
"Bangun cantik, ayo kita pulang." Ucap Andre, dia menggoyangkan lengan Hanna yang masih tertidur nyenyak berbalut selimut saja. Tadi pagi, dia belum sempat berpakaian setelah terjadi perang ranjang, dia kelelahan setelah melayani Andre dan akhirnya tertidur hingga menjelang sore hari.
"Sayangku, ayo bangun." Ucap Andre lagi, tapi Hanna tak merespon. Hanya melenguuh beberapa kali tapi mata nya tak kunjung terbuka juga.
"Okey, kalau gak mau bangun, aku masukin lagi, mau?" Ancam Andre, membuat Hanna langsung bangkit dari tiduran nya dan menarik selimut untuk menutupi dada nya.
"Cara yang sangat ampuh untuk membangunkan kebo."
"Enak aja bilang aku kebo, aku tuh capek ya habis kamu pake!" Ketus Hanna, lengkap dengan bibir yang mengerucut lucu. Itu membuat Andre sangat gemas, tanpa ragu dia langsung menempelkan bibirnya di bibir mungil Hanna dan langsung ******* nya, tak peduli akan penolakan Hanna yang mencoba menyudahi ciuman nya.
Hanna kesal, dia menggigit bibir Andre hingga membuat pria itu refleks melepaskan ciuman nya. Dia meringis karena bibir nya berdarah akibat gigitan Hanna.
"Assshhh sakit.."
"Lagian kamu nyosor aja, aku kan belum siap!"
"Ohh jadi kalo mau adu bibir itu harus izin dulu ya? Habisnya aku gemes liat bibir kamu kayak bebek gitu. Udah ya, sekarang kamu mandi. Sebelum aku makan lagi itu nya, keliatan nya enak banget kalo di ****." Andre menatap nakal ke arah dada Hanna yang terekspos karena selimut nya jatuh, tadi pagi dia melahap benda itu seperti bayi kehausan yang menyusu di dada ibunya.
Bahkan tak sampai di situ saja, benda kenyal kembar itu di penuhi tanda kepemilikan berwarna merah keunguan. Saksi betapa bernafsuu nya Andre tadi pagi saat menyalurkan nafsuu nya pada Hanna, meski begitu dia masih ingat batasan dan mengeluarkan lahar panas alias susu kental manis nya di perut Hanna. Dia tak mau Hanna hamil sebelum mereka sah menjadi suami istri, tapi unboxing nya sebelum menikah dasar Andre.
"Udah dulu mesuum nya, lubang aku masih sakit ini gara-gara sosis kamu itu terlalu keras." Ucap Hanna menyalahkan sosis Andre yang sudah membuat miliknya kesakitan, bahkan hingga meninggalkan bekas darah di seprai hotel itu.
"Lho bukan nya bagus ya sosis ku keras? Kalau loyo kamu gak bakal puas nanti." Hanna hanya memutar matanya jengah, Andre terlalu membanggakan senjata nya itu.
"Bantuin aku ke kamar mandi dong, masih sakit." Pinta Hanna, dia tidak bercanda, miliknya benar-benar terasa sangat sakit, perih dan ngilu.
"Tentu saja tuan putri, mari." Andre menggendong tubuh mungil Hanna ke kamar mandi dan menurunkan Hanna di bath up yang sudah di isi air hangat, bath bomb dan beberapa tetes aroma terapi, membuat Hanna merasa nyaman. Andre menggosok punggung Hanna dengan lembut dan perlahan, meski sesekali pria itu curi-curi kesempatan dengan meremaas buah kenyal Hanna karena gemas.
Selesai memandikan Hanna, Andre memakaikan bathrobe dan menggendong Hanna kembali, bahkan tanpa ragu dia memakaikan pakaian pada Hanna, membantu perempuan itu mengeringkan rambut nya dengan handuk. Hanna merasa nyaman dengan perlakuan Andre, meski begitu tetap saja Andre itu pria super duper mesuum, untung saja dia tampan dan ibu nya baik padanya, kalau tidak, sudah lama dia menolak pria mesuum berwajah tampan itu.
