
Ponsel Jeff berdering nyaring, kedua nya baru sampai di kantor. Kirana berada di ruangan nya dan Jeff juga. Pria itu menggeser ikon hijau dan menyelipkan ponsel mahal nya di telinga.
"Hallo, kenapa Anna?"
'Tuan, bisakah anda pulang bersama Nona Kirana?'
"Ada apa, Anna? Apa Queen baik-baik saja?" Tanya Jeff panik.
'Nyonya Queen nge drop lagi, Tuan. Beliau ingin bertemu dengan anda dan Nona Kirana.'
"Baiklah, aku kesana sekarang." Jeff pun mematikan telepon nya, dia berlari keluar dari ruangan.
"Sayang.."
"Ada apa?" Tanya Kirana, perempuan itu sedang memeriksa berkas-berkas penting di meja nya.
"Ayo pulang, Queen ngedrop lagi."
"Hah? Ngedrop lagi? Ya ampun, Kakak." Kirana langsung mengemasi barang nya dan mengikuti langkah cepat Jeff, bahkan secara tak sadar pria itu menggenggam tangan Kirana sepanjang jalan, membuat karyawan keheranan.
"Pulang, Pak. Kalau bisa, ngebut." Pinta Jeff pada Pak Amar. Pria paruh baya itu mengangguk dan segera melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi.
'Inikah jawaban kenapa hati ku terasa sakit sekali sejak tadi? Kak Queen, bertahanlah.' Batin Kirana, sedangkan Jeff terus menggenggam tangan Kirana yang terasa dingin, mungkin karena terkejut dengan kabar ini.
Hanya butuh waktu setengah jam saja, padahal jarak dari perusahaan ke rumah itu cukup jauh, tapi kemampuan Pak Amar memang bisa di andalkan.
Jeff dan Kirana langsung keluar dari mobil, bahkan Kirana melepas sepatu nya karena merasa tak bebas berjalan karena ada hak yang cukup tinggi di bawah nya.
"Jeff.." panggil Carina, wajah nya menyiratkan ke khawatiran.
"Bagaimana keadaan Queen, Ma?"
"Tadi, dia kritis lagi." Lirih Carina, membuat Jeff terhenyak, begitu juga dengan Kirana.
"Kalau bisa, kalian berdua tinggal disini saja. Agar perkembangan Queen bisa di pantau." Saran Radit, selaku ayahnya Queen.
"Tuan dan Nona Kirana, kemarilah." Ucap Anna dari lantai atas, membuat Kirana dan Jeff langsung menaiki tangga menuju kamar nya di lantai atas.
Anna membukakan pintu kamar, kedua nya terhenyak begitu melihat keadaan Queen. Kedua mata nya terpejam rapat dengan alat kesehatan yang menempel di tubuh nya.
"Kakak.." lirih Kirana, air mata nya luruh seketika saat melihat keadaan Queen. Wanita baik yang pernah dia kenal, wanita yang begitu sabar dan tegar menghadapi penyakit yang semakin hari semakin parah.
"Sayang.." Jeff mendekat dan duduk di sisi ranjang, pria itu menggenggam tangan Queen dan mengusap punggung tangan istrinya itu dengan lembut.
"Sedari kemarin, Nyonya Queen terus memanggil nama anda dan Nona Kirana. Seperti nya ada yang ingin beliau bicarakan."
Jeff terdiam tak bereaksi apapun, dia hanya menatap istrinya yang terbaring lemah tak berdaya. Sedangkan Kirana, dia mengusapi kepala Queen.
"Kakak, bangunlah. Jangan buat aku khawatir, kak." Lirih Kirana.
'Maafkan aku, Kak. Semua ini terjadi gara-gara aku, kalau saja aku tak hadir dalam kehidupan suami kakak, mungkin semua ini takkan pernah terjadi dan kakak tak perlu berbagi suami dengan ku.' Batin Kirana.
Merasa bersalah? Tentu saja, karena dirinya lah Jeff berpaling bahkan melupakan istrinya karena sibuk bersama nya. Andai saja, dia memutuskan keluar dari kantor Jeff waktu itu, mungkin hubungan mereka takkan keterusan sampai sejauh ini.
"Kakak, maafin aku." Lirih Kirana, dia menunduk menyembunyikan tangis nya. Tentu saja dia merasa sangat bersalah, dia juga wanita pasti akan terasa sakit jika dirinya lah yang berada di posisi Queen.
"Ki-ran.." Kirana mendongak, buru-buru dia mengusap air mata nya. Lalu tersenyum dan mengusap wajah Queen dengan lembut.
