
Rara langsung mengambil barang yang tadi dan langsung kembali.
Aldo dan Rara langsung pulang karna hari makin sore.
.
.
Setelah sampai...
Rara melihat banyak Orang yang berlalu lalang menuju jalan yang sama kearah Rumahnya.
Pikiran Rara jadi kalut. Rara langsung berlari tanpa menghiraukan Aldo yang bertanya kenapa dan Adaapa.
Aldo langsung meengejar Rara yang terus berlari sampai menabrak orang yang melintas.
Brukk....
Rara terjatuh bersama barang2 yang dia bawa. Semua barang2nya berserakan.
"Kamu gak papa.." tanya Aldo sembari membangunkan Rara.
Rara mengangguk.
Aldo mulai membereskan kembali semua Barang yang Rara bawa.
"Kamu kenapa sih Ra.." tanya Aldo sambik melangkah mengikuti Rara.
"Mamah Al, Mamah..." jawab Rara tak meneruskan omongannya.
Aldo menrangkul pundak Rara dengan tangan sebelahnya.
"Sabar..jangan berpikiran buruk. Belum tentu Mamah kamu." hibur Aldo.
Aldo dan Rara sampai di halaman Rumah Rara.
Rumah tersebut seperti Biasa. Sepi seperti tak berpenghuni.
"assalamualaikum Mah.." kata Rara sambil mendorong pintu.
"Waalaikum salam Sayang." terdengar sahutan dari dalam.
Rara langsung masuk bersama Aldo di belakangnya.
Rara langsung menyalami kedua tangan Mamahnya.
Begitu juga dengan Aldo.
"Mamah baik baik aja." tanya Rara hawatir.
"Baik Sayang. Lihat kan." jawab Mamah.
"Alhamdulillah.." kata Rara sambil mengelus Dadanya.
"Emangnya Ada apa Sayang." tanyanya.
"Gak kok Mah, Aku tadi liat banyak Orang kearah sini, Aku takut Mamah kenapa2 ."
"Oh itu, Itu mereka baru melayad tetangga Kita yang kena musibah."
"Siapa Mah."
"Pak Hary..Dia tabrakan di jalan xxx."
"Pak Hary gimana.."
"Alhamdulillah masih selamat, Hanya saja Kakinya Patah sebelah."
__ADS_1
"Trus yang nabrak, Gimana Tante." tanya Aldo.
"Alhamdulilah juga Dia bertanggung Jawab."
"Alhamdulillah..." jawab Rara bersama Aldo.
Mamah menatap Mereka berdua sambil tersenyum.
"Ekhem...Kompak. Udah sehati ni ya..Cie..cie.." ledeh Mamah.
Rara langsung menunduk Malu. Sementara Aldo biasa aja.
"Eh nih Ra.." kata Aldo sambim menyodorkan Kardus berisi.
"Apa itu Nak.."
"Ini Mah, Ini kenang kenangan Dadi Aldo." jawab Rara sedikit Berbohong.
"Jangan bohong Sayang..Dosa loh."
"Ih beneran Mah, Ini milik Aldo tapi Buat Rara Ko. Yakan Al."
Aldo mengangguk sambik tersenyum Ramah.
"Apa kalian Pacaran.."
Aldo sama Rara saling tatap.
"Eum..Udah ya. Mamab seneng deh, Kamu sudah ada yang jagain."
Rara tersenyum Malu2.
"Eh iya Mah, Kakak belum Pulang."
"Apa Dek, Kangen sama Kakak yang Cantik ini." sahut Kak Riri yang baru saja Masuk.
"Yeehh..Geer. Aku cuman nanya Doang."
Aldo mengangguk canggung.
"Jangan bercandaa Mulu, Sini mana Hasil kalian."
Rara mengeluarkan Raport beserta piagam dan Piala dari dalam Dus.
Rara sengaja memasukannya supaya gak Ribet membawanya.
"Kamu selalu banggain Mamah Sayang."
"Makasih Mah."
"Kalo Kakak mana.."
Kak Riri sedikit tertahan memberikan Hasilnya."Maaf Mah, Kakak gak bisa Banggain Mamah."
