
"Bagaimana keadaan Kirana, dok?" Tanya Jeffran dengan mimik penuh ke khawatiran.
"Nona Kirana mengalami pendarahan hebat, kandungan nya terpaksa harus kami angkat."
"Kandungan? D-dia hamil?" Tanya Jeff dengan wajah bodoh nya.
"Anda tidak tau? Nona Kirana hamil 4 minggu, Tuan. Tapi sepertinya Nona Kirana terlalu kelelahan dan banyak pikiran, stress berlebih membuat kandungan nya tak dapat bertahan. Kami terpaksa harus mengangkat nya." Jelas dokter itu, membuat Jeff tak tau harus berkata apa atau berekspresi seperti apa.
"Apa Kirana masih bisa mengandung?"
"Tentu bisa Tuan, rahim nya baik-baik saja. Hanya saya sarankan sebaiknya Nona di beri jarak terlebih dahulu, saya sarankan agar Nona beristirahat total seminggu kedepan." Saran dokter itu, membuat Jeff hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu saya permisi Tuan, Nona Kirana bisa di jenguk setelah kami pindahkan ke ruang rawat."
"Baik dok, terimakasih." Jawab Jeff lesu. Dia kembali duduk di kursi tunggu sambil menutup wajah nya dengan kedua tangan. Dia sangat marah saat tau Kirana hamil tapi dirinya tak tau apapun, tunggu! Apa perempuan itu tau kalau dirinya sedang mengandung?
"Kiran, kenapa kau begitu ceroboh." Gumam Jeff sambil menggelengkan kepala nya, dia sudah lama mendambakan seorang anak dari rahim perempuan itu. Tapi saat mendapatkan nya, dia malah kehilangan nya bahkan sebelum dia tau ada kehidupan lain di rahim nya.
Jeff mengacak rambut nya frustasi, dia tak menyangka akan mendapat kenyataan yang membuat hati nya begitu sesak. Pria itu meneteskan air mata nya, ini pertama kali nya dia meneteskan air mata nya setelah kedua orang tua nya tiada. Ternyata kehilangan sesuatu itu sesakit ini? Dia baru merasakan nya lagi setelah penderitaan pilu 20 tahun lalu, saat kehilangan ibu, ayah, dan adik yang bahkan belum lahir.
"Ya tuhan, inikah karma ku karena sudah menduakan kepercayaan Queen?" Gumam Jeff.
"Tuan.."
"Pak Amar, kalau anda lelah silahkan pulang pak." Ucap Jeff lirih.
"Tuan jangan merasa sendiri, anda bisa bercerita pada saya."
"Kau pernah merasakan kehilangan?"
"Pernah tuan, anak saya hilang berminggu-minggu dan saat di temukan dia sudah tak bernyawa. Ada apa tuan?"
"Apa saya salah jika mengharapkan seorang anak dari rahim perempuan lain yang bukan istri saya? Tapi setelah mendapatkan nya, aku malah menyia-nyiakan nya."
"Maksud anda?" Tanya Pak Amar.
"Kirana keguguran Pak, dia hamil 4 minggu." Jawab Jeff lirih, membuat Pak Amar terkejut mengetahui fakta kalau bos nya sudah menghamili sekretaris nya sendiri.
__ADS_1
"Salah atau benar itu tergantung pada anda Tuan, anda sudah dewasa dan pastinya sudah tau hal yang salah atau benar. Tapi saya cukup menyayangkan dengan peristiwa ini, anda sudah lama ingin punya anak."
"Iya Pak, aku sudah lama menginginkan nya. Queen tak mungkin memberikan aku keturunan karena kondisi nya, tapi Kirana bisa!" Jawab Jeff lagi, nada suara nya terdengar lebih pelan dari tadi.
"Terimakasih sudah mau mendengarkan aku pak, anda bisa pulang. Saya akan menunggui Kiran disini, jangan bilang pada Queen atau siapapun di rumah."
"Baik pak, saya mengerti." Jawab Pak Amar, pria paruh baya itu pun pergi meninggalkan Jeff sendirian, larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan.
Jeff masih duduk termenung di kursi tunggu, belum ada tanda-tanda kalau Kirana akan segera di pindahkan ke ruang rawat, membuat Jeff kesal karena dia ingin segera melihat keadaan Kirana.
"Permisi Tuan, apa anda keluarga Nona yang di dalam?" Tanya seorang suster yang baru keluar dari ruangan tempat Kirana.
"Ya, saya calon suami nya. Bagaimana keadaan nya?" Tanya Jeff, tanpa berpikir panjang dia mengenalkan dirinya sebagai calon suami Kirana.
"Nona sudah sadar dan dia menanyakan anda, silahkan masuk saja." Suster itu mempersilahkan Jeff masuk ke dalam ruang perawatan itu.
"Baik, terimakasih Sus."
