
Seminggu berlalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Hanna dan Andre. Ya, hari ini kedua nya akan melangsungkan pernikahan mereka di hotel yang di sewa khusus oleh Andre. Di area ballroom, sudah di penuhi oleh tamu-tamu Andre. Di antara nya, ada Jeffran yang turut hadir juga menyambut tamu Andre dengan senyuman ramah nya.
"Ohh, tuan Jeffran? Anda tuan Jeff kan?" Tanya seorang gadis yang nampak cantik dengan gaun panjang semata kaki dengan belahan panjang hingga ke paha.
"Iya, saya Jeffran, Nona." Jawab Jeff. Namun wajah nya berubah menjadi datar, tak ada wajah ramah seperti tadi.
"Bolehkah saya meminta untuk berfoto bersama?" Tanya nya. Jeff merasa tak enak jika menolak, mengingat dia adalah putri dari pemilik rumah sakit tempat Andre bekerja. Jadi, bisa di bilang kalau dia adalah tamu penting di pesta ini.
Tapi, jika dia melakukan foto bersama dengan gadis itu, bagaimana dengan perasaan istrinya? Tidak, dia takkan pernah mengecewakan istri cantik nya.
"Maaf, Nona. Tapi.." Tiba-tiba saja, gadis itu menggandeng lengan nya dan mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka. Namun, di saat-saat terakhir Kirana datang dan ikut berpose di kamera.
Gadis itu mengernyit saat melihat Kirana yang ikut masuk ke dalam frame kamera, padahal tak di ajak sama sekali. Juga, dari mana datang nya wanita itu?
"Maaf, bisakah anda menyingkir? Saya ingin mengambil gambar dengan Tuan Jeff."
"Kalau hanya untuk mengambil gambar saja, kenapa tangan nya harus bergandengan seperti itu?" Tanya Kirana ketus, membuat kedua mata Jeff melotot bahkan hampir lepas dari tempat nya.
Jeff dengan cepat menghentakkan tangan nya, hingga genggaman tangan gadis itu terlepas.
"Anda siapa sih? Ganggu aja."
"Saya siapa? Tanyakan pada Jeff mu." Ucap Kirana, dia melengos pergi meninggalkan Jeff dan gadis itu.
"Puas? Membuat istri saya marah hmm?" Tanya Jeff datar, namun tatapan nya sangat tajam hingga membuat gadis itu ketakutan.
"I-istri?"
"Ya, dia istri saya dan apa kamu tahu? Dia sedang hamil anak saya saat ini." Ucap Jeff, membuat gadis itu terhenyak. Dia tak tahu kalau pria idaman nya itu kini sudah menikah lagi. Yang dia tahu adalah Jeff seorang duda setelah kematian istri nya, tapi sekarang dia sudah menikah lagi?
"M-maaf, tapi saya tak tahu."
"Maka nya aku memberitahu mu." Ketus Jeff, lalu pergi dengan setengah berlari menyusul sang istri yang pergi entah kemana. Di pesta semewah ini, menemukan satu orang itu bagaimana mencari jarum di dalam jerami.
"Astaga, sayang. Kamu kemana?" Gumam Jeff, dia sudah mencari kemana-mana, tapi hasilnya tak menemukan keberadaan sang istri.
Sedangkan di kamar, Kirana sedang menatap Hanna yang tengah di rias oleh MUA. Gadis itu di sulap seperti Barbie di dunia nyata, cantik sekali. Bahkan Kirana saja sampai pangling melihat penampilan Hanna saat ini.
"Cantik banget kamu, Hann." Puji Kirana sambil tersenyum.
"Makasih, Kiran. Sejak hamil, kamu jadi keliatan lebih dewasa deh." Ucap Hanna. Memang benar, Kirana terlihat semakin dewasa apalagi dengan perut buncit nya yang nampak menggemaskan.
"Hmmm, seperti nya iya." Kirana tersenyum kecil, lalu mengusap perut nya.
"Udah makan?"
"Belum, hehe. Aku mau makan disini aja, sekalian kondangan."
