Ketulusan Hati Rara

Ketulusan Hati Rara
Happy Endinga


__ADS_3

Setelah sekian lama mereka berbulan madu. Kini mereka harus pulang ketanah air tercinta.


Aldo dan Rara di jemput sama sopir keluarga Aldo.


Perjalanan yang sangat melelahkan membuat kedua insan tertidur di dalam mobil dengan posisi Rara di pangkuan Aldo.


Sementara Aldo menyender ke belakang kursi.


Setelah sampai mereka di sambut hangat dengan semua keluarga besar Aldo.


Acara makan kecil kecilan mereka siapkan. Gak ada yang mereka undang, Hanya keluarha besar dan para Pembantu di Rumah ini.


Semenjak pulang dari Honeymoon. Rara gak mau lepas dari Aldo. Tingkah manja dan kekanak kanakannya, Mengundang tanda tanya keluarga Aldo.


"Sayang sini duduk deket Mamih ?" ajak Mamih Aldo.


Rara menggeleng diam seribu bahasa. Rara gak mau turun dari pangkuan Aldo.


"Kayaknya Tokcer Mih ?" bisik Ka Isna.


"Hehe.. Moga aja Kak."


"Kalo iya, Hebat dong Anak Ganteng kita Mih."


"Nagapain bisik bisik bicaranya Mih ? Lagi ngomongin Al ya ?" tanya Aldo.


"Ih siapa juga.. Gee kamu Dek."


"Terus ngomongin siapa ?"


"Tuh.. Sayangmu. Kayaknya Dia hamil deh Dek ?" kata Ka Isna two the point.


Aldo dan Rara saling tatap tak mengerti.


"Ya kayaknya Mamih bakalan dapet Cucu baru."


"Moga aja ya Mih, Karna Rara belum datang bulan. Tapi emang belum waktunya sih."


"Amiinnn, Kami semua doakan yang terbaik aja buat kalian."


"Amiinn."


Seminggu kemudian...


"Sayang.. Maaf, Aku patahkan harapan kamu dan keluarga." kata Rara langsung.


"Kenapa sayang ? Ada apa ? Patahkan apa ? Aku gak ngerti." tanya Aldo bingung.


Rara dengan tak tau malunya. Menyodorkan ****** ***** bekas pada Aldo.


"Ini apa ?"


"Kamu liat aja."


Gak ada rasa jijik sama sekali yang Aldo rasakan. Toh isinya aja doyan.


Aldo membuka dan melihat ada bercak darah sedikit menempel di ****** ***** tersebut.


"Oh, Kamu PMS.."


"Maaf."


"Gak papa Sayang, Mungkin belum waktunya kita punya Ciwi ciwi.." hibur Aldo." Sudah jangan sedih."


"Gimana sama keluarga kamu."


"Mereka pasti mengerti, Merekakan sudah berpengalaman jauh dari kita."


Inilah yang Rara suka, Aldo selalu berpikiran terbuka dan positif. Selalu bisa menghibur Istrinya.


4 bulan kemudian...


Keluarga Aldo gak mempermasalahkan Rara yang belum juga mendapatkan keturunan. Mereka juga gak memaksa. Lagian mereka masih muda, Jadi masih punya banyak Waktu.


Ke anehan dengan tingkah Rara yang makin kesini makin manja sama Suaminya, Mereka biarkan. Mungkin epek dari pengantin baru ya gitu, Gak mau jauh walau hanya seinci pun.


Seperti sekarang, Rara sedang duduk di pangkuan Aldo yang sedang makan dibmeja makan.


Aldo juga menyuapi Rara yang selalu manja tapi hanya padanya. Rara gak mau makan kalo bukan Aldo yang suapin.


"Pih, Coba lihat. Gak mungkin kalo Rara tuh gak hamil."


"Mamih kayak gak tau aja, Pasangan nikah muda ya gitu. Pacarannya lama, Meski sudah menikah tapi berasa masih pacaran."


"Ihhh si Papih di ajak serius malah becanda."


"Siapa juga yang becanda. Papih serius Mih, Realita pakta."


"Sok soan si Papih mah. Pake gaya anak muda, Inget umur Pih. Kita udah berkepala banyak."


"Serem dong."


"Ih Papih... Serius napa, Sekali ini aja."


"Ok Papih serius kali ini."


"Nah gitu harusnya."


"Papih kangen Mamih." kata Papih seraya memeluk Mamih dari samping.


"Papih ganjen."


"Giliran serius malah di katain ganjen."