"Tapi sebaiknya jangan terlalu berisik, meskipun sudah sadar tapi keadaan nya masih sangat lemah." Peringat suster itu, Jeff hanya menganggukan kepala nya mengerti. Lalu masuk ke dalam ruangan, dia melihat Kirana yang sedang memejamkan mata nya.
"Tuan, kenapa saya disini? Anda tak pulang?" Tanya Kirana lirih.
"Tadi kamu pingsan di pesta, jadi aku membawa mu kesini. Lagipun, bagaimana bisa aku meninggalkan mu dalam kondisi seperti ini? Tak mungkin, Kiran." Jawab Jeff sambil mengusap pucuk kepala Kirana.
"Saya pingsan? Kenapa?"
"Kamu kelelahan, apa kamu tau kalau ada kehidupan lain di rahim mu?" Tanya Jeff akhirnya, membuat Kirana mengernyit. Seperti nya dia belum mengerti kemana arah pembicaraan Jeff.
"M-aksud anda?"
"Kau tak tau kalau kau sedang hamil, Kiran?" Tanya Jeff dengan tatapan tajam nya, awalnya dia menyangka wanita itu tau dan menyembunyikan kehamilan nya. Tapi melihat reaksi yang di tunjukan perempuan itu, sepertinya Kirana juga tak tau kalau sebelumnya dia sedang hamil.
"S-saya hamil? Tak mungkin Tuan, itu tak mungkin."
"Bagaimana itu tak mungkin sedangkan dokter yang mengatakan nya sendiri. Tapi sayang, kau terlalu ceroboh dan membuat anak ku pergi." Ucap Jeff sendu.
"Pergi? Aku keguguran?"
__ADS_1
"Ya, itu karena kau tak menjaga anak kita dengan baik." Jeff menyalahkan Kirana, padahal dia sendiri tidak tau kalau dirinya sedang mengandung anak Jeff.
"Maafkan kecerobohan saya, tapi saya berani bersumpah. Saya benar-benar tak tau kalau saya hamil, tak ada gejala-gejala seperti orang hamil kebanyakan tuan." Ucap Kirana, bagaimanapun dia ikut menyesal karena tak menjaga diri dengan baik.
Meski dia memang tak berharap hamil anak pria itu, tapi jika memang itu terjadi dia akan menjaga nya dengan baik dan sepenuh hati. Tapi masalahnya, dia tak tau menau kalau dia hamil. Dia tak merasakan apapun, tak ada mual-mual pagi hari, atau pusing dan semacamnya.
"Aku terlanjur kecewa dengan mu, Kiran!" Lirih Jeffran.
"Tapi tuan, saya benar-benar tak tau saya sedang hamil." Ucap Kirana, tapi Jeff pergi keluar dari ruangan Kirana, entah kemana. Meninggalkan Kirana yang masih mencerna semua nya, dia hamil tapi bagaimana bisa dia tak tau kalau ada kehidupan lain dalam rahim nya?
Rasanya cukup sakit saat dia kehilangan hal berharga yang bahkan dia tak tau kalau ada janin di rahim nya, tapi dia malah pergi sebelum dia sempat memberikan yang terbaik untuk nya. Air mata Kirana meluncur begitu saja, sakit. Sangat sakit, dia kehilangan anak pertamanya, dan lebih menyakitkan nya lagi Jeff menyalahkan nya karena tak bisa menjaga diri dengan baik.
"Kenapa dia menyalahkan aku? Bukan hanya dia yang merasa kecewa, tapi aku juga." Gumam Kirana di sela tangis nya.
Kirana merasa shock dengan kenyataan yang baru dia ketahui, sangat menyedihkan memang.
"Permisi, selamat malam Nona. Minum obat dulu, agar luka anda cepat pulih." Ucap seorang perawat dengan ramah.
"Anda menangis? Sebaiknya jangan banyak berpikir berat dulu, Nona. Kondisi anda masih sangat lemah." Peringat nya.
"Baik sus, terimakasih."
"Kehilangan itu sudah biasa terjadi Nona, tapi rahim anda baik-baik saja, anda akan bisa mengandung kembali. Jangan bersedih Nona, semoga setelah kesedihan ini ada kebahagiaan yang tuhan siapkan untuk Nona." Ucap perawat itu memberi semangat pada Kirana yang sedang down saat ini.
"Terimakasih suster."
"Sama-sama, silahkan di minum obat nya. Setelah selesai anda harus beristirahat, agar cepat sembuh." Kirana mengangguk dan segera memakan beberapa butir obat itu dalam sekali telan.
"Saya permisi dulu, nanti malam saya kesini lagi untuk mengecek antibiotik anda. Selamat beristirahat, Nona." Suster itu pun pergi dan menutup pintu dengan perlahan. Kirana membaringkan tubuh nya, terasa sakit, ngilu, membuat nya tak bisa bergerak bebas.
"Menyakitkan sekali, harus kehilangan bahkan sebelum tau kalau kamu hadir di rahim Mama, Nak." Gumam kirana, sebelum akhirnya dia tertidur karena pengaruh obat yang baru saja dia minum.
.......
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1