"Nah, bagus tuh. Andre nyewa catering yang mahal dan pasti makanan nya enak-enak." Ucap Hanna sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan yang di hias dengan cat berwarna merah.
__ADS_1
"Ohh, iya selamat ya Hanna. Ini hadiah dari aku, khusus buat kamu." Kirana memberikan sebuah paperbag berisi pakaian dinas untuk malam pertama sahabat nya.
"Astaga, Kiran. Pakaian macam apa ini? Tipis sekali." Ucap Hanna sambil memperlihatkan pakaian yang di berikan oleh Kirana. Pakaian dinas berwarna merah maroon yang nampak sangat aneh bagi Hanna.
"Pakaian dinas, nanti malam pake di depan Andre. Aku jamin kamu langsung di terkam, hehe."
"Ya Tuhan, baiklah terimakasih."
"Sama-sama." Jawab Kirana, Hanna melihat harga yang tercantum di kerah pakaian dinas yang di berikan oleh Kirana, menandakan kalau pakaian itu masih baru.
"Gilaa, ini harga nya tujuh juta? Mahal sekali untuk sekedar pakaian kurang bahan seperti ini."
"Ya, itu keberatan sama merk nya. Makanya harga nya mahal." Jawab Kirana sambil terkekeh.
"Kek nya sih gitu." Ucap Hanna. Kedua nya pun tertawa dengan bercandaan yang membuat suasana terasa lebih hangat.
Hingga Mama Dita datang dan mengatakan kalau semua nya sudah siap. Hanna merasa gugup hingga tubuh nya gemetar.
"Gak usah gugup, kamu sudah sangat cantik, Hann."
"Fiuhh, temenin aku ya." Pinta Hanna, Kirana menganggukan kepala nya. Hanna pun menggandeng lengan kedua wanita itu dan keluar dari ruangan, menuruni tangga dengan perasaan campur aduk.
Di ujung sana, Andre sudah menunggu dengan senyum manis yang terpatri di kedua sudut bibir nya, tampan. Satu kata yang pasti Hanna mengucapkan nya dalam hati, calon suami nya terlihat sangat tampan saat ini.
"Jemputlah pengantin mu, Andre." Ucap Jeff, Andre pun menurut dan berjalan perlahan menjemput calon istri nya yang nampak sangat cantik meskipun wajah nya di tutupi oleh kain transparan.
"Saya Andrean Revano, akan melakukan tugas saya sebagai suami dengan baik, Ma." Dita tersenyum, lalu menyatukan kedua tangan mereka dan duduk di dekat Kirana dan Jeff duduk.
"Tissu, Ma." Tawar Kirana, Mama Dita pun mengambil selembar tisu dan mengusap air mata nya dengan perlahan. Andai saja, suami nya masih hidup, mungkin moment ini akan terasa lebih membahagiakan.
'Mas, kamu melihat nya dari atas sana kan? Akhirnya, putri mu menemukan pria yang tepat untuk menjadi suami nya. Kamu bahagia kan, Mas?' Batin Dita.
Kedua nya berjalan bersisian menuju altar, Andre menatap istri nya dengan tatapan dalam. Hingga akhirnya, kedua nya mengucap janji suci, membuat suasana terasa melow karena Hanna yang menangis begitu juga Andre. Kedua nya sama-sama tak punya sosok seorang ayah, kedua nya sudah meninggal.
Jeff bahkan ikut meneteskan air mata nya, dia juga tak punya siapa-siapa saat ini. Hanya memiliki Radit dan Carina, orang tua mendiang sang istri. Kedua orang tua nya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis belasan tahun silam.
"Mas.." panggil Kirana, membuat Jeff langsung mengusap air mata nya. Dia tak ingin terlihat lemah di depan sang istri, meskipun Kirana sudah mengetahui kalau dirinya menangis. Jeff bersandar di bahu Kirana, pasti nya akan sangat menyenangkan jika kedua orang tua nya masih ada dan menyaksikan kehidupan rumit nya selama ini. Tapi, takdir berkata lain.