"Inget Pih.. Umur udah berapa.."


"Inget Mamih Sayang."


"Idih lebaynya Aldo nular sama Papih." kata Mamih sambil melengos pergi masuk Kamar.


"Haha... Masukan. Kode ni hihi..."


Papih meninggalakan tontonan yang bikin baper menyusul Sang Permaisuri kekamar.


Ke esokan pagi nya.


"Huwaaaaa Mamiiiihhhhh Papiiiihhhh."


Mamih dan Papih yang sedang makan di Dapur menundanya kala mendengar teriakan Rara dari atas. Mereka langsung berlari terburu buru ke atas.


"Sayang kenapa ?" kata Mamih sambil mendekati Rara yang baru bangun tidur.


"Aldo Mih, Aldo gak sayang lagi sama Rara."


"Gak sayang gimana sayang ?"


"Aldo nyakitin Kamu Nak ?" tanya Papih berdiri di dekat Rara.


Rara menggeleng.


"Terus..."


"Aldo gak ada Mih, Aldo ninggalin Rara sendirian. Pas Rara bangun Aldo udah gak ada..Huaaaaa.." Rara makin nangis tersedu2.


"Ya ampun sayang, Kirain Aldo nyakitin kamu." kata Mamih sambil menarik napas lega." Sudah tenang, Tadi Aldo buru buru. Katanya ada Meeting pagi ini. Jadi gak sempet bangunin kamu." jelas Mamih.


"Iya Nak. Gantiin Papih."


Rara mendongakan kepalanya menatap mereka.


"Sudah kalo kamu mau kesana, Entar Papih yang anterin." kata Papih.


Rara mengangguk.


"Sudah gih mandi. Dandan yang cantik kalo mau kesana." bujuk Mamih.


Rara langsung bangkit dan melangkah masuk kamar mandi.


"Mih... Emangnya kayak gitu ya anak jaman sekarang ?"


"Mana Mamih tahu, Kan kemarin Papih yang bilang."


"Hehe..."


Rara sudah siap dengan Dandanan yang cukup berlebihan.


Papih sama Mamih menatap Rara heran. Gak biasanya Rara memakai segala macem kayak gini.


"Viks ini mah pasti hamil Pih. Coba liat sekarang, Udah beda banget Pih kayak biasanya." bisik Mamih.


Papih mengangguk.


"Berangkat sekarang ?" tanya Papih.


"Gak jadi Pih, Rara mau kedepan aja nyari tukang dagang. Mau jajan" jawab Rara.

__ADS_1


Mamih sama Papih makin melongo. Masa mau Jajan aja pake Dandan. Menambah kecurigaan Emak satu ini.


Rara langsung melesat pergi dari hadapan mereka.


"Ra makan dulu.." teriak Mamih.


Tapi Rara gak menggubrisnya sama sekali.


.


.


.


"Bu ? Mau ketemu Bapak ya ?" tanya Resepsionis.


Rara mengangguk." Bapaknya ada ?"


"Masih meeting, Paling bentar lagi selesai."


"Oh. Aku tunggu di Ruangannya aja ya."


"Iya Bu silahkan."


Rara melangkahkan kakinya memasuki Salah satu Ruangan Khusus milik Aldo.


1 jam kemudian....


Hah...hah...


Aldo mengatur napas yang terengah2. Sebelum masuk, Aldo menetralkan dulu napasnya.


Cklek...


Pintu terbuka dan menampilkan sang Pujaan sedang tertidur manis di atas Sopa panjang.


Aldo berjalan mendekati Rara.


"Maafin Aku Sayang." bisik Aldo di telinga Rara.


"Eugghhhh.." Rara melenguh merasa terusik.


"Tidut lagi aja, Aku juga mau meriksa hasil barusan." titah Aldo.


Mata yang belum sepenuhnya terbuka dan sadar langsung menutup kembali.


Kriiiinnggg....


Mamih is calling....


Aldo mengerutkan dahinya, Gak biasanya Mamih nelpon di jam kantor.


"Ya ada apa Mih."


"....."


Aldo berbalik menatap Rara yang sudah memejamkan mata kembali.


"Ada Mih lagi tidur. Emangnya kenapa ?"


"......"


"Oh. Dia baik baik aja Mih, Gak usah kawatir."


"...."


"Ok kalo gitu, Telponnya Al matiin. Masih banyak kerjaaan."


12:09


Waktunya makan Siang. Seperti biasa, Aldo memesan Makanan lewat OB dan menyuruhnya membawakan kesini.


"Sayang... Bangun Yuk, Kita makan Siang dulu." ajak Aldo.


Rara langsung membuka matanya dan terduduk lemas.


"Sayang kamu kenapa ? Sakit ?"


"Gak tau Sayang. Kepalaku pusing kayak berkunang kunang gitu." jawab Rara.


"Kamu udah makan belum ?"


Rara menggeleng.


"Kenapa gak makan sih.." kata Aldo dengan suara sedikit meninggi.


"Maaf Sayang, Aku hawatir sama kamu."


"Aku yang harusnya minta maaf sudah buat kamu hawatir."


"Kenapa gak makan sih sayang."


"Aku mau kamu suapin."


Hahhhhh.


Aldo menghela napas. Aldo lupa kalo Rara gak mau makan kalo gak Aldo suapin.


"Maaf ya. Tadi aku buru buru, Jadi gak sempet nungguin Kamu."


"Gak papa, Maaf juga selalu ngerepotin."


"Gak kamu gak ngerepotin. Tunggu ya bentar lagi Ihsan bawa makanan kesini."


Rara mengangguk.


..


"Sini.." Aldo menepuk pahanya, Sudah paham akan kebiasaan Istrinya.


Baru juga Duduk, Rara sudah terkulas lemas tak sadarkan diri.


Aldo panik dengan acara tiba tiba kayak gini.


Mungkinkah ini kejutan buat Aldo... Mana ada kejutan orang pingsan.


Aldo meminta tolong pada Ihsan yang kebetulan masuk mengantarkan Makan siangnya.


Aldo langsung membawa Rara ke RS terdekat. Tak lupa Aldo mengabari kedua Orangtuanya.


"Bagai mana keadaan Istri saya Dok. Mengapa Dia bisa Pingsan ?"


"Sabar Pak ! Istri anda gak papa. Dia hanya kurang asupan jadi tubuhnya lemas. Apalagi ada janin di dalam perutnya."


"Terus gak akan kenapa napa kan Dok ?"


"Insya alloh. Dia baik baik aja, Asal jangan telat makan dan harus menjaga asupan gijinya."


"Oh makasih Dok."


Dokter menatap heran pada Seorang Suami satu ini. Kenapa Dia gak syok atau apalah kayak Bapak2 lainnya.


Sembari memberikan resep yang ditulis, Dokter tersebut menerka nerka pikiran jelek.


"Jangan lupa tebus resep ini di apotik."


"Ya makasih Dok. Saya permisi."


Gak ada senyum sama sekali di wajah sang Dokter.


Maklum lah Aldo masih muda tapi udah mau punya anak.


"Dasar an...ak."


"Ada apa Pak balik lagi ?"


"Tadi kayaknya ada kata kata Dokter yang mengganjal."


Dokter itu menelan ludahnya kasar. Apa jangan jangan Dia tau isi pikiran Saya, Ah gak mungkin. Atau... Dia tau barusan apa yang akan ku katakan. Sama aja Oon.


Dokter berusaha senetral mungkin." Yang mana ya Pak ?"


"Yang pertama Dok."


"Oh..." Dokter menarik napas lega." Istri Bapak kekurangan asupan aja, Telat makan Pak."


"Setelah itu..."


"Ada Janin di dalam perut Istri Bapak."


"Nah itu..." kata Aldo sambil menggebrak meja.


Dokter Cantik itu kaget bukan kepalang. Dia terus merapalkan kata istigfar sambil mengelus Dadanya.


"Maksud Dokter istri saya Hamil gitu.." tanya Aldo memastikan.

__ADS_1


"I... iya Pak. Istri Bapak sedang hamil." jawab Dokter gugup.


"Alhamdulillah ya Alloh. Engkau telah mengabulkan Doa Doaku. Amiin." kata Aldo sambil bersujud dan langsung duduk berdoa.


"Makasih Dok... Makasih." kata Aldo sambil menjabat tangan Dokter dan berlalu.


"Ck...ck... Ada ada aja tingkah manusia saat mendengar kehamilan Istrinya." gumam Dokter sambil duduk kembali.


"Ampuni Aku ya alloh yang sudah su udzon padanya. Amiiin."


^^^^


"Aldo langusng masuk keruangan tempat Rara di rawat.


"Kenapa kata Dokter Al.."


Emak bawel bin crewet tapi demi kebaikan ini selalu yang terdepan kaya Yamaha.


