
Jeffran dan Kirana sedang menikmati bakso sebagai makan malam mereka, Jeff duduk lesehan dengan Kirana yang duduk di samping nya. Keringat membanjiri kening Jeff, pria itu memang sangat menyukai pedas, tak tanggung-tanggung dia menambahkan 4 sendok cabe ke dalam bakso nya, membuat kuah nya merah merona.
Kirana melirik-lirik ke arah Jeff yang nampak biasa saja, tak menunjukkan ekspresi kepedesan, hanya berkeringat saja.
"Apa itu tidak pedas?" Jeff melirik Kirana dengan ujung mata nya.
"Tidak untukku, tapi bukan berarti kamu boleh memakan makanan pedas seperti ini, secukupnya saja!" Tegas Jeff, membuat Kirana mengerucutkan bibirnya.
Pria itu sangat pengatur sekarang, dia juga ingin makan bakso pedas, tapi pria itu melarang nya. Jadi, Kirana hanya bisa menambahkan satu sendok sambel saja karena takut dengan tatapan tajam Jeff.
"Tapi, boleh minta sedikit? Nyobain doang." Jeff menatap Kirana, dia menyendok kuah di mangkok nya lalu menyuapi Kirana dengan kuah pedas itu.
Wajah Kirana langsung memerah, dia kelimpungan mencari minum. Sepedas itu tapi Jeff bilang tak pedas? Apa pria itu mati rasa? Kirana mengipasi mulut nya, sudah panas pedas lagi, rasa pedas nya sudah mendekati pahit.
"Pedaskan? Makanya jangan ngeyel, di bilangin juga apa." Celetuk Jeff ringan tanpa beban.
Pria itu meraih wajah Kirana dan melabuhkan ciuman mesra di bibir tipis perempuan cantik itu. Kirana mengerjap-ngerjapkan mata nya, tak menyangka Jeff akan mencium nya secara tiba-tiba. Jeff memagutt bibir itu dengan nikmat nya, tapi Kirana sama sekali tak membalas lumaatan pria itu, tapi tak menolak juga.
"Itu agar rasa pedasnya hilang." Ucap Jeff sambil mengusap ujung bibir Kirana, anehnya memang benar rasa pedas yang tadi tertinggal di ujung lidah nya itu hilang. Ajaib sekali, ternyata bertukar liur saat di tengah kepedasan itu mampu menyembuhkan rasa pedas ya?
"Malah bengong, ayo makan lagi. Makan yang banyak, kalo perlu beli lagi sana." Ucap Jeff, dia suka wanita yang agak berisi. Karena menurut nya akan terlihat lebih sexy di bandingkan yang kurus kerontang seperti keripik. Di tunggangii juga lebih empuk, singkatnya begitu.
"Iya tuan."
"Panggil aku sayang, ini di luar kantor." Cetus Jeff membuat Kirana membulatkan mata nya.
"Bagaimana bisa, saya memanggil seperti itu pada pria yang merupakan suami wanita lain, jangan bercanda tuan itu sama sekali tidak lucu."
"Apa wajah ku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" tanya Jeff, Kirana menatap wajah pria itu, datar seperti biasa dan tatapan mata nya terlihat serius.
"Jadi anda serius?"
"Tentu saja, kenapa harus bercanda?"
"Ta-pi.."
"Aku tak suka di bantah, sayang!" tegas Jeffran membuat Kirana menelan saliva nya dengan kepayahan, ludah nya terasa tercekat di tenggorokan hingga dia kesulitan menelan ludah nya.
"Baiklah, terserah anda saja."
"Bagus, besok kita pergi pagi-pagi." Ucap Jeff dengan raut wajah serius nya.
"Apa tak bisa siang saja, tuan?"
"Panggil aku sayang, Kiran."
"Maaf maaf, iya sayang. Bisakah kita pergi nya agak siangan?" Ralat Kirana.
"Mau kemana dulu?"
"Ke makam Mama dulu." jawab Kirana lirih.
"Baiklah, besok pagi berkemaslah." Kirana menganggukan kepala nya mengerti, mau bagaimana lagi, sekarang hanya Jeff yang peduli padanya. Jadi mau tak mau dia harus menurut apapun perkataan Jeff, itu semua juga demi kebaikan nya.
Kedua nya kembali melanjutkan acara makan malam mereka hingga empat mangkok bakso itu ludes tak bersisa. Kirana membawa mangkok nya ke belakang dan mencuci nya, tapi apa yang dia lihat di kamar mandi tempat cuci piring membuat nya marah.
"Siapa yang berantakin ini sabun!" Pekik Kirana, dia melihat sabun cuci piring itu sudah tumpah dengan busa yang masih tercecer dimana-mana.
"Ada apa, sayang?" tanya Jeff, dia cepat menyusul saat mendengar suara pekikan Kirana.
"Kenapa ini berantakan? Haiishh pasti kucing Bi Marni." Gumam Kirana, dia membersihkan bekas sabun itu dengan air. Jeff menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa gatal, jelas-jelas dia yang tadi mencuci piring disini, jadi ini bukan ulah kucing tapi ulah manusia yang ceroboh.
__ADS_1
"Kenapa anda bengong disitu?" tanya Kirana dengan tatapan menyelidik, membuat Jeff salah tingkah.
"H-ahh, apa sayang?"
"Jangan-jangan kamu yang sudah berantakin ini semua ya?" Tