
Setelah pesta yang cukup melelahkan, akhirnya pesta itu selesai juga. Kini Jeffran dan Kirana sedang beristirahat di kamar mereka yang sudah di hias sedemikian rupa agar mereka menikmati malam pertama mereka.
Kelopak bunga mawar merah itu bertebaran dari ambang pintu hingga ke ranjang, tepatnya di kasur. Kasur empuk itu di penuhi dengan taburan bunga mawar yang di bentuk hati, lilin-lilin aromaterapi juga semakin menambah kesan romantis malam ini.
Lampu temaram di lengkapi dengan suasana sejuk angin malam yang sangat mendukung untuk bermesraan.
"Darl.." Panggil Jeffran saat Kirana baru saja selesai mandi, dia mengusap rambut basah nya dengan handuk kecil.
"Kenapa Mas?" Tanya Kirana, sebenarnya dia cukup khawatir kalau saja Jeffran meminta haknya sebagai suami malam ini. Memang bukan yang pertama kali, mereka sudah sering melakukan penyatuan bahkan sebelum status keduanya belum sah menjadi suami istri.
Tapi untuk kali ini, dia berharap suami nya itu tak meminta nya. Jujur saja, bekas percintaan malam kemarin saat Jeffran dalam pengaruh obat perangsaang itu masih dia rasakan. Intinya masih terasa ngilu dan perih saat dia pipis.
"Eemmm.."
"Kenapa?" Tanya Kirana lagi, entah kenapa Jeff seperti malu-malu untuk bicara.
"Mulai malam ini aku akan memanggil mu Darl, ya?"
"Darl? Panggilan macam apa itu?" Tanya Kirana dengan kening yang berkerut heran.
"Darling, Sayang." Jawab Jeffran.
"Ohh iya, terserah Mas saja mau memanggil ku dengan sebutan apa, mau mandi? Air nya sudah aku siapkan, cepatlah mandi sebelum air nya dingin." Jeff langsung menurut dan masuk ke dalam kamar mandi.
Kirana terkekeh saat melihat wajah suami nya yang terlihat sangat menggemaskan itu, tak biasa nya pria itu nampak malu-malu, padahal biasanya dia seperti pria yang urat malu nya putus alias tak tau malu dan suka seenaknya.
"Dia sangat menggemaskan sekali." Gumam Kirana, sambil menggelengkan kepalanya. Dia masuk ke ruang ganti dan menyiapkan pakaian yang akan suami nya pakai.
Suami? Ohh rasanya dia masih berada di alam mimpi, punya suami dan dia menyandang status sebagai istri dari Jeffran Abian Leonard. CEO perusahaan tempat dia bekerja, mengais rezeki untuk biaya hidup nya dulu. Tapi sekarang, dia akan hidup bersama pria itu seumur hidup.
Dia tersenyum lalu segera keluar setelah mendapatkan pakaian yang tepat untuk suaminya, pilihan nya jatuh pada piyama bermotif salur berwarna biru navy. Setelah menggantung nya, dia mendudukan tubuhnya di kursi meja rias, dia merias sedikit wajah nya dengan pelembab malam dan sedikit polesan liptint di bibir mungil nya.
Tapi buru-buru dia kembali menghapus nya, dia ingat Jeff selalu saja bergaiirah saat melihatnya memakai liptint itu. Pokoknya malam ini dia tak mau melakukan hal ini dulu, jadi sebisa mungkin dia tak ingin memancing pria itu untuk memakan nya.
__ADS_1
Tak lama, Jeffran keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang menutupi tubuhnya.
"Darl, pakaian Mas dimana?"
"Di ruang ganti, Mas. Mau di pakaikan sekalian?" Tanya Kirana tanpa sadar, membuat nya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Boleh Sayang, kamu memang sangat pengertian." Jawab Jeff dengan senyum penuh arti. Kirana merutuki kebodohan nya sendiri, sudah tahu Jeff sensitif akan sentuhan nya, ini malah menawari nya untuk memakaikan pakaian pria itu, sama juga bohong kalau begitu.
Kirana mengambil pakaian itu dan segera memakaikan nya, dia tak sengaja menyentuh dada bidang suami nya dengan jemari lentiknya, membuat darah pria itu terasa berdesir hebat. Dia mendesis tertahan saat tangan istri nya mulai mengancingkan piyama itu dengan perlahan dan penuh kelembutan.
Tiba-tiba saja, Jeff mencengkram tangan sang istri dan membalik tubuhnya, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat, menghirup aroma bunga sakura yang menguar dari rambut Kirana.
"Aroma mu sangat menenangkan, apa kamu siap untuk malam pertama kita?" Bisik Jeffran, membuat Kirana merinding. Bulu kuduk nya terasa berdiri karena bisikan itu.
