Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 98 - Jeffran Mengidam


__ADS_3

Kedua insan itu masih saling menatap, saat tiba-tiba Kirana yang melihat sudut bibir Jeffran. Dia tak bisa menahan gelak tawa nya. Apalagi setelah melihat ekspresi suami nya yang seperti keheranan melihatnya yang tertawa lucu padahal dia tak tau apa yang membuat perempuan itu tertawa.


"Kenapa sih, Babe?" Tanya Jeff membuat Kirana memasang wajah imutnya.


"Cuci muka sana, iler kamu kering tuh di sudut bibir."


"Iler? Aku ngiler? Mana ada pria tampan seperti aku ngiler, Yang." Bantah Jeffran sambil mengusap-usap ujung bibirnya, padahal jelas-jelas Kirana tahu kalau suami nya itu membuat pulau di seprai kasur yang dia tiduri tadi.


"Tuh, pulau nya masih basah." Tunjuk Kirana, ke kasur yang terdapat noda basah. Jeff membulatkan mata nya, apa benar dia ngiler?


"Sayangg.." Jeff merengek.


"Dih, siapa yang habis buat pulau ya?" Goda Kirana, membuat Jeffran mendelik lalu bangkit dan mengecupi seluruh wajah Kirana bertubi-tubi, membuat wanita itu tergelak karena rasa geli.


"Awas ya kamu, kalau udah di rumah aku bakal kasih kamu hukuman!"


"Palingan hukuman nya di kamar." Celetuk Kirana, memang biasanya begitu. Jeff akan mengurung nya seharian di kamar dengan dirinya, tentu saja para pembaca juga pasti tahu mereka ngapain di dalam kamar, berduaan.


"Itu ayang tahu, duhh gak sabar pengen liat ayang perut nya buncit, pasti cantik nya gak nahan."


"Kamu kok jadi gini sih? Kemana Jeff yang datar dan dingin itu? Apa kulkas berjalan ini sudah mencair?" Tanya Kirana sedikit menggoda, membuat Jeffran terkekeh geli.


"Gak tau Sayang, ya aku emang gini aslinya kalo udah deket sama orang." Jawab Jeffran sambil mengusap perut rata istrinya dengan lembut.


"Aku lebih suka kamu yang pecicilan begini, keliatan lebih kek manusia normal."


"Manusia normal? Jadi maksudmu selama ini aku tak normal?"


"Eehh, bukan begitu Sayang. Maksudnya kamu lebih hangat seperti layaknya pria, biasanya kan kamu berwajah datar, tanpa ekspresi apapun." Kirana buru-buru mengoreksi ucapan nya sebelum suami nya mengamuk.


Tanpa bicara, Jeff memeluk pinggang Kirana yang masih duduk bersandar di brankar rumah sakit, lalu menduselkan wajah nya di perut rata istri cantiknya.


"Apa kamu tak bosan membuat aku khawatir, Sayang?"


"Maaf, aku tak berniat membuatmu khawatir." Kirana mengusap rambut sang suami dengan lembut, entah kenapa mengusap rambut lelaki itu membuat hatinya sangat tenang.


"Justru aku yang harusnya minta maaf Sayang, karena kurang peka dengan gejala yang kamu alami. Aku minta maaf ya, lain kali aku akan lebih peka. Kalau mau apa-apa, kamu bilang ya?"


"Iya dong, aku kan ngidam dan kamu bapaknya jadi aku minta nya pasti sama kamu."


"Mama sama Papa di rumah pasti seneng denger kamu hamil, mereka juga udah lama pengen cucu."


"Besok kita ke makam kak Queen kan?"


"Itu tergantung kamu, kalau kamu sudah sehat kita kesana untuk peringatan." Jawab Jeffran lirih.


"Aku ingin kesana ya?" Bujuk Kirana. Jeff menatap wajah Kirana yang menunjukan ekspresi menggemaskan nya, membuat pria itu tak bisa menolak keinginan nya.


