Ketulusan Hati Rara

Ketulusan Hati Rara
Di Sekola


__ADS_3

05:40


Rara yang kini sudah menjadi pelajar SMP, pagi-pagi sekali sudah berangkat dari rumahnya. Dia selalu berjalan kaki bersama dengan ketiga teman-temannya.


"Hai Ris, Mia, Naina, hehe... maaf. Aku telat," ucap Rara sembari menatap malu ke ketiga teman-temannya yang sedang mengobrol.


Naina menoleh. "Gak papa. Kita juga belum lama ko disini," jawabnya.


Rara tersenyum.


"Pasti lo beres-beres dulu, ya?" tanya Riris, yang memang itu benar. Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, Rara diharuskan untuk beres-beres dulu ibunya. Kalau tidak, dia pasti akan kena marah. Apa pun itu.


Rara mendesah dan membentangkan kedua bibirnya. "Ya, gitu, deh. Apalagi," jawabnya sudah pasrah dan terbiasa dengan pekerjaan tersebut.


Mia merungut dan segera berdiri menghampiri Rara. "Hhh... Kasiannya temanku ini. Yang sabar, ya?" ucapnya dengan kedua telapak tangan menangkup di pipi Rara.


Rara tersenyum. "Gak papa. Aku sudah biasa," jawabnya. Dan mereka berempat pun saling berpelukan. Berangkat sekolah bersama-sama dengan beberapa topik pembicaraan menjadi pengiring perjalan mereka.


Sampai tanpa terasa, kini mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah. Kemudian masuk dan istirahat sebentar di sebuah kursi yang ada di taman sekolah.


"Aus, euy. Kalian bawa minum, gak?" tanya Naina dengan wajah yang sedikit memerah. Dia mengibas-ngibaskan satu tangannya ke wajah.


Rara menggeleng heran dan mengeluarkan sebuah botol dari tas kucel miliknya. "Nih. Tapi, jangan lo abisin. Itu jatah gue sampe pulang sekolah nanti," ucapnya.


Mia melotot. "Busyet. Air segitu kudu sampe pulang sekolah? Ck, ck, ck. Kata ibu lo?" tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


Rara menggeleng.


"Lah terus?" Mia sedikit mengerutkan dahinya.


Rara tersenyum, bersamaan dengan bunyi bel pertanda masuk sekolah berdering.


Triiiiingg, Triiiing, Triiiinggg....


Mereka berempat menoleh, dengan Rara yang langsung berpamitan kepada ketiga teman-temannya karena beda kelas. Rara berada di kelas 7 C, sedangkan Naina, Mia, dan Riris berada di kelas 7 A.


Rara buru-buru masuk ke dalam kelasnya sebelum keduluan sama guru. Dia duduk di kursi pertengahan dengan pikiran yang mulai merenung membayangkan betapa sulit sekali hidupnya. Ingin dilihat dan disayang sedikit saja oleh ibunya sangat susah. Beliau selalu tidak peduli dan hanya memarahinya saja.


Seperti pagi tadi. Rara yang tidak sengaja menumpahkan air di atas meja. Di marahi habis-habisan sembari dijewer telinga.


"Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku harus dilahirkan, jika hanya untuk disakiti." Rara menunduk dengan kedua mata yang sedikit memanas. Berusaha untuk menahan air mata yang akan merembes keluar.


"DOR!!!" Salah satu teman sekelas Rara mengagetkannya. Sampai membuat gadis remaja itu terlonjak sembari memegangi dadanya.


"Astaga..., Disa. Untung saja aku gak jantungan. Kalau ga, bisa mati mendadak aku," ucap Rara dengan napas yang sedikit terengah-engah.


Disa terkikik. "Terus... kalau kamu gak jantungan... gimana kamu bisa hidup, hayo?" katanya bercanda.


Rara berdecak. "Maksudku... penyakit serangan jantung, Oneng! Bukan jantung organ tubuh, sayaaaanggg," ucapnya sambil mencubit paha Disa sedikit kuat, sampai membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Aahhh, Ra. Sakit tauk," ucap Disa sembari mengelus lembut pahanya yang kena cubitan.

__ADS_1


Rara tersenyum. "Makanya... kamu itu hilangin kebiasanmu itu yang selalu mengaget-ngagetkan aku. Bisa-bisa nanti aku beneran punya penyakit itu. Hayoo... bagaimana? Apa kamu mau tanggung jawab?" tanya terdengar lebay.


Disa menggeleng. "Ish, jangan dong. Iya deh, iya. Aku bakalan coba... meski tidak mungkin anak-anak seumuran kita udah punya penyakit begituan. Ngeri kali, ah," ucapnya sambil bergidik.


Rara menggeleng pelan. Dia menatap seorang wanita yang akan masuk ke dalam kelasnya.


"ASSALAMU'ALAIKUM," ucap wanita itu yang tak lain adalah guru yang akan mengajar mereka.


Semua murid langsung berhenti mengobrol, dan menjawab salam guru tersebut.


"WA'ALAIKUMSALAM, BU."


Setelah berdoa, mereka semua kemudian membuka buku pelajaran dan langsung mengerjakan pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut.


Rara yang selalu semangat kalau urusan belajar, terus fokus supaya keinginannya untuk menjadi peringkat yang terbaik akan terwujud.


"Aku ingin membuat Ibu bangga padaku," batinnya terus mengerjakan pelajaran tersebut dengan semangat.


Dan setelah 1 jam lamanya, kini waktunya untuk pergantian pelajaran. Kami semua istirahat sebentar, dan kembali fokus mengikuti pelajaran yang selanjutnya.


Sampai,


TRIIIINGGG...


Suara bel pun kembali berbunyi dan kali ini sudah masuk waktunya untuk semua murid beristirahat.

__ADS_1


Mereka pada berhamburan keluar, sekedar untuk menyegarkan pikirannya... dengan membeli makanan, main, atau ngobrol bersama teman-temannya.


__ADS_2