Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 93 - Rencana Bulan Madu


__ADS_3

"Ciee, ayang banjir ya?" Goda Andre membuat wajah Hanna semakin memerah.


"B-banjir apaan sih? Nggak kok." Elak Hanna sambil memalingkan wajah nya yang sudah semerah tomat. Andre tersenyum smirk dia terus melancarkan godaan nya dengan mencolek-colek tubuh Hanna.


"Diem ihh, aku gak banjir!"


"Terus, itu kok basah? Perasaan aku gak ada tumpahin air ke rok kamu deh, kalau pun iya pasti rok nya yang basah, bukan segitiga mu Sayang, hayo lho kenapa?" Andre semakin gencar menggoda Hanna.


Hanna diam saja, sesekali dia meneguk minuman yang tersedia dan beberapa kali dia menyentuh tengkuknya, dia tak berani menatap Andre karena saat ini tatapan pria itu terlihat aneh.


"Kalau pengen, harusnya kamu bilang Yang. Aku dengan senang hati buat kamu mendesah nikmat." Ucap Andre dengan senyuman mesuum nya, membuat Hanna bergidik dan langsung menyilangkan tangan nya di atas roknya.


"Lanjutin yang tadi ya?" Pinta Andre.


"Enggak ahh, nanti kamu ledekin aku lagi. Ini juga basah, gak nyaman." Jawab Hanna.


"Yaudah sih buka aja itu celana nya." Usul Andre enteng.


"Enak di kamu, enggak di aku. Kamu cowok mesum pasti nyari kesempatan kan?"


"Kesempatan? Kamu nethink mulu sama aku Yang, emang enak ya pake celanaa basah gitu?" Tanya Andre sambil tersenyum. Tapi Hanna tentu nya tau ada maksud terselubung dari ucapan pria di depan nya yang menyuruh nya membuka celana nya, bagaimana kalau kebablasan dan dia jebol? Kan gak lucu.


"Udahlah, ayo kalau mau lanjutin yang tadi keburu aku berubah pikiran."


"Nahh gitu dong, uhhh kamu makin cantik deh kalo baik gini." Cetus Andre lalu menarik tangan Hanna yang sudah di cuci setelah makan, dan membuat nya terduduk di pangkuan nya. Langsung saja, Andre menyingkap sweater yang di pakai Hanna dan kembali bermain-main dengan putting susu gadisnya yang selalu membuatnya kecanduan. Padahal tak ada setetes pun cairan dari dalam nya, tapi entah kenapa Andre sangat menyukai nya.


Hanna melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh Andre, sesekali dia melenguh karena sensasi yang di berikan Andre dengan mulutnya begitu memabukan hingga mampu membuat inti nya berkedut manja, bahkan mengalami banjir bandang oleh cairan yang entah apa namanya.


Hanna hanyut dalam permainan mulut dan lidah Andre membuatnya kehilangan kendali, bahkan tak menyadari kalau tangan pemuda itu sudah menyusup ke dalam rok nya dan mengusap lembut gundukan hangat miliknya.


"Eemmmmhhhh.." Lenguh Hanna, saat salah satu jari Andre terselip di antara bibir daging tak bertulang itu.


"Sayang, aku ingin memakan milikmu. Aku janji tak memasukkan apapun, hanya menjilat saja, bagaimana? Bisakah?" Tanya Andre membuat Hanna terhenyak dan kesadaran nya kembali.


"Jangan, aku mohon."


"Aku menginginkan nya, sayabg. Aku hanya akan menikmati nya dengan mulut ku, mungkin sedikit dengan lidah." Jawab Andre memohon, dan entah kenapa Hanna malah menganggukan kepala nya.


Andre tersenyum dan bangkit dari duduknya, mengunci pintu dan membuat Hanna berbaring. Dengan mudah dia menarik segitiga milik Hanna dan melepaskan benda penutup pusat kenikmatan wanita itu. Andre mencium benda berenda itu dalam-dalam, wangi nya membuat senjata nya langsung bereaksi.


Andre memulai dengan mengendus aroma gundukan yang di hiasi bulu-bulu tipis itu, lalu menjulurkan lidahnya, menjilati irisan daging itu membuat Hanna memejamkan mata nya.


"Aahhh.." Hanna mendesaah saat Andre memasukan lidah nya ke dalam lubang milik nya yang belum tersentuh itu, dia begitu menikmati rasa yang sangat memabukkan yang keluar dari inti Hanna.


"A-ndre.." Hanna melenguhkan nama pria itu beberapa kali, membuat pria itu tersenyum samar karena mulutnya penuh dengan irisan daging berbulu tipis itu.


Tubuh Hanna mengejang, mata nya terpejam rapat dengan kepala yang mendongak, tangan nya menjambak kecil rambut Andre. Ledakan klimaaks yang baru saja Hanna rasakan pertama kali, rasa yang sangat nikmat dan melegakan yang pertama kali Hanna rasakan membuat nafas nya terengah.


"Kenapa sayang?" Tanya Andre, Hanna yang masih terengah-engah itu menatap pria itu dengan sayu.


"Aku gak tau aku kenapa, tapi rasanya melegakan." Jawab Hanna.


"Itu klimaaks sayang, enak?"


"Klimaaks ya? Ini pertama kalinya aku merasakan nya." Belum selesai dengan ******* yang baru dia rasakan, Hanna sudah di buat memekik kembali saat Andre kembali menenggelamkan kepalanya di intinya.


"Aaahhh.." Hanna memekik saat tak sengaja kacang kecilnya tergigit oleh Andre. Pria itu begitu menikmati cairan pelepasan Hanna dengan rakus, bahkan mencari nya langsung ke sumber nya saat merasa kurang.


Andre menyudahi permainan nya, lalu mencium bibir Hanna dengan rakus. Hanna juga membalas ******* pria itu tak kalah rakusnya, sering mendapat serangan mendadak dari Andre membuat nya terbiasa dan perlahan bisa mengimbangi permainan pria tampan itu.


"Duhh, kok panas ya.." Keluh Hanna sambil menyentuh intinya yang terasa panas.


"Apanya sayang?" Tanya Andre dengan kening yang mengernyit heran.


"Ini aku panas, Yang."


"Panas kenapa?" Tanya nya lagi.


"Sayang, panas." Keluh Hanna lagi, dia mengangkaang di depan Andre saking panas nya. Andre juga tak kalah paniknya, dia mengambil kertas dari meja kerja nya dan mengipasi inti sang gadis yang baru saja dia nikmati. Andre merasa heran, kenapa bisa panas? Padahal dia tidak makan yang pedas sebelum menikmati inti Hanna, tapi tunggu, dia ingat sesuatu.


"Astaga sayang, maafkan aku."


"Kenapa?" tanya Hanna, dia meringis pelan karena intinya terasa terbakar saking panasnya.


"Aku makan sambel buatan mu sebelum makan daging kamu."


"Ap-apa? Jahat ya kamu, harusnya udah tau habis makan sambel harusnya kamu gak makan milik aku!" Kesal Hanna, membuat Andrebmerasa bersalah.


"Maafin aku, yang. Aku lupa, sumpah sayang aku gak ada niatan buat kamu kesakitan gini. Maaf.." lirih Andre.


"Sakit, kamu jahat. Gimana kalau ini aku iritasi coba?" Ucap Hanna, air mata nya mulai menetes.


"Jangan nangis sayang, aku dokter, yang. Aku yang bakal obatin kamu sayang, tapi jangan nangis dong." Bujuk Andre dia mengecup kedua mata Hanna.


"Sakit, yang.."


"Iya, aku mau ambil obat nya dulu ya." Jawab Andre lalu pergi dengan terburu-buru.


Tak lama kemudian, Andre datang dengan membawa salep dan langsung mengoleskan nya ke inti basah Hanna.


"Gimana, yang? Mendingan?"

__ADS_1


"Iya, dingin yang." Jawab Hanna. Andre menghela nafas nya lega, dia takut kalau inti Hanna iritasi.


"Maafin aku ya?"


"Iya gapapa, tapi nanti lagi kalau mau mainin ini harus jelas dulu. Nyebelin banget kamu tuh, untung punya aku gapapa. Kalau sampai panas nya lama gimana? Kamu juga yang rugi nanti."


"Kok aku, Yang?" tanya Andre, kura-kura dalam perahu alias pura-pura tak tahu.


"Ya iya dong kamu, otomatis gak bisa masukin itu kamu ke lubang aku." Jawab Hanna sambil terkekeh, begitu juga Andre. Dia juga ikut terkekeh begitu mendengar ucapan gadis cantik nya.


"Iya deh, kamu mau pulang?"


"Mau dong, ya masa nginep disini. Tapi kalau sama kamu aku mau, asal jangan macam-macam." Jawab Hanna.


"Gak macam-macam kok, paling satu macam aja."


"Sudahlah, ayo pulang. Udah selesai praktek nya kan?" Tanya Hanna, Andre mengangguk dan membuka sneli putih nya di kursi lalu mematikan lampu dan menggandeng tangan Hanna.


Tak sengaja, saat di luar keduanya bertemu kembali dengan dokter Azhar yang baru saja selesai memeriksa keadaan pasien pasca operasi.


"Kemana bro?"


"Balik lah, nganterin calon bini." Jawab Andre.


"Ohh ya, hati-hati di jalan. Besok Lu shift pagi kan?"


"Iya, kenapa?"


"Gue ngambil shift malem."


"Oke, yaudah gue duluan ya." Azhar mengangguk dan berjalan santai mendahului sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta itu.


Sedangkan di rumah, Jeff dan Kirana sedang duduk bersama kedua orang tua Queen. Keempat nya sedang membahas rencana bulan madu, mulai dari tempat, suasana, juga berapa hari mereka akan melangsungkan bulan madu. 


"Jadi, kamu mau bulan madu kemana, Nak?" Tanya Carina, sambil melihat-lihat majalah referrensi tempat bulan madu.


"Sebenarnya, Kiran gak mau bulan madu sih Ma. Di rumah aja Mas Jeff sering bikin Kiran gak bisa jalan, apalagi kalau bulan madu, bisa-bisa Maura lumpuh sementara." Jawab Kirana membuat Jeff mendelik, sedangkan Radit dan Carina sudah tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Kirana.


"Sayang isshh.."


"Kenapa? Kan memang begitu, kamu tuh kayak maniak tau gak?"


"Sayang.."


"Hah, iya iya. Aku mau ke tempat yang ada pantai nya."


"Bagaimana kalau bali?" Tanya Jeffran.


"Kamu tau aku suka bali ya?" Balik tanya Kirana, sudah sangat lama dia ingin pergi ke pulau dengan sebutan pulau dewata itu, tapi dulu dia tak mau meninggalkan ibunya sendirian dan uang gaji yang dia simpan untuk biaya pengobatan sang ibu membuatnya memendam keinginan nya itu, lagipula berlibur ke bali tak terlalu penting menurut nya dulu.


"Apa Bali tak terlalu jauh, kenapa tidak di negara ini saja? Disini juga banyak pantai indah yang biasa di jadikan tempat bulan madu." Usul Carina. Pasalnya, perjalanan dari negara ini ke pulau itu cukup memakan waktu.


"Kalau Kirana yang menginginkan bulan madu nya ke Bali, apa salahnya Bu? Ini moment sekali seumur hidupnya, harus berkesan dan tak terlupakan." Ucap Radit, dia sebenarnya setuju-setuju saja, karena mau di negara ini sekalipun, pasti Jeff takkan membiarkan mereka turut serta dalam acara bulan madu itu.


"Aku terserah Kirana saja, kalau mau di bali ya oke."


"Seriusan?" Tanya Kirana dengan wajah yang berbinar.


"Apa aku terlihat sedang bercanda Sayang? Tidak kan?"


"Makasih sayang.." Ujar Kirana semringah dan menghambur memeluk tubuh suami nya dari samping. Kedua orang tua itu saling melempar tatapan lalu tersenyum, tingkah Kirana saat ini mengingatkan kedua paruh baya itu akan mendiang Putri mereka, Queen. Putri mereka sangat manja, terlebih pada sang ayah.


Tapi sekarang, Queen sudah tak ada. Dia meninggalkan semua nya, merelakan semua nya sebelum dia pergi, meninggalkan semua rasa sakit yang setiap hari nya dia rasakan karena penyakit nya. Meskipun begitu, Radit dan Carina memiliki Kirana sebagai pengganti putri mereka yang sudah pergi. Lagipula, Kirana adalah perempuan pilihan Kirana putri mereka sekaligus istri dari Jeff sendiri.


Meskipun awalnya, kedua nya sempat menentang keputusan Queen. Tapi pada akhirnya, berkat kegigihan perempuan itu untuk membujuk kedua orang tua nya agar mengizinkan Jeff menikah lagi dengan perempuan pilihan nya, mereka tak punya cara lain selain merestui menantu mereka menikah kembali. 


Carina sempat menilai Kirana dengan cap sebagai wanita tidak benar, karena berani merebut seorang suami dari istri nya. Tapi, setelah melihat dan bertemu langsung dengan sosok wanita bernama Kirana, hatinya langsung luluh begitu saja, apalagi saat melihat wajah nya yang tulus.


"Iya sayang, aku sudah berjanji di atas batu nisan ibumu kalau akan membahagiakan mu."


"Terimakasih." Ucap Kirana sambil mendongakkan kepala nya menatap wajah tampan Jeffran.


"Sama-sama, sayang."