"Boleh sayang, asal kamu harus kuat ya. Kalau sekiranya pusing, lemes, kita gak usah pergi." Jeff mengusap rambut Kirana dengan mesra membuat perempuan itu merasa sangat di perhatikan oleh suami tampan nya, dia sangat nyaman dengan keberadaan Jeffran di sampingnya.


"Kamu lapar? Mau makan sesuatu?" Tanya Jeff. Kirana langsung menggeleng, dia memang tak mau makan apapun sekarang. Bawaan nya ngantuk aja terus, mungkin karena pengaruh obat yang di suntikan ke dalam cairan infus.


"Aku ngantuk Mas, pengen tidur aja." Jawab Kirana, membuat Kirana langsung melotot. Panggilan mas yang meluncur dari mulut Kirana, selalu terdengar sangat indah di telinga nya.


"Mas? Panggilan itu terdengar sangat menenangkan. Yaudah, ayo bobok. Mau Mas peluk?" Tawar Jeffran.


"Iya, bobok disitu pasti nyaman dan hangat." Tunjuk Kirana pada dada bidang Jeff yang selalu terlihat menggoda untuk bersandar di atasnya, sepertinya saat ini tempat itu adalah tempat paling nyaman bagi Kirana untuk bersandar dan berkeluh kesah.


Jeffran merangkak naik ke atas brankar yang lumayan sempit, membuat tubuh keduanya harus tumpang tindih agar bisa muat untuk berdua.


"Sempit ya, Mas takut perut kamu kejepit."


"Selama gak sakit, aku rasa gak masalah." Jawab Kirana, membuat Jeff merasa tenang. Dia menjadikan tangan nya sebagai bantal untuk Kirana, sebelah tangan nya lagi mengusap lembut kepala Kirana dan melabuhkan beberapa kali ciuman hangat disana. 


Begitulah kebiasaan Jeff sebelum tidur, hampir tak pernah lupa. Atau setelah bercintaa pasti dia menciumi kening istri nya, sebagai bentuk rasa sayang yang dia ungkapkan lewat perlakuan manis dan romantis. Tak butuh waktu lama, saking nyaman nya tidur berbantalkan tangan dan pelukan hangat pria itu, Kirana tertidur lelap hanya dalam hitungan detik saja.


Di belahan bumi lain, rumah yang tadi di datangi banyak sekali orang penting kini tampak lengang, hanya ada tiga orang yang sedang membereskan beberapa properti yang di gunakan untuk melancarkan acara lamaran tadi pagi. 


Mami Dita, Hanna dan Andre sedang bahu membahu membereskan rumah yang terlihat seperti kapal pecah setelah di tinggalkan para tamu itu, meski sudah larut malam tapi ketiga nya masih semangat untuk berbenah sebelum mereka beristirahat.


"Akhirnya selesai juga." Ucap Hanna, setelah hampir  dua jam an dia beberes dengan alat tempur berupa sapu dan sekop.


"Capek sayang?" Tanya Andre, membuat perempuan cantik itu mengangguk. Dia beberapa kali mengusap keringat yang menetes dari kening nya dengan tangan.


"Sudah malam, sebaiknya kalian beristirahat. Yang belum selesai bisa di bereskan besok."  ucap Mama Dita, sorot lelah terpancar dari tatapan mata tua nya.


"Iya Ma, mama tidur duluan aja. Hanna mau minum susu dulu." Mama Dita mengangguk dan berjalan memasuki kamar nya. Hanna berjalan ke dapur, membuka kulkas dan menuang susu cair ke dalam gelas lalu meminum nya hingga tersisa setengah.


"Minum apa, Sayang?" Tanya Andre, pria itu melingkarkan kedua tangan besar nya di pinggang Hanna dari belakang dengan mesra nya.


"Nih minum susu, seger." Jawab Hanna sambil memperlihatkan susu yang tinggal setengah gelas itu.


"Aku juga pengen."


"Mau? Boleh kok, nih." Hanna dengan polosnya memberikan gelas berisi susu yang tinggal setengah tadi ke depan Andre. Pria itu terkekeh, sudah beberapa kali dia menjamah bagian itu, tapi Hanna masih saja tak mengerti keinginan nya.


"Bukan susu yang ini."


"Lah terus? Susu yang mana, Ayang?" Tanya Hanna membuat Andre tersenyum gemas lalu mengecup singkat pipi Hanna, dia membalik tubuh Hanna dan mengungkung tubuh perempuan itu dengan kedua tangan nya.


"Kamu polos atau pura-pura polos, Sayang? Mau aku polosin?" Tanya Andre dengan seringai nakal yang membuat otak Hanna bekerja keras mencerna ucapan pria di depan nya. Hingga dia menemukan jawaban nya, saat melihat tatapan Andre yang fokus ke dadanya.


"Kamu mau ini ya? Di kamar aja, nanti ada Mama."


"Nah gitu dong, kamu ini harus aja aku kodein baru ngerti." Ujar Andre membuat Hanna terkekeh.


"Ya kamu nya ambigu, yang jelas kalo ngomong."


"Ohh iya, aku juga ingin menagih janji kamu tadi siang." Ucap Andre yang membuat Hanna membeku seketika. Andre menarik tangan Hanna dengan semangat ke kamar, tapi Hanna sedikit melakukan perlawanan.


"Kenapa?"


"Susu nya mau aku bawa ke kamar aja, biar gak mual nanti." Pasrahnya, semakin lebar saja senyum di bibir Andre setelah mendengar alasan dari perlawanan yang di lakukan nya.


Keduanya pun beranjak ke kamar, menaiki tangga dengan hati-hati di antara remang-remang nya cahaya lampu. Andre menutup pintu setelah mereka berdua berada di kamar, Hanna meletakan kotak susu dan gelas di meja nakas, lalu melepaskan kaos oversize nya tanpa ragu di depan Andre.


"Sayang, kenapa di buka?" Tanya Andre, pria itu kesulitan menelan ludahnya saat melihat tubuh mulus perempuan di depan nya, tampak sangat menggoda, membuat gairah kelelakian nya langsung bangkit seketika.


"Katanya mau nyusu, bukan nya bagus ya aku buka duluan sebelum kamu yang buka?" Tanya Hanna, Andre tersenyum kesenangan lalu mendekat dan langsung saja memeluk Hanna, melabuhkan ciuman-ciuman basah dari kening, kedua pipi, hidung, bibir, leher dan tulang selangka Hanna.

__ADS_1


"Kamu perempuan pemilik tubuh paling indah, sangat menggoda dan menggaiirahkan." Bisik Andre membuat wajah Hanna tersipu. Tanpa ragu, Andre mulai sesi menyusu di dada ranum Hanna, menggigiti kecil putting susu nya dengan gemas membuat Hanna bergerak tak karuan. Andre mendorong tubuh Hanna, hingga keduanya terjatuh di ranjang dengan Andre berada di atas tubuh Hanna.


Mulut Andre melepaskan kulumaan nya di putting susu Hanna, dia merangkak menindih Hanna yang sudah setengah polos itu.


"Sayang, kok ada yang nusuk?" Tanya Hanna, membuat Andre menghentikan gerakan nya. Kira-kira apa ya yang menusuk itu? Tak mungkin jarum kan, atau.... Tebak aja sendiri, wkwk.


Malam ini terasa sangat sejuk, angin berhembus kencang membuat para penghuni bumi mengeratkan selimut mereka, malam memang sudah larut, waktu yang tepat untuk beristirahat sejenak sebelum di sibukan dengan berbagai aktivitas esok hari.


Tapi tidak bagi sepasang insan yang masih di landa api asmara, suasana kamar itu malah terasa panas, bahkan pendingin udara pun tak mampu mendinginkan tubuh kedua nya yang sudah terbakar gairah.


