Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 64 - Belanja Bulanan


__ADS_3

"Astaga Ma, ada barang pribadi Hanna di kamar. Hanna ambil dulu ya, Ma." Ucap Hanna panik, dia baru ingat kalau buku harian nya ada di kamar.


"Iya, jangan lama ya Nak." Peringat Mama Dita. Tapi Hanna sudah keburu naik tangga dengan terburu-buru, jangan sampai Andre melihat benda itu, dia akan malu kalau sampai pria itu melihat atau membaca sebuah buku diary miliknya, isinya curhatan tentang hidupnya selama ini, bahkan ada kata-kata lebay di dalamnya, juga ada poto-poto dirinya saat masih smp dulu, saat masih culun.


Hanna membuka pintu perlahan lalu menutupnya kembali, dia mengedarkan pandangannya tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Andre di ranjang, bahkan tempat tidurnya masih rapih seperti belum di sentuh sama sekali.


Tapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Hanna buru-buru mengambil buku diary nya sebelum Andre keluar, tapi terdengar suara geraman penuh nafsuu dari dalam kamar mandi, meski samar dia tau itu suara apa. Hanna mendekatkan telinga nya di pintu kamar mandi, terdengar suara ciplakan dari dalam.


"Hanna.." Lenguuh nya lirih, tentu saja Hanna bisa mendengar pria itu melenguhkan namanya dengan desaahan yang terselip di akhir kata nya.


'Apa yang sedang pria itu lakukan?' Batin Hanna, dia mendorong pintu itu dan sedetik kemudian perempuan itu membulatkan mata nya, keadaan pria itu sangat....


"Apa yang sedang kamu lakukan kak? Ya ampun.."


"Ha-hanna.." Ucap Andre terkejut, bahkan junior nya yang sedari tadi berdiri tegak pun langsung melemas seketika.


"Jelasin sama aku kak, ada apa ini? Kenapa kamu lakuin ini, pake bawa-bawa nama aku lagi. Kamu sangee ya liat aku?" Tanya Hanna kesal, bukan masalah bersolo karir nya yang dia permasalahkan, tapi dia yang di jadikan sebagai objek fantasi pria itu.


Andre langsung memasukan kembali junior nya ke dalam celana dan mendekati Hanna yang bersedekap dada di ambang pintu.


"Maaf Hanna, aku memang pria yang seperti kamu bilang." Ucap Andre pelan.


"Kenapa harus aku?"


"Aku memang nafsuan tapi bukan kepada setiap wanita. Kamu wanita pertama yang membuat aku bernafsuu, Han." Jawab Andre, membuat Hanna menatap wajah pria itu. Dari mata nya, terlihat kalau dia jujur.


Hanna diam, dia tak mau bicara lagi cukup melihat kelakuan Andre membuat nya cukup terkejut. Padahal ini pertemuan mereka yang pertama, tapi Andre sudah membuat kesan yang cukup buruk bagi Hanna.


"Sayang, aku minta maaf!"


"Apaan sayang-sayang, aku gak mau sama cowok mesuman!" Ketus Hanna, dia ingin pergi tapi tangan Andre segera mencekal tangan Hanna dan memeluk nya erat.


"Maaf, aku tau aku salah. Tapi sumpah demi apapun hanya kamu yang membuat aku begini, aku memang pernah mencintai seseorang hingga sekarang, tapi aku tak lepas kendali begini."


"Sudahlah, lalu gunanya menjelaskan hal seperti ini padaku apa gunanya?"


"Karena kamu calon istriku, sayang." Ucap Andre, dia menatap Hanna dengan penuh cinta, wanita mana yang tak luluh jika pria di depan nya menatap nya seperti itu?


"Oke-oke, aku maafkan tapi jangan menatap ku seperti itu. A-aku malu." Ucap Hanna, benar saja wajah nya nampak merona.


"Gak usah malu-malu sayang, kamu sudah tau aku mesuman, jadi jangan membuat aku gemas atau aku makan?"


"Makan aja, aku gak takut. Wlek.." Hanna menjulurkan lidahnya mengejek Andre, membuat pria itu benar-benar gemas. 


Dia memeluk kembali tubuh Hanna dan melabuhkan ciuman hangat di bibirnya, jauh lebih hangat daripada yang pertama di pinggir jalan tadi.


"Hemphhhh.." Lenguuh Hanna sambil menepuk-nepuk dada bidang Andre, dia kehabisan nafas karena pria itu benar-benar tak memberi nya kesempatan untuk bernafas sedikitpun, dia terus meraup bibir nya dengan lembut.


Andre melepaskan ciuman nya, dia mengusap bibir Hanna yang basah karena ulahnya lalu tersenyum manis.


"Bibirmu manis, Yang." Puji nya, membuat wajah Hanna bertambah merah saja.


"Pipimu memerah, lucu sekali." Ucap Andre lagi sambil menguyel-uyel pipi Hanna saking gemas nya.


"Pengen itu boleh?"


"Apa?" Tanya Hanna, dia menyilangkan kedua tangan nya di dada. 


Dia harus tau kalau pria di depannya adalah pria super duper mesum. Baru sekali bertemu saja dia sudah berani menjadikan nya fantasi liar saat bermain solo, mesum sekali tapi aneh nya dia menyukai nya.


"Pengen neneen." Jawab Andre dengan kedipan mata genit, membuat Hanna kesal dan memukul kepala Andre cukup kuat.


"Sakit sayang, gak sopan gitu sama yang lebih tua." Gerutu Andre sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Iya, kamu emang tua. Rasain, siapa suruh mesuum terus."


"Dikit doang, yang." Hanna mendelik, dia memukul lengan Andre cukup kuat lalu pergi keluar kamar dengan membawa buku diary nya. Kemesuman pria itu cukup menguras emosi juga.


Hanna pergi ke kamar ibunya, dia membuka pintu kamar ibu nya perlahan, ternyata ibunya sudah tertidur menyamping memeluk guling. Hanna tersenyum, ibunya memang paling baik. 


Dia mengerti sekali kebutuhan nya, bahkan untuk jodoh pun dia tau yang terbaik, ya meski dapatnya yang mesuman, tapi tak masalah selama dia bisa menjaga diri kan? Tapi kalau sudah jelas hubungan nya, dia tak masalah melakukan hal itu, sudah lama dia ingin menghilangkan keperawanan nya, hanya saja tidak pada pria sembarangan.


Hanna membaringkan tubuhnya di belakang sang ibu, dia menyimpan buku kecil itu di meja kecil dekat ranjang dan dia memilih tidur untuk menghilangkan sejenak rasa malu karena ulah Andre di kamar tadi.


Begitupun Andre, di kamar dia belum bisa tertidur. Dia merasa sangat malu karena terciduk sedang bersolo karir di kamar mandi, bahkan Hanna tau dia melenguhkan namanya saat melakukan nya.


Andre mengacak rambutnya kasar, malu dan takut bercampur jadi satu. Malu ya sudah jelas, takut? Tentu saja dia takut, ada alasan tertentu kenapa dia setuju usulan sang Mama untuk memperkenalkan nya pada anak teman arisan nya. Ya, dia ingin memenuhi keinginan wanita yang sangat dia cintai, Queen. Yang merupakan istri dari atasan Hanna di perusahaan tempat dia bekerja.


Andre ingin mencoba membuka hatinya, tentu saja ini juga bukan semata-mata karena Queen saja, tapi dia juga ingin mempunyai pasangan. Dia sudah terlanjur janji juga pada wanita itu, saat keadaan nya semakin memburuk dia harus sudah punya kekasih.


"Aaarrghhhh, Andre bodoh. Udah tau di rumah cewek, malah main jari. Kenapa juga Lu bisa bangun cuma gara-gara lihat Hanna sih? Tapi Hanna emang cantik dan menggairahkan. Haissshh Andre, otak mu mesuum sekali." Andre menepuk kepalanya yang  berfikiran mesum disaat seperti ini. 


Tengsin dong, ketahuan lagi manjain si otong sambil menghayalkan gadis bernama Hanna di rumah nya langsung.


"Aahhh sial.." Rutuk Andre, dia benar-benar merasa malu saat ini.


Andre kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, dia menarik selimut karena udara nya sangat sejuk disini, berbeda dengan udara di rumah nya yang selalu terasa panas meskipun sudah memakai pendingin ruangan.


Tak lama, dia tertidur lelap, melupakan sejenak rasa malu yang sempat menjalari pikiran nya.


