
Niat hati hanya ingin menyimpan piring ke dapur, Kirana malah di ajak makan malam oleh kedua orang tua Queen, Radit dan Carina.
Keduanya sepakat untuk tinggal di rumah ini bersama Kirana dan Jeff, atas permintaan pria itu. Karena Jeff yang sudah tak punya orang tua, Kirana juga demikian. Radit dan Carina juga pasti akan merasa kesepian setelah kepergian putri mereka satu-satunya, Queen.
Tentunya hal itu membuat Kirana senang, karena dia punya keluarga baru. Dia juga ingat bagaimana Queen menasehati agar menganggap kedua orang tua nya seperti orang tua Kirana sendiri.
"Ayo makan malam, sayang." Ucap Carina.
"Kiran masih kenyang, Ma. Barusan habis makan sekalian nyuapin Mas Jeff." Jawab Kirana sambil tersenyum kecil.
"Di suapin?"
"Iya Ma, itu pun harus di bujuk dulu biar mau makan."
"Hmm, ya sudah. Kamu ngemil aja, temenin kita makan ya." Ucap Carina sambil tersenyum kecil. Sekarang, melihat Kirana terasa seperti melihat putri mereka sendiri, Queen.
"Mama kenapa? Apa masakan nya kurang enak? Besok, biar Kiran yang masak."
"Tak perlu, Nak. Kamu hanya perlu melayani suami mu, bukan kami." Jawab Carina.
"Tapi, Kiran pasti bosan di rumah tanpa mengerjakan apapun. Boleh ya?"
"Izin dulu sama suami mu, Nak. Jangan sampai dia salah paham akan kebaikan kamu." Ucap Radit.
"Apa nya yang harus izin, pah?" Tanya Jeff yang baru saja turun dengan pakaian santai yang sudah Kirana siapkan tadi.
"Mas, aku pengen masak-masak lagi. Nyiapin sarapan, makan siang, makan malam lagi. Boleh kan?"
"Ya kalau kamu nya mau, boleh-boleh aja." Jawab Jeff sambil duduk dan menarik secangkir kopi di atas meja, menyeruput nya dengan perlahan.
"Tuh, Mas Jeff aja ngebolehin."
"Yaudah, iya terserah kamu saja sayang." Ucap Carina sambil tersenyum. Melihat Kirana yang merajuk, benar-benar terlihat seperti putri nya dulu.
"Yes, bisa lakuin hobi."
Radit terkekeh melihat perempuan itu, disaat yang lain sering ogah-ogahan kalau di suruh memasak, Kirana tanpa di minta pun dengan senang hati menawarkan diri, padahal di rumah ini ada banyak maid, tapi ya kalau sudah hobi pasti menyenangkan bisa berkutat di dapur seharian.
Setelah selesai dengan acara makan malam nya, ke empat orang itu pun memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang tamu sambil menonton televisi. Kirana membuat salad buah hari ini, Jeff terlihat sangat menikmati salad buah buatan istrinya, begitu pula dengan Radit dan Carina.
"Apa ada hal yang tak bisa kamu lakukan, Kiran? Perasaan kamu bikin ini itu selalu bisa." Tanya Carina sambil terkekeh.
"Aku gak bisa naik wahana, takut ketinggian, Ma." Jawab Kirana pelan, membuat Carina terkekeh. Dirinya juga tak bisa naik wahana seperti Kirana, tapi putri nya malah kebalikannya. Sangat suka naik wahana permainan, bahkan yang memacu adrenalin seperti terjun payung.
"Kenapa Bu? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kirana saat melihat perubahan raut wajah Carina.
"Tidak, hanya teringat Queen. Dia putri ibu satu-satunya, rasanya sangat berat saat kami harus melepaskan nya saat dia memutuskan ikut dengan suaminya ke rumah ini, tapi itu belum seberapa di banding rasa sakit yang dia tinggalkan setelah kepergian nya." Jawab Carina pelan, membuat Radit langsung mendekat dan memeluk sang istri.
"Sudah Ma, Queen pasti takkan senang melihat kita terus bersedih seperti ini. Mau bagaimana pun, kita harus merelakan nya, dia sudah tenang dan tak lagi merasakan sakit."
"Iya pah." Jawab Carina lirih, tapi mata nya tak bisa berbohong ada luka yang tersirat dari tatapan nya, apa ibu Carina punya semacam masalah dengan mendiang Queen sebelumnya? Entahlah, hanya beliau dan mendiang Queen yang tau.
"Kita boleh mengenang, tapi bukan untuk di tangisi. Queen pasti takkan suka kita begini, lanjutkan hidup kita dengan cara masing-masing. Cari kebahagiaan lain, Queen tau kita kuat." Carina menganggukan kepala nya, Radit pun melerai pelukannya dan duduk di samping sang istri.
"Habiskan salad nya dan beristirahatlah." Perintah Radit, membuat Jeff segera melanjutkan acara makan dessert sehat itu, karena berisi buah-buahan dan saus dari susu dan keju, membuat makanan manis itu terasa sehat.
"Kami pamit tidur duluan, kalian segera tidur juga." Kirana dan Jeff hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Ayo dong, yang." Ajak Jeff, membuat Kirana menatap wajah pria itu dengan tatapan penuh arti, tapi arti apa author pun tak tau.
"Apa?" Tanya Kirana sok polos.
__ADS_1
"Tentu saja jatah ku, Sayang. Gitu aja pake nanya, kan kamu yang nawarin tadi." Jawab Jeff, membuat Kirana memutar mata nya jengah, kalau masalah jatah saja baru cepet. Di pastikan besok pagi tubuhnya akan terasa pegal seperti di gilas mobil, pasalnya setelah melakukan ritual suami istri itu, Jeff akan memeluk nya semalaman seperti guling, membuat nya tak bisa bergerak leluasa.
Keduanya pun beranjak ke kamar setelah menghabiskan salad buah mereka, tentunya Kirana sempat menyimpan mangkuk nya ke dapur dan mencuci nya secepat kilat, karena Jeff terus saja memanggilnya, tak aneh memang jika itu Jeff. Di apartemen saja, jika pria itu di kamar dan Kirana sudah turun ke dapur, dia akan terus memanggil nya dari kamar. Semanja itu Jeff pada Kirana, tapi menyebalkan juga.
Kirana menutup pintu setelah dia ikut masuk ke dalam kamar, dia melihat Jeff sedang berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota, kumpulan lampu-lampu yang menyinari kota nampak begitu indah. Kirana kembali mendekat dan berdiri di samping Jeff, membuat pria itu menatap nya.
Sedari tadi, pria itu betah sekali menatap pemandangan di balkon. Pasti ada alasan nya kan?
"Mengenang masa lalu?" Tanya Kirana lirih. Jeff tersenyum samar, lalu kembali menatap sekumpulan cahaya itu.
"Dulu, aku dan Queen akan berdiri disini beberapa menit sebelum kami tidur. Dia menyukai lampu-lampu yang menghiasi kota di malam hari, itu alasannya kenapa rumah ini memiliki 3 lantai dan balkon." Jawab Jeff, karena kamar mereka saat ini di lantai 3. Akhirnya, Kirana tahu alasan suaminya senang sekali menatap pemandangan kota yang luas dari balkon.
"Kamu merindukan moment-moment itu?"
"Ya, aku rasa sedikit merindukannya." Jawab Jeff, lalu tersenyum manis ke arah Kirana.
Perempuan itu langsung beringsut dan melingkarkan tangannya di pinggang Jeff lagi seperti tadi, memeluk pria itu dari belakang dengan mesra nya, Jeff lagi-lagi tersenyum dan mengusap lembut tautan tangan istrinya dengan lembut.
"Kita tidur sekarang?" Ajak Kirana dari belakang, Jeff mengangguk dan berjalan mengikuti istrinya. Dia berbaring di samping perempuan itu, dan memeluknya dengan erat seperti biasa. Kirana sudah menduga nya, saking eratnya dia sampai kesulitan bernafas.
"Kamu ingin membunuhku ya?" Tanya Kirana sedikit ketus.
"Maksudmu? Kenapa aku harus melakukan hal sekejam itu?" Tanya Jeff, dia belum menyadari pelukan erat nya di tubuh mungil istrinya. Tubuh Jeff yang tinggi, tegap, membuat tubuh Kirana terlihat mungil jika bersamanya, padahal postur tubuhnya sama saja dengan perempuan kebanyakan, tak terlalu besar, tidak terlalu kecil juga.