"Kakak membuat aku takut, kak."
"Hmm, aku takkan kemana-mana, Kiran." Jawab Queen. Anna tersenyum di ambang pintu, ternyata benar saja kedatangan Kirana lah yang membuat Queen berhasil melewati masa kritis nya.
"Iya, kakak memang harus tetap disini bersama ku."
Queen tersenyum kecil, dia meraba wajah cantik adik madu nya itu.
"Kalian, menikahlah besok. Kakak takut waktu kakak tak lama lagi, tak sempat melihat kalian menikah nanti."
"Kak, jangan bicara seperti itu. Kakak pasti bisa sembuh, kita berobat ke luar negeri ya?" Ucap Kirana, sedari tadi dia terus menggenggam tangan Queen.
"Tak perlu, Kiran. Kakak sudah pasrah, kapanpun jika memang sudah waktu nya, maka jemputlah."
__ADS_1
"Sayang, jangan berkata seperti itu." Ucap Jeffran.
"Menikahlah dengan Kirana besok, Mas. Anggap saja ini permintaan terakhir ku."
"Sayang.."
"Aku mohon, Mas."
"Baiklah, besok Mas akan menikahi Kirana." Jawab Jeff, membuat Kirana menatap pria tampan itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tinggal disini ya? Temani kakak."
"Tentu kak, aku gak bakal ninggalin kakak." Jawab Kirana. Dia memaksakan sedikit senyuman nya.
"Aku keluar dulu sebentar ya."
"Iya Mas." Jawab Queen, sedangkan Kirana memilih diam saja.
"Kamu baik-baik saja, Kiran?"
"Tentu kak, aku baik-baik saja."
"Tapi wajah mu tak bisa berbohong, sayang. Katakan, apa yang mengganjal hati mu."
"Tidak ada, kak."
"Baiklah, jika kamu tak mau bercerita. Omong-omong, cake buatan mu hari itu enak sekali." Puji Queen.
"Benarkah? Kakak suka?"
"Sangat, nanti buatin lagi cake buat kakak ya."
"Siap kakak, asal kakak harus sembuh ya?"
"Hmm, kakak akan berusaha." Jawab Queen dengan senyum kecil nya.
"Kiran.." panggil Queen lirih.
"Iya kak, kenapa? Kakak ingin sesuatu?" Tanya Kirana lembut.
"Minum? Sebentar, Kiran ambilin dulu ya." Kirana pergi dari kamar untuk mengambil air minum, perempuan itu celingukan di rumah besar itu.
"Cari apa?" Tanya Radit, papa nya Queen. Membuat Kirana terlonjak kaget.
"Maaf pak, saya mau mengambil air minum. Dapur nya dimana ya?"
"Lurus saja, nanti di depan belok kanan."
"Baik pak, terimakasih." Kirana sedikit membungkukkan punggung nya, lalu pergi dengan langkah perlahan.
Setelah menemukan dapur, Kirana segera mengambil air minum ke dalam gelas dan kembali ke kamar. Ternyata, di kamar ada Carina yang sedang mengajak putrinya bicara.
"Kamu yakin dengan rencana mu, Queen?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Tentu Ma, aku sangat yakin. Dengan menikahkan Mas Jeff dengan Kirana besok, aku bisa tenang nanti nya."
"Mama ngikut apa katamu saja, Nak."
"Permisi, ini minum nya kak." Ucap Kirana, dia memberikan sedotan nya ke mulut Queen dan membiarkan wanita itu minum.
"Sudah, Kiran. Terimakasih."
"Sama-sama kak."
Sedangkan Jeff, saat ini berada di sebuah ruangan yang di penuhi buku-buku. Dia tengah merenung sendirian, tatapan mata nya lurus ke depan menatap poto-poto dirinya bersama Queen sebelum penghianatan wanita itu terbongkar.
"Queen, aku menyesalkan semua yang sudah terjadi antara kita. Walau bagaimana pun, kita pernah saling mencintai. Tapi apakah sekarang aku harus membalas penghianatan mu itu? Atas permintaan mu juga?" Gumam Jeff, dia menopang dagu nya dengan kedua lengan.
Dia memang mencintai Kirana sekarang, tapi bohong jika dia mengatakan kalau Queen tak ada di hatinya. Nyatanya, nama wanita itu masih mengisi hatinya. Queen adalah cinta pertama bagi Jeff, meskipun mungkin bukan cinta yang terakhir.
Keesokan harinya, semua orang terlihat sangat sibuk mempersiapkan acara pernikahan Jeff dan Kirana. Tak terkecuali Queen, meski dia hanya bisa duduk di kursi roda, tapi dia seolah tak mau ketinggalan untuk membantu persiapan nya.