Ya, sepasang insan itu adalah Andre dan Hanna. Keduanya sedang berciuman panas di atas ranjang, hawa panas menguar membuat keduanya tak bisa mengendalikan tubuh mereka masing-masing.


"Sayang.." Panggil Andre, Hanna mengerti lalu bangkit dari rebahan nya. Andre berbaring telentang di tengah-tengah kasur, Hanna datang dan ya akhirnya dia benar-benar menepati janji nya dengan memakan senjata laras panjang itu dengan mulut atas nya.


Awalnya Hanna terlihat jijik, tapi lama-lama kelamaan dia terlihat menikmati benda itu, dia menguluum nya dengan nikmat. Mengecupi kepala benda itu, lalu menjilat dari atas hingga ke pangkal nya, membuat Andre beberapa kali mengerang.


Hingga beberapa menit kemudian, Hanna terengah-engah, dia merasa mual setelah cairan itu melewati tenggorokan nya, untung saja dia sudah menyiapkan penawar nya, Hanna sangat menyukai susu beraroma stroberi, dan itu seperti obat yang ampuh untuk menghilangkan rasa mual.


"Kenapa cantik?"


"Mual, itu tadi apa sih? Gak enak banget rasanya, bau!" Ketus Hanna sambil menuang kembali susu dari dalam kotak dan kembali meminum nya. Rasa yang aneh dari cairan itu seperti tertinggal di indra perasa nya, hangat, tawar tapi bau anyir. Mungkin itulah deskripsi dari rasa cairan yang baru saja dia telan itu.


"Bibit bayi, jadi sayang kalo harus di buang Yang, itu bibit unggulan."


"Bau!" Gerutu Hanna, dia mengambil permen di laci nakas dan memakan nya, karena rasa itu seperti


"Gantian yuk, sekarang aku yang makan punyamu." Andre bangkit dari rebahan nya dan menarik tangan Hanna kembali ke kasur. Dia menurunkan celana hotpants perempuan itu sekaligus dengan celana segitiga nya juga.


"Tunggu, gak habis makan sambel kan?" Tanya Hanna, dia merasa trauma saat terakhir kali pria itu memakan daging miliknya, dia merasakan panas yang luar biasa, ehh ternyata Andre lupa kalau dia baru saja makan siang dengan sambal bawang.


"Enggak kok, aman." Jawab Andre sambil tersenyum nakal menatap perempuan itu, dia terlihat pasrah saja saat pria itu membuka apa yang dia pakai, hingga terlepas sempurna dan melemparnya ke sembarang tempat.


Andre pun menundukkan kepala nya dan langsung memakan habis daging milik Hanna dengan rakus, pria itu terlalu bersemangat dengan kegiatan yang sedang mereka lakukan.


Hanya beberapa menit saja, dia mampu membuat Hanna mengejang saat meraih klimaaks pertama karena permainan lidah nya di inti miliknya.


"Kamu banjir, sayang."


"Diamlah, aku gak bakal banjir kalo gak kamu giniin." Ketus Hanna membuat Andre tergelak. Dia menutup tubuh polos Hanna dengan selimut dan ikut berbaring di sebelah Hanna lalu memeluknya.


"Aku pengen masuk mulut bawah juga, boleh?"


"Nggak," Hanna masih bisa menolak saat pria itu meminta lebih.


"Baiklah, ayo kita tidur." Ajak Andre, Hanna mengangguk dan menduselkan wajah nya di dada bidang Andre, dengan senang hati pria itu membalas pelukan Hanna dan mengusap lembut kepala nya. 


Tak butuh waktu lama, keduanya larut dalam tidur nyenyak. Di tambah dengan suasana hujan deras di luar membuat mereka tertidur sangat nyenyak, Hanna mengeratkan pelukan nya karena udara yang sejuk menyentuh kulitnya. Andre tahu, dia menarik selimut tebal hingga hampir menutupi seluruh tubuh mereka.


Pagi harinya, Hanna terbangun dengan keadaan tubuh yang polos, begitupun Andre. Hanya mengenakan kaos oblong, tapi tak menggunakan celana. Berbeda dengan Hanna yang polos, tanpa sehelai benang pun.


