Ketulusan Hati Rara

Ketulusan Hati Rara
97


__ADS_3

Aldo harus Kuat dan Tegar disituasi sekarang ini. Meski dalam Hatinya Aldo juga Bersedih.


Tapi, Siapa lagi yang Akan menguatkan Mereka selain Aldo sekarang.


Aldo mengelus Punggung Rara menguatkan.


"Al, Tolong panggilin Pak Ustadz yang Lain, Untuk mengurus Semuanya." kata Rara di tengas isakannya.


"Ya Baik Sayang..eh." Aldo langsung memukul Bibirnya yang se enaknya saja.


Rara mendongak dan tersenyum pada Aldo dan Aldo membalasnya dengan senyum malunya.


Aldo segera melangkah keluar Rumah dan memanggil Pak Ustadz beserta yang Lain.


Gak butuh Waktu lama, Orang orang langsung menyerbu kediaman Rara bersama Pak Ustadz. Termasuk Mamah2nya Teman Rara.


Mereka langsung Memandikan dan mengkhafani Zenajah Mamahnya Rara.


Sementara Rara yang gak bisa menahan Tangisnya hanya bisa menyaksikan.


Aldo segera memberi tahu Mamihnya.


"Halo Mih, Aldo gak bisa Pulang, Aldo mau nginep diRumah Rara."


"Kenapa Sayang?"


" Itu...itu Mih."


"Ada apa Al, Ngomong tuh yang jelas."


"Mamahnya Rara meninggal Mih."


"Apa? Kapan Al.."


"Barusan Mih, Bentar lagi mau diSholatkan. Aldo mau disini dulu."


"Ya Sayang, Mamih juga akan kesana sama Papih."


"Ya Mih."


"Ya, Kamu kirim Alamatnya ya."


"Hm."


Aldo langsung mematikan panggilannya dan langsung mengirim Alamat Rumah Rara.


Aldo masuk kedalam, Zenajah sudah Siap untuk berangkat keMesjid.


Aldo yang menggotong Jasad Mamahnya Rara bersama 3 Orang tetangga Rara.


Mereka membawa Jasab Mamah keMesjid yang dekat tempat Rara mengaji.


Alhamdulillah banyak Orang yang dengan Ikhlas mengikuti pelaksanaan di Mesjid.


Setelah selesai, Jasab kembali di Gotong untuj dikuburkan.


Jasad Mamah di bawa kepemakaman Umum setempat.


Disana sudah Banyak Para Laki laki yang baru menggali Kuburan.


Aldo yang mengadzani.

__ADS_1


Jasad Mulai dikubur. Rara dan Kakanya terus terusan menangis.


Apalagi saat Tanah mulai masuk kedalam menutupj Zenajah san Mamah.


"Yang sabar ya Sayang." kata Mamih sambil mengelus Rambut Rara.


Rara mendongak menatap Mamih Aldo dengan mata yang sembab.


Mamih langsung membawa Rara kepelukannya.


Sementara Papih mengelus Punggung Kakak menguatkan.


Alhamdulillah. Acara pemakan berjalan dengan Lancar tanpa ada Hambatan.


Satu persatu Orang meninggalkan Pemakaman.


kini tinggal Aldo, Mamih, Papih, Rara dan Kakak.


"Mah, Kenapa Mamah ninggalin Aku begitu Cepat Mah, Aku sama Siapa Mah...hiks..." kata Rara sambil memeluk Tanah yang Baru.


Sementara Kakak hanya menatap Tanah yang baru dengan Sendu. Dan...


Brukk....


Kakak Pingsan tak sadarkan diri.


Untung Seseorang bisa menangkapnya dengan Sigap.


Papih yang berada di samping Kakak kaget Dan menatap Seseorang sambil mengelus Dadanya lega.


Rara yang melihat itu langsung mendekati sang Kakak dan memeluk Kakaknya.


"Kakak...Bangun Kak..." Kata Rara sambik mengguncang Tubuh Kakak hawatir.


Rara mendongak melihat Siapa Orangnya.


Rara mengangguk tenang.


"Yuk kita Pulang ya." ajak Mamih sambil mengangkat kedua Bahu Rara.


Rara bangkit sambik terus Menyeka Air matanya.


Brukkk...


Rara juga tak Sadarkan Diri. Untung saja Aldo berada di belakang Mereka bersama dengan Papihnya.


Aldo dengan sigap menangkap Tubuh Mungil Rara.


"Ra..Rara...Bangun." Kata Aldo sambil menepuk nepuk Pipi Rara.


Rara mungkin lelah dari tadi terus menangis. Sementara Kakak beserta Pacarnya udah pulang duluan.


Aldo langsung memangku Rara sampai keRumahnya.


Rara langsung dibaringkan di Kamar miliknya.


"Sayang...Bangun." Kata Aldo sambil mengoleskan Kayu putih kehidung Rara.


Rara masih asyik dengan alam bawah sadarnya.


Aldo mulai mengoleskan berbagai macam ketelapak Tangan dan Kaki Rara. Tapi Rara masih saja tenang.

__ADS_1


"Sayang Bangun...Kamu harus Kuat." kata Aldo sambil memeluk Rara.


"Sayang...Kumohon, Bangunlah. Jangan buat Aku hawatir Sayang."


segala Cara sudah Aldo upayakan. Tapi, Rara masih belum membuka matanya.


Mamih sama Papih hanya menyaksikan di ambang Pintu Kamar Rara.


Mereka menatap Aldo sedih dan cemas.


"Sayang....Pliss Bangun, Kamu harus Kuat Sayang. Jangan tinggalin Aku, Jangan seperti ini Sayang." Racau Aldo yang cemas dengan keadaan Rara.


Aldo mengangkat Tubuh Rara dan Memeluknya Erat.


"Sayang Kita kan sudah berjanji Pada Mamah, Kita akan Kuat Sayang." Aldo makin mengeratkan Pelukannya.


"Hiks...hiks..." Rara merespon dengan tangisnya.


Aldo langsung menjauhkan Badannya dengan Rara. Aldo memberi Jarak.


"Sayang...Alhamdulillah Kamu sudah Sadar." kata Aldo dan kembali memeluk Rara.


"Mamah Al, Mamah...Dia pasti kesepian Al. Aku harus kesana Al Aku harus nemenin Mamah." kata Rara seraya berdiri.


Aldo langsung berdiri dan memeluk Rara dari belakang.


"Sayang..Jangan gitu, Mamah sudah tenang Sayang, Mamahmu sudah berada ditempat ternyamannya Sayang." Kata Aldo mengeratkan Pelukannya.


Sementara Kak Riri Dia juga sedang menangis di pelukan Pacarnya.


Di Ruang tamu, Banyak Orang2 yang Akan melangsungkan Acara tahlilan.


Mamih juga Membawa 2 Orang pembantu untuk membantu semuanya disini.


"Sayang..Kamu harus Kuat, Kamu masih ada Aku Sayang, Kamu masih Punya Mamih, Papih dan Kakak."


Rara berbalik menatap Aldo sendu.


"Hiks...hiks.. Makasih Al, Kamu selalu ada buat Aku." kata Rara memeluk Aldo.


Aldo mengusap punggung Rara.


"Menangislah, Keluarkan semua kesedihanmu. Tapi jangan berlebihan, ingat masih banyak Orang orang yang Sayang sama Kamu, Mereka masih membutuhkanmu." jelas Aldo.


Rara menumpahkan semuanya dipelukan Aldo.


Air mata yang hanya bisa menggambarkan kesedihan yang amat dalam.


Tapi air mata juga bisa menipu seseorang.


Beda halnya dengan Rara, Air matanya menggambarkan kesedihan dan kepedihan yang Ia rasakan.


Menangis boleh tapi jangan berlarut larut.


Kesedihan yang selamanya hanya akan merugikan diri kita sendiri, Berusahalah untuk tersenyum.


Kuatkan diri tegarkan Hati.


Supaya kita bisa melanjutkan Hidup dengan senyuman.


Salam

__ADS_1


Rara Aldo Forever



__ADS_2