Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 95 - Cantik Luar Dalam


__ADS_3

Kirana memulai pekerjaan nya dengan menghidupkan layar laptop nya, tapi dia begitu terkejut saat melihat tulisan di dalamnya.


"Pelacuur, murahan!" Sebuah tulisan yang membuat hati Kirana seketika mencelos, siapa yang sudah berbuat begini? Apa salahnya? Andai saja mereka tahu alasan di balik terjalin nya hubungan ini, mungkin mereka takkan menghakimi nya seperti ini. Apa dirinya memang semurah itu hingga orang lain dengan berani melakukan teror ini, terlebih ini di kantor.


"Kuatlah Kirana, kamu pasti bisa!" Kirana menyemangati dirinya sendiri, dia pun menghapus tulisan dalam laptop nya itu lalu mulai mengerjakan pekerjaan nya, banyak file yang harus dia kerjakan membuat nya fokus dan melupakan sejenak ujaran kebencian itu.


Kirana meraih berkas dari manager keuangan tapi saat dia membukanya, dia langsung memekik dan melempar berkas itu saking terkejut nya. Kirana mengusap dada nya, rasa terkejutnya masih tersisa hingga membuat jantung nya berdetak lebih cepat.


"Ya ampun apa itu tadi, siapa orang iseng yang melakukan hal seperti ini? Kayak gak ada kerjaan." Gumam Kirana, dia kembali mengambil berkas itu. Tapi hewan yang melata yang tadi dia sentuh itu sudah tak ada, mungkin sudah pergi.


Bayangkan saja, bagaimana Kirana tak terkejut. Dia mendapati ular kecil berwarna hitam di dalam berkas, sedangkan ini di kantor, mana ada ular? Sudah jelas ini ulah orang iseng yang ingin mengusik hidupnya.


Kirana memeriksa kembali berkas itu, dan hasilnya hewan itu sudah tak ada, mungkin sudah merayap pergi ke tempat lain.


"Fiuhhh, untung saja sudah pergi." Gumam Kirana, setelah berhasil mengontrol debaran jantungnya, dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedari tadi juga, Jeff memperhatikan gerak gerik Kirana dari kamera pengawas yang dia pasang secara diam-diam. Dia sangat yakin kalau orang itu masih mengincar Kirana dan membuatnya menjauh darinya, tapi Jeff takkan pernah membiarkan hal itu terjadi, Kirana adalah miliknya, dan akan selalu begitu.


"Siapapun kau, ternyata kau sangat bodoh. Aku lebih cerdik darimu, kita lihat saja. Aku yakin Kirana ku, takkan menyerah semudah itu hanya karena kau takut-takuti dengan seekor ular kecil." Gumam Jeffran, dia menyeringai jahat. Ya, akhirnya Jeff tau siapa yang sudah melakukan hal sekotor ini. 


Tapi dia ingin tau sampai mana pria itu akan mengajak nya bermain petak umpet, bahkan dia sudah tahu dimana orang itu berada saat ini.


Jeff mengambil telepon kantor dan menyuruh Kirana masuk ke dalam ruangan nya, tak butuh waktu lama perempuan itu datang dan menyerahkan berkas yang pria itu minta.


"Bagaimana pekerjaan mu, Sayang?" Tanya Jeff datar.


"Lancar kok, kenapa?"


"Kamu berbohong, Sayang?"


"Eemmm, tadi ada sedikit masalah dengan berkas keuangan. Ada seekor ular kecil di dalam berkas itu." Jawab Kirana akhirnya.


"Apa mengatakan kejujuran itu susah?" Tanya Jeff, dia menatap istri nya itu dengan tajam, membuat Kirana menundukan kepala nya. Padahal tadi, dirinya sudah memberi nya peringatan agar mengatakan semua yang terjadi padanya, tapi Kirana malah berusaha menutupi nya dengan mengatakan semua baik-baik saja.


"Apa kata-kata ku tadi kurang jelas? Percuma juga kalau kau berbohong, dari matamu saja aku pasti tau kau menyembunyikan sesuatu!"


"Iya maaf, kalau kamu tahu kenapa nanya." Cetus Kirana, membuat Jeffran mendelik.


"Aku hanya mengetes mu, apa kau akan mengatakan kejujuran. Tapi sepertinya ucapan ku tadi kurang jelas, hingga kau masih berani berbohong di depan ku!"


"Iya iya maaf, sayang."


"Minta maaf yang benar, istriku sayang." Ucap Jeff membuat Kirana mengernyit.


"Cara minta maaf yang benar emang nya gimana?" Tanya Kirana, dia mana tahu apa maksud pria itu. Jeffran berdiri dari kursinya, tak lupa menekan tombol khusus untuk mengunci pintu. 


Pria tampan itu berjalan mendekat membuat Kirana refleks mundur, bahkan saat pria itu terus mengikis jarak, Riana juga semakin dekat ke tembok dan akhirnya tak bisa mundur lagi. Dia menyilangkan kedua tangan nya di dada saat Jeff semakin mengikis jarak.


"Kenapa mundur? Bukan nya kalau aku melakukan sesuatu pun itu sudah biasa, Sayang?" Tanya Jeff dengan sedikit bisikan di akhir kata nya, membuat bulu kuduk Kirana meremang seketika.


"Tapi ini di kantor."


"Memang nya kenapa? Kita pernah beberapa kali bercintaa disini, bagaimana kalau kita melakukan nya lagi? Untuk yang terakhir sebelum kita sah menjadi suami istri?" Ucap Jeffran dengan seringaian nakal di bibirnya.


"Kamu lupa lagi? Aku masih datang bulan." Jawab Kirana. 


"Kalau begitu, berikan aku yang lain!"


"Kan tadi pagi sudah, kok jadi terus minta sih?" Gugup Kirana, dia hanya tak mau penampilan nya berantakan setelah melakukan kegiatan yang mengundang gairah itu.


Kirana juga punya nafsuu, bukan hanya Jeff saja yang bisa bernafsuu. Jadi saat dia menguluum senjata Jeff tadi pagi, sebagai wanita yang pernah di sentuh pasti dia juga bergairaah dan itu akan membuat bagian bawah tubuhnya banjir lendir dan sudah jelas itu takkan membuatnya nyaman menjalani harinya. Apalagi jam kerja masih panjang, bahkan belum makan siang juga.


Jeffran meraih kepala istrinya dan mulai mengecupi wajah Kirana, dia juga mencium bibir Kirana dengan brutal seperti biasa, meluumat dan menguulum bibir mungil itu secara bergantian. Kirana yang awalnya ingin berontak, akhirnya pasrah dan memilih ikut andil dalam ciuman itu. Keduanya saling melumaat satu sama lain, bahkan Jeff menyusupkan lidah nya ke dalam mulut istri cantiknya.


Tangan Jeff merayap nakal meremas buah kenyal di dada Kirana, keduanya larut dalam ciuman nikmat itu, suara decapan mewarnai sunyi nya ruangan itu.


Setelah cukup lama bergelut dalam perang bibir yang begitu menggairahkan, akhirnya Jeff menyudahi ciuman itu. Dia menempelkan kening nya dengan kening Kirana hingga hidung mereka bersentuhan.


"Aku takkan membiarkan siapapun menyakiti mu, Sayang. Dari itu, kamu harus jujur padaku apapun itu." Ucap Jeffran lirih. Kirana mengusap lembut rahang tegas milik Jeff lalu tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Hanya masalah itu saja, aku masih bisa menangani nya, Mas."


"Aku juga percaya padamu, janji pada orang yang sudah mati itu berat dan harus di pertanggung jawabkan. Aku juga begitu, maka dari itu aku berjanji takkan pernah meninggalkan mu apapun alasannya." Jawab Kirana lagi. Nada suara nya sangat lembut hingga membuat senyuman Jeff tersungging manis.