Hanna memungut pakaian nya dan berlari ke dalam kamar mandi sebelum pria itu terbangun dari tidur nya, dia mengunci pintunya dari dalam. Dia mengusap dada nya lega, untung saja dia dan Andre tak melakukan hal yang lebih dari sekedar saling memakan.


Dia mengisi air hangat di bath up dan menambahkan beberapa tetes aromaterapi juga bath bomb yang membuat air nya memutih dengan busa yang menggunung. Hanna memasukan kaki nya ke dalam air hangat itu dan berendam di dalam nya, memang berendam air hangat di pagi hari itu sangat menyenangkan dan membuat tubuhnya rileks setelah semalaman dia merasakan ketegangan.


"Nyaman nya.." gumam Hanna, dia memainkan air dan busa lalu meniupnya. Tapi ketenangan itu tak berlangsung lama, karena pintu di gedor-gedor dari luar. Pasti Andre sudah bangun.


"Yang, lagi ngapain?" Teriaknya lagi.


"Mandi." Jawab Hanna dengan berteriak juga.


"Bukain dong, pengen ikutan."


"Astaga, kenapa dia sangat menyebalkan. Kalau aja dia gak ganteng, aku gak bakalan mau!" Gerutu Hanna, dia menyambar bathrobe di rak dan memakai nya, tak peduli dengan busa yang memenuhi tubuhnya, toh nanti juga mandi lagi bareng Andre.


Hanna membuka pintu, senyuman secerah matahari pagi langsung di suguhkan oleh Andre, dia menerobos masuk ke dalam kamar mandi lalu membuka seluruh pakaian nya, dan melempar nya ke sembarang tempat, membuat kamar mandi yang awalnya rapih kini berantakan karena pakaian Andre yang berserakan.


"Kamu bawa baju ganti?" Tanya Hanna sambil memunguti pakaian Andre di lantai.


"Enggak, yang."


"Terus kamu mau pake baju apa? Celana sama dalaaaman nya?" Tanya Hanna, tapi Andre malah cengengesan membuat Hanna memutar matanya jengah.


"Minjem punyamu, yang."


"Hah? Gak mungkin dong kamu pake celana punyaku, gak muat. Harus sadar diri, tubuh kamu sama aku beda jauh!"


"Bukan itu lho, tapi baju nya. Dalaaaman nya aku pake itu lagi aja." Ucap Andre dengan santai.


"Dihh kotor! Daripada pake bekas, mendingan beli baru."


"Yaudah kamu beliin di minimarket deket perempatan dong, ukuran XL ya." Cetus Andre membuat Hanna mendelik.


"Menyebalkan!" Ketus Hanna lalu masuk ke bilik shower dan membilas tubuhnya, lalu pergi duluan meninggalkan Andre di dalam kamar mandi.


Hanna segera berpakaian dan turun ke lantai bawah, dia melihat ibunya sedang duduk di temani secangkir teh hangat dan sepiring cemilan.


"Pagi Ma." Sapa Hanna, Mama Dita yang sedang membaca koran harian langsung menoleh dan tersenyum.


"Pagi juga sayang, mana Andre?" Tanya Mama Dita tanpa curiga, kalau keduanya habis melakukan sesuatu semalam.


"Di kamar lagi mandi, dia minta di beliin sesuatu di minimarket, Hanna pergi dulu sebentar, Mama mau nitip sesuatu?"


"Mama mau susu kedelai."


"Okey Ma, Hanna pergi dulu ya."


"Jangan lama-lama, pakai helm nya." Teriak Mama Dita dari dalam karena Hanna sudah pergi keluar rumah dengan terburu-buru. Hanna mengendarai motor matic nya ke minimarket terdekat, dia memarkir motornya di parkiran dan segera turun untuk membeli barang yang di butuhkan oleh Andre.


Dia celingukan mencari benda keramat milik pria itu, entah di rak yang mana, sebelumnya dia belum pernah membeli barang seperti itu, ini adalah pertama kali nya dan dia harap ini yang terakhir kali dia membeli barang semacam itu.


"Permisi kak,"


"Iya kak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu karyawan wanita, wajah Hanna memerah, dia sungguh malu untuk bertanya.


"Eemm itu.." Hanna meminta karyawan itu mendekat dengan tangan nya lalu membisikan barang yang dia perlukan.


"Mari ikut saya kak." Hanna mengekor di belakang karyawan wanita itu dengan malu-malu. Kalau saja dia tak menyukai Andre, dia takkan mau di suruh membeli pakaian dalam pria.


Karyawan itu mengantar Hanna ke rak yang menunjukan deretan ****** ***** pria dengan berbagai jenis, merek dan ukuran nya, juga harga nya yang bervariasi.

__ADS_1


"Ukuran apa kak?"


"XL kak." Jawab Hanna.


"Saya merekomendasikan merek ini, kain nya lembut dan menyerap keringat. Meski harga nya cukup mahal, tapi sesuai dengan kualitas."


"Berapa kak?"


"800 ribu kak." Jawab nya, membuat mata Hanna hampir saja keluar dari tempatnya. Bagaimana bisa semahal itu hanya untuk seonggok pakaian kecil untuk menutupi senjata pria? Tapi melihat boxer yang di pakai Andre saat ini juga tak kalah bermerek nya, salah satu brand yang terkenal dengan harga nya yang di atas langit, LV. Mungkin harga untuk celana boxer saja bisa tembus hingga jutaan rupiah.


"Iya kak, saya ambil satu yang ini. Ada warna hitam?"


"Hitam habis kak, ada nya biru navy, maroon, mustard." What, mustard? Hanna tersenyum geli saat membayangkan jika Andre memakai ****** ***** berwarna kuning, pasti akan sangat menggemaskan.


"Biru navy saja kak."


"Baik, silahkan di bayar di kasir ya kak."


"Terimakasih kak." Jawab Hanna, dia segera membayar di kasir dan tak lupa membelikan susu kedelai pesanan sang Mama.


Hanna pulang dengan hati dongkol, dia punya uang satu juta saja, dan kini uang nya tinggal seratus ribu lagi. Ini semua karena membeli celana dalaam milik Andre, sangat menyebalkan. Memang nya apa bedanya yang mahal dengan yang murah? Kan sama-sama celana dalaam.


Tak butuh waktu lama, Hanna sampai di rumah. Dia melihat Andre sedang memberi makan ikan di kolam dengan celana pendek selutut miliknya yang waktu itu sempat ketinggalan.


"Udah pulang, Yang?"


"Keliatan nya? Kalo aku ada disini ya berarti udah pulang." Ketus Hanna.


"Lho kok bete gitu, kenapa?"


"Masa celana ginian harga nya 800 ribu sih?" Ucap Hanna menunjukan kotak celana dalaam yang dia beli dari minimarket untuk Andre.


"Itu murah Sayang, siniin mau aku pake." Hanna memberikan nya pada Andre, masih dengan raut wajah kesal nya.


"Udah, jangan cemberut gitu dong nanti cantiknya hilang. Nanti aku ganti uang nya ya, ayo sarapan dulu."


"Beneran di ganti ya?" Tanya Hanna, masalahnya uang itu adalah uang terakhirnya, gajian masih cukup lama.


"Iya Sayang nanti aku transfer, ayo masuk dulu." Ajak Andre, Hanna pun menurut dan langsung ke dapur untuk sarapan, sedangkan Andre pergi ke kamar untuk berganti celana.


Di rumah sakit, Kirana baru saja terbangun dari tidurnya. Ini sudah pukul delapan lebih, tak biasa nya perempuan itu akan bangun se siang itu, biasanya jam lika dia sudah berkutat di dapur, mungkin karena efek obat yang dia minum semalam sebelum tidur.


"Sayang, bangun.."


