
Setelah makan malam yang cukup mencekam karena tatapan Mama Dita yang selalu tajam, mungkin dia sudah mulai mencurigai nya. Jadi dia memutuskan pulang, meskipun niat awalnya dia ingin menginap dan mengulang malam panas nya bersama Hanna, tapi urung dia lakukan karena takut seisi rumah meledak karena amarah Mama Dita.
Mami Arina menatap punggung sang putra yang berjalan gontai menaiki tangga. Tak biasa nya sang putra terlihat tak bersemangat seperti itu, apa ada hal yang terjadi?
"Nak, kamu kenapa?" Tanya Mami Arina cukup keras, baru saja Andre akan membuka pintu dia berbalik dan menatap Mami nya.
"Aku mandi dulu Mi, nanti kita bicara." Jawab Andre, Mami Arina mengangguk dan membiarkan putra nya itu membersihkan tubuhnya. Meski dia heran dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ada apa sesuatu yang membuat Andre murung?
Hingga tiba-tiba saja ponsel nya berdering keras, Arina langsung mengangkat nya. Rupanya Mama Dita lah yang menghubungi nya, sudah cukup lama keduanya tak bicara apalagi bertemu setelah acara lamaran waktu itu.
"Hallo jeng.." Ucap Mami Dita, dan di balas dengan sapaan ramah Mami Arina.
"Kenapa nelpon jam segini Jeng, ada sesuatu yang penting?" Tanya Mami Arina, tak biasa nya teman nya itu menghubungi nya malam-malam, pasti ada sesuatu yang penting hingga membuatnya menelpon.
"Apa Andre sudah pulang?" Tanya nya, tentu saja pertanyaan itu membuat kening Mami Arina berkerut.
"Sudah, dia baru saja sampai. Kenapa? Apa anak itu membuat ulah lagi?" Tanya Arina.
"Maaf tapi aku curiga, aku melihat ada dua tanda kemerahan di leher dan dada Hanna, aku tak ingin nethink tapi firasat seorang ibu tak bisa di bohongi, Arina. Jadi aku hanya ingin, agar pernikahan Hanna dan Andre di percepat sebelum terjadi hal yang tak di inginkan, itu saja." Jelas Mama Dita panjang lebar, tentu saja itu membuat Mami Arina menganga.
Benarkah putranya sudah melakukan hal di luar batas itu bersama Hanna? Rasanya sulit di percaya, tapi bukan berarti mustahil. Andre pria yang normal, mempunyai nafsuu, dan nafsuu bisa mengambil alih akal sehat jika sudah di awali.
"Aku akan menyiapkan semua nya, Dita. Tak perlu khawatir, seminggu lagi Hanna dan Andre akan menikah. Aku minta maaf jika putra ku sudah berbuat hal di luar batas pada putri mu."
"Tak apa-apa Arina, aku hanya ingin sebuah kejelasan. Jika sudah menikah, mereka bebas mau melakukan hal apapun, tapi saat ini status keduanya belum sah menjadi suami istri. Sebagai seorang ibu, kau juga pasti mengerti ke khawatiran ku."
"Iya Dita, aku mengerti. Baiklah, beri aku waktu seminggu untuk menyiapkan pesta dan semua teteek bengek nya, kau tak perlu khawatir aku akan menyiapkan nya secepat mungkin." Ucap Mami Arina.
"Baiklah, terimakasih sudah mengerti. Kalau begitu aku tutup dulu telpon nya, maaf jika aku mengganggu waktu istirahat mu, selamat malam."
"Selamat malam juga, Dita." Sambungan panggilan pun terputus. Dia menatap ponsel nya yang sudah mati, rasanya masih belum yakin kalau Andre melakukan hal sebejat itu. Tapi dia juga tak mungkin mengatakan hal demikian jika dia tak punya bukti yang kuat.
"Mi.." Andre turun dari kamar mandi nya dengan pakaian santai nya, celana selutut dan kaos oblong berwarna hitam, rambut nya acak-acakan dan masih mengucurkan air, tapi meski begitu tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanan seorang Andrean Revano.
