Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 109 - Morning Sickness


__ADS_3

Keesokan hari nya, Andre memutuskan untuk datang berkunjung ke rumah sang kekasih, karena semalam mereka sempat bertukar pesan dan dia terkejut bukan main saat Hanna mengatakan kalau dirinya tengah sakit. Seketika itu, Andre ingin langsung menjenguk sang kekasih. Namun, dia tak bisa karena hujan deras dengan angin dan petir yang menyambar beberapa kali.


"Pagi, Ma." Sapa Andre pada Mama Dita yang sedang duduk di ruang tamu di temani secangkir teh. 


"Pagi, Nak Andre."


"Eemm, Hanna nya mana, Ma?"


"Di kamar, Nak. Dia meriang, semalaman dia gak tidur karena tubuh nya demam tinggi." Jawab Mama Dita.


"Separah itu kah, Ma?"


"Iya, Hanna tuh memang jarang sakit tapi sekali nya sakit pasti parah meskipun cuma demam." 


"Sebentar, Ma. Andre bawa alat-alat kesehatan dulu, biar sekalian di periksa Hanna nya." Ucap Andre, pria itu meletakan bunga dan makanan yang dia bawa. Sedangkan dia berlari kembali ke mobil nya, untuk mengambil alat-alat kesehatan untuk memeriksa keadaan sang kekasih. Ya, inilah salah satu keuntungan punya pacar dokter. 


Tapi ya minus nya, kalau dokter nya mesuum seperti Andre bagaimana? Untung saja dia ganteng, kalau enggak sudah di jamin Andre akan susah laku.


Tak lama kemudian, Andre kembali masuk dengan menenteng tas kecil berisi alat-alat kesehatan. Andre pun langsung menaiki tangga menuju ke kamar Hanna, di ikuti Mama Dita di belakang nya. 


Andre membuka pintu dengan perlahan, dia melihat keadaan Hanna yang cukup mengkhawatirkan. Sapu tangan berada di atas kening nya.


"Hanna sudah makan belum, Ma?" Tanya Andre pelan, sambil memeriksa denyut nada Hanna.


"Belum, Hanna kalau sakit susah makan, Nak Andre. Itu yang bikin Mama worry, kalau pun di bawa ke rumah sakit, Hanna phobia jarum suntik. Bisa-bisa keadaan nya semakin parah." Jelas Mama Dita, raut ke khawatiran terpancar jelas dari wajah tua nya. 


"Hanna phobia jarum suntik, Ma?"


"Iya, Nak Andre." Jawab Mama Dita. 


'Hmmm, tapi Hanna tidak phobia dengan jarum suntik milik saya, Ma. Padahal ukuran nya jauh lebih besar dari jarum suntik.' Batin Andre, di saat seperti ini sempat-sempat nya dia membatin seperti itu. Memang, tingkat kemesuuman Andre sudah hampir di ambang batas. 


Andre memakai stetoskop di telinga nya dan memeriksa perut Hanna, hasilnya cacing di dalam nya berdemo ria mungkin karena belum makan. Perut nya juga kembung seperti masuk angin.

__ADS_1


"Kembung Ma, seperti nya Hanna masuk angin." Ucap Andre. Seketika dia ingat, kalau waktu di hotel Hanna mandi air dingin malam-malam setelah pulang dari pesta pernikahan Jeff dan Kirana malam itu. 


"Di kerik aja kali ya?"


"Pake koin?" Tanya Andre sambil mengernyitkan kening nya, setahu nya di kerik memang sering pake koin. 


"Iya, Nak."


"Mama saja deh, Andre belum halal. Hehe." Jawab Andre sambil cengengesan. 


"Nak, bangunlah." Ucap mama Dita sambil mengguncang tubuh putri nya. Namun, seperti nya demam Hanna sangat tinggi hingga membuat gadis itu tak sadarkan diri.


"Ma, Hanna pingsan. Kita bawa ke rumah sakit saja ya? Biar penanganan nya lebih baik, Andre khawatir sekali."


"Iya, kita bawa ke rumah sakit aja." Jawab Mama Dita, dia setuju dengan usul Andre. Dia juga khawatir pada putri nya sejak semalam, tapi dia juga tak bisa mengajak putri nya untuk pergi ke dokter. Tapi dia tahu benar kalau putri nya takut akan jarum suntik, bisa-bisa gadis itu mengamuk di rumah sakit. 