"Pelukan mu terlalu erat, membuat aku susah bernafas tau." Ketus Kirana membuat Jeff terkekeh, dia mengendurkan pelukannya lalu menduselkan wajahnya di dada kenyal Kirana. Tempat favorit nya beberapa bulan terakhir setelah mereka tinggal berdua di apartemen, juga setelah menikah. Tempat itu adalah favorit nya, tentunya setelah sarang nya yang di bawah.
"Empuk dan kenyal sekali, membuat nyaman. Buka baju nya ya?" Pinta Jeff, lengkap dengan ekspresi lucu nya yang terlihat sangat menggemaskan bagi Kirana.
"Buka saja, memang nya kenapa? Biasanya juga kamu kan buka sendiri tanpa minta izin dulu."
"Yeah, menyenangkan sekali." Jawab Jeff, lalu membuka kancing piyama istrinya dan mengeluarkan buah pepaya ranum itu dari wadahnya.
"Lain kali kalau tidur gak usah pakai bra, sayang. Sulit sekali, mengulur waktu." Gerutunya, Kirana membantu pria itu membuka pengait bra nya dengan mengangkat sedikit tubuhnya. Jeffran langsung mendusel ketika buah itu mencuat dengan bebasnya setelah terlepas dari tali penjerat yang membuat nya terlihat sesak.
Tapi setelah beberapa menit menunggu, tak ada jawaban apapun dari pria itu, hanya terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut nya.
"Ohh, sudah tidur ya? Hmm, syukurlah. Aku selamat malam ini." Gumam Kirana. Dia pun menyusul suami nya untuk tidur dengan nyenyak malam ini. Tentunya setelah beberapa hari dia kekurangan tidur karena menjaga kakak nya di rumah sakit, hari ini dia juga kelelahan perasaan dan pikiran karena kepergian kakak nya yang terlalu mendadak bagi nya.
Di lain tempat, dokter Andre dan Hanna baru saja sampai di rumah Mama Dita. Pemuda itu mengantar Hanna, meski sudah cukup larut tapi mau bagaimana lagi, dia sangat membutuhkan sandaran, dan Hanna adalah sandaran ternyaman nya saat ini.
"Baru pulang selarut ini?" Tanya Mama Dita di ambang pintu, dengan kedua tangan yang bersedekap dada.
"Maaf Bu, tapi.."
"Masuk dan makanlah, Ibu sudah masak banyak makanan." Jawab Mama Dita memotong ucapan Andre. Dia tak mempermasalahkan jam berapapun Hanna pulang, asalkan itu bersama Andre, tak apa-apa kan? Lagipun mereka sudah di jodohkan, kalau terjadi sesuatu tinggal nikahkan saja. Sesimpel itu, menurut pikiran Mama Dita.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, Mama Dita langsung menutup pintunya dan mengikuti kedua sejoli itu yang sudah berjalan mendekati ruang makan.
"Darimana saja kalian berdua? Pulang nya malem banget." Tanya Mama Dita.
"Pasien Mas Pacar, sekaligus istri atasan Hanna di kantor meninggal Ma, jadi kita ke pemakamannya." Jawab Hanna.
"Meninggal? Kenapa, sakit?"
"Sakitnya sudah lama Bu, dua tahun lebih." Jawab Andre di sela makan nya.
"Dua tahun? Sakit apa Nak?"
"Kanker rahim stadium empat, Bu. Terus kena kanker otak juga stadium empat." Jelas Andre, membuat mama Dita terbelalak. Terkejut karena penyakit yang di idap oleh istri atasan putri nya di kantor itu semua nya berat.
"Semoga beliau tenang di alam barunya ya Nak Andre."
__ADS_1
"Iya Bu, Queen itu wanita yang baik. Pasti dia mendapat tempat yang terbaik juga di sisinya." Jawab Andre lirih. Selain tampan dan mapan, ternyata Andre juga bijaksana. Hanya minus sedikit di mata Hanna, Andre itu mesuuman, selebihnya mendekati sempurna.
"Kalau sudah selesai, kalian istirahat saja ya. Ini sudah larut, jadi sebaiknya Nak Andre menginap saja disini. Cuaca nya juga sejuk, takutnya nanti hujan deras."