__ADS_1
"Sayang.."
"Iya, Mas?"
"Kita bicara di taman sambil jalan-jalan, kamu mau?" Ajak Jeff pada istrinya.
"Tentu saja, Mas."
Jeff pun mendorong kursi roda sang istri ke taman, kedua nya berjalan-jalan di sekitar mansion. Queen tersenyum manis, hari ini dia begitu bahagia.
Bahagia karena akhirnya Jeff akan menikah dengan wanita pilihan nya, meskipun tak di pungkiri hatinya sedikit sakit, tapi dia sangat ikhlas jika Jeff menikahi Kirana. Dia wanita yang baik dan cocok untuk Jeff.
"Sayang, apa kamu benar-benar rela kalau Mas menikahi Kiran?"
"Tentu Mas, apapun asalkan Mas bahagia pasti akan aku lakukan." Jawab Queen lirih. Jeff menekan sesuatu di bawah kursi roda itu, hingga membuat kursi itu takkan bisa berjalan.
Pria itu berlutut menyamakan posisi nya dengan sang istri, mata nya menatap dalam ke arah Queen yang sedari tadi menyunggingkan senyuman manis nya.
"Maafkan aku, sayang."
"Minta maaf untuk apa, Mas? Jangan merasa dirimu paling bersalah, Mas."
"Tapi nyatanya aku yang salah karena tak bisa menjaga diri dari hawa nafssu." Jawab Jeffran lirih.
"Tak apa, Mas. Aku juga minta maaf atas penghianatan yang aku lakukan dulu, aku sangat mencintai mu, makanya aku berani mengambil langkah besar dengan menikahkan mu dengan wanita pilihan ku. Aku yakin, dia perempuan yang baik."
"Sayang…"
"Jangan menatap ku seperti itu, Mas. Aku merasa tak enak, aku tak pantas di tatap seperti itu lagi."
"Sekali lagi, maafkan aku Sayang."
"Aku sudah memaafkan mu, Mas. Lalu, maukah kamu juga memaafkan aku?"
"Tentu, sayang." Jawab Jeff, dia memeluk istrinya dengan erat, begitu pun Queen. Dia membalas pelukan suaminya tak kalah erat nya, pelukan yang terasa begitu tulus.
Di rumah, Kirana tengah membuat cake untuk cemilan orang-orang yang sibuk menyiapkan pernikahan nya. Carina menatap tak percaya pada kemampuan perempuan itu.
"Kelihatan nya kamu sudah terbiasa membuat kue, Kiran." Ucap Carina sambil memperhatikan Kirana yang sedang mengadon kue.
"Hanya hobi saja, Bu."
"Hobi? Kenapa kamu gak buka toko kue saja?" Tanya Carina, Kirana tersenyum manis. Mempunyai toko kue adalah impian nya sedari dulu, tapi karena keterbatasan biaya dan modal.
"Itu impian saya, Bu. Tapi karena tak ada modal, maka saya harus mengubur dalam-dalam impian saya itu."
"Kenapa tak minta pada Jeff?" Tanya Carina. Lagi-lagi, Kirana tersenyum menatap Carina yang tengah menatap nya.
"Kenapa harus meminta pada nya?"
"Karena dia pria yang sudah menodai mu, Kiran."
"Tapi harta dan hati nya bukan milik saya, Bu. Saya tak berhak meminta hal itu."
"Jadi, kamu mendekati Jeff bukan karena uang?"
"Tentu karena uang, Bu. Itu alasan saya memberikan hal paling berharga yang saya miliki dan menukar nya dengan uang, untuk biaya berobat ibu saya dulu." Jawab Kirana.
"Hmm, kamu anak yang berbakti pada orang tua."
"Hanya itu yang bisa saya lakukan sebagai usaha, Bu. Sebagai seorang anak yang berbakti, untuk hasilnya saya berserah pada yang di atas."
Carina hanya tersenyum menatap perempuan itu, tak lama kemudian cake nya matang. Kirana menyajikan sepiring kue di depan Carina.
"Di cicipi, Bu."
"Sebenarnya ibu sudah mencoba kue nya waktu itu, rasanya enak. Tapi ini terlihat sedikit berbeda."
"Sama saja Bu, resep nya sama." Jawab Kirana. Perempuan paruh baya itu mengambil sepotong kue dan memakan nya.
"Enak, lembut dan gak kemanisan." Puji Carina sambil mengacung jempol nya.
__ADS_1
......
🌷🌷🌷🌷