Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 94 - Tempat mu Berbagi


__ADS_3

Malam harinya, Kirana memutuskan tidur lebih awal. Entah kenapa tubuhnya saat ini lebih mudah merasa lelah dari biasanya, dia juga merasa lemas, juga tubuhnya terasa aneh, atau ini hanya perasaan nya saja? Mungkin iya, dia terlalu kelelahan berkerja sepertinya hingga membuatnya overthingking.


Sedangkan Jeffran, masih berada di ruangan kerja nya, bersama dengan anak buahnya. Tentu saja mereka sedang membicarakan tentang dalang dari semua gosip yang menyebar di kantor.


"Jadi bagaimana, kalian bisa menemukan bajingan itu?" Tanya Jeffran, dengan tatapan tajam dan tangan yang bersedekap di dada.


"Kami baru menemukan beberapa jejaknya, tapi kami yakin orang itu masih di negara ini. Karena anak buah tuan yang bertugas di bandara, masih belum melihat gerak-gerik nya."


"Ciri-ciri nya?"


"Dia memiliki tatto kalajengking di tengkuknya Tuan, tapi wajahnya di tutupi topeng. Itulah yang membuat kami sedikit kesulitan." Jawabnya.


"Jangan membuang waktu, peringatan kepergian Queen, hanya tinggal beberapa hari lagi. Setelah nya aku akan pergi berbulan madu, aku ingin bajingan itu tertangkap sebelum hari itu, aku tak mau sampai dia membuat keributan atau hal apapun yang mengganggu ku nanti nya!" Tegas Jeffran, membuat anak buahnya itu kesulitan menelan ludah mereka. Kalau sudah begini, mereka harus bekerja lebih keras lagi mencari dalang kerusuhan itu.


"Pergilah, dan segera bawa kabar baik untuk ku!" Tegas Jeffran lagi, membuat semua anak buahnya langsung pamit undur diri, meninggalkan Jeffran sendirian di ruangan gelap nan sepi ini. 


Ruangan pribadi milik Jeff ini memang di desain serba hitam, di lengkapi dengan bar kecil di dalam nya yang di penuhi berbagai macam minuman dengan kadar alkohol tinggi dan berharga fantastis. Jeffran bangkit dari duduknya dan mengambil salah satu botol anggur merah dengan kadar alkohol yang lebih rendah, dia tak mau Istrinya tahu kalau dia minum.


Jeffran menuang minuman itu ke gelas kecil dan menenggak nya dalam sekali tegukan, sensasi panas yang membakar tenggorokan membuatnya memejamkan mata sejenak, sudah lama dia tak minum minuman seperti ini, lebih tepatnya sejak menikah dengan Queen. Jeff menatap nyalang ke depan, dia mengambil panah dan memanah dinding dengan sebuah poto di atasnya.


"Apapun alasan nya aku tetap membenci mu, kau yang sudah membuat aku tersiksa dengan semua kenangan yang kau berikan, sialan!"


Prangg...


Jefgf melempar gelas bekas dia minum hingga pecah berserakan mengotori lantai. Juga cairan merah darah yang baru saja dia tuang, kalau orang biasa pasti akan memikirkan dua kali untuk membuang nya, tapi karena Jeffran adalah pria kaya yang memiliki segalanya, membuang satu gelas anggur merah berusia ratusan tahun bukanlah hal yang besar, dia masih punya banyak. Kalau dia mau, dia bisa saja membeli dengan pabrik nya sekaligus tapi untuk apa minuman sebanyak itu?


Jeff berdecak kesal, lalu meminum langsung minuman itu dari botolnya hingga tandas. Dia bersendawa beberapa kali, meminum satu botol anggur tak bisa membuat nya mabuk, hanya sedikit pusing saja.


"Aku membenci mu, sangat!" Gumam nya, lalu kembali meminum minuman itu. Lalu melempar botolnya, dan pergi meninggalkan serpihan-serpihan itu disana tanpa memperdulikan nya. Jeff berjalan sempoyongan menuju kamar nya, tanpa memperdulikan tatapan kedua orang tua nya yang menatap Jeff dengan tatapan heran.


"Jeff kenapa? Sudah lama dia tak mabuk, apa dia punya masalah besar?" Tanya Carina lirih, pada suami nya.


"Entahlah Ma, biarkan saja. Mau bagaimana pun, Jeff dan Kirana punya masalah masing-masing, meski bisa saja terlihat baik-baik tapi kita tak tahu hati manusia itu seperti apa." Jawab Radit, meskipun melihat menantu nya seperti itu membuat nya iba. Karena dia tahu benar, Jeff tak pernah mabuk-mabukan hanya jika dia memiliki masalah besar saja.


"Iya Pah, semoga apapun masalah nya, Kirana bisa membuatnya tenang." Radit mengangguk, dia setuju dengan ucapan sang istri.


"Kirana memang perempuan yang baik, tak salah putri kita menitipkan Jeffran padanya."


"Iya Ma, Queen juga takkan bertindak gegabah kan? Terlebih Jeff adalah suaminya, dia pasti menyelidiki terlebih dahulu latar belakang Kirana sebelum melakukan hal itu."


Setelah obrolan itu, tak ada yang mengeluarkan kembali suaranya, hingga keduanya memutuskan untuk tidur saja, karena malam juga semakin larut.


Di kamar, Jeff tersenyum saat melihat Kirana sudah tidur nyenyak dengan memeluk guling. Pipi cabi nya menekan bantal hingga membuatnya terlihat sangat menggemaskan di mata Jeffran. Dia mendekat dan berbaring di samping perempuan itu, mengusap pelan kepalanya, lalu mengecup kening nya.


Tapi Kirana yang ternyata belum sepenuh nya tertidur malah terbangun dan mendongak menatap wajah tampan sang suami yang tepat berada di depan nya, bahkan dia bisa merasakan sapuan hangat nafas pria itu menerpa wajahnya. Aroma alkohol menguar dari mulutnya, membuat Kirana mengernyit, dia pernah mencium aroma menyengat ini di suatu tempat.


"Kamu habis minum?" Tanya Kirana sambil meraba rahang tegas sang suami.


"Eehhmm, sedikit Sayang." Jawab Jeffran sambil cengengesan.


"Kenapa minum hmm? Lagi ada masalah ya, cerita sama aku." Ucap Kirana sambil membingkai wajah Jeffran. Pria itu tersenyum lalu mengambil tangan Kirana yang berada di wajah nya, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan.


"Tidak, sayang. Hanya untuk menghangatkan tubuh saja."


"Apa aku sudah tidak berguna, Sayang?" Tanya Kirana manja, membuat Jeffran terkekeh. Istri nya berubah manja sekarang, tapi Jeff sangat menyukai sifat perempuan nya yang sekarang.


"Bukan begitu, sayang. Kamu berbeda."


"Iya beda, aku juga tahu. Aku manusia, dan itu minuman, simpel kan?" Jawab Kirana, sambil tersenyum manis.


"Itu tau, Sayang." Ucap Jeffran sambil mencolek hidung mancung istrinya dengan gemas.


"Aahh kamu bau, gosok gigi sana. Aku buatin air lemon hangat, mau?"


"Air lemon buat apa, aku tidak mabuk, sayang. Tapi boleh deh." Jeffran cengengesan membuat Kirana gemas dan mencubit kedua pipi Jeffran saking gemas nya. Lalu bangkit dari rebahan nya dan pergi ke dapur, meninggalkan Jeffran di kamar sendirian.


"Kiran, kamu selalu bisa membuat aku jatuh cinta setiap harinya." Gumam Jeffran, sambil menggelengkan kepalanya. Lalu pergi ke kamar mandi melakukan permintaan sang istri.


Di dapur, Kirana mengiris lemon dan menyeduh nya dengan air panas dan menambahkan gula jagung agar lebih sehat, lalu membawanya kembali ke kamar. Jeffran lagi-lagi menyunggingkan senyuman manis nya saat melihat sang istri yang nampak cantik dalam balutan kimono tidur selutut.


"Kamu cantik sekali."


"Gombal, pasti ada maunya kan? Mau apa coba?" Tanya Kirana, dia sudah tahu maksud suami tampan nya itu memuji nya, pasti ada maksud terselubung.


"Hehe, pengen sih."


"Pengen apa?" Tanya Kirana pura-pura tak tahu keinginan pria di depan nya.


