
Pagi harinya, Kirana terbangun berada di pelukan Jeff. Seperti nya tadi malam dia ketiduran di sofa sambil duduk, tapi bagaimana ceritanya saat bangun dia sudah berada di pelukan pria itu? Tapi sudahlah, lagipun Jeff adalah suami nya saat ini.
"Mas.."
"Iya, sayang. Sudah bangun ya?" Tanya Jeff dengan suara serak khas bangun tidur nya.
"Hmm, kenapa mas bisa memeluk ku?"
"Memang nya kenapa? Toh kita sudah menikah, jadi harusnya tak masalah." Jawab Jeff datar, memang iya. Harusnya tak menjadi masalah, bahkan mereka sudah sering melakukan yang lebih dari sekedar pelukan.
"Iya ya."
"Kamu ini.." Jeff merasa gemas, dia menjawil manja hidung istrinya, membuat Kirana terkekeh pelan. Tanpa kedua nya sadari, Queen melihat itu semua. Wanita itu tersenyum kecil. Rasanya melihat mereka harmonis seperti ini seakan memberi nya kekuatan untuk bertahan.
Tapi, dia sudah tidak kuat lagi dengan semua nya, dengan rasa sakit yang setiap hari terasa sangat menyiksa tubuh nya. Meskipun dia masih ingin bersama mereka, orang-orang terdekat yang sangat dia sayangi. Tapi sepertinya takdir nya sudah dekat, dia bisa melihat beberapa orang asing yang terlihat datang tapi Kirana maupun Jeff tak menyadari nya sama sekali.
'Apakah mereka menjemputku? Ya, bawalah aku pergi. Aku juga sudah lelah dengan hidupku sendiri.' Queen membatin. Dia sudah benar-benar pasrah dengan hidup nya sendiri, apalagi memang nya yang bisa dia harapkan? Tidak ada, harapan nya untuk melihat suami nya bahagia juga sudah terwujud, bahkan dia sendiri yang memilihkan wanita nya.
"Selamat pagi, Queen." Ucap dokter Andre yang datang untuk memeriksa keadaan Queen.
"Pa-gi, Andre." Jawab Queen lirih, nafas nya tersengal seperti sesak nafas.
"Kita periksa ya.." Andre mulai memeriksa keadaan Queen dengan detail.
"Kiran, kemarilah." Panggil Queen lirih, Kirana pun langsung mendekat lalu meminta wanita itu menunduk, Queen membisikan sesuatu di telinga Kirana yang membuat Jeff heran dengan tingkah kedua istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa kakak bicara seperti itu?" Lirih Kirana sambil menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa, penuhi permintaan kakak ya. Agar kakak tenang ya?" Ucap Queen, suara nya lebih lirih, bahkan nyaris tak terdengar.
"Mas.."
"Iya sayang, kenapa?"
"Akur-akur sama Kiran ya, jangan kamu sakiti dia, apalagi di bentak-bentak."
"Tentu saja, sayang."
"Kiran, jaga suami kita ya. Jangan biarkan dia merasa kesepian." Kirana menganggukan kepala nya, lalu memaksakan senyum nya. Siapa yang bisa tersenyum tulus dalam keadaan seperti ini? Tidak akan ada yang bisa.
"Andre, kau sudah mendapatkan gadis kan? Semangat ya, jangan jomblo terlalu lama, nanti keburu jadi bujang lapuk."
"Kalian baik-baik ya, ibu sama bapak biarkan saja. Jangan ganggu istirahat mereka, biar kalian saja yang tahu. Nanti, katakan pada mereka kalau aku sangat menyayangi mereka."
"Kirana, setelah aku istirahat nanti aku minta kamu jangan menjauhi mama sama papa ya. Anggap mereka seperti orang tua mu sendiri." Nasehat Queen, Kirana hanya bisa menganggukan kepala nya, dia tak mampu bicara. Dia khawatir kalau bicara, nanti air mata nya tak bisa tertahan dan akhirnya luruh juga, dia tak mau itu terjadi karena dia sudah berjanji pada Queen agar tak menangis dan kuatkan Jeff.
"Aku capek ya, mau tidur dulu. Kalian baik-baik ya, aku menyayangi kalian semua. Kalau aku ada salah, aku minta maaf."
"Kami pasti memaafkan apapun kesalahan mu, Queen." Andre yang menjawab, sedangkan Kiran merangkul erat lengan suaminya.
Queen memejamkan mata nya, hanya beberapa detik berselang, alat kesehatan yang menampilkan detak jantung pun berbunyi, pertanda kalau sang pemilik raga sudah pergi.
__ADS_1
"Queen.." lirih Andre, akhirnya sekuat apapun dia menahan air mata nya, akhirnya luruh juga. Dia menangis tergugu sambil menggenggam tangan Queen.
"Sayang.." Jeff pun tak kalah emosional nya, setelah menyesal karena sudah menghianati istrinya, sekarang dia di hadapkan dengan melihat sendiri istri nya yang terbujur kaku.
"Mas.." lirih Kirana, Jeff melirik istri nya lalu memeluknya dan menangis sesenggukan di pelukan perempuan itu.
"Jangan menangis, Mas."
"Sakit sekali, sayang."
"Aku tahu, Mas." Jawab Kirana lirih sambil mengusap punggung suami nya. Andre menegarkan diri nya sendiri dan mengurus Queen dengan baik, karena melihat suami dan adik madu nya takkan sanggup jika harus melakukan nya.
Tak lama kemudian, ayah dan ibu Queen masuk dengan wajah yang keheranan. Apalagi saat melihat Jeff menangis di pelukan Kirana, juga putri mereka yang sudah di tutupi kain putih.
"A-ada apa ini? Kenapa dengan putriku?" Tanya Carina.
"Maaf Nyonya, tapi nona Queen tak bisa bertahan lagi." Jawab Andre.
"Apa maksud mu hah? Tidak mungkin, putriku takkan menyerah semudah ini." Teriak Carina histeris, wanita itu luruh ke lantai. Untung saja, Radit tetap tegar dan membantu menenangkan istrinya.
"Putri kita, pa.."
"Iya, mama harus kuat. Ini sudah takdirnya, Queen sudah tidak kuat lagi menahan semua rasa sakit nya." Lirih Radit, meskipun pria itu juga menangis. Mustahil jika tidak menangis dalam keadaan ini, kehilangan buah hati satu-satunya yang dia miliki adalah rasa sakit yang paling menyesakkan.
Sekuat apapun manusia melawan takdir, akhirnya tetap sama, yakni kematian. Akhir dari sebuah perjuangan. Tak ada yang bisa di banggakan lagi.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻🌻