
"Sayang.." Ucap Jeff sedikit tergesa-gesa, dia mendekati sang istri yang berada di kebun stroberi saat ini. Dia seperti kecanduan dengan buah berwarna merah itu, apalagi Jeff malah menyediakan kebun nya langsung, semakin senang lah Kirana karena bisa makan buah itu setiap hari.
"Iya, Mas. Kenapa?" Tanya Kirana sambil mengernyitkan kening nya. Ada apa dengan suami nya, dia terlihat cemas dan khawatir. Itu terlihat jelas dari raut wajah nya.
"Ayo kita ke rumah sakit." Ajak Jeff tiba-tiba sambil menggenggam tangan sang istri. Tentu saja Kirana memberi perlawanan, toh dia tak tahu alasan suami nya tiba-tiba mengajak nya ke rumah sakit.
"Ngapain, Mas? Siapa yang sakit?" Tanya Kirana heran.
"Temen mu, Hanna. Dia demam hingga tak sadarkan diri, sayang. Andre membawa nya ke rumah sakit, tapi sampai sekarang dia belum sadarkan diri juga." Jelas Jeff panjang lebar, membuat Kirana menganga.
"Yaudah, ayo kita kesana Mas." Jawab Kirana, namun sebelum pergi dia masih sempat membawa wadah berisi buah stroberi yang tadi dia petik.
"Eehh, sayang tungguin."
"Cepetan dong, Mas. Lambat sekali, biasa nya juga kamu melangkah nya lebar. Satu langkah bisa satu meter." Cetus Kirana membuat Jeff terkekeh. Dia pun menyusul istri nya, lalu kedua nya pun pergi dengan Jeff yang mengemudikan mobil nya sendiri karena Pak Amar sedang cuti hari ini.
Jeff mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, sedangkan Kirana sibuk makan buah dengan lahap. Jeff paham benar karena istri nya sedang gugup saat ini, jadi nafssu makan nya bertambah berkali lipat.
"Sayang, dari tadi itu mulut kamu gak berhenti ngunyah, gak pegel?" Tanya Jeff pada istri nya.
"Enggak, emang nya kenapa? Gak boleh ya, tapi dedek bayi nya kan suka makan buah." Jawab Kirana sambil menatap suami nya dengan sendu.
"Astaga, sayang. Aku cuma nanya doang, bukan berarti melarang, sayangku."
"Aku kira kamu gak suka aku doyan makan."
"Suka dong, kalau kamu suka makan nanti adek bayi nya sehat, apalagi kamu makan nya makanan sehat kayak gini. Yang gak boleh tuh, makan mie instan." Jelas Jeffran sambil tersenyum, membuat Kirana menghembuskan nafas nya dengan kasar. Lalu kembali memakan buah nya dengan lahap.
Setelah hampir setengah jam kemudian, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Jeff sampai di rumah sakit. Kirana langsung turun dari mobil nya lebih dulu, lalu di susul oleh Jeff lalu menggandeng lengan sang istri. Kalau tidak di pegangi, tau sendiri lah kalau Kirana itu ceroboh.
Bisa-bisa dia berlari karena khawatir akan keadaan sahabat nya hingga mengabaikan keadaan nya sendiri yang saat ini sedang hamil muda.
"Mama.." pekik Kirana saat melihat Mama Dita sedang duduk sambil menunduk di kursi tunggu.
"Kiran.." Mama Dita bangkit dari duduknya dan menghambur memeluk Kirana.
"Bagaimana Hanna, Ma?"
"Masih di tangani di dalam, Kiran. Mama sangat khawatir, Nak. Bagaimana ini? Sudah dua jam lebih Hanna di dalam sana, tapi kata nya dia belum sadarkan diri juga." Keluh mama Dita membuat Kirana kembali memeluk wanita paruh baya itu.
"Mama yang tenang ya, Hanna pasti baik-baik saja. Dia kan putri Mama yang kuat, pasti bisa melewati semua ini dengan baik." Ucap Kirana, dia berusaha menguatkan ibu nya Hanna, meskipun hanya dengan ucapan sederhana seperti ini saja.
Mama Dita menganggukan kepala nya, harus nya dia berpikir lebih fositif seperti Kirana. Mau bagaimana pun, Hanna adalah putri nya yang kuat. Dia pasti melewati semua ini dengan baik.
"Permisi, keluarga Nona Hanna?" Seorang perawat keluar dari ruangan itu, membuat Mama Dita langsung mendekat ke arah perawat itu, begitu juga dengan Kirana dan Jeffran.
__ADS_1
"Saya ibu nya, sus."
"Nona Hanna harus di infus, tapi kami sedikit kewalahan menangani nya, karena Nona Hanna takut pada jarum. Bisakah salah satu dari kalian membantu kami?" Tanya nya, membuat Kirana langsung masuk tanpa berpikir dua kali.
Jeff ingin melarang, karena saat ini istri nya sedang hamil muda jadi dia akan lebih rentan tertular penyakit. Tapi terlambat, karena Kirana sudah masuk bersama perawat itu.
"Hanna.." Panggil Kirana lirih, membuat gadis yang sedang menangis histeris itu menoleh.
"Kiran, tolongin aku. Aku gak mau di infus, aku takut." Ucap Hanna, dia langsung melangkah mendekat dengan langkah pelan karena kaki nya masih terasa lemas. Andre juga berada disana, namun dia hanya melihat hal itu. Dia tak menyangka kalau gadis nya ketakutan sampai menangis histeris seperti ini. Andai saja dia di infus sebelum sadarkan diri, mungkin takkan seperti ini jadi nya. Atau mungkin bisa lebih parah lagi?