"Pengen masukin kamu, udah dua hari nih gak buat kamu mendesaah." Jawab Jeff nakal. Kirana terkekeh melihat kemesuman suami nya yang mulai on kembali.


"Kamu lupa aku lagi datang bulan?" Seketika senyuman nakal Jeff hilang, berganti dengan ekspresi lesu.


"Dihh, ekspresi nya kok langsung gitu sih." Kirana tertawa melihat perubahan mimik wajah sang suami.


"Bete aku, lagi pengen malah ada aja halangan nya."


"Bentar lagi juga kelar."


"Tapi kan pengen nya sekarang, Sayang." Rengek Jeffran.


"Isshh geli.." Kirana terbahak melihat tingkah Jeff yang begitu manja menurutnya.


"Sayang.."


"Sini aku bantu keluarin pake mulut aja, mau?" Tawar Kirana membuat Jeff semringah.


"Mau, Sayang." Jawab nya, dia langsung membuka celananya sekaligus dengan boxer nya, membuat benda yang sedari tadi terasa sesak itu langsung mencuat dan berdiri tegak dengan gagahnya.

__ADS_1


Jeff berdiri dan membiarkan Kirana berlutut di depan nya, dia memijit-mijit benda menegang itu dengan lembut dan mulai menjilati kepala senjata Danish dan memutarkan lidah nya di lubang kecil milik pria itu, Jeff memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut nan nikmat yang di lakukan sang istri.


Hingga puncaknya, Kirana mengulum setengah senjata nya hingga membuat pipi nya menggembung.


"Aahhhh.." Jeff mendesaah tertahan saat mulut Kirana bergerak maju mundur dengan setengah senjata nya yang dia kuluum dengan lahap.


Jeffran menggigit kecil bibir bawahnya, dia ingin mendesaah kuat saat Kirana mempercepat gerakan nya tapi dia tak mau kalah secepat itu.


"Aaarrghhhh, Sayang.." Erang Jeff, dia menekan kepala Kirana hingga senjata nya itu mentok hingga ke ujung nya. Kirana mendongak, dia menatap wajah Jeff yang terlihat sayu.


"Lagi Sayang, lebih cepat."


"Lutut ku sakit, sambil tiduran saja?" Tawar Kirana, Jeff segera mengangguk dan memeluk istrinya dengan erat lalu melemparkan nya ke kasur.


Jeff berbaring dengan senjata yang mengacung. Kirana kembali menjilati benda itu dari bawah hingga ke atas nya, tak lupa memakan dua telur milik pria itu.


"Yang, ini bulu nya udah terlalu panjang, di rapihin ya?"


"Kamu yang rapihin ya, Sayang?"


"Iya besok, sekarang aku akan memuaskan mu."


"Baiklah, lakukanlah Sayang." Jawab Jeffran, membuat Kirana merasa tertantang untuk bisa menaklukan pria itu. Padahal dia sudah sangat sering melakukan nya, Jeff juga selalu merasa puas dalam permainan nya.


Kirana kembali memakan senjata itu dan bergerak maju mundur lebih cepat hingga membuat Jeff blingsatan saking nikmatnya.


Byurr..


Cairan hangat nan kental itu menyembur dengan derasnya di dalam mulut Kirana, seperti biasa perempuan itu akan menelan nya habis, seperti waktu itu.


"Terimakasih Sayang, aku sangat puas!" Ucap Jeffran dengan nafas yang tersengal setelah ledakan klimaaks yang benar-benar membuat nya lega.


"Ya sama-sama Sayang, ayo bersihkan senjata mu. Lalu kita tidur."


"Males, di lap aja pake tisu basah." Tolak Jeff sambil memeluk sang istri dengan erat.


"Yaudah, aku lap in." Putus Kirana, lalu segera mengelap senjata yang sudah keriput itu dengan tissu basah yang tersedia di nakas. Setelah selesai barulah dia kembali berbaring dan Jeff langsung memeluknya, seolah tak membiarkan Kirana tidur dengan bebas sendirian, harus selalu dalam pelukan hangat nya. 


Tapi, bukan Jeff namanya kalau tak mesuum, tangan nya merayap menuju buah kenyal ranum milik sang istri dan meremaas nya dengan lembut, membuat Kirana bergerak-gerak tak karuan karena geli.