Dia lah Orang yang selalu memperhatikan Keluarganya terlebih dahulu.


"Gak papa Mih, Cuman telat makan Doang."


"Mamih udah suruh makan dulu tadi, Tapi katanya mau jajan. Eh disusul udah gak ada."


"Maafin Rara Mih. Rara gak bisa jauh jauh dari Aldo."


"Ya kan tadi Papih nawarin buat anter."


"Sudah sudah, Kita ambil hikmahnya aja dari sini. Kita akan punya keluarga baru."


"Maksudnya apa sayang ?? Kamu mau nikah lagi." tanya Rara sewot.


"Aduuuhh... Bumilnya sensi."


"Apa ??" Suara khas Emak emak memekakan telinga semua orang.


"Ih Mamih biasa aja jangan teriak. Malu sama yang lewat noh." kata Aldo.


"Sayang kamu gak becanda kan."


"Enggak Sayang, Kata Dokter gitu.Ada janin disini." kata Aldo sambil mengelus perut rata Rara.


Mata Rara sudah berkaca kaca. Kebahagian datang silih berganti.


Aldo memeluk Rara sayang bersama kedua Orangtuanya. Mereka sungguh mendapatkan kebahagiaan yang sangat tak terduga.


9 Bulan kehamilan Rara....


Aldo sedang mondar mandir didepan Ruang persalinan.


Aldo masih menunggu kedatangan kedua Orangtuanya.


"Gimana Al, Sudah ?"


"Belum.. Kalo gitu Aldo kedalam ya Mih."


"Berdoa sayang."


Aldo mengangguk dan langsung masuk. Bersamaan dengan itu, Rara sudah di beri instruksi buat ngejan.


"Al... Sini. Kayaknya Ciwi Ciwi pengen di elus Kamu dulu."


Aldo menurutinya. Dokter bersalin tersenyum melihat pasangan muda yang unik.


Di saat yang genting kayak gini masih saja Romancececece....


"Pegang Al tanganku." Aldo mengangguk.


"Ok Bu...1...2...3."


"Heu..."


Dokter dan Rara menoleh pada Aldo sambik tertawa.


"Sayang Aku loh yang disuruh. Bukan kamu."


Aldo jadi salah tingkah.


"Udah ya Bu, Jangan ketawa terus. Tenaganya bisa ilang."


"Baik Dok."


"1...2...3."


"Ayo sayang kamu kuat." Kata Aldo menyemangati dengan tetus berdoa dan merapalkan kata kata Cinta.


Oeekk... Oeek....


Baby Boy lahir dengan selamat..


Oeek.... Oeek...


Baby girl juga lahir dengan baik.


Ya mereka di karuniai anak kembar pengantin.


...


Kini mereka semua sedang berada di Ruang rawat. Rara sudah di pindahkan bersama kedua Malaikat penyempurna kebahagiaannya.


"Kamu kasih nama apa Al.."


"Kakaknya... San Fajar. Adeknya Senja."


"Kepanjangannya apa Dek.."


"Nama belakang Keluarga kita."


"Jadi... San Fajar Refandi dan Senja Refandi."


"Bukan..."


"Terus.."


"San Fajar Hasan Refandi Dan Senja Husaini Refandi."


"Nama yang bagus."


Pelengkap Rumah tangga yang harmonis tertanam di anak2 mereka.


Kesabaran Aldo dalam menyikapi sikap Rara yang sangat Labil dan Manja.


Membuahkan hasil yang melebihi semuanya.


Jangan pernah berhenti berusaha. Berusaha lah setinggi dan semampu yang kamu bisa.


Karna Hasil gak akan menghianati Usaha yang pernah kita lakukan.


Jangan jadikan Rasa kesal jadi benci. Apalagi sampai memdalam.


Hanya akan merugikan diri kita sendiri.


Tersenyum lah, Tersenyum bagai manapun keadaannya.


Cacian, Makian, Ocehan orang orang. Jadikanlah sebagai motivasi buat masa kita.


Masa yang akan datang menghampiri kita.


END


Ngahaturkeun Thankyou kasadaya...


Makasih..


Sudah mau membaca Kisah yang Lurus kedepan tanpa menoleh kebelakang. Hanya sekali kali aja di ingat.


Jangan lupa ??


Mampir juga di ceritaku yang satu ini...


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


HATI YANG TERSAKITI...


Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di cerita yang lainnya.


SalamπŸ™πŸ™



FiRa



SalRa

__ADS_1



😘😘😘


__ADS_2