Ketulusan Hati Rara

Ketulusan Hati Rara
EXTRA


__ADS_3

Aldo Refandi



Perjuangan dan pengorbanan terbayar lunas dengan apa yang sudah Dia dapat.


Menunggu...


Awal perjalanan yang ditempuhnya.


Kesetiaan...


Akhir yang dari perjalanan yang Dia dapatkan.


Rara Aulia



Cobaan dan godaan datang silih berganti. Tapi, Dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Semua masalah bisa dilaluinya dan mendapatkan hasil yang terbaik.


Penantian...


Penantian akan kasih sayang yang belum pernah di dapatkan...


Menghargai...


Menghargai setiap ketulusan yang dia dapat.


Bersyukur...


Bersyukur atas semua nikmat yang sudah di kasih untuknya.


DoRa...



Hati yang tenang membentuk jiwa yang kuat..


Bersabar dalam menyikapi sesuatu mendapatkan jalan satu.


Kebersamaan menguatkan hati masing masing.


Kepercayaan pegangan teguh dalam menjalani hubungan.


Kesetiaan yang janji Suci dalam hubungan.


Pertengkaran adalah bumbu dari sebuah hubungan.


Orang tua...


Orang tua adalah Orang pertama dan terakhir buat mereka. Tanpa adanya mereka, Mungkin gak akan pernah adanya Kasih dan Cinta.


Buah hati yang mereka dapatkan dan besarkan dengan hati luas.


Dan jangan lupa, Libatkan juga kedua Orangtua dalam satu hubungan. Jadikanlah mereka tempat kalian mencurahkan semua keluh kesah kalian. Suka maupun Duka yang kalian rasakan.


Selain jadi Orangtua, Mereka juga bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang Baik.


Selain kepada - Nya kalian meminta...


Pinta juga Ridho dari kedua Orangtua kalian.


Karena Ridho Alloh terletak pada keridhoan Ibu/Bapak kalian.


FAMILY IS EVERYTHING

__ADS_1


*****


4 tahun berlalu.


Janur kuning melengkung di depan jalan dengan indahnya.


Banyak sekali Orang orang yang berlalu lalang memasuki perkampungan padat penduduk.


"Inilah akhir dari perjuanganku. Cinta yang belum sempat terbalaskan. Kini harus Pupus dengan kenyataan yang begitu nyata di depan mata." gumam Fino sambil menatap Janur dengan Nama kedua Mempelai terayun kesana kemari.


Fino menghapus setitik Air mata yang berhasil keluar.


Sakit...


Hanya itu yang Fino dapatkan. Fino belum bisa mencari gadis lain selain Pujaan hatinya.


Meski banyak Wanita yang Fino pacarin, Itu hanya nafsu belaka. Sesekali hanya ingin memanas manasi Pujaannya.


"Gak ada Gadis yang seperti Dirimu, Kesederhanaan dan kelembutan hatimu Ra." batin Fino menangis.


"Hay bro... Sudahlah Lupakan Dia, Kita masih bisa jadi temannya." Seseorang menepuk punggung Fino dari belakang.


Fino berbalik menatap Siapa Orang yang berani beraninya menyuruh Move On.


Emang Move On tuh gampang...


Susah keles...


Menurut Aku itu tapi...


"Gimana denganmu, Apa kamu bisa melupakan Gadis yang sama sama kita Cintai.." tanya Fino menyelidik.


"Lupa sih belum. Tapi, Aku akan belajar. Asaalkan Dia bahagia. Aku ikut bahagia." jelasnya.


"Belajarlah, Nanti juga ilang dengan sendirinya." tambah Isal.


"Disini, Ya disini Aku harus mengakhirinya. Aku harus belajar melupakan meski sakit yang kurasa. Aku sudah berjuang selama ini, Itu cukup untuk membuktikan kalau Aku benar-benar mencintainya." gumam Fino berderai Air mata.


