Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 81 - Pertemuan Hanna dan Kirana


__ADS_3

Kirana nampak begitu tegar, dia menyaksikan kakak nya di mandikan bahkan hingga di masukan ke dalam peti. Sebisa mungkin, wanita itu tak ingin meneteskan air mata nya, karena janji nya pada Queen. Dia tak boleh menangis jika saat ini tiba.


Berbeda dengan Jeff yang tidak tegar sedikitpun, dia terus menangis tergugu hingga bahu nya turun naik, bergetar pelan karena menahan tangis nya.


"Mas, kuatlah, kamu harus tegar. Kasian kak Queen nya, nanti dia gak tenang kalau kamu menangisi kepergian nya terus."


Jeff mendongak, benar perkataan Kirana. Tapi dia tak bisa menahan rasa sesak di dada nya, membuat nya tak bisa menahan tangis nya.


"Sayang.."


"Ikhlaskan, Mas. Agar kak Queen bisa beristirahat dengan tenang ya?" Jeff menganggukan kepala nya, lalu mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata nya. Kirana tersenyum, dia mengusap-usap lengan suami nya.


Hingga akhirnya, waktu yang paling menyakitkan pun tiba. Jeff harus menyaksikan istri nya di timbun tanah, lagi-lagi dia tak bisa menahan air mata nya. Bahkan Kirana saja yang sedari tadi menguatkan dirinya agar tak menangis pun, menangis di tempat peristirahatan kakak nya yang terakhir. 


Radit sudah berada di sana lebih dulu, karena dia harus mengatur dan mengurus pemakaman putri semata wayang nya. Dengan wajah datar nya, Radit melihat peti perlahan di turunkan dengan bantuan tambang. Namun terlihat dari wajah nya kalau dia sedang tidak baik-baik saja. 


Carina tak berhenti menangis sedari tadi, dia terus menangisi kepergian putri nya yang sangat mendadak, padahal kemarin dia baik-baik saja, bahkan sudah mau makan meskipun harus di suapi adik nya. Tapi sekarang? Semua nya terasa seperti mimpi, tapi sayang nya semua ini kenyataan. 


"Mama.." panggil Kirana lirih. Carina langsung memeluk Kirana dengan erat, lalu menangis sejadinya. Jujur, dia belum merelakan putri nya pergi. Bahkan mungkin takkan pernah rela, apalagi Queen adalah putri satu-satunya.


"Mama harus kuat ya, ikhlasin kakak Queen pergi. Nanti dia sedih kalau Mama nangis terus." Ucap Kirana sambil menepuk-nepuk punggung wanita paruh baya itu.


"Mama gak bisa, rasa nya terlalu sakit."


"Kiran tau, Ma. Kiran juga pernah merasakan sakitnya kehilangan, tapi kita harus tetap melanjutkan hidup. Mau sekuat apapun kita melawan takdir, tetap saja kita harus menjalani kenyataan." 


"Iya sayang, kamu sangat bijak." Ucap Carina, akhirnya wanita itu merasa lebih tenang setelah mendengar ucapan dari Kirana. 


"Jangan bersedih terus-terusan ya, Ma. Kasian kakak Queen nya nanti gak tenang tidur nya." Carina menganggukan kepala nya, meskipun berat tapi perkataan Kirana memang benar.  Dia harus belajar menerima kenyataan dengan ikhlas. Mau menangis seperti apapun, takkan mengubah apapun, karena yang sudah terjadi akan tetap terjadi. 


Setelah pemakaman selesai, Andre datang bersama Hanna. Gadis itu awalnya terkejut saat Andre mengajak nya untuk ke suatu tempat, tapi saat melihat wajah sendu pria itu, akhirnya Hanna tak mau banyak bertanya, karena dia yakin ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Ternyata, benar saja. 


Andre menatap nanar gundukan tanah basah bertabur bunga di depan nya, setetes butiran bening jatuh dari mata nya, membuat Hanna yakin kalau orang yang meninggal ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu dan hati sang kekasih.


"Hanna.." panggil Kirana, membuat gadis itu berbalik dan menatap sahabat nya.


"Lho, Kiran.." Hanna mendekat ke arah Kirana. Jujur saja dia heran kenapa Kirana bisa ada di tempat ini, juga Tuan Jeff yang ada disini. 


"Kamu disini ngapain?" Tanya Hanna.


"Lah, justru harusnya aku yang nanya sama kamu. Kamu disini ngapain, sama siapa?" Tanya Kirana lagi. 


"Sama pacar aku." Jawab Hanna, sambil menunjuk Dokter Andre yang sedang berjongkok di dekat pusara Queen.

__ADS_1


"Dokter Andre? Kamu pacaran sama dia?" Tanya Kirana, Hanna menganggukan kepala nya dengan cepat.


"Awalnya sih di jodohin sama Mama, tapi dia orang nya bikin nyaman, yaudah jalanin aja. Kalau kamu disini ngapain? Bukan nya ini pemakaman istri nya tuan Jeff?" Tanya Hanna lagi.


