Ketulusan Hati Rara

Ketulusan Hati Rara
87


__ADS_3

gak terasa..


hari telah berganti,


bulan telah berlalu..


kini semua murid kelas 9 sedang berada di masa tegang tegangnya.


bagaimana tidak,,,


hari ini hari pertama buat semua kelas 9 menghadapi ujian akhir semester(UAS).


dalam satu kelas hanya terdiri dari 9 orang.


masing masing terpisah dan banyak pengawas yang mengintai.


di ujian kali ini berbeda dengan ujian ujian sebelumnya.


semua murid gak ada satu orangpun yang berani mengeluarkan suaranya.


semuanya tertunduk membaca lembaran demi lembaran soal.


kalo ada yang berani menoleh kayaknya bakalan ketemu pengawas yang super duper garang.


lirikan matanya aja udah bikin ngeri,apalagi pelototannya.


uuhhh gak bisa bayangin.


.


.


setelah selesai,semuanya mendapatkan nasehat yang begitu panjang.


bikin malas saja..


"bukannya menghibur,eh ini malah nyeramahin."gumam mia.


teman di sebelahnya menoleh dan mendapat pelototan dari mia.


dia langsung mengalihkan pandangannya.


.


.


semuanya berlalu pulang setelah selesai.


rara buru buru pergi dari halaman sekolah takut bertemu temannya.


"hah."rara menghela napasnya setelah berada di pinggir jalan.


rara langsung melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang sudah biasa ia lihat.


rara gak berniat menunggu aldo dulu.rara lebih memilih sendiri berjalan kaki supaya sehat.


"neng..eneng.."seseorang mengikuti langkah rara dari belakang.


rara langsung mempercepat langkahnya takut.


"jangan terburu buru neng,nanti jatuh.."godanya.


rara gak menggubris sama sekali,dia malah makin mengencangkan langkahnya pasti.


"1 2 3."batin rara mengambil ancang ancang.


setelah di angka 3 rara langsung lari ngacir tanpa menoleh siapa yang terus mengikutinya.


"ppffft..ha..ha..."orang yang ngikutin rara ketawa terbahak bahak.


rara yang lumayan udah jauh mendengar samar orang yang tadi ngikutinya ketawa.


rara berbalik sedikit demi sedikit.


"hhhh.."rara menatap orang itu marah.


asap keluar dari telinganya,mata merah dengan tangan mengepal erat.


rara melangkahkan kakinya mendekati orang yang tega sekali mengerjainya.

__ADS_1


rara berkaca pinggang didepan orang itu.


"nih rasain."kata rara sambil menggebuk orangnya pakai tasnya.


"ah..ampun..ampun..haha.."


"gak ada ampun buatmu."


rara terus memukulnya.


tapi..


bukannya dia gak bisa melawan.hanya saja dia suka dengan tingkahnya.


"udah ah ra,pada sakit badanku nih."


"siapa suruh ngerjain aku."jawab rara ketus dan menghentikan aksinya.


"kenapa gak nungguin aku."


"aku lagi ingin jalan kaki al.."


"udah bosen naik motor?"


"bukan gitu.."


"terus?"


"aku kangen,udah lama gak jalan kaki."


"jadi...."


"jadi,AKU MAU JALAN KAKI"kata rara menekankan kata demi kata.


"oh,ok baiklah.yuk."ajak aldo.


"kemana.."


"tidur,,ya pulanglah ra.masa mau tidur."


"ish."


"kamu serius mau ikut aku jalan."


aldo mengangguk sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku.


"ntar cape lo"


"gak bakal,aku strong."jawab aldo sambil mengangkat kedua tangannya.


"ya elah,paling benttar lagi ngeluh."


"kita liat,siapa yang akan pertama ngeluh."


"ok."


"yang kalah harus nurutin yang kemamuan yang menang."usul aldo.


"ok.siapa takut."


mereka terus menyusuri setiap jalanan.


tikungan demi tikungan mereka lewati bersama,sesekali ada jalan yang rusak dan menanjak.


aldo dan rara menghela napas kala jalan di depan yang harus mereka lewati lumayan menanjak.