"Cantiknya calon istriku, ayo pulang. Mau jajan? Aku udah gajian lho."
"Wahh seriusan, mau dong di jajanin." Jawab Hanna dengan nada manja nya, Andre tersenyum lalu langsung menggandeng tangan perempuan itu. Tak lupa, dia sudah menelpon room servis untuk membersihkan kamar dan mengganti seprai yang terdapat bekas darah keperawanaan Hanna yang pecah tadi pagi.
Andre juga memberikan tips pada petugas room servis itu sebagai bentuk rasa terimakasih. Pria itu beralasan kalau kekasih nya tiba-tiba saja kedatangan tamu bulanan hingga tembus ke seprai, padahal tanpa beralasan pun petugas hotel tau itu darah apa, karena bukan satu kali atau dua kali mereka menerima tugas semacam ini. Tapi ya itulah pekerjaan, harus tetap profesional.
__ADS_1
Hanna dan Andre berjalan bergandengan tangan keluar dari lobi hotel setelah menyerahkan kunci kamar dan mengisi daftar tamu yang sudah check out dari hotel. Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan bersiap pergi, seperti janji nya tadi, Andre mengajak Hanna jajan terlebih dulu. Cara paling ampuh untuk membujuk Hanna kalau sedang marah ya jajan, tak perlu ke supermarket cukup jajan di pinggir jalan saja Hanna pasti langsung luluh.
"Terimakasih sudah memberikan mahkota mu untuk ku, sayang."
"Lho sapa yang ngasih? Kamu yang maksa kali."
"Issshh kamu ini, gak bisa apa di ajak so sweet kayak drama-drama gitu." Rutuk Andre, kenapa gadis nya ini tak bisa di ajak bekerja sama ya?
"Ya kamu nya kan gak diskusi dulu, jadi aku gak tahu."
"Serah lah, nyebelin. Untung aja sayang, kalo enggak udah ku tendang ke selokan!" Kesal Andre membuat Hanna tergelak. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Andre dan membingkai wajah tampan nya, lalu mencium mesra bibir nya membuat Andre yang sedang mengemudi itu langsung menginjak pedal rem, hingga mobil itu berhenti di tepi jalan.
"Kamu ini, kalau cium jangan tiba-tiba bisa? Aku kan kaget!"
"Jadi kamu maunya gimana sih? Aku cium protes, aku ketus protes juga, lembut masih protes, mau nya kamu aku tuh gimana sayang, hmm?" Tanya Hanna.
"Ya cium nya nanti aja, aku lagi mengemudi ini takut nya malah..." Hanna meletakan telunjuk nya di bibir Andre.
"Calon suami aku gemesin kalo lagi kesel, ganteng nya bertambah jadi ganteng maksimal." Puji Hanna, inilah kelemahan seorang Andre. Di puji sedikit saja, atau katakan saja dia tampan pasti langsung diam, kalau lagi marah pasti langsung baikan. Mereka punya kelemahan masing-masing, yang membuat hubungan mereka semakin dekat.
"Sayang, aku merelakan mahkota ku untukmu. Kamu calon suami ku, dan aku rasa kamu pria yang baik, jadi tak perlu ada yang di sesali. Kamu adalah pria pertama yang mampu membuat tidur ku tak nyenyak, kau selalu datang dalam mimpiku, aku harap kamu adalah yang terakhir."
"Aku juga mencintaimu, sayang ku." Jawab Hanna, lalu keduanya pun berciuman mesra selama beberapa menit, lalu melepaskan nya dan kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti karena insiden ciuman Hanna yang membuat Andre salah tingkah.
Hingga di perempatan jalan, banyak sekali orang yang berjualan aneka cemilan dan seperti janji nya tadi, Andre menghentikan mobil nya lalu memberikan sejumlah uang pada Hanna.
"Ini buat jajan.."
"Ini terlalu banyak sayang, satu aja." Tolak Hanna, dia hanya mengambil satu lembar uang merah, dia rasa itu saja cukup untuknya jajan cemilan.
"Sisanya simpan untuk jajan besok, atau lusa. Aku gajian nya satu bulan sekali, jadi pas hari gajian kamu harus pandai memanfaatkan uang nya."
"Ohh iya juga ya, tapi aku juga besok gajian deh."
"Ya udah, gaji kamu simpen buat tabungan, kalo mau jajan pakai uang dari aku. Cepetan jajan nya ya cantik, keburu mama mu nelponin." Peringat Andre, Hanna pun langsung keluar dan dengan antusias dia memilih gerobak yang menjual makanan yang menurutnya enak.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Hanna sudah kembali dengan sekantong kresek kecil yang di penuhi berbagai macam jajanan pinggir jalan.
"Makan nya sambil jalan aja yang, mama udah nelpon nih nanyain kita udah dimana."
"Iya sayang, kamu sih tidur sampe lupa waktu."
"Ulah siapa dulu? Jangan terburu-buru menyalahkan dong." Ucap Hanna tak mau kalah, enak saja pria itu menyalahkan nya, padahal dia tertidur karena kelelahan setelah dia hajar selama hampir satu jam tanpa jeda.
"Itu baru pemanasan sayang, malam pertama aku akan menghajar mu lebih dari itu." Jawab Andre, membuat Hanna bergidik, bagaimana nasib nya nanti?
Hanna memakan jajanan nya, sesekali dia akan menyuapi Andre yang sedang mengemudi hingga tak lama kemudian mobil itu sampai di depan rumah sederhana milik Hanna.
"Baru pulang?" Sapa Mama Dita di ambang pintu, Hanna dan Andre kompak menyengir kuda.
"Yaudah masuk dulu Nak Andre, ngopi dulu." Tentu saja Andre takkan menolak, dia memang betah berlama-lama di rumah Hanna, suasana hanya berbeda dengan di rumah nya.
Mama Dita mengernyit, dia melihat sesuatu yang aneh dengan cara berjalan putrinya, sedikit agak mengaangkang.
"Kamu kenapa Hann? Kaki mu sakit?" Tanya Mama Dita membuat Hanna kaget, begitu pun Andre yang sudah pias. Dia tak menyangka kalau calon ibu mertua nya akan menyadari cara berjalan putri nya.
"Memang nya kenapa Ma?" Balik tanya Hanna, berusaha setenang mungkin.
"Jalan nya kok ngaangkang gitu, lagi Dateng bulan atau keseleo itu kaki nya?" Andre an Hanna saling melempar tatapan mereka, tak mungkin jujur kalau dia sudah di unboxing oleh Andre kan? Bisa-bisa Mama Dita mengamuk.
"Ehh enggak kok, Ma. Kemaren Hanna jatuh di nikahan nya Jeff." Ucap Andre dengan cepat di sertai bumbu kebohongan.
"Ohh ya sudah, masih sakit? Nanti mama panggil tukang urut."
"Gak usah Ma, udah mendingan kok cuma terkilir dikit." Tolak Hanna, jelas lah dia menolak karena kaki nya baik-baik saja.
"Ohh gitu, ya sudah. Mama ke belakang dulu mau buat kopi," pamit Mama Dita lalu pergi ke dapur. Kompak, keduanya mengusap dada merasa lega. Untung saja Mama Dita percaya dengan dusta yang mereka ucapkan, kalau tidak bisa bahaya.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya Mama Dita tau kalau pasangan itu tengah berbohong. Terlihat dari gelagat mereka yang sangat mencurigakan, dan lagi ada tanda merah di leher putri nya yang membuat dia semakin yakin telah terjadi sesuatu pada Hanna dan Andre. Yang jelas, feeling seorang ibu tak mungkin salah.
"Mereka sudah di luar batas." Gumam Mama Dita sambil menggelengkan kepala nya. Seperti nya, dia harus membicarakan hal ini pada ibu nya Andre. Agar segera mempercepat pernikahan mereka, kalau di lama-lama, bisa-bisa Hanna keburu kebobolan.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