"Aaaaa iya, kau sudah selesai?"
__ADS_1
"Sudah Mi, ada yang ingin Andre bicarakan. Ini mengenai hubungan Andre sama Hanna."
"Bicara saja, Nak." Jawab Mami Dita, Andre terlihat salah tingkah. Dia memilin ujung kaos nya saking gugup nya mungkin.
"Eeemm, maafin Andre Mi. Tapi Andre sudah merenggut kesucian Hanna." Ucap Andre sambil menunduk. Jujur saja, dia takut akan kemarahan sang ibu, tapi bukankah jujur itu akan lebih baik? Keuntungan nya, ya mungkin pernikahan nya dan Hanna akan di percepat.
"Ap-apa? Jangan bercanda, Andre!" Ucap Mami Arina, Andre menggelengkan kepala nya, dia sudah mengatakan hal yang jujur saat ini.
"Andre gak bercanda Mi, Andre serius." Memang benar, tak ada raut bercanda dalam wajah Andre, hanya ada raut wajah penuh keseriusan. Mami Arina, menatap putra nya nyalang, baru saja dia meyakinkan dirinya kalau putra nya tidak mungkin melakukan hal semacam itu, tapi setelah mendengar nya langsung dari mulut putra nya, Mami Arina merasa shock. Kini tak ada dia tak bisa mengelak lagi.
"Kenapa kau melakukan hal itu, Andre? Apa Mami pernah mengajari mu untuk merusak wanita? Tidak Andre, Mami kecewa sama kamu!"
"Andre tahu Mi, Mami pasti kecewa sama Andre. Tapi Hanna gak salah Mi, ini semua salah Andre yang gak bisa menjaga diri dari nafsuu. Maafin Andre, Mi."
"Satu Minggu lagi Andre, satu Minggu lagi. Setelah itu Mami tak peduli apapun setelah kau menjadi suami." Ucap Mami Arina lalu pergi meninggalkan Andre sendirian di ruang tamu.
"Mi, ada makanan gak?" Teriak Andre, meski sudah makan malam di rumah Hanna sebelum pulang kesini, tapi tetap saja menghadapi kegugupan itu akan membuat perut nya terasa kosong.
"Di dapur, cari aja sendiri anak nakal!" Ketus Mami Arina, tapi Andre tau benar kalau Mami nya itu kalau Mami nya marah pasti takkan lama.
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di mansion milik Jeff. Kirana setiap hari, jam, menit dan detik, mau pagi, siang, sore, malam, selalu saja berada di kebun stroberi pribadi yang di buatkan sang suami khusus untuknya. Kalau istri nya menghilang, cari saja di kebun buah itu pasti ketemu. Seperti saat ini, perempuan hamil itu tengah memetik buah berwarna merah dan memiliki aroma manis yang membuat Kirana terus memakan buah itu tanpa bisa berhenti.
Dan anehnya, buah stroberi ini seperti tak ada habisnya. Jeffran memang sengaja membeli bibit stroberi yang sudah menghasilkan buah, jadi sang istri yang notabene nya penyuka buah itu tak perlu waktu untuk menunggu sampai pohon nya berbuah. Lagipun, memakan buah yang di petik dari pohon nya langsung pasti rasa nya akan berbeda dengan rasa buah yang di beli dari supermarket.
Jeffran menggelengkan kepala nya saat melihat istrinya tengah malam begini ada di kebun stroberi, meski mengenakan pakaian hangat dan syal yang menjamin dia takkan kedinginan, tapi tetap saja dia akan mengkhawatirkan keadaan sang istri yang sedang hamil muda itu.
"Sayang, sudah malam. Udara malam tak sesuai untukmu yang sedang hamil muda, Sayang. Lagipun, aku memakan buah itu banyak-banyak akan membuat perut mu sakit." Ucap Jeffran, pasalnya dari tadi pagi Kirana benar-benar tak memakan apapun kecuali buah stroberi.
"Kamu bikin kebun stroberi ini buat aku kan? Lalu kenapa aku tak boleh makan buah nya?" Tanya Kirana, lengkap dengan delikan mata yang membuat Jeffran salah tingkah.
"Iya, aku memang membuat kebun ini untuk mu istri ku tersayang. Tapi makan buah ini terlalu banyak juga tak baik untuk perut mu Sayang, tolong pikirkan anak kita juga."
"Aaaah baiklah suamiku, lagipula aku sudah kenyang jadi ayo kita masuk." Ajak Kirana, keduanya pun masuk ke dalam mansion, dengan Jeff yang merangkul mesra pinggang ramping istri cantiknya itu.
"Ketemu?" Tanya Carina sambil terkekeh saat melihat wajah kecut pria itu.
__ADS_1
"Ketemu Ma, biasalah di kebun buah." Pasalnya, sedari tadi Jeffran sudah mencari istrinya itu, tapi tidak ketemu juga. Dan salah satu maid yang bertugas di kebun belakang memberi tahu nya kalau Nyonya muda keluarga Leonard itu berada disana, dan ya akhirnya Jeff menemukan nya, tapi belum selesai disitu saja, Jeff pun harus kembali berusaha membujuk sang istri yang sepertinya enggan meninggalkan kebun buahnya, padahal masih ada hari esok.
"Wkwk, wanita hamil memang suka begitu."
"Kucing nakal ku memang sangat nakal, dia harus aku beri hukuman." Ucap Jeffran dengan senyum smirk yang membuat Kirana bergidik.
Andre membuka tudung saji, lalu tersenyum saat melihat makanan yang terlihat sangat enak. Apalagi tongkol balado yang berbumbu merah, nampak sangat menggoda. Andre pun langsung mengambil nasi ke piring dan makan dengan lahap.
Tadi, dia belum terlalu kenyang. Mau nambah, tapi rasa nya malu karena Mama Dita menatap nya dengan tajam. Jadi, dia melanjutkan acara makan malam nya sekarang, karena perutnya belum terlalu kenyang.
"Enak sekali.." Gumam Andre, dia pun makan dengan lahap. Bahkan hingga menambah beberapa kali saking enak nya masakan sang mami.
Sedangkan di rumah Hanna, gadis itu tengah di landa meriang malam ini. Tubuh nya terasa panas, tapi dia mengeluh kalau suasana nya terasa dingin. Mama Dita mengambilkan air hangat untuk mengompres putri nya.
"Kamu kenapa, Nak? Apa kamu hujan-hujanan, kok bisa meriang?" Tanya Mama Dita lirih.
"E-enggak kok, Ma." Jawab Hanna. Membuat Mama Dita menatap wajah pucat putri nya, tapi lagi-lagi dia di buat salah fokus saat melihat tanda kemerahan di leher putri nya. Dia yakin, kalau ini bukan tanda kemerahan biasa. Bukan alergi, atau di gigit nyamuk. Tapi seperti nya putri nya telah di gigit oleh drakula.
"Tanda kemerahan apa di leher mu itu, nak?" Tanya Mama Dita, dia sengaja ingin mengetest putri nya, jawaban seperti apa yang akan menjadi alasan untuk Hanna membenarkan perbuatan nya.
"Ini di gigit nyamuk, Ma."
"Ohh, ya sudah. Pake salep, biar gak gatel nanti infeksi." Jawab Mama Dita.
"Iya, Ma."
"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Mama Dita, Hanna menggelengkan kepala nya. Dia tak mau makan apapun, dia hanya ingin tidur.
"Baiklah, kalau begitu tidurlah. Beristirahat, semoga besok keadaan mu sudah membaik."
"Iya, Ma terimakasih." Jawab Hanna, Mama Dita pun mengangguk lalu tersenyum kecil dan pergi dari kamar putri nya. Tak lupa, menutup pintu nya dengan perlahan agar putri nya tidak terganggu.
..
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1