"Ayo tidur."


"Iya, biarkan tangan ku disini, hangat." Pinta nya, kalau sudah begini lebih baik biarkan saja Jeff dengan segala tingkah lakunya, di larang pun akan percuma. Tak lama, keduanya pun larut dalam dunia mimpi, tak membutuhkan waktu lama memang apalagi setelah merasa terpuaskan, pasti akan tidur lebih cepat dan nyenyak.


Pagi harinya, Kirana terbangun lebih dulu. Dia berusaha menyingkirkan lengan sang suami yang memeluk erat pinggangnya dengan susah payah dia berhasil menyingkirkan lengan pria itu. 


Dia bernafas lega saat berhasil membuat lengan pria itu lepas dari nya tanpa membangunkan sang pemiliknya yang masih tertidur nyenyak.


Kirana pergi ke kamar mandi, gosok gigi dan mencuci wajahnya lalu turun kebawah. Dia melihat Carina tengah berkutat dengan bahan masakan dengan apron yang menempel di depan tubuhnya.


"Ehh Kiran, sudah bangun nak?" Tanya Carina yang masih fokus mengiris sayuran.


"Sudah dong Ma, mau masak apa?"


"Capcai seafood, ayam goreng lengkuas, sama sup tahu." Jawab Carina.


"Kiran bantu ya Ma." Kirana mengambil alih pisau dari tangan Carina dan melanjutkan acara iris mengiris nya.


"Hati-hati Nak, pisau nya tajam."


"Iya Ma, Kiran tau." Jawab Kirana dengan senyum yang merekah di bibirnya. Carina mengaduk ayam yang sedang dia rebus dengan bumbu kuning sebelum di goreng, Kirana juga sibuk dengan tugasnya.


"Sayanggg..." Teriak Jeffran dari atas membuat Kirana terkejut dan tak sengaja pisau itu mengenai jemari nya.


"Aaasshhh.." Kirana meringis sambil mengibaskan tangan nya yang mengeluarkan darah. Cukup banyak hingga menetes ke lantai.


"Kiran.." Pekik Carina saat melihat darah segar mengucur dari jari Kirana. Carina panik dan langsung mengambil tissu lalu menutup luka itu, tapi darah itu masih terus mengalir hingga satu lembar tissu itu penuh dengan darah.


"Lho, sayang kamu kenapa?" Tanya Jeffran tak kalah paniknya.


"Tangan nya ke iris." Jelas Carina, membuat Jeff menatap perempuan yang menunduk itu dengan tajam.


"Kamu ini gak bisa hati-hati apa? Kenapa begitu ceroboh." Ucap Jeff, dia menarik tangan Kirana yang terluka dan membuka tissu nya. Ternyata luka yang Kirana alami cukup dalam, pantas saja darah nya dari tadi terus mengucur.


"Jeffran, istrinya luka malah di marahin. Obatin sana!"


"Iya Ma." Jawab Jeff, lalu membawa istrinya ke sofa, dia mengambil kotak P3K dan mengobati luka nya.


"Lain kali hati-hati, sayang. Jangan buat aku khawatir, kamu ini selalu saja-"


"Tanya dulu, ini gara-gara siapa coba? Ini gara-gara kamu yang tiba-tiba teriak aja, aku kan kaget jadi nya ke iris." Sewot Kirana dengan nada ketus, beberapa kali dia meringis saat Jeff mengoleskan obat merah di luka nya, bahkan dengan iseng menekan nya hingga membuat darah nya kembali mengucur.


"Awww sakit dong, jahil amat!"


"Habisnya malah nyalahin, dimana-mana kalau kamu nya hati-hati ya nggak bakal luka gini."


"Ya kan ini luka gara-gara kamu teriak, Sayang."


"Yaudah lain kali hati-hati, jangan ceroboh." Ucap Jeff sambil mengusap lembut kepala sang istri, lalu mengecup kening nya.


"Ihh kamu gak cuci muka dulu? Itu iler nya di lap dulu Yang, jorok!"


"Aku ileran gitu? Iler orang ganteng mah wangi kok, Yang." Celetuk Jeff sambil cengengesan.


"Aku lanjutin masak dulu, kamu mandi terus siap-siap. Kan kita kerja hari ini,"


"Mandiin." Manja Jeff membuat Kirana memutar matanya dengan jengah.

__ADS_1


"Punya tangan kan? Mandi aja sendiri, Sayang."


"Nggak mau." Rengek Jeff membuat Radit yang baru keluar dari kamar itu menggelengkan kepala nya melihat tingkah Jeff yang seperti anak kecil merengek pada ibunya.


"Inikah CEO dingin itu? Kenapa berubah jadi begini, ya?" Cetusnya membuat Jeffran langsung menoleh.


"Ehh Papah." Jeff nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang padahal gak gatal mungkin.


"Es nya mencair Pah, jadi nya gini."


"Lucu sekaligus menyebalkan ya, Kiran?"


"Iya nih Pah, nempel mulu kayak perangko."


"Sayangg.." Rengek Jeff sambil mengayunkan lengan sang istri, membuat Radit terkekeh.


"Turutin dulu sana, susah kalo gak di turutin dulu."


"Iya-iya, ayo sana mandi bayi besarku." Mendengar jawaban Kirana, seketika ekspresi Jeff berbinar cerah. Dia tersenyum dan langsung menarik Kirana ke kamar dengan terburu-buru.


Radit yang melihatnya hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Pria itu, itu juga mengingatkan nya pada mendiang sang putri. Dulu, saat masih awal-awal menikah dengan Jeff juga bertingkah seperti itu. 


Tapi setelah dua tahun pernikahan, kehangatan keduanya seolah sirna. Dia bukan nya tutup mata atas perubahan rumah tangga anak nya, tapi dia mengira hanya masalah sepele. Maklumlah, Queen adalah putri nya satu-satunya, dia besarkan dengan segala kemewahan dan membuatnya tumbuh menjadi gadis manja. 


Dia kira mereka hanya perlu waktu untuk menyelesaikan masalah nya, tapi ternyata Jeff malah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan. Saat itulah dia tahu kalau ternyata masalah yang Queen buat bukan masalah biasa, tapi masalah yang besar.


Dari mulai saat itulah, dia menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Jeff, bukan berarti dia tak menyayangi putri nya sendiri, tapi kesalahan yang putri nya buat itu sudah sangat fatal. Apalagi Jeff yang melihat nya dengan mata kepala nya sendiri saat perselingkuhan itu terjadi.


"Nak, bisa-bisa nya kamu menyia-nyiakan pria sebaik Jeff. Tapi tak apa, tidurlah dengan tenang, perempuan yang kamu pilih tak salah. Dia bisa mengurus Jeffran dengan baik." Gumam Radit, lalu menyusul keberadaan sang istri di dapur.


Sedangkan di kamar, Jeff malah meminta servis tambahan pada istrinya. Meski sempat menolak, tapi mau bagaimana lagi. Dia tak bisa melayani Jeff dengan mulut bawahnya karena dia sedang kebanjiran, tapi memuaskan Jeff menggunakan mulut atasnya juga sangat membuat nya mual kalau boleh jujur.


"Udah ya? Tadi kan minta nya cuma di mandiin doang, tapi kok jadi minta servis."


"Biar semangat kerja, Yang."


"Nggak deh, udah cukup aku mual ini." Pinta Kirana memohon, membuat Jeff tak tega dan memilih mengiyakan dan menyudahi aktivitas nikmat itu. Keduanya pun mandi bersama, bedanya Jeff berendam di bath up dan Kirana yang mandi di bilik shower.


Setelah menyelesaikan kegiatan nya, Kirana keluar lebih dulu dan bersiap-siap. Tak lupa menyiapkan juga pakaian kerja pria yang masih betah berendam di bath up, tapi tak lama pria itu keluar dan segera menyusul istrinya ke ruang ganti.


"Sayang.." Bisik Jeff tepat di telinga sang istri, air dari rambut nya menetes ke blouse yang baru saja Kirana pakai.


"Kenapa hmm?" Tanya Kirana, dia mengusap lembut tangan Jeff yang memeluk perut ramping nya dengan erat.


"Males kerja deh, pengen nya sama kamu terus."