Seperti nya, Tuhan lebih menyayangi orang tua Jeff hingga dia mengambil mereka dari nya.
Setelah selesai kedua nya mengucap janji suci, Mama Arin datang dengan membawa dua cincin yang sudah Andre siapkan. Cincin emas polos dengan ukiran nama di dalam nya, milik Andre dengan ukiran nama sang istri dan begitu pun sebaliknya.
Hanna memakai kan cincin itu di jari manis sang suami, lalu bergantian Andre yang memasangkan cincin itu di jari manis istri nya. Setelah nya, kedua nya pun berciuman mesra, membuat para tamu yang hadir bertepuk tangan dengan riuh menyaksikan hal itu.
Acara inti sudah selesai, kini para tamu yang hadir bergiliran menaiki pelaminan dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
"Selamat ya, semoga pernikahan kalian awet hingga menua bersama." Ucap salah satu tamu perempuan, namun wajah Andre terlihat sangat asam. Hanna yang tak tahu apa-apa hanya mengiyakan saja dan berterimakasih.
"Terimakasih, kak." Perempuan itu pun turun dari pelaminan. Sedangkan Andre masih menunjukan wajah kecut nya.
__ADS_1
"Yang, kenapa?"
"Kalau kamu tahu dia siapa, aku yakin kamu gak bakal mau senyum sama dia, yang." Jawab Andre membuat kening Hanna berkerut.
"Memang nya siapa? Mantan pacar kamu?" Tanya Hanna. Andre menoleh lalu menganggukan kepala nya.
"Tepat nya, mantan gebetan. Kita sempet deket, tapi pas kita jadian dia nya malah hamil sama cowok lain. Sad ya kan?"
"Wahh, sad banget itu mah. Sabar ya, sekarang kamu punya aku, Hanna yang lucu dan imut." Ucap Hanna sambil terkekeh pelan.
"Iya, kamu memang yang terbaik sayang." Andre mencubit mesra pipi Hanna.
"Gak usah uwu-uwuan dulu, nanti aja kalo udah selesai acara nya, sekalian di kamar." Celetuk Bima, dia juga hadir di pernikahan teman seprofesi nya, tentu saja suara itu membuat pasangan pengantin baru itu merasa malu.
"Selamat ya atas pernikahan kalian berdua, gak nyangka dokter jomblo ini akhirnya kawin juga."
"Heh, Lo juga jomblo kali." Ucap Andre sambil menepuk pundak sahabat nya.
"Haha, gue otewe bulan depan kok."
"Hah, seriusan Lo?" Tanya Andre, rasa nya dia kurang percaya kalau Bima juga akan menikah dalam waktu dekat.
"Ngeraguin banget, gini-gini juga gue laku keles."
"Jangan lupa undangan nya ya." Ucap Hanna pada Bima.
"Siap, jangan lupa pada dateng juga. Yaudah, gue duluan ya. Tujuan gue dateng kesini tuh buat makan, sengaja dari rumah gak makan dulu soalnya mau kondangan ya kan." Ucap nya sambil tertawa.
"Astaga, itu anak pecicilan amat."
"Kayak kamu enggak aja, padahal kalian tuh sama-sama pecicilan."
"Hehe, jangan bongkar aib ya sayangku, malu."
"Iya iya, sayangku."
"Ciee ciee, kalo udah gak kuat ke kamar aja sana." Ucap Jeffran, pasangan itu naik ke atas pelaminan dengan saling berpegangan tangan. Tentu nya, Jeff dengan segala ke posesif an nya tak membiarkan Kirana berjalan sendirian.
"Selamat ya kalian berdua, kalau Andre bikin ulah, lapor aja." Ucap Jeffran, membuat Hanna tertawa sedangkan Andre memeluk Jeff ala pria.
"Terimakasih, Jeff."
"Cetak keponakan buat gue, yang banyak."
"Gue usahain." Jawab Andre sambil tergelak, sedangkan kedua wanita itu masih berpelukan. Kedua nya menyalurkan rasa bahagia bersama, Hanna menangis karena terharu, begitu pula dengan Kirana.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1