
Tiga hari berlalu sudah, selama itu pula Jeff melewati hari-hari nya tanpa Kirana. Tanpa berhubungan apapun dengan wanita itu. Bahkan tanpa panggilan atau sekedar mengirim pesan untuk saling bertukar kabar. Kirana maupun Jeff tak ada yang memulai lebih dulu, mereka lebih suka bertanya dalam hati, menerka-nerka kiranya sedang apa disana?
Jeff terlihat fokus bekerja, sore nanti dia akan kembali ke negara asalnya. Dia tak sabar ingin memeluk perempuan yang membuat tidur nya tak nyenyak 3 hari ini. Perempuan yang membuat seluruh dunia nya berpaling.
Sedangkan di sana, kebahagiaan tengah menyelimuti hati Kirana. Bagaimana tidak, setelah berbulan-bulan ibu nya koma, akhirnya beliau sadar juga. Itu suatu bentuk keajaiban yang tuhan berikan padanya, dimana dia sudah tak berharap banyak tapi masih setia menunggu kapanpun ibu nya akan sadar, dan penantian itu berbuah manis.
"Mama, mau makan?" Tanya Kirana, tapi ibu nya hanya melirik dengan pandangan sendu. Seperti nya dia tau apa yang sudah Kirana perbuat untuk membiayai operasi nya.
"Ki-ran, maafin mama ya. Mama membuat mu mengorbankan masa depan mu hanya demi membayar biaya operasi." Ucap nya, dia menatap wajah putri nya dengan sendu.
Deegg..
Kirana mematung, dia tak menyangka ibu nya tau kalau dia melakukan semua itu.
"Tak apa Ma, ini semua Kirana lakukan demi Mama. Biarlah orang memandang Kirana seperti apa, yang jelas Mama harus sembuh." Ucap Kirana sambil tersenyum.
"Kemana pria itu, Nak?"
"Pria? Pria yang mana, Ma?" Tanya Kirana, pura-pura tak tau maksud ibu nya.
"Pria yang sudah melakukan nya padamu, dimana dia?"
"Dia sedang bersama istrinya Ma, atau sedang sibuk bekerja." Jawab Kirana membuat ibu nya sedikit terkejut.
"Dia pria beristri?"
"Iya, dia punya istri Ma. Hanya saja beliau punya penyakit, jadi tak bisa melayani kebutuhan biologis nya, jadi dia melampiaskan nya sama Kiran." Jelas Kirana. Ibu Nita hanya menganggukkan kepala nya pertanda mengerti, meski dia tau yang di lakukan anak nya itu sangat salah, tapi mau bagaimana lagi? Ini semua sudah terjadi.
"Mama mau makan?"
"Tidak Nak, Mama belum lapar. Nanti saja ya." Tolak Ibu Nita.
__ADS_1
"Tapi Mama harus makan, lalu minum obat biar cepet sembuh. Nanti kita pulang dan berkumpul lagi seperti dulu." Bujuk Kirana sambil tersenyum.
"Nanti saja ya Nak, Mamanbelum lapar." Kekeuh ibu Nita.
"Baiklah, kalau begitu Kiran mau keluar dulu sebentar ya."
"Kemana?" Tanya Ibu Nita.
"Menemui dokter Bima, ada beberapa yang harus Kirana tanyakan."
"Jangan lama ya, Nak. Mama masih kangen sama kamu."
"Iya Ma, kiranbsebentar aja kok." Kirana tersenyum dan mencium kening ibu nya dengan lembut, mengusap pucuk kepala nya, terlihat sekali kalau Kirana sangat menyayangi satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini.
Kirana pergi keluar dari ruangan ibu nya, dia perlu tau beberapa hal yang mengganjal di hatinya. Meski dia sangat senang karena ibu nya berhasil melewati masa-masa terberat nya saat ini.
Kirana berjalan pelan ke ruangan dokter Bima, tapi ternyata dokter itu sedang pergi keluar untuk makan siang.