"Jadi sudah fiks ya mau di bali, kapan kalian bernagkat?" Tanya Carina lagi.


"Untuk masalah itu biarkan kami berdiskusi dulu, karena aku punya perusahaan yang sedang sibuk-sibuknya saat ini, jadi mungkin aku harus mengurus semua nya terlebih dahulu."


"Baiklah, kalau begitu Mama sama papa setuju-setuju saja. Tapi ingat, disana nanti jangan buat Kirana terlalu kelelahan ya." Peringat Carina membuat Jeff terkekeh. 


"Hmmm, aku tak bisa berjanji akan hal itu."


"Kamu ini Jeff, kasian istri mu." Ucap Radit.


"Tentu nya, aku akan membiarkan istriku beristirahat selama beberapa menit, setelah nya aku akan mengajak nya bergulat lagi." Jawab Jeff sambil tertawa. Sedangkan Kirana sudah mendelik sebal ke arah suami nya, mendengar nya saja sudah membuat nya mual.


"Masalah tiket, villa untuk kalian tinggal selama disana bagaimana?"


"Biarkan anak buah ku berguna, aku menggaji mereka mahal tapi tak ada gunanya buat apa?"


"Iya iya, kamu memang kaya dan berkuasa." Pasrah Carina, kalau sudah begini tak ada guna nya bicara lagi, lebih baik mengalah saja dan biarkan Jeff mengurus semuanya.

__ADS_1


Jeff tersenyum saja sebagai bentuk kebanggaan dari perkataan ibu mertua nya yang dia anggap sebagai pujian.


"Mama lupa kalau menantunya itu orang kaya."


"Iya baiklah, terserah kau saja." Ucap Carina, membuat Kirana tersenyum kecil. Hubungan antara mertua dan menantu ini terjalin sangat baik, bahkan keduanya begitu menyayangi Jeffran seperti putra mereka sendiri.


"Sayang?"


"Aaa, iya? Kenapa?" tanya Kirana sambil menoleh ke arah Jeff.


"Melamun? Ada apa, kamu tak bahagia kita akan bulan madu, sayang? Bukankah berlibur ke Bali adalah impian mu?" Tanya Jeffran saat melihat raut sendu sang istri.


"Tentu saja aku bahagia, sangat. Aku hanya merasa senang berada di antara kalian, sejauh ini aku tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga yang lengkap." Jawab Kirana lirih.


"Kami kan keluarga mu juga Nak, kemarilah peluk ibumu ini." Carina merentangkan tangan nya dan menyambut Kirana yang langsung menghambur memeluk nya dengan senang hati.


"Tak apa menangis, Kiran. Semua ini wajar. Sebuah keluarga ada kala nya tak sempurna, hanya saja ini semua tentang kita memaknai hidup. Lalu apa yang kamu dapat dari perihnya hidup? Kamu tumbuh menjadi perempuan yang kuat, pekerja keras." Ucap Carina, sambil mengusap lembut puncak kepala nya.


"Iya Ma, terimakasih."


"Kalau butuh pelukan, datang pada Mama. Anggap saja aku ini mama mu, kita keluarga yang akan saling melengkapi mulai saat ini."


"Iya, Ma." Jawab Kirana lalu mendusel di pelukan hangat Carina. Ibu dari perempuan yang secara tidak langsung sudah dia rebut suaminya. Jahat bukan? 


Tapi nyatanya Carina masih merangkul Kirana dengan hangat dan penuh kasih sayang, bukan seperti yang dia lihat dari televisi, dimana ibu dari perempuan yang dia rebut suaminya itu menghina dan menyakiti nya dengan kata-kata dan perbuatan, tapi justru ini tidak.


"Sayang, bisakah kita bicara berdua saja?"


"Bicara apa?" Tanya Kirana dengan dahi yang berkerut, kira-kira apa yang ingin di bicarakan oleh Jeff hanya berdua?


"Kenapa harus berdua?"


"Ini hanya tentang aku dan Kiran, Ma." Jawab Jeffran dengan serius.


"Ikut aku ke kebun belakang." Jeff pun pergi duluan, dan tak lama Kirana mengikuti nya, membuat kedua orang tua itu saling melempar pandangan.


"Kira-kira Jeff mau bicarakan apa sama Kirana ya, Pah?" Tanya Carina.


"Mana papah tau Ma, mereka kan cuma mau bicara berdua. Jadi yaudah, biarin dulu mereka berdua. Mereka juga punya privasi."


"Iya juga ya, Pah."


"Udah, mama sama papa aja. Ke kamar yuk?" Ajak Radit, sambil memainkan alis nya naik turun, membuat Carina tersipu lalu menepuk pelan lengan suaminya itu dengan manja.