"Hanna, harus mau ya? Ini demi kesehatan kamu, lihat dia? Dia sangat mengkhawatirkan kamu, di luar juga ada ibu kamu yang mengkhawatirkan kamu, gak kasian sama mereka, Han? Mereka sayang sama kamu dan ingin melakukan yang terbaik buat kamu."
"Tapi, Kiran.."
"Ada aku disini, kalau sakit kamu bisa cubit aku ya?" Ucap Kirana sambil mengusap wajah Hanna yang terlihat pucat.
"Aku gak mau di infus, Kiran.."
"Aku bakalan marah sama kamu lho, kalau kamu gak nurut. Plis ya? Nanti aku kasih kamu kabar baik."
"Kabar baik apa?"
"Rahasia dong, kalau kamu pengen tahu berarti kamu mau di infus dong ya?" Bujuk Kirana. Hanna masih menggeleng.
"Ini berhubungan sama keponakan kamu lho, di dalam sini." Ucap Kirana lagi, sambil mengusap perut nya yang sudah membuncit cukup besar.
"Nah, makanya kamu harus mau di infus. Baru aku kasih tahu, aku jamin kamu bakalan ikut seneng." Jawab Kirana.
"Yaudah deh, aku mau di infus demi ponakan aku." Pasrah Hanna, dia akan melawan rasa takut nya demi keponakan nya yang berada di dalam perut sahabat nya.
"Serius ya?"
"Iya, tapi sama kamu. Aku takut, Kiran."
"Sayang, sama aku aja ya? Kasian Kiran nya."
"Gak mau, kamu galak. Tadi aja bentak aku, jahat." Ketus Hanna. Tadi Andre sempat meninggikan suara nya namun bukan bermaksud untuk membentak sang kekasih, tapi entahlah kenapa Hanna bisa berpikir demikian.
"Iya iya, sama aku ya." Hanna pun mengangguk, setelah merasa tenang Kirana pun memberi kode pada Andre untuk menginfus punggung tangan Hanna dengan perlahan. Sedangkan Hanna, dia memeluk erat tubuh sahabat nya, menyurukkan wajah nya di dada Syera menahan rasa sakit dan takut. Kalau sakit mungkin tidak terlalu, tapi melawan rasa takut lah yang membuat Hanna seperti ini.
Phobia jarum suntik yang di idap oleh Hanna sudah cukup parah, dia harus melakukan pengobatan agar phobia nya tidak semakin menjadi.
Akhirnya, tangan Hanna berhasil di pasangi infus. Namun, tubuh nya malah lemah dan tak sadarkan diri lagi. Membuat Kirana sedikit kesulitan untuk menahan tubuh lemah Hanna.
"Aahhh, tolongin ini berat."
__ADS_1
Andre dengan sigap langsung membantu Kirana, dia membaringkan tubuh Hanna yang terlihat sangat pucat.
"Makasih ya, Kiran. Aku gak tau kalau gak ada kamu bakalan gimana."
"Sama-sama, dia memang sayang banget sama ponakan nya, makanya dia sampai rela melawan rasa takut nya. Nanti, setelah kalian menikah, suruh Hanna melakukan terapi ya." Saran Kirana.
"Iya, Kiran. Aku gak nyangka kalau Hanna akan setakut itu pada jarum suntik."
"Aku keluar dulu ya? Nanti, setelah dia bangun aku bakalan kesini buat ngasih kabar baik buat dia."
"Kabar baik apa sih?"
"Ada deh." Jawab Kirana. Dia pun keluar dari ruangan itu dan kembali menutup nya.
"Sayang.." Jeff langsung memeluk istri nya, seolah istrinya itu baru saja pulang dari perang.
"Isshh lebay nya kamu, Mas."
"Aku kan khawatir, sayang." Ucap Jeffran membuat Mama Dita tersenyum kecil. Tingkah suami sahabat putri nya ini tak jauh berbeda dengan kelakuan Andre, kalau sudah menikah pasti tingkah tak jauh sama seperti Jeff, soalnya sekarang saja sudah mulai kelihatan bucin nya.
"Bagaimana keadaan Hanna, Kiran?"
"Tadi, Kirana berhasil bujukin Hanna supaya mau di infus. Tapi, setelah selesai di infus dia malah pingsan lagi." Jelas Kirana membuat Mama Dita terkejut.
"Sudah Mama duga akan seperti ini, phobia Hanna sudah di tahap cukup mengkhawatirkan."
"Nanti, setelah Hanna menikah sama Andre, Kirana sudah menyarankan untuk melakukan terapi, agar phobia nya bisa sedikit berkurang." Jelas Kirana, Mama Dita menganggukan kepala nya mengerti akan saran yang di berikan oleh Kirana.
"Iya, nak."
"Kalau begitu, Kiran mau periksa dulu. Nanti kami kesini lagi setelah selesai periksa."
"Periksa kandungan?"
"Iya, Ma. Perut Kiran gak enak beberapa hari ini, jadi ini mau periksa. Sekalian, soalnya waktu itu mau periksa tapi malah tutup."
"Yaudah, semoga kandungan kamu baik-baik saja ya."
"Iya, Ma. Kiran duluan ya." Mama Dita pun mengangguk, Kiran dan Jeff pergi dari ruangan tempat Hanna di rawat menuju ke bagian obygin untuk memeriksakan kehamilan nya.
'Semoga saja mimpi itu menjadi kenyataan, aku akan sangat bahagia kalau itu benar-benar terjadi.' Batin Kirana.
Sepanjang perjalanan dari ruangan IGD ke dokter kandungan, Kirana terus saja tersenyum manis, membuat Jeff terheran-heran. Ada apa dengan istri nya?
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