"Hmm, dia kakak aku." 


"What? Kakak apa maksudmu? Jangan-jangan.."


"Jangan-jangan apa, Han?" Tanya Kirana.


"Kamu menikah sama Tuan Jeff ya, terus jadi istri kedua nya begitu?" Tebak Hanna membuat Kirana terkejut, karena tebakan sahabat nya benar, bahkan sangat benar.


"Hmm, iya. Aku menikah dengan tuan Jeff atas permintaan kak Queen." 


"Hah, jadi bener gosip yang beredar di kantor kalau kamu istri kedua pak CEO? Astaga, aku gak nyangka banget Kiran." 


"Aku gak punya pilihan lain, Han."


"Gapapa, apapun yang bikin kamu bahagia lakuin aja, gak usah mikirin omongan orang lain. Kamu berhak bahagia, dengan cara mu sendiri." Ucap Hanna sambil tersenyum. 


Dia sendiri tidak keberatan dengan berita yang tersebar di kantor tentang Kirana dan Jeff. Awalnya dia tak percaya, tapi setelah melihat semua dan mendengar langsung dari mulut Kirana, barulah dia percaya. 


"Terimakasih ya, Hann. Kamu sama dokter Andre udah lama?"


"Baru dua bulanan, Kiran."


"Makasih doanya, ohh iya kamu gak bekerja lagi di kantor?" Tanya Hanna. 


"Enggak, Mas Jeff melarang aku buat kerja lagi. Jadi, dia mau nyari sekretaris baru katanya. Aku fokus di rumah aja." Jelas Kirana sambil tersenyum.


"Yahh, pasti bakal kangen banget sama kamu."


"Sekali-kali kita meet up ya, kalau kamu nya gak sibuk." 


"Iya." Jawab Hanna. Tak lama kemudian, Jeff menyusul. Mata nya masih terlihat sembab dengan tatapan yang sendu.


"Sayang.." panggil nya lirih, Kirana membalikan badan nya dan menyambut pria itu dengan senyum manis nya.


"Iya, Mas."


"Kita pulang ya? Mas capek banget." 


"Iya Mas, gak nunggu Mama sama Papa dulu?" Tanya Kirana. 

__ADS_1


"Enggak, mama sama papa mau pulang dulu ke rumah mereka." 


"Ohh, yaudah." Jawab Kirana. Pria itu menyatukan jemari besar nya dengan tangan Kirana, lalu menarik nya pelan.


"Aku pulang duluan ya, Hann." 


"Iya beb." Jawab Hanna sambil tersenyum kecil. Dia menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan penuh arti. Jujur saja, dia ikut senang kalau teman nya itu bahagia dengan pernikahan nya. 


"Yang, kok bengong. Kita pulang yuk?" Ajak Andre, Hanna mengangguk dan pergi dari area pemakaman. 


"Kamu kenal sama Kirana?" Tanya Andre sambil berjalan.


"Iya, dia temen aku pas kerja di kantor nya Tuan Jeff. Kenapa memang nya?" 


"Kamu tahu kalau dia istri nya Jeff?" Tanya Andre lagi.


"Hmm, iya. Baru saja aku tahu, meski di kantor gosip nya sudah beredar cukup lama. Tapi, aku gak percaya kalau cuma sekedar katanya. Jadi aku tanya langsung sama Kirana nya, dan ya jawaban nya bener."


"Ya, dia menikah atas permintaan Queen. Bahkan dia yang memilihkan gaun pengantin nya sendiri." 


"Apa iya, yang?" Tanya Hanna, ekspresi nya menyiratkan keterkejutan yang kentara.


"Iya, sayang. Aku kan sudah menjadi dokter pribadi keluarga Jeff cukup lama, jadi aku tahu bagaimana kehidupan Queen dan Jeff." 


"Bagaimana bisa ada istri yang menikahkan suami nya sendiri dengan wanita lain, yang?" Tanya Hanna heran.


"Ya ada, kan itu Queen. Langka sekali, di dunia ini mungkin hanya satu-satunya."


"Jadi, wanita yang kamu cintai itu nyonya Queen?" Tanya Hanna, Andre tidak menjawab pertanyaan sang kekasih. Dia hanya tersenyum kecil, tapi Nayna tau kalau itu artinya iya. 


"Kamu mau makan dulu?"


"Enggak usah, aku mau pulang aja yang."


"Kok bad mood, kenapa?" Tanya Andre sambil membingkai wajah cantik sang kekasih.


"Siapa yang badmood? Enggak tuh."


"Biasanya kamu tuh hayuk-hayuk aja kalo di ajakin makan, yang. Kenapa hmm?"


"Lagi gak mau aja, yang. Capek." Jawab Hanna.


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya, sayangku. Ayo pulang." Ajak Hanna terdengar seperti merengek, membuat Andre tersenyum kecil. Lalu kembali mengandeng Hanna ke mobil nya.


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2