Di apartemen, Kirana dan Jeff baru saja akan berangkat belanja bulanan. Bahan-bahan dapur sudah banyak yang berkurang.


"Apa saja yang akan kamu beli di supermarket, Sayang?" tanya Jeff, sedari tadi dia terus menggenggam tangan Kirana. Di depan, ada Pak Amar yang setia mendengarkan obrolan dan kadang menutup telinga dan mata karena perbuatan kedua sejoli di bangku belakang itu.


"Aku sudah mencatat barang-barang yang habis di list ini." Jawab Kirana sambil mneunjui secarik kertas berisi daftar belanja yang harus dia beli.


"Baiklah, kamu memang selalu bisa di andalkan." Jawab Jeff sambil tersenyum tipis, tak lupa mengecup singkat kening Kirana dengan lembut.


Tentu saja, pria itu menggaji nya lebih besar daripada profesi awalnya sebagai pembalap, dan itu membuat sang mantan istri kelimpungan ingin kembali lagi, tapi untuk apa bertahan dengan wanita yang tak bisa menghargai pilihan suaminya sendiri? Egois dan matre.


Tak terasa, sudah setengah jam mereka berangkat dari apartemen dan sampailah di supermarket, tempat Jeff dan Kirana akan berbelanja bulanan. Meski sudah cukup malam, tapi supermarket ini masih buka. Rencana berangkat sore hari harus ngaret beberapa menit karena Jeff yang pulang agak terlambat dari biasanya.


Jeffran mendorong troli dan Kirana yang mengambil barang-barang yang dia butuhkan sambil mengecek list dari secarik kertas yang tadi dia bawa.


"Beli ikan atau daging?" Tanya Kirana meminta pendapat.


"Beli saja keduanya, sayang." Jawab Jeff datar. Kirana menganggukkan kepala nya dan membeli beberapa kotak berisi ikan salmon fillet dan ikan tuna, dia berencana memasak nya menjadi steak sehat esok hari.


"Selesai, tinggal sayuran." Kirana mengambil buncis, kacang kapri, caisim, pakcoy, brokoli, dan beberapa sayuran lain. Jeff sibuk menata barang-barang di dalam troli.


"Buah?" Tanya Jeff saat Kirana fokus melihat daftar list yang dia pegang.


"Iya buah, dan beberapa mie instan juga cemilan ya?"


"Apapun untukmu, sayang." Jawab Jeff sambil mengusap lembut rambut Kirana.


Kirana melihat-lihat buah yang sekiranya terlihat menggoda, tapi sudah beberapa kali mengambil, Kirana malah kembali meletakan nya.


"Kenapa, sayang?"


"Harganya mahal-mahal, mendingan beli nya di tukang buah pinggir jalan." Celetuk Kirana membuat Jeff terkekeh geli mendengar celotehan perempuan itu.


"Kualitas nya kan beda sayang. Beli saja, jangan mikirin harga tinggal ambil." Sang sultan bicara, membuat Kirana mendengus.


"Beneran? Aku bantu habisin uang nya ya?"


"Boleh, bantu saja sayang. Lagian harta ku takkan habis tujuh turunan sekalipun." Cetus Jeff. Bertambah bangga saja dia itu.

__ADS_1


"Jangan bangga, semua itu hanya titipan." Ucap Kirana, dia memilih buah anggur yang terlihat menggoda, ukuran nya memang lebih besar daripada anggur yang di pasar kebanyakan.


"Shine muscat, kayaknya ini enak deh."


"Beli sayang."


"Mahal, masa dua juta sih? Cuma buat satu kap anggur?" Jeff merebut sekotak anggur itu dan meletakkan nya ke dalam troli. Dia juga mengambil anggur hitam yang berasal dari jepang, harga nya juga tak kalah mahal dari anggur hijau yang berasal dari korea itu.


Kirana menggelengkan kepala nya, saat tiba-tiba dia melihat stroberi yang juga berasal dari korea, besar dan sangat merah. Kirana tersenyum antusias, sudah lama dia tak makan buah beraroma manis itu. 


Tanpa ragu, Kirana langsung mengambil 3 kotak besar sekaligus, kali ini tanpa melihat harga nya terlebih dahulu.


"Sayang, kamu suka buah stroberi?"


"Iya, suka banget." Jawab nya dengan senyum manis.


"Ini ada yang pink, mau juga?" Tawar Jeff, buah eksotis berwarna pink memang jarang ada stok nya di supermarket.


"Rasanya sama kan ya? Udah yang merah aja, tapi penasaran juga." Jeff terkekeh dan mengambil satu kotak, menumpuk nya dengan buah-buahan yang lain.


"Sayang, bisa buat salad buah?" Tanya Jeff, dulu Queen sering membuatnya. Tapi karena kesalahan itu, membuatnya tak pernah lagi mendapatkan apapun dari wanita itu, Jeff lebih cenderung menjauh dari istrinya dan Queen memilih menghindar setelah kejadian itu.


"Bisa, kamu mau?"


"Mau sayang, buat yang banyak ya."


"Boleh." Jawab Kirana, dia kembali memilih buah-buahan lain. Membuat salad buah memang simple, tapi kalau buah nya hanya beberapa macam saja rasanya kurang enak.


"Jeruk, melon, buah naga, anggur, terus apalagi?" Tanya Kirana.


"Beli buah persik, aku suka salad yang pake buah persik." Kirana mengangguk dan mencari buah yang disebut pria itu tadi, cukup sulit memang kalau pun ada harga nya di atas langit, mehong. Maklumlah buah-buahan import memang mahal, tapi kualitas nya memang bagus dan tak pernah gagal.


"Semangka, beli gak?" Jeff mengangguk dan Kirana menepuk-nepuk kulit buah semangka itu untuk memastikan buah nya matang atau tidak.


"Kenapa di tepuk-tepuk, sayang?"


"Mastiin aja, ini matang atau belum. Kalo belum matang kan gak manis nanti." Jawab Kirana, teori yang aneh menurut Jeff, tapi ya mau bagaimana lagi biarkan saja.


Kedua nya pun beralih ke cemilan dan alat kebersihan, membeli sabun mandi, aromaterapi baru dan beberapa barang lain. Hingga saatnya mengantri di kasir, hal yang biasa nya paling di benci kaum pria adalah membayar belanjaan.


"Total nya delapan juta tujuh ratus, tuan." Jawab sang kasir, dengan santainya jeff mengeluarkan dompet nya, mencabut salah satu kartu berwarna hitam miliknya, membuat sang kasir pun melongo. Dia langsung tau kalau pria yang berdiri di depan nya itu bukan orang biasa, sudah bisa di pastikan kalau dia orang yang berpengaruh.


Kasir itupun menggesek kartu hitam itu, setelah selesai dia langsung mengembalikan kartu sakti itu kepada sang pemilik. Setelah nya pun pria itu pergi  dengan sang pria yang membawakan beberapa kresek berisi belanjaan, tapi masih sempat-sempatnya menggenggam tangan Kirana dengan mesra.


Tak lama, Pak Amar datang dan langsung mengambil alih belanjaan dari tangan sang tuan dan membawa nya ke bagasi mobil.


"Yang.." panggil Jeff pada Kirana yang nampak fokus menatap struk belanja yang sangat panjang itu, berkali-kali dia melotot saat melihat harga-harga barang yang dia beli. Sangat menguras banyak uang, 8 juta habis sehari? The real sultan, untung hanya ada di dunia halu.


"Sayangg.." panggil Jeff lagi sambil meraih dagu Kirana, membuat perempuan itu menatap wajah nya.


"Fokus sekali, aku iri melihat nya." Jeffran merajuk, lengkap dengan ekspresi kesalnya membuat Kirana tertawa.


"Jangan di tekuk begitu dong sayang, ganteng nya ilang nanti."


"Aku ganteng ya? Iya sih, aku memang ganteng." Ucap Jeffran sambil tersenyum penuh kepuasan karena Kirana memuji nya secara langsung.


"Makanya jangan cemberut gitu dong, nanti aku fokusin ke kamu. Lihat harga barang-barang yang kita beli dulu ya, sebentar kok." Bujuk Kirana lagi.


"Ngapain di lihatin terus sih, cuma harga doang. Lagipun aku mampu membeli nya."


"Aku penasaran sama harga buah stroberi yang aku beli tadi." Jawab Kirana lagi, tapi Jeff langsung merebut secarik kertas itu dan meremaas nya hingga menjadi berbentuk bola dan melempar nya.


......

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2