
"Bagaimana keadaan mertua saya, Dok?" Tanya Jeff berbasa-basi. Tapi Dokter Bima terlihat biasa saja, malah tersenyum ke arah nya. Berbeda dengan Kirana yang membulatkan kedua mata nya, terkejut dengan ucapan Jeff.
"Sedikit perkembangan yang baik tuan, semoga saja beliau cepat sadar." Jawab dokter Bima ramah.
"Baiklah, ayo Kiran kau sudah selesai? Sudah cukup siang untuk berangkat bekerja." Ajak Jeff, Kirana menganggukan kepala nya, lalu meraih tas yang terletak di atas meja.
"Saya permisi Dok, kalau ada apa-apa hubungi saya segera."
"Baik Nona." Jawab dokter itu. Jeffran mengulurkan tangan nya dan Kirana langsung menggenggam nya, mereka pergi sambil berpegangan tangan di depan dokter Bima, membuat pria itu sedikit pesimis. Apa dia bisa bersaing dengan seorang Jeffran? Pria sempurna yang notabene nya sudah mengenal Kirana jauh sebelum dia bertemu dan mengagumi perempuan itu. Tapi nasib tak ada yang tau kan? Terlebih Kirana bilang kalau pria itu sudah memiliki istri.
"Berjuang Bim, kau bisa! Jangan kalah." Ucap dokter Bima menyemangati dirinya sendiri.
Dokter itu pergi dari ruangan rawat itu, masih ada beberapa pasien lagi yang harus dia periksa secara intensif.
Kirana duduk nyaman di samping Jeff, pria itu tak kunjung melepaskan genggaman tangan nya malah terasa semakin erat, membuat dirinya kesulitan membuka berkas-berkas di tangan nya.
"Lepaskan sebentar tuan, saya sulit membuka halaman baru." Barulah Jeff melepaskan tangan nya, tapi setelah melihat Kirana berhasil membuka lembaran nya, pria itu kembali menggenggam nya.
"Kenapa tuan, apa ada hal yang terjadi?" Tanya Kirana lirih, mata nya meneliti wajah pria di samping nya.
"Tidak, tapi besok aku akan pergi. Aku pasti merindukan mu, Kiran."
"Hanya 3 hari, lagi pun seharian ini saya bersama anda sampai malam."
"Ralat, sampai pagi lagi Kiran." Jeff menatap nakal sekretaris nya.
"Aaahh ya, baiklah kalau itu keinginan anda."
"Aku ingin kau ikut juga, tempat itu di kenal dingin. Harus nya kita kesana untuk proses pembuatan Jeff junior." Celetuk Jeff, membuat Kirana melotot. Jeff junior katanya? Yang benar saja.
"Kenapa ekspresi mu begitu, Kiran?"
"Tidak tuan, saya hanya geli mendengar nya." Jawab Kirana.
"Geli kenapa? Aku serius, Kiran."
"Geli saja membicarakan hal ini dengan sekretaris, bukan nya dengan istri Tuan. Saya memang bekerja dengan anda, tapi hal semacam itu di luar pekerjaan saya."
"Kiran.."
"Ada apa?"
"Kau yakin tak mau mengandung anak ku?" Tanya Jeff lirih.
"Saya sudah bilang, selama tuan masih punya istri jangan bicarakan hal semacam ini, tak pantas tuan." Jeff mendengus kesal, lengkap dengan pipi yang menggembung. Membuat Kirana gemas ingin mencubit pipi pria itu, tapi tak berani karena ini sudah masuk jam kerja.
Mobil yang di kendarai Pak Amar berhenti di parkiran, kedua nya segera turun dari mobil dan segera memasuki kantor.
"Selamat pagi,Tuan."
__ADS_1
"Ya, pagi." Jawab Jeff datar, sedangkan Kirana hanya mengangguk sambil tersenyum.
Perempuan itu mengekor di belakang Jeff, biasanya dia akan ikut masuk ke ruangan pria itu, tapi kali ini dia memilih langsung ke bilik nya saja. Membuka komputer nya dan segera merekap beberapa laporan keuangan dari divisi keuangan, Jeff mempercayakan semua nya padanya.
"Pagi, Kiran."
"Pagi Hanna, baru dateng?"
"Iya, sebel deh di jalan ketemu dokter rese." Jawab Hanna dengan ekspresi yang sangat kesal.
"Lah rese kenapa?"
"Dia kan pake motor gede gitu, terus pas jalanan berlubang dia jalan nya kenceng banget, jadi celana gue kecipratan. Kotor deh, mana bau got lagi." Jawab Hanna.
"Kalo gak salah aku ada celana ganti sih." Kirana memeriksa laci meja, dan benar saja ada celana kulot yang dia simpan.
"Nih, pake aja dulu dari pada gak nyaman."
"Makasih, btw ngapain nyimpen celana di kantor?" Tanya Hanna.
"Buat jaga-jaga aja kalau ada hal tak terduga, ya kayak kamu sekarang."
"Iya, Kiran. Aku juga harus gitu kayaknya, aku pinjem ya nanti aku kembalikan setelah di cuci." Ucap Hanna.
"Okey, santai aja Hann."