"Ayo, pah." Jawab Carina lalu pergi ke kamar bersama Radit, tau lah ya mereka mau ngapain.


Di kebun belakang, Kirana menyusul suaminya yang sudah duduk di bangku panjang dengan pemandangan berbagai jenis bunga yang nampak cantik saat daun nya meliuk-liuk terkena terpaan angin.


"Sayang, duduk." Pinta Jeffran, Kirana pun menurut dan duduk di samping sang suami. Pria itu menggenggam tangan istri nya dengan erat.


"Kenapa? Apa kamu sedang khawatir?" Tanya Kirana. Jeff menganggukan sebelum bicara, dia memang merasa khawatir belakangan ini, anak buah nya masih belum mendapatkan informasi apa-apa tentang siapa dalang dari bocor nya hubungan mereka berdua ke publik dan membuat kegaduhan di kantor.


"Ya aku khawatir sayang, aku khawatir kamu pergi. Berjanjilah apapun yang terjadi nanti, kamu harus tetap berada di sampingku. Aku yakin perjuangan kita masih panjang dan akan ada ujian lain dari cinta kita, jika saat itu tiba aku meminta mu untuk bersedia mendampingiku."


"Kenapa mengkhawatirkan hal yang tak penting? Selain karena aku punya janji pada mendiang istrimu, aku juga sudah mulai mencintaimu. Jadi aku harus menemani mu dalam keadaan apapun kan? Sudahlah, jangan bicara seperti ini lagi. Bukankah kita sudah beberapa kali bicara tentang hal ini?" Tanya Kirana, dia berusaha meyakinkan suami nya dengan ucapan nya. 


Meskipun nyata nya, perkataan nya itu tidak membantu sama sekali. Wajah suami nya masih terlihat sangat khawatir, namun entah apa yang membuat nya khawatir seperti ini.


"Entahlah, sayang. Tapi rasanya hatiku gelisah saat ini."


'Terlebih manusia laknat itu masih berkeliaran bebas di luaran sana!' Batin Jeff, entah orang seperti apa yang meneror nya dan sang istri, hingga anak buah nya saja kesulitan mencari sang pelaku kerusuhan.


"Kok bengong, kamu kenapa? Cerita sama aku, jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku."


"Gak ada sayang, cuma masih mikirin kita mau bulan madu kemana. Gimana kalau ke Cappadocia saja?" Jawab jeffran membuat Kirana terkekeh.


"Aku sih pengen nya ke Bali aja, kalau ke Cappadocia, aku rasa terlalu jauh. Dan juga, aku kurang srek sama tempat itu, aku mau nya ke Bali aja." Usul Kirana. Baru membayangkan nya saja sudah sangat merepotkan, apalagi kalau sudah di lakukan.


"Ohh yaudah kalau itu mau kamu, yang. Aku gak sabar pengen lihat perut kamu buncit, semoga aja twins."


"Jangan terlalu berharap ya, kita kan gak tau kapan di kasih lagi bisa cepet atau lama. Kamu harus sabar, kita program hamil twins ya, mau?" Tanya Kirana sambil mengusap rahang tegas sang suami dengan lembut.


"Enggak, aku mau yang alami aja, sayang. Kalau dia sendirian juga gapapa, nanti buat lagi aja. Aku pengen punya anak banyak anak, gimana kalau sebelas. Biar bisa bikin satu klub bola." Celetuk Jeffran membuat Kirana mendelik.


"Sebelas? Kamu kira melahirkan itu gak sakit apa!" Sewot Kirana sambil menepuk lengan suami nya.


"Terus, kamu mau nya berapa? Kata pepatah juga, semakin banyak anak, semakin banyak rezeki."


"Ya, tapi gak sebelas juga kali, Mas."


"Jadi berapa dong?" Tanya Jeffran.


"Dua aja cukup, Mas."


"H-ahh, dua? Tapi.." niat Daniash ingin protes, tapi begitu melihat tatapan istrinya yang menajam, membuat Jeff langsung mengiyakan.


"Iya iya, sayangku. Dua saja cukup."


"Dua anak lebih baik." Jawab Kirana, membuat Jeff terkekeh lalu mencium pipi Kirana, lalu turun ke bibir dan memagutnya dengan mesra.


'Takkan ku biarkan kau bebas lama-lama Bajingan!' Batin Jeffran, apapun yang terjadi dalang kekacauan itu harus bisa di tangkap sebelum keberangkatan nya ke Bali.

__ADS_1


......


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2