"Heemmm.." Jeffran hanya menjawabnya dengan deheman yang terdengar berat.


"Ayo bangun, kita kan harus pergi."


"Kemana?" Tanya Jeff dengan suara berat nya.


"Ke makam istrimu, bukan nya hari ini peringatan 40 hari meninggalnya kakak Queen."


"Iya, sebentar lagi sayang. Masih ngantuk nih,"


"Kalau begitu lepas dulu pelukan nya, malu sebentar lagi dokter datang." Ucap Kirana, Jeff hanya menurut tapi matanya masih terpejam rapat.


Dan benar saja, tak lama kemudian dokter masuk bersama satu orang suster. Dia memeriksa keadaan Kirana dan merekomendasikan nya untuk pergi ke bagian obygin untuk tahu lebih tentang kehamilan nya.


"Perkiraan saya lima minggu, tapi untuk lebih pastinya silahkan di periksa ke bagian obygin."


"Baik Dok, apa ada larangan untuk saya?" Tanya Kirana.


"Tidak ada, hanya istirahat yang cukup, jangan kelelahan, makan-makanan sehat dan bergizi, kurangi makanan yang terlalu pedas dan cek up rutin setiap bulan ya Nona."


"Baik dokter, kalau hanya sedikit apa boleh makan pedas Dok?" Tanya nya lagi, dia mana bisa makan tanpa sambel.


"Selama perut Nona tidak sakit, boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu banyak ya." Kirana menganggukkan kepala nya lalu tersenyum.


"Apa saya sudah boleh pulang?"


"Keadaan Nona sudah baik-baik saja, jadi bisa pulang sekarang setelah jarum nya di lepas."


"Terimakasih dokter."


"Iya sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi dulu. Di jaga kandungan nya ya Nona,"


"Tentu dok." Jawab Kirana, dia tersenyum sambil mengusap perut datar nya. Wajar masih belum terlihat karena kehamilan nya baru berusia lima minggu saat ini.


"Calon daddy mageran gini." Ucap Kirana sambil mengusap-usap rahang jeggy yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


"Daddy, bangun."


"Emmm, itu panggilan yang bagus. Darl, aku ingin makan rujak kayaknya enak ya." Celetuk Jeff, bangun tidur langsung pengen rujak.


"Makan dulu, baru makan rujak. Ayo bangun, cuci muka, terus kita pulang."


"Mommy cantik banget deh, pengen sun dulu." Manja Jeffran sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kirana.


"Bau iler, sana ke kamar mandi dulu nanti di kasih sun." Jeff cemberut, tapi tetap menuruti perintah calon istri nya itu.


Kirana menyisir rambut nya, jarum infus di tangan nya sudah di cabut tadi. Itu membuat pergerakan nya jadi lebih leluasa, karena tak di ikat oleh jarum dan selang antibiotik.


Dia memoles sedikit liptint di bibirnya, agar tak terlalu pucat. Tapi, Jeff keluar dari kamar mandi dan merebut liptint dari tangan Kirana.


"Kenapa?"


"Gak usah pake beginian Darl, bibir kamu udah manis."


"Aku pake biar gak pucat, Mas."


"Sun dulu." Pinta Jeff sambil memonyongkan bibirnya, membuat Kirana terkekeh lucu. Tak ada Jeffran yang datar sekarang, ada nya Jeff manja nan menggemaskan.


Kirana mengecup singkat bibir Jeffran, juga kedua pipi nya. Jeff tersenyum penuh arti, lalu menggamit tangan Kirana keluar dari ruangan itu, mengajak ibu hamil itu pulang ke rumah. Tapi sebelum pulang, Jeff meminta berhenti di sebuah stand yang menjual rujak.


"Aku yang hamil, dia yang ngidam." Gumam Kirana sambil terkekeh. Lucu juga saat melihat Jeff cemberut karena stand rujak itu sudah mulai ramai sehingga harus mengantri dulu.


"Lihat Daddy tuh, lucu ya.."


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2