"Mulai besok, kau bekerja di sini Sayang. Aku akan membuat kita satu ruangan, agar tak ada yang berani meneror mu lagi."


"Ya, terimakasih. Tapi aku rasa ini masih belum apa-apa, jadi sebaiknya aku tetap bekerja di tempat ku saja." Tolak Kirana.


"Menurutlah Sayang, bisa saja dia melukaimu!"


"Aku punya dirimu yang akan selalu melindungi ku, bukankah begitu?" Tanya Kirana. Jeff segera mengangguk lalu memeluk istri nya dengan erat.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu saja. Kita ikuti permainan orang itu lebih dulu, kamu setuju?"


"Apapun asal itu dengan mu." Jawab Kirana membuat Jeffran tersenyum lalu mengecup kening sang istri.


"Besok kita harus menghadiri acara lamaran Hanna dan Andre kan?" Tanya Jeff.


"Aahh ya, aku bahkan lupa." Kirana cengengesan, bagaimana bisa dia lupa dengan undangan sahabat nya sendiri.


"Nanti sepulang kerja, kita ke mall untuk beli pakaian couple."


"Harus ya?" Tanya Kirana.


"Tentu saja harus, agar semua orang tahu kalau kamu milik Jeffran Abian Leonard." Jawab Jeff dengan senyum manis nya.


"Baiklah, terserah apa katamu saja." Pasrah Kirana, berdebat dengan suami nya takkan pernah menang.


Setelah adegan di dalam ruangan keramat, Kirana pun keluar dan memilih kembali melanjutkan pekerjaan nya, kali ini aman tak ada gangguan apapun hingga membuat Kirana lupa waktu karena pekerjaan yang cukup menggunung membuatnya lupa diri. 


Tiba-tiba saja dia merindukan sahabatnya, Hanna. Gadis itu sudah mengajukan cuti kemarin untuk menyiapkan diri untuk acara lamaran nya besok.


"Kangen Hanna dehh." Gumam Kirana, membuat Jeff yang baru saja keluar dari ruangan nya berniat mengajak nya pulang tapi malah mendengar istri nya menggumam. 


Jeffran tau, di perusahaan ini hanya Hanna lah teman istrinya, one and only alias satu-satunya. Bukan berarti Kirana tak bisa akrab dengan yang lain, tapi Hanna lah yang bisa dekat dengan Kirana seperti saudara, berbagi setiap suka dan duka.


"Besok kan ketemu, Sayang."


"Ehh kamu, udah disini aja." Ucap Kirana sambil tersenyum manis.


"Iya, ayo pulang sudah sore. Kita ke butik, terus beli hadiah buat temen kamu."


"Sebentar ya, aku beresin ini dulu." Jawab Kirana, dia buru-buru membereskan berkas-berkas yang acak-acakan di atas meja, menata nya hingga rapih, mematikan laptop nya lalu pergi bersama suami nya, tentunya dengan saling bergenggaman tangan mesra, layaknya sepasang kekasih. Sesekali Jeff melirik Kirana lalu tersenyum manis, begitupun Kirana.


Kedua nya masuk ke dalam mobil dengan Jeff yang membukakan pintu mobil untuk Kirana, setelah memastikan perempuan kesayangan nya masuk dan duduk dengan nyaman di dalam, Jeff pun ikut masuk di bangku belakang. Seperti biasa, mobil itu di kemudikan oleh Pak Amar, supir pribadi andalan Jeff.


"Ke butik di jalan anggrek ya, Pak."


"Baik tuan." Jawab Pak Amar. Sepanjang perjalanan dari kantor ke butik, Jeff terus mendusel manja di pelukan sang istri. Ya, beginilah kalau Jeff sudah berduaan dengan Kirana, nemplok terus.


"Yang.."


"Hemm, kenapa?" Tanya Kirana lirih.


"Kamu ini gak tau tempat banget, Yang. Malu sama pak Amar."


"Dia gak liat kok, kan kehalang gordeng." Jawab Jeffran dengan nada manja.