Fino mencirahkan Unek-uneknya di pinggir Janur.


Sementara Isal sudah berada di tempat yang begitu panas.


Panas...


Hati isal seperti terbakar, Kala melihat Perempuan yang Dia pilih untuk bersanding dengannya. Malah sedang tersenyum indah bersama seorang Laki-laki.


Pemandangan bak terasa di atas Gunung Tengah hari dengan cuaca terik.


Hatinya serasa di remas remas. Bak di ubek-ubek di Cincang halus.


"Dulu kukira Aku yang akan disana bersamamu, Kau tolak lamaranku karna kau telah memilih orang lain." gumam Isal menatap Pasutri Baru di atas pelaminan.


Sebelum Rara lulus SMA, Isal memutuskan untuk melamar Rara. Isal datang kerumah Rara bersama dengan kedua Orangtuanya dan seserahan yang di bawa.


Tapi...


Penolakan yang Isal dapatkan. Rara meminta maaf tak bisa menerima lamaran Isal, Alasannya. Rara masih ingin bersekolah dan pokus untuk belajar.


Tapi sekarang...


Isal baru tahu, Kalo itu hanya alasan belaka.


Isal menghargai keputusan Rara dan ingin menunggu Rara sampai siap.


Sekarang...

__ADS_1


Isal mundur kala mendengar Rara mau menikah.


Tepatnya hari ini. Isal menyaksikan semuanya di depan mata kepalanya sendiri.


Isal membuang jauh-jauh harapan yang selama ini Dia angan angankan.


Isal berjalan mendekati pelaminan guna menyampaikan selamat buat sepasang Suami Istri yang baru.


"Ra selamat ya, Semoga kamu selalu bahagia." kata Isal sambil menjabat Tangan Rara.


Rara menatap Isal kaget. Bagaimana bisa Dia tahu."Oh iya makasih." jawab Rara bingung.


Isal langsung memeluk untuk yang terakhir kalinya.


"Ekhem.."


Rara langsung mendorong tubuh Isal supaya menjauh.


"Maaf, Ini untuk yang terakhir kalinya." jawab Isal dan langsung pergi tanpa bersalaman dengan Pria disamping Rara.


"Loh.. Aku Enggak di peluk." teriak Aldo.


"Hush.. Al jangan teriak, Malu masih banyak Orang." bisik Rara.


"Gimana Rasanya di peluk Fans berat ?" tanya Aldo.


"Gimana ya, Dag Dig Dug gitu. Kayak ada sengatan listriknya." Goda Rara.


Aldo langsung memasang muka cemberut.


"Berarti Kamu suka Ya.."


"Suka dong, Secarakan Dia tuh ganteng dan mapan. Siapa coba yang gak suka."


Aldo menatap Rara tajam.


"Ra inget, Kita sudah Sah loh. Jangan puji2 laki laki lain. Dosa..."


"Ah.. Ampun Suami, Ampuni Aku hapus Dosanya. Aku Atut...hihi"


Rara malah terus bercanda.


"Ra... Aku serius."


"Aku juga serius."


"Ra... Awas ya."


Aldo langsung merapatkan tubuhnya di depan Rara.


Aldo langsung mengelitik Rara di atas pelaminan mereka.


Rara tertawa terbahak bahak karna kegelian.


Semua tamu yang maaih ada. Terutama kedua Orang tua Aldo dan Kakaknya Rara.


Mereka menatap sang Pengantin tersenyum sambil geleng geleng kepala.


"Pasangan yang Unik..." kata Seorang tamu sambil berjalan mendekati Pengantin.


Seketika Aldo langsung menghentikan Aksinya.


Rara juga berhenti tertawa dengan napas ter senggal senggal.


Mereka berdua menatap sekeliling Ruangan.

__ADS_1


Aldo dan Rara menunduk malu dengan apa yang barusan mereka lakukan.


__ADS_2