"Kamu kan kerja sama aku, jangan di biasain males nya. Itu contoh yang buruk buat karyawan kamu nanti, kalau CEO nya aja males gimana pegawai kamu nanti? Bawahan kan ngikutin gimana atasan nya." Ucap Kirana memberi nasihat.


"Aku mau satu ruangan sama kamu, gimana?"


"Enggak ahh, yang ada kamu mesumin aku terus kalau kita seruangan. Lagian beberapa hari lagi, aku mau berhenti kerja aja."


"Kamu kalo berhenti kerja, mau ngapain aja di rumah, sayang?" Tanya Jeff.


"Jambang kamu udah terlalu panjang Sayang, rapihin ya?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan sayang, aku tanya alasan mu!" Tegas Jeff membuat Kirana tersenyum.


"Kalau aku jawab aku ingin fokus dengan keluarga kecil kita gimana?" Jeff tercengang, tapi sedetik kemudian senyum nya merekah.


"Baguslah kalau begitu, aku setuju Sayang." Jawab Jeffran lalu mendusel di dada sang istri.


"Sayang, rambut kamu basah kena baju aku."


"Nanti juga kering, yang." Jawab Jeff santai.


"Pake baju nya, cepet. Perut mu mengalihkan dunia ku!" Kirana segera saja keluar dari ruang ganti sebelum suami mesuum nya itu menggoda nya. Jeff terkekeh melihat betapa menggemaskan nya sang istri sekarang. 


Setelah mengakui kalau dia sudah mencintai nya, sifat nya benar-benar berubah. Dari datar menjadi manja dan lebih berani, bahkan dari bicara nya saja sudah ada perubahan, tak ada bahasa formal lagi jika sedang berduaan saja.


Tak lama, Jeff sudah keluar dengan kemeja salur berwarna navy senada dengan celana bahan nya, Kirana datang dan memakaikan dasi nya dengan rapih, tak lupa mengancingkan lengan kemeja nya.


"Duduk.." Jeff menurut bak kerbau yang di cucuk hidung nya, pria itu menjadi sangat penurut jika pada istri nya. Perempuan itu mengoles minyak rambut di tangan nya, lalu mengusapkan nya di rambut suami nya, lalu menyisir nya ke belakang.


"Tampan nya gak ada lawan." Puji Kirana membuat Jeffran tersenyum, siapa yang tak senang saat perempuan yang di cintai memuji penampilan nya, tentu saja itu membuatnya merasa terbang ke atas awan.


"Iya dong, suami siapa dulu."


"Yuk berangkat." Jeffran mengangguk dan menggamit lengan sang istri, juga menyatukan jemari mereka.


Singkat nya, mereka berangkat ke kantor dengan di antar Pak Amar seperti biasa. Tapi beda nya, kini Jeff dan Kirana memutuskan untuk menunjukan hubungan mereka. 


Buat apa lagi di tutupi? Toh semua orang di kantor juga sudah tahu, berkat orang misterius yang menyebarkan berita terlalu cepat. Jadi nya rumor yang beredar membuat Kirana sempat down bahkan tak mau masuk kerja, tapi dengan segala bujuk rayu Jeff dan kedua orang tua Queen yang meyakinkan nya, akhirnya dia mau bekerja kembali.


Kirana menatap suami nya sesaat sebelum keduanya masuk ke dalam perusahaan, Jeff membalas tatapan perempuan itu lalu mengangguk kilas, meyakinkan kembali perempuan itu kalau semua ini bukan kesalahan termasuk hubungan mereka.


Mereka kembali mengayunkan langkah, memasuki lobi dan membuat banyak karyawan menganga saat melihat sepasang insan yang sudah berani go publik tentang hubungan mereka. Banyak yang menatap benci pada Kirana, tapi ada juga yang memuji kalau mereka terlihat sangat serasi.


"Aku masuk dulu, kalau ada apa-apa bilang padaku. Ingat, jangan diam dan menyimpan nya sendirian."


"Ya baiklah."


"Kamu harus berbagi Sayang, aku ingin menjadi tempat mu berbagi dengan ku, apapun itu Sayang." Ucap Jeffran, Kirana menganggukan kepala nya. Pria itu mengusap lembut kepala sang istri lalu mengecup singkat kening nya, dan mereka pun berpisah masuk ke dalam bilik mereka masing-masing.


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2