"Iya deh terserah kamu aja." Pasrah Kirana, biarkan saja Jeff bermain sepuasnya di dada nya, kalau sudah puas nanti juga bakal berhenti sendiri.


Jeff terus mengendus aroma tubuh Kirana, meskipun perempuan itu belum mandi, tapi aroma nya sangat wangi menurut Jeff, maklum lah namanya juga lagi jatuh cinta. Makanan berasa air laut saking asin nya pun akan di sebut enak, demi ayang.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang di kemudikan Pak Amar berhenti di depan sebuah butik ternama yang menjadi langganan Jeffran kalau perlu pakaian formal untuk acara, dia pasti kesini.


"Nona Kirana, anda disini." Sapa pemilik butik, membuat Kirana tersenyum. Ini pertemuan kedua kali nya Kirana dan sang pemilik butik, dia juga memilih gaun dari butik ini untuk menghadiri resepsi rekan bisnis nya.


"Carikan dress simpel untuk menghadiri lamaran." Ucap Jeff, kembali ke mode datar. Berbeda jauh saat dia sedang bersama istrinya.


"Baik tuan, mari Nona." Ajaknya, Kirana meletakan tas slempang di dekat Jeffran..


Kirana melihat-lihat dress yang di pajang di etalase butik, berbagai macam busana tertata rapih, tentunya gaun disini bukan ecek-ecek, harga nya saja mampu membuat Kirana melotot.


"Bagaimana kalau dress ini?" Tanya nya, sambil menunjukan sebuah gaun berwarna maroon dengan payetan di lengan nya. Kirana merasa gaun itu terlalu mewah kalau hanya untuk menghadiri acara lamaran.


"Ini terlalu mewah, Madam. Ada yang lebih simpel?" Wanita paruh baya itu kembali berjalan dan merekomendasikan sebuah kebaya modern dengan bawahan kain batik, dengan warna yang sama, merah maroon.


"Bisa saya coba yang ini, Madam?"


"Silahkan Nona, mari ke ruang ganti." Ajak nya, Kirana pun masuk ke ruang ganti untuk mencoba pakaian yang di pilih nya. Tak lama, Kirana keluar dari bilik ganti dengan memakai pakaian yang sungguh membuat penampilan Kirana tampak sangat berbeda.


"Waah, Nona cantik sekali." Puji nya, membuat Kirana tersipu. Kirana berjalan mendekat ke arah Jeff yang sudah menganga melihat penampilan nya.


"Gimana? Bagus gak?" Tanya nya meminta pendapat, Jeff tak menjawab dengan kata-kata tapi dengan reaksi dan dua jempol yang dia acungkan.


"Makasih, Yang."


"Beli yang ini aja, kamu cocok pake kebaya." Jawab Jeffran. Kirana mengangguk dan kembali ke bilik ganti untuk mengganti pakaian nya, sedangkan Jeff yang membayar pakaian itu.


"Bungkus satu stel lingerie biru navy, yang sexy." Perintah Jeff sambil mengulurkan kartu hitam tanpa limit miliknya.


"Baik tuan, saya mengerti." Pemilik butik itu pun tersenyum lalu pergi mengambil pesanan Jeffran, dan tak lama dia sudah kembali dengan satu paperbag.


Kirana mengernyitkan kening nya, kira-kira apa yang Jeff beli di butik pakaian wanita?

__ADS_1


"Apa itu?"


"Pakaian dinas." Jawab Jeff dengan bisikan sensual yang membuat Kirana merinding seketika.


"Ohh, ayo pulang. Aku capek mau tidur," ajak Kirana dan Jeff hanya patuh menuruti permintaan istri cantiknya.


Pak Amar selalu siap stand by di mobil, agar tuan nya tak perlu menunggu, begitu selesai mereka bisa langsung pergi.


Keduanya pun masuk kembali ke mobil, tapi baru setengah perjalanan Kirana melupakan hadiah untuk sahabatnya.