"mungkin kita sudah melewati jalan yang penuh dengan godaan dan cobaan.tikungan tadi membuatku teringat pada hidupku sendiri."kata rara sambil duduk di pinggiran jalan,istirahat sebentar.


"hm.kita bisa lewati semuanya secara bersama ra.


orang2 yang berusaha merusak semua persahabatan kita,kita bisa lalui bersama."tambah aldo mengikuti rara duduk.


"hh..gak kerasa al,kita sudah melewatkan banyak momen2 yang mengesankan.aku bersyukur selama ini kamu masih betah disampingku."jelas rara.


aldo menatap rara sendu.ada yang tersirat diucapan rara,aldo bisa merasakannya.


aldo meraih kedua tangan rara.


"aku akan selalu ada untukmu ra,kapanpun dimanapun."jawab aldo.

__ADS_1


"makasih,karena sudah ada untukku al.kamu paling ngertiin aku.dan makasih sudah menemaniku selalu dalam keadaan duka maupun duka."ungkap rara.


"sama sama.aku senang ra bisa ada selalu disampingmu."


mata rara mulai berkaca kaca dan sedikit saja rara memejamkan matanya.pasti air matanya keluar.


"udah ah jangan saling ungkapan gini.jadi mellowkan."kata aldo sembari langsung berdiri."yuk."ajak aldo dan menyodorkan satu tangannya pada rara.


"kita tinggal melewati tanjakan curam ini."kata rara seraya bangkit dari duduknya.


"seperti halnya hidup ra,banyak sekali halangan dan rintangan.banyak sekali tikungan dan jalan yang rusak.atau bahkan seperti sekarang ini."aldo menjedanya dan mulai melanjutkan lagi jalannya bersama rara.


"kita lagi menghadapi jalanan yang menanjak.kita harus siapkan dulu mental dan kekuatan kita."kata aldo.


"hm..memang hidup itu sama dengan jalan yang sering kita pijak."


"ini ibarat.ibaratkan."jelas aldo.


"hm."


"barusan kita udah menyiapkan energi kita dengan beristirahat buat melewati jalanan inikan.nah seperti itulah..


kalo kita lagi punya masalah,masalah yang sulit.kita membutuhkan otak yang cerdas buat mencari solusi,pikiran yang jernih,hati yang tenang."aldo menjedanya sambil menarik napas lelah.


"supaya kita bisa melaluinya dan mendapatkan hasil yang bagus.jangan bertingkah gegabah."jelas aldo panjang lebar.


"dan menuruti hawa napsu saja."tambahnya lagi.


"ok pak guru."jawab rara.


"ish..aku serius ra."


"aku juga serius.hehe.."


"hm."


aldo mengantar rara sampai kedepan rumahnya.


"makasih al."


"sama sama."


"aku boleh minta minum ra,,aus."pinta aldo dengan tampang lesunya.


"gak boleh."tolak rara.


"ya elah ra,dikit deh."


"siapa suruh pingin ikut ikutan jalan."


"cepetan ra aku udah gak kuat nih.gimana kalo mati kehausan."


"mana ada."


aldo duduk diteras rumah rara dan langsung menatap rara.


"ra.."


"ok..ok.tunggu sini aku ambilin setetes."


"astaga rara,pelit amat sih."


rara gak menggubrisnya.rara langsung masuk dan membawa gelas dengan air setetes.


"astaga rara.beneran ini.sama saja aku gak minum ra."


"terima aja.aku ikhlas ngasihnya cuman segitu."


aldo meletakan gelas yang diberikan rara di sampingnya.


"kenapa gak diminum."tanya rara.


"mana bisa aku minum segitu.kamu pelit ra."kata aldo cemberut.


"aduuuhhh sayangku ngambek."kata rara keceplosan menyebut kata sayang.


aldo berusaha menormalkan pendengarannya sambil melongo menatap rara.


rara yang sadar akan hal itu,langsung masuk kedalam rumah menahan malu.

__ADS_1


tak lama rara pun keluar dengan membawa seteko air.


__ADS_2