
Setelah selesai dengan sesi makan siang bersama di kantin, Jeff menyeret sekretaris nya masuk ke dalam ruangan nya.
"Ada apa lagi?" Tanya Kirana jengah.
"Untuk acara nanti malam, aku ingin melihat penampilan terbaik mu. Aku juga sudah menyiapkan pakaian dinas mu untuk malam ini."
"Baiklah, kalau sudah selesai saya pergi dulu. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan, sebelum anda pergi besok."
"Pergilah, Kiran." Sepeninggal Kirana, Jeff memegang kepala nya yang terasa berdenyut. Dia pusing harus membujuk Kirana agar mau mengandung anak nya dengan cara apalagi.
Perempuan itu berkutat kembali dengan segudang pekerjaan nya, dia harus extra bekerja keras mengerjakan pekerjaan ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah tugas nya sebagai sekretaris yang merangkap menjadi asisten pribadi CEO itu, membuat tugas pekerjaan nya double.
"Huhh, capek juga. Belum lagi satu tugas tambahan nanti malam." Gumam Kirana menghembuskan nafas nya perlahan.
Tak terasa, hari sudah mulai petang. Jeff sudah menunggu nya di parkiran, tumben-tumbenan menunggu nya di mobil, biasa nya juga menunggu di ambang pintu.
Kirana masuk ke dalam mobil, Pak Amar langsung mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang karena jalanan cukup ramai, maklum lah waktu nya pulang kantor. Jadi jalanan sangat ramai, dan beberapa kali laju kendaraan tersendat-sendat, alias macet.
"Kita pulang terlebih dulu, Tuan?"
"Acara nya jam 8 malam, jadi tak ada waktu untuk pulang dulu. Kita ke butik dulu, lalu ke salon." Jawab Jeffran datar.
"Ke salon? Untuk apa?" Tanya Kirana polos.
"Untuk mengubah penampilan mu menjadi putri raja di drama korea." Jawab Jeff, dia gemas pada sekretaris nya itu, pake tanya mau ke salon buat apa? Ya nyalon dong, ini kan bukan acara sembarangan. Tapi acara yang cukup bergengsi, karena yang hadir pasti orang-orang penting, rekan-rekan kerja seorang Azzendra bukan kalangan ecek-ecek. Maka dari itu, Jeff harus mendandani sekretaris nya itu habis-habisan.
Mobil berhenti di depan butik, Pak Amar yang sudah sangat mengerti tugas nya, segera turun mengambil gaun pesanan sang tuan. Dan tak lama pria paruh baya itu sudah kembali dengan sebuah paperbag besar yang dia tenteng.
"Ini gaun nya, Tuan."
"Ya, terimakasih. Kita ke salon di jalan Bintara." Ucap Jeff, membuat pria paruh baya itu mengangguk dan kembali menyalakan mesin mobil nya menjauhi butik itu.
"Kirana.."
"Iya tuan, kenapa?" Tanya Kirana, sedari tadi dia hanya melihat keluar jendela mobil, yang menyajikan pemandangan suasana jalanan kota yang padat.
"Saat aku pergi ke luar kota, ku harap kau tak bertemu dengan Sam. Pria itu terlihat mencurigakan, aku khawatir dia punya niat jahat padamu."
"Iya, lagi pula saya tak menyukai pria itu."
"Baguslah, lalu bagaimana dengan dokter itu?" Tanya Jeff lagi. Dia harus memastikan kalau Kirana juga tak menyukai dokter itu dan berjanji takkan berdekatan dengan pria itu.
"Dokter Bima? Ada apa dengan dia memang nya?"
__ADS_1
"Kau tak menyadari nya kalau pria itu selalu menatap mu penuh kehangatan, Kiran!" Tegas Jeff, entah perempuan di samping nya ini tak tau atau benar-benar polos.
"Mana aku tau, aku tak terlalu memperhatikan nya." Jawab Kirana acuh.
"Pokoknya jangan dekat-dekat dengan kedua pria itu, apapun alasan nya!"
"Baiklah, Tuan Jeff yang terhormat." Jawab Kirana datar, dia kesal dengan tingkah Jeff yang menurut nya sangat mengekang. Itu tak boleh, ini juga tak boleh, dekat ini gak boleh, semua nya gak boleh, yang boleh hanya dekat dengan nya.
"Gadis pintar." Jeff mengacak puncak kepala Kirana.
"Aku bukan gadis lagi, anda sendiri yang merenggut kegadisan saya." Ketus Kirana, lengkap dengan mata nya yang mendelik sebal.
"Ahhh ya, aku lupa. Nanti malam juga aku akan melakukan nya lagi, tak sabar ingin mendengar desahaan mu yang memabukkan." Celetuk Jeff, membuat Kirana melotot. Pasalnya, disini bukan hanya ada mereka berdua, tapi ada orang lain.
"Diamlah, jangan lupa ada pak Amar disini."
"Memang nya kenapa? Dia bisa menutup telinga nya."
"Iya, tapi dia tetap dengar, Tuan. Jadi sebaiknya anda juga menutup mulut anda itu dari pembahasan penuh kemesuuman." Jeff tertawa mendengar ucapan Kirana, dia merangkul pundak sekretaris nya dan menciumi kepala perempuan itu.
"Tuan, geli.."
"Apa nya yang geli? Cuma cium-cium dikit, belum ke tahap yang lebih vulgar." Jawab Jeff cuek, membuat Kirana refleks memukul lengan Jeff cukup keras.
"Ini pertama kali nya kamu berani memukul ku, Kiran."
"Saya seperti ini hanya pada orang tertentu, dulu pada Queen. Tapi saat ini, hanya padamu, Kiran."
"Kenapa berubah?" Tanya Kirana.
"Sejak aku tau kalau Queen menduakan aku, aku berubah. Tak ada kehangatan lagi dalam pernikahan kami, Kiran. Hingga puncaknya, saat dia pamitan untuk melihat bisnis nya di luar kota, aku bernekat menyusul nya. Tapi apa kamu tahu apa yang aku lihat, dia sedang bermain gila dengan pria lain. Aku kecewa padanya, jadi cinta ku padanya sudah memudar seiring berjalan nya waktu." Jelas Jeff.
Kirana melihat ekspresi sendu pria itu, membuat nya tak tega melihat pria yang biasa nya menyebalkan itu, kini terlihat rapuh.
"Yang sabar ya.."
"Aku selalu sabar Kirana, dan ini balasan dari kesabaran ku selama ini, aku mendapatkan mu, Kiran." Jawab Jeff, dia memeluk sekretaris nya dan menenggelamkan kepala nya di dada kenyal Kirana, menduselkan wajah nya disana.
Gunung kembar yang sangat menggemaskan menurut Jeff, kenyal dan sangat nikmat saat dia mengulum puncak nya. Ukuran nya juga sangat pas di tangan nya.
"Ini kenyal banget, Yang."
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu, Tuan!"
__ADS_1
"Kenapa? Aku yang berkuasa disini, aku bebas memanggil mu apapun itu." Jawab Jeff.
"Baiklah, terserah anda saja." Jeffran kembali memeluk Kirana dan memberikan remasan-remasan lembut di dada kenyal sekretaris nya, membuat perempuan itu bergerak karena geli. Pria ini sangat mesuum, dan semaunya sendiri.
Mobil berhenti di depan salon, Kirana dan Jeff turun dengan tangan yang saling bertautan. Tentunya setelah merapikan pakaian mereka yang berantakan, ya karena ulah pria mesuum di samping nya.
"Miss, tolong buat dia secantik mungkin sampai tak ada yang mampu menyaingi kecantikan nya." Ucap Jeff dengan suara datar nya.
"Siap Tuan, saya jamin anda akan pangling melihat Nona manis ini nanti." Jawab nya, sambil tersenyum ramah.
"Mari Nona, silahkan duduk." Kirana menurut dan duduk di kursi rias dengan lampu-lampu yang menerangi wajah nya.
"Maaf Nona, ini akan sedikit perih. Wajah Nona kasar sekali, kita harus memberi nya scrub terlebih dulu."
"Baik Miss, lakukan saja yang terbaik." Jawab Kirana, dia akan pasrah saja saat MUA itu melakukan apapun pada wajah nya.
Tangan lentik nya mulai melakukan tugas nya sebagai perias profesional, dengan hati-hati dia mengaplikasikan beberapa alat make up yang entah apa saja, Kirana tak tau dan tak pernah memakai kosmetik sebanyak ini.
Jeff fokus pada ponsel nya, dia mengutak atik nya entah apa. Tapi dari pada bosan menunggu Kirana di make over dia lebih memilih bermain bersama ponsel canggih nya.
"Tuan, apa Nona ingin di sulap seperti ala artis-artis Hollywood yang glamor?" Tanya MUA itu, membuat Jeff mendongak.
"Tidak, Kirana ku sudah cantik. Tipis-tipis saja, jangan merusak kealamian nya." Jawab Jeff, membuat perias itu mengangguk dan segera melakukan tugas nya dengan baik.
Setelah hampir satu jam menunggu, kirana sudah selesai dia berjalan anggun menggunakan gaun yang di pilih Jeff kemarin sore. Perempuan itu nampak sangat cantik dengan make up sederhana, rambut yang di gerai yang di catok bergelombang, membuat nya semakin terlihat cantik.
"Tuan.." Kirana memanggil Jeff, membuat pria yang sedang memainkan ponsel nya itu segera mendongak. Hampir saja dia menganga melihat Kirana yang terlihat sangat berbeda, sangat cantik nyaris sempurna.
"Tuan, apa anda baik-baik saja? Heii.." perempuan itu melambaikan tangan nya di depan wajah Jeff, membuat pria itu sadar dari keterkejutan nya melihat sosok Kirana yang nampak cantik, bahkan ini terlihat seperti bukan sekretaris nya. Cantik maksimal, padahal hanya di poles sedikit make up, tapi perubahan nya begitu luar biasa.
"Kamu, Kirana kan?"
"Iya Tuan, aku Kirana Andriana sekretaris sekaligus assisten pribadi Anda." Jawab Kirana, membuat MUA yang masih berdiri disana mengulum senyum nya, melihat kelucuan antara bos dan sekretaris itu.
"Kamu terlihat sangat cantik, tak seperti biasanya. Aku saja sampai pangling melihat mu." Jawab Jeff, lalu membelai wajah Kirana yang halus itu.
"Aku puas dengan hasil make up nya, berapa pun aku bayar."
"Terimakasih kalau anda puas, Tuan." Jawab nya, Jeff mengulurkan sebuah kartu hitam tanpa limit dari dompet nya untuk membayar hasil kerja keras nya itu.
Tak lama, perias itu datang dan mengembalikan kartu itu pada Jeff. Setelah di rasa selesai, kedua nya pun pergi dari salon itu dengan tangan Kirana yang menggandeng mesra tangan Jeff.
Sesekali, Jeff menatap perempuan di samping nya dengan senyuman yang terkembang di bibir nya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