Dengan sigap, Andre langsung menggendong tubuh lemah Hanna ala bridal style, lalu berjalan secepat mungkin keluar dari kamar milik gadis cantik itu. Sedangkan Mama Dita, dia membawakan tas berisi alat kesehatan milik Andre yang bisa saja tertinggal padahal itu penting untuk Andre. 


"Ma, tolong bawain makanan nya, aku belum makan." Ucap Andre membuat Mama Dita mengangguk, dia pun mengambil tas berisi makanan buatan Mami Arina itu dan kedua nya pun pergi ke rumah sakit dengan cepat, takut nya keburu terlambat. 


Setelah cukup lama berkendara, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Andre pun sampai di rumah sakit tempat dia praktek. Andre menggendong Hanna lagi dengan gaya yang sama, setelah itu meletakan nya di brankar dan membawa nya masuk ke dalam suatu ruangan. 


Tapi, Mama Dita tak bisa ikut masuk juga. Jadi, dia hanya bisa menunggu dengan khawatir di luar ruangan IGD. 


"Ya Tuhan, semoga putri ku baik-baik saja." Gumam Mama Dita. Sudah lama Hanna tak sakit, tapi begitu sakit pasti membuat semua orang khawatir. 


Sedangkan di rumah, Kirana sedang duduk bersantai bersama Ibu nya. Carina nampak sedang membaca majalah, sedangkan Kirana sedang asik mengemil buah stroberi hasil nya memetik dari kebun belakang rumah. Aneh nya, dia gak bosan dengan buah itu. 


Jeff turun dari kamar dengan wajah kuyu nya, sudah dua hari ini dia mogok kerja karena dia mengalami morning sickness yang cukup parah hingga membuat tubuh nya lemas seperti tidak mempunyai tulang. 


"Ayang.." panggil Jeff dengan nada manja, membuat Kirana melirik sekilas ke arah sang suami yang tampil casual dengan celana pendek selutut berwarna hitam dan kaos berkerah berwarna senada juga. 


"Iya, kenapa Mas?"

__ADS_1


"Enggak kok, yang." Jawab Jeff, dia memilih berbaring di paha sang istri. 


"Udah gak lemes lagi?" Tanya Kirana sambil mengusap kepala sang suami yang sedang mode manja-manja nya ini.


"Masih sih, dikit yang." Jawab Jeff lagi. 


"Kamu nya belum makan, makan dulu ya?" Tanya Kirana.


"Tapi pengen di suapin, boleh yang?"


"Iya, boleh. Ayo makan dulu, biar gak lemes kamu nya." Jeff mengangguk dan bangkit dari rebahan nya, lalu mengekor di belakang istri nya.


Mau tak mau, Kirana harus memanjakan suami nya yang sedang mode ngidam saat ini. Padahal, dirinya yang hamil saja tidak mengidam seperti ini, tapi Jeff ngidam nya separah ini. Bahkan dua hari ini dia muntah-muntah setiap pagi, hingga membuat tubuh suami nya lemas tak berdaya. 


"Makan yang banyak ya, Mas." 


"Iya, sayang." Jawab Jeffran, dia pun makan dengan lahap. Tadi, Kirana memasak sup ayam untuk suami nya agar lebih bertenaga. Namun, untuk bekerja dia memilih libur saja karena bekerja pun dia takkan bersemangat karena Kirana sudah mengundurkan diri dari pekerjaan nya atas perintah Carina.


Meskipun sebenarnya ingin menentang, tapi Jeffran juga sadar kalau Carina ingin yang terbaik untuk Kirana. Apalagi saat ini Kirana tengah hamil muda, jadi tak mungkin jika dia harus tetap bekerja di kondisi nya saat ini. Akhirnya, Jeff pun hanya bisa pasrah dengan keputusan sang Ibu.


Kirana juga demikian, dia tak tega jika suami nya harus bekerja sendirian, tapi mau bagaimana lagi. Dia jadi lebih mudah kelelahan saat ini, karena keadaan nya.


"Mas, gimana kamu sudah menemukan sekretaris baru?" Tanya Kirana lirih.


"Belum, susah juga ya nyari sekretaris kayak kamu."


"Hmmm, gimana dong? Masa kamu mau terus libur kerja sih, terus keadaan kantor gimana kalo kamu nya gak kerja?"


"Iya-iya, sayang. Bumil cantik ku ini sangat bawel saat ini."


"Rata-rata, wanita kan memang semua nya cerewet, Mas." Jawab Kirana membuat Jeff gemas lalu menjawil mesra hidung mancung sang istri.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2