"Emmm, Mas. Maaf bukan nya aku lancang, tapi bisakah malam pertama kita undur? A-aku…"
"Tak apa Darl, Mas mengerti. Maafkan atas kelakuan Mas kemarin, sungguh demi apapun itu di luar kendali." Sesal Jeffran, meskipun dia menginginkan nya, tapi dia juga tak bisa memaksakan keinginan nya itu.
"Tentu, aku ingin tidur sambil memeluk mu." Jawab Jeffran langsung setuju, biasanya tidur tanpa bermain dulu akan membuat matanya sulit terpejam, tapi dia juga tak bisa memaksa istri nya untuk melayani nya, dia tak mau membuat Kirana kesakitan. Cukup saja semalam dia berbuat kasar yang membuat Kirana kesakitan, itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Keduanya pun berbaring dengan saling memeluk, karena kelelahan secepat kilat keduanya sudah larut dalam dunia mimpi.
Beda dengan di tempat lain, dimana sepasang kekasih yang belum resmi itu juga tengah menikmati malam mereka. Setelah pulang dari pesta pernikahan Jeffran dan Kirana, keduanya memutuskan untuk menginap di hotel karena hari sudah sangat larut untuk pulang.
Awalnya Hanna dengan tegas menolak, tapi setelah Andre menelpon Mama Dita di depan nya dan dia mengizinkan, Hanna pun tak bisa apa-apa selain menuruti keinginan Andre dan disinilah keduanya berada saat ini. Andre sedang merokok di temani secangkir kopi di balkon, sedangkan Hanna sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dia menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang jauh, pikiran nya tertuju pada perempuan yang sedang berada di kamar mandi. Apalagi saat tak sengaja dia melihat sekelebat bayangan Queen di pesta tadi, sungguh demi apapun hatinya merasa tenang setelah melihat senyuman tulus yang tersungging di bibir perempuan yang sudah empat puluhbhari meninggalkan dunia fana ini.
'Queen, aku sudah menemukan tambatan hatiku di dunia ini. Aku mulai bimbang, apakah aku bisa menepati janji ku? Seperti yang aku katakan di pusara mu tempo hari? Aku takut tak bisa menepatinya karena aku terlanjur mencintai Hanna.' Batin Andre, nama Queen masih terpatri rapi di hatinya yang paling dalam. Tapi sedikit demi sedikit, Hanna telah menggeser nama Queen di hati nya.
Tak lama, Hanna keluar dari kamar mandi dengan setelan babydoll berwarna merah maroon yang membalut tubuhnya, terlihat sangat menggemaskan sekali. Pakaian itu baru saja datang setelah Andre memesan nya lewat aplikasi, beruntung saja pakaian itu datang tepat waktu.
"Lagi apa, Bby?" Tanya Hanna lalu tanpa basa basi langsung duduk di pangkuan wndrebdengan melingkarkan tangan nya di leher pria itu.
__ADS_1
"Ngopi sayang, hati-hati kena rokok." Peringat Andre saat tangan Hanna mengusap lembut perut nya.
"Udah mandi nya?" Hanna menganggukan kepalanya. "Pantesan aja wangi." Puji nya membuat Hanna tersipu. Wajah nya merona karena pujian dari Andre.
"Kamu cantik, sayang."
"Aku memang cantik, Bby. Mata kamu dari kemarin-kemarin kemana aja sih? Masa baru sadar kalau aku cantik?"
"Haha, aku baru menyadari nya setelah jatuh cinta." Jawab Andre dengan kekehan nya.
"Udah malem, tidur yuk?"
"Neneen dulu boleh?" Pinta Andre, senyum nya benar-benar penuh arti.
"Boleh, tapi gosok gigi dulu. Nanti ini aku bau rokok." jawab Hanna.
"Okey, kamu turun dulu. Berat juga kamu, doyan jajan ya?" Tanya Andre sambil menguyel-uyel pipi Hanna. Memang setelah berstatus tunangan, Hanna jadi lebih berani untuk mengatakan apa yang dia inginkan pada Andre dan tentu saja Andre akan memberikan nya selagi dia bisa. Dan untuk hutang bekas beli celana dalaqm waktu itu, sudah dia lunasi.
Andre benar-benar melakukan permintaan Hanna, sedangkan Hanna entah sedang mengoleskan gel apa di putting nya.
"Sayang, apa itu?"
"Ini gel yang bikin putting aku jadi merah muda gini lho, biar kamu makin gemes."
"Nanti kemakan gimana?"
"Gapapa kok, manis rasa stroberi." Jawab Hanna sambil mendekatkan gel itu ke hidung Andre, dia mengendus nya dan benar saja gel itu berbau manis seperti stroberi.
"Haissh, kamu ini ada-ada saja Yang." Ucap Andre, sambil geleng-geleng kepala, tanpa ragu dia langsung mengungkung tubuh mungil Hanna dan menyusu di dada nya. Ya begini saja sudah cukup, Hanna tetap teguh dengan pendirian nya yang ingin melakukan itu setelah menikah nanti.
...,.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1