"Ihhh gak papa Sayang. Kamu masuk Sepuluh Besar Aja Mamah Seneng."
"Makasih Mah." Kakak langsung memeluk sang Mamah Sayang.
Rara juga ikutan Memeluk Mamanya.
Aldo hanya menyaksikan keluar yang tadinya Renggang sekarang Harmonis seperti ini dihadapannya.
Mamah langsung melepaskan Pelukannya kala Sesak melandanya Lagi.
hh...hh...h...
Napas Mamah jadi makin melambat dan Mamah langsung memuntahkan Darah yang begitu Merah pekat.
__ADS_1
Rara, Kakak, Dan Aldo kaget bukan Main.
Apalagi ini mereka menyaksikannya sendiri.
Aldo langsung Berlari kedalam Kamar mandi membawa Ember.
Sementara Rara membawa Handuk kecil Beserta Air minum.
Kakak mengambil Makanan dan juga Obat.
Mereka jadi sibuk mondar mandir gak jelas.
"Sini Sayang. Kalian jangan Repot repot. Mamah gak papa kok, Mamah cuman Mau istirahat supaya Sakitnya ilang."
Rara dan Aldo mendekat. Sementara Kakak sudah berada di Samping Mamahnya lebih Dulu.
"Yuk Tan, Biar Al Gendong kekamar." tawar Aldo.
"Gak usah Tante Gakpapa."
Rara dan Kakak langsung memegang kedua bahu Mamah masing2.
Aldo langsung membukakan Pintu Kamar supaya Cepat.
"Mamah mau Istirahat." kata Mamah sambil mereka Baringkan."Maafin Mamah Sayang, Mamah Banyak salah samu Kamu.." sambil mengelus Rambut halus Rara.
Rara langsung menggenggam Erat tangan Mamahnya." Mamah gak Salah Apa apa. Yang seharusnya minta Maaf itu Rara Mah, Rara selalu Merepotkan Mamah belum bisa berbakti sama Mamah. Maaafin Rara Mah." jawab Rara sambil nangis.
"Kak, Kamu jaga Adek kamu baik baik Ya, Kalian yang akur. Mamah Sayang Kalian berdua."
"Aku janji Mah, Aku akan menjaga Adikku dengan Semampuku. Kita juga Sayang Mamah."
"Nak Al, Tante titip Rara. Mungkin suatu saat ada Masanya Kalian bersedih tapi jangan Mengeluh atau berputus Asa."
Aldo langsung mendekat dan mengangguk pasti.
"Tante sebisa mungkin Aku jagain Rara. Sepenuh juwa dan Raga Tante. Aku akan berusahaa."
"Kak..Jangan pernah Main main lagi ya, Apalagi kalo sudah Berumah tangga. Kamu harus Hormat jangan membantah selagi itu baik untuk Kita semua."
Kakak mengangguk.
"Kalo gitu Mamah bisa istirahat dengan tenang." kata Mamah memejamkan kedua Matanya.
Rara dan Kakak Langsung menangis histeris.
"Mamah...Jangan tinggalin Kita Mah."
Mamah membuka Matanya Lagi secara perlahan.
"Kalian jangan Nangis, Kalian harus Kuat. Mamah akan selalu ada bersama Kalian."
Rara dan Kakak yang tadi memeluk Mamahnya langsung mendongak dan mengangguk.
"Kalian harus janji jangan Nangis buat Mamah.Biar Mamah tenang untuk istirahat."
Kakak, Aldo dan Rara saling tatatp dan merka mengangguk tenang.
Mamah kembali menutup Mata. Tapi gak seperti sebelumnya.
Mamah benar2 menutup Mata untuk selamanya.
Rara semakin menangis histeris bersama Kakanya Kala deru napas mulai melemah dan menghilang.
Aldo berusaha tegar melihat kondisi seperti ini.
Aldo membawa mereka menjauh dari jasad Mamahnya.
__ADS_1
"Ra, Kak.. jangan menangis. Apalagi kalo airmatanya mengenai Tante. Kasian kan Tadi tante udah Bilang harus Kuat. Biar Tante tenang dan gak sedih." hibur Aldo seraya membawa Mereka mundur.
Kakak dan Rara saling berpelukan dan menangis di pelukan.