"Aku turut sedih Kiran, semoga ibu kamu cepet sembuh ya. Gak kebayang sih aku kalo jadi kamu."
"Berat banget jadi aku Hann, jangan mau. Udah mah punya bos galak plus seenaknya, tapi masih ada enak nya sih, dia royal."
"Iya, dia bos paling royal yang pernah aku temuin." Jawab Hanna setuju dengan Kirana.
"Makasih udah rekomendasiin aku ya Hann, buat rasa terimakasih nya nanti makan siang aku traktir."
"Wahh makasih, oke deh. Aku harus makan yang banyak, mumpung di traktir." Celetuk nya sambil tertawa, Kirana juga refleks tertawa karena mendengar ucapan sahabat nya itu.
"Aji mumpung ya Hann."
"Hahaha, iya dong. Jarang-jarang dapet traktiran gitu, kapan lagi." Jawab Hanna.
"Ayo kerja, keburu keliatan bos. Ganti dulu celana nya." Ucap Kirana mengingatkan.
Hanna mengangguk dan pergi ke toilet untuk mengganti celana nya dengan celana milik Kirana.
Kirana memulai pekerjaan nya yang menumpuk, apalagi kepergian Jeff besok, membuat pekerjaan nya begitu mengantri untuk segera di selesaikan saat ini juga. Saking fokus nya, Kirana bahkan tak sadar Jeff memperhatikan nya dari ambang pintu.
Dia berdiri dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana nya, mata nya menatap Kirana yang bahkan tak sadar dengan kehadiran nya, itu cukup membuat nya kesal.
"Eehemmm..." Jeff berdehem, barulah perempuan itu menoleh tapi hanya sedetik kemudian kembali menatap komputer nya.
__ADS_1
"Kiran.." Panggil Jeff kali ini, tapi Kirana hanya menjawab sekenanya tanpa menatap ke arah nya.
"Kirana.." Kali ini Jeff memanggil sekretaris nya itu dengan suara lebih tinggi, membuat perempuan itu langsung menoleh ke arah nya.
"Ada apa?"
"Kamu boleh sibuk bekerja, tapi jangan mengabaikan ku!" Tegas Jeff.
"Iya iya, saya minta maaf."
"Sudah makan siang?" Tanya Jeff.
"Belum, tapi hari ini saya akan makan siang di kantin sama Hanna." Jawab Kirana.
"Saya ikut."
"Tak usah tuan, mungkin makanan di kantin takkan sesuai dengan selera anda." Tolak Kirana beralasan, padahal dia yang tak mau pria itu ikut.
"Haii, ke kantin yuk." Ajak Hanna.
"Ehh pak, selamat siang." Sapa Hanna pada Jeff yang berdiri kaku di ambang pintu.
"Siang, mau kemana?" Tanya Jeff datar.
"Ke kantin sama Kiran, Pak." Jawab Hanna sejujurnya.
"Saya boleh ikut?" Hanna melirik ke arah Kirana yang memberi isyarat pada nya agar jangan menolak permintaan Jeff, tapi dasar Hanna entah tidak mengerti atau memang sengaja, dia malah mengiyakan permintaan Jeff. Membuat pria itu tersenyum manis dan mengintil di belakang Kirana dan Hanna yang berjalan di depan nya.
"Napa sih Ann? Kusut amat, kayak benang pancing."
"Gapapa, sebel aja." Jawab Kirana singkat.
Tiga orang itu pun sampai di kantin yang penuh dan ramai oleh para pegawai yang sedang menikmati istirahat makan siang mereka. Sontak saja kedatangan Jeff membuat semua nya heboh, jarang-jarang Jeff sang CEO berwajah datar itu menginjakan kaki di kantin.
"Selamat siang, tuan Jeff." Banyak diantara para karyawan itu yang mencoba mencari perhatian pada Jeff, tapi pria itu nampak acuh dan tak peduli.
Jeff duduk di samping Kirana, dia memesan menu yang sama juga dengan perempuan itu. Es lemon tea dan bakso. Jeff menggenggam tangan Kirana di bawah meja, dia benar-benar tak tau situasi, apa yang akan di pikirkan oleh pegawai lain kalau sampai melihat hal ini.
Bisa-bisa dia jadi bahan gosip satu perusahaan karena mendekati bos nya sendiri yang sudah beristri.
Tak lama, makanan mereka pun datang. Tapi tak sengaja Hanna malah menjatuhkan sendok nya, membuat nya harus berjongkok untuk bisa mengambil alat makan nya, tapi yang dia lihat justru pemandangan yang aneh. Dia melihat Jeff dan Kirana sedang berpegangan tangan di bawah meja.
"Kenapa wajah mu, Hann?" Tanya Kirana saat melihat wajah Hanna memucat tiba-tiba.
"T-tidak Ann." Jawab Hanna, mata nya menatap Jeff dan Kirana bergantian , kira-kira ada hubungan apa Kirana dan Jeff hingga bos nya berani melakukan hal itu di tempat umum seperti ini? Hal ini membuat Hanna curiga, apakah hubungan mereka lebih dari sekedar bos dan sekretaris?
.....
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1