"Iya Bu, terimakasih."
"Hanna tidur di kamar Ibu lagi ya, biar Nak Andre tidur di kamar kamu."
"Iya Ma, Hanna selesaikan makan nya dulu nanti nyusul."
"Jangan lupa cuci piringnya, terus makanan nya ditutup." Peringat Mama Dita.
"Oke Ma." Jawab Hanna. Mama Dita pun pergi meninggalkan kedua nya, dia terlalu lelah hari ini jadi ingin cepat beristirahat.
"Yang, pengen bobok sama kamu deh." Mesum Andre mode on jika sedang berduaan.
"Nikah dulu, baru bisa bobok bareng."
"Yaudah kapan, sayang?" Tanya Andre dengan manja.
"Besok juga boleh." Tantang Hanna, membuat Andre terkekeh. Berdekatan dengan Hanna bisa membuat dirinya melupakan rasa sakit karena kepergian Queen, sepertinya gadis itu mulai bisa mengisi kekosongan hatinya, menggeser posisi Queen.
"Wihh nantangin, oke deh aku kabulin. Besok aku bawa Mama kesini buat lamaran."
"Eehh, kok serius sih? Aku masih pengen kerja kali, Mas."
"Ya kerja setelah nikah kan bisa? Aku gak bakal ngekang kamu setelah kita nikah nanti, aku juga kerja kan?"
"Laki-laki kan emang wajibnya ngasih aku uang buat belanja, menuhin semua kebutuhan istrinya." Jawab Hanna, benar memang. Karena harga diri seorang laki-laki ada di pekerjaan.
"Istri itu, harusnya di rumah sih ngurusin kebutuhan suaminya, ngelayanin suaminya dengan baik." Balas Andre membuat Hanna mengangguk, perkataan Andre juga benar sekali.
"Ya jadi, aku boleh kerja atau nggak setelah nikah nanti?"
"Boleh sayang, boleh. Tapi gak boleh lupa sama kewajiban kamu ngurusin suami." Jawab Andre lagi, sambil tersenyum hingga membuat mata nya menyipit seperti bulan sabit.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan Kak, aku tau hati kamu masih terisi orang lain kan?" Andre menatap Hanna dengan tatapan tak dapat di artikan.
"Buat aku bisa melupakan mendiang Queen, itu bukan berarti aku tidak bisa melupakan nya kan? Jadi berusahalah." Hanna menganggukan kepala nya, dia tau ini takkan semudah itu, melupakan cinta pertama yang sudah bertahan lama dan terlebih lagi orang nya sudah meninggal, pasti akan cukup sulit.
"Yaudahh, kapan lamaran?"
"Minggu depan gimana? Aku butuh uang buat beli berlian."
"Okey, aku tunggu kamu ngelamar." Jawab Hanna.
"Yee, jadi fiks kita bakalan nikah kan? Wahh aku bakal unboxing kamu sampai pagi."
"Idih, lamaran aja belom udah mikirin unboxing aja." Andre hanya cengengesan, menampilkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapih.
"Lanjutin makan nya, terus tidur." Andre mengangguk, dia segera menghabiskan makanan di piring nya.
Tak lama, acara makan malam sudah selesai. Hanna membawa piring kotor itu ke dapur dan mencuci nya di wastafel, tapi bukan Andre namanya jika tidak mesum.
Dia mendekat dan memeluk Hanna dari belakang, tangan nya dengan lancang meremas buah kenyal milik Hanna dengan lembut. Hanna menepuk tangan Andre yang tak sopan itu dengan tangan nya yang di penuhi sabun.
"Sayang.." Andre merengek, membuat Hanna menghentikan sejenak acara cuci piring nya dan berbalik menatap wajah tampan Andre dengan wajah kesal nya.
"Jangan ngelunjak dong, Mas."
"Emang nya kenapa? Cuma remees itu dikit, habisnya menggoda banget, besar dan kenyal. Lagian kamu kan calon istri aku." Jawab Andre. Dia kembali melancarkan aksinya dengan menempelkan bibir nya di bibir Hanna, meluumat dan memaguut bibir kemerahan itu dengan nikmatnya. Meski sempat menolak, tapi lama kelamaan Hanna juga menikmatinya. Bagi Andre, selalu ada kesempatan dimana pun dan kapanpun itu.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