Kirana kembali ke ruangan ibunya, dia duduk di samping ibu nya yang kembali tertidur mungkin pengaruh obat yang tadi dia minum. Tak terbayangkan bagaimana bahagia nya Kirana saat ini, ibu nya sudah sadar, hanya saja Jeff belum mau menemui nya, menghubungi atau semacamnya, mungkin dia sibuk bekerja.
Sudah 4 harian ini juga Kirana tak ke kantor karena kondisi nya yang belum memungkinkan untuk bekerja, perut nya juga masih sedikit ngilu, namun tak sengilu kemarin. Apalagi kemarin perut nya malah terbentur dinding karena kecerobohan seorang anak kecil, sudah begitu dia pergi begitu saja bersama ibu nya, bahkan tak meminta maaf sedikitpun padanya.
Orang-orang memang terkadang menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi. Sifat manusia tak semua nya sama, sulit kalau sifat manusia sama. Apalagi sama nya dengan Jeff yang menyebalkan, mesoom dan suka seenaknya.
Mengingat pria itu, membuat Kirana menghembuskan nafas nya. Entah kenapa dia merasa rindu pada pria itu, tapi untuk mengirim pesan lebih dulu pun dia malu, memang nya dia siapa nya Jeffran? Jadi dia tak berhak kan?
Sedangkan di bandara, Jeff baru saja mendarat dengan selamat, dia sangat antusias untuk segera pulang dan menemui Kirana, aahh maksudnya menemui Queen, istrinya. Jeff tersenyum manis saat membayangkan akan seperti apa ekspresi kedua perempuan itu, Kirana dengan Queen. Yang satu berstatus istri nya dan yang satu lagi masih calon.
'Aku pulang, Kiran. Setelah ini kita harus bicara.' Batin Jeff, dia segera naik mobil yang sudah menunggu nya di pintu keluar bandara, siapa lagi kalau bukan supir nya yang begitu setia, Pak Amar.
"Selamat sore, Tuan."
__ADS_1
"Sore Pak, kita langsung pulang." Ucap Jeff, dengan gaya datar nya seperti biasa.
"Baik Tuan, apa tak menengok dulu Nona Kirana?" Tawar Pak Amar.
"Apa dia masih di rumah sakit?" Tanya Jeff.
"Tidak Tuan, kemarin dia sudah keluar hanya saja saya yakin Nona masih belum sembuh total."
"Ya aku tau, tapi kita pulang saja dulu. Aku merindukan istriku, setelah nya aku ingin menemui Kirana untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi di antara kami berdua." Jawab Jeffran.
"Baik tuan, saya mengerti." Pak Amar, mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, cuaca sore hari ini cukup sejuk, seperti nya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Terlihat dari awan gelap yang menggantung di langit, menyambut kepulangan Jeff.
Tiba-tiba saja hati nya terasa berdebar tak karuan, entah akan ada hal buruk apa yang terjadi, semoga saja tidak menimpa dirinya, istri dan juga Kirana.
"Kenapa hati ku rasanya sesak? Ada apa ini, kenapa rasanya aku ingin menangis?" Gumam Jeff pria itu memegang dada nya.
"Anda baik-baik saja tuan?"
"I-iya, aku baik memang nya kenapa?"
"Wajah anda pucat, juga berkeringat Tuan. Apa anda sakit?" Tanya Pak Amar dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja, fokus saja kemudikan mobil nya. Aku ingin cepat sampai ke rumah dan beristirahat dulu." Pak Amar menganggukan kepala nya, meski dia merasa khawatir melihat keadaan bos nya di belakang, dia yakin Jeff merasakan sesuatu, tapi entah apa itu.
Di rumah sakit, Kirana di landa kepanikan. Pasalnya ibu nya yang tadi baik-baik saja, tiba-tiba drop dan membuat nya tak sadarkan diri lagi. Perempuan itu menangis dalam diam, hati nya di landa ketakutan yang besar. Bahu nya berguncang seiring isakkan nya yang semakin lama semakin keras. Dia benar-benar sendiri, menunduk dalam dengan tangan menutup wajah nya yang di banjiri air mata.
"Tuan Jeff, apa anda masih marah? Hingga tak menemui ku, aku rasa aku butuh bahu mu untuk bersandar saat ini." Gumam Kirana di sela tangis nya.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1