"Yang, aku lupa beliin hadiah buat Hanna."


"Aku udah beli, Sayang. Tak perlu khawatir."


"Jangan-jangan pakaian haram itu hadiahnya?" Tanya Kirana, mata nya memicing menatap wajah Jeff


"Enak aja, ini buat kamu dinas nanti malam." Jawab Jeff yang mengerti arti tatapan suami nya.


"Lalu apa?"


"Sudahlah, besok kamu tahu kok. Mau jajan gak?" Tanya Jeff saat melihat banyak jajanan di pinggir jalan.


"Boleh? Tapi kamu selalu bilang gak boleh, katanya gak sehat."


"Sekali-kali gapapa sayang."


"Ihhh mau dong." Jawab Kirana dengan antusias, membuat Jeffran terkekeh.


"Pak berhenti dulu, istri cantik ku mau jajan katanya."


"Dihh, kamu yang nawarin lho." Ketus Kirana, jelas-jelas pria yang menawari nya untuk jajan.


"Iya-iya sayangku, ayo turun mau jajan apa?"


"Baso bakar, telur gulung, cilor, mie ayam juga."


"Banyak juga, bakalan habis?" Tanya Jeff, Kirana mengangguk cepat. Kedua nya pun ikut mengantri di depan gerobak jajanan pinggir jalan itu. 


Memang dari segi penampilan nya sangat menggugah selera, bahkan Jeff yang tadinya tak berniat jajan, akhirnya kalap dan memborong banyak makanan pinggir jalan itu.


Kirana tak sengaja melihat seorang anak kecil berpenampilan kotor tak terawat, seperti nya mereka kakak adik, pakaian nya cumpang camping, bahkan dia berjalan tanpa menggunakan alas kaki, dia menatap Kirana yang sedang makan bakso bakar dengan lahapnya.


"Dek, kamu mau?" Tawar Kirana, anak itu hanya terdiam tapi dari tatapan matanya Kirana tahu kalau anak itu merasa malu. 


Tak lama, datang lagi seorang anak dengan penampilan yang tak jauh berbeda, hanya saja badan nya sedikit lebih tinggi dari anak yang tadi.


"Kamu kakak nya ya?"


"I-iya kak." Jawab nya pelan.


"Mau jajan? Kakak traktir." Tawarnya, seketika dua anak itu tersenyum kegirangan. Mereka pun memesan sebungkus bakso bakar yang memang sangat terlihat menggugah selera itu. Lalu duduk di samping Kirana, sambil memakan bakso bakar milik mereka masing-masing.


"Orang tua kalian kemana, Dek?"


"Sudah meninggal Kak, kami gelandangan, cuma ngamen kalau mau makan." Jawab nya, membuat Kirana tercengang, anak sekecil mereka harus menjalani kehidupan yang berat tanpa limpahan kasih sayang orang tua.


"Usia kalian?"


"Saya sebelas tahun, dan adik saya sembilan tahun kak."


"Sekolah?" Keduanya kompak menggeleng, lagi-lagi hati Kirana mencelos.


"Kalian mau sekolah?"


"Tentu saja kak."


"Kalian ikut kakak ya, nanti kakak biayain sekolah kalian sampai lulus nanti."


"Beneran kak, terimakasih."


"Iya sama-sama." Jawab Kirana, setidaknya dia memuliakan anak yatim dengan membantu pendidikan mereka. Begitu mulia hati Kirana, hingga tergerak dan memberikan mereka hadiah yang begitu berharga.


Jeff yang melihat interaksi istri nya dari gerobak tahu bulat, dia tersenyum. Kirana  nya benar-benar wanita yang memiliki hati yang mulia, selain cantik paras nya dia juga memiliki kecantikan hati. 


Jeff merasa bangga karena memiliki perempuan itu, dia tak salah memilih, Kirana bukan perempuan yang hanya peduli dirinya sendiri, tapi dia juga peduli dengan lingkungan sekitarnya.


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_1


__ADS_2