau, lihat saja yang akan aku lakukan."


Bram menambah gas motornya membuat sekujur tubuh Somsi berubah menjadi keringat dingin. Tangan ya juga bergetar, tapi tetap tidak mau memegang pinggang Bram.


Dengan sengaja Bram pun merem motornya.


Sehingga Somsi takut dan memeluk Bram dari belakang.


Bram tersenyum licik seorang diri. Ha ha ha ha ha ha, rasain.


Kik... Kik.....


Suara klakson mobil dari belakang mereka.


Pemilik mobil itu turun dengan wajah seramnya dan langsung memarahi Bram dan Somsi karena di tengah jalan mereka ngebut.


"Kalau bawa motor tuh hati-hati! Seperti jalan ini punya mama bapak kau!" ucap bapak-bapak yang memakai kaca mata. Badannya pendek, gemuk, hitam, dekil hidup lagi.


Sungguh meresahkan melihat tubuhnya yang super jelek di mata semua orang.


Bram menyatukan tanganya sambil menunduk sopan tanda ia memohon ampun. "Maaf pak, kami salah."


"Oke! sekali lagi jangan buat hal seperti ini! kalau kalian masih saja aku lihat membuat onar di tengah jalan, saya akan laporkan kalian."


Bapak itu memasuki mobilnya. Segera Bram memakinya setelah pergi. "Dasar bapak tua jelek."


"Ha ha ha ha ha ha ......"


Somsi tertawa terbahak-bahak melihat Bram seperti anak kecil. Apa lagi mulutnya ia majukan dan lidah ya pedas dalam berkata.


"Kau tertawa!"


Bersambung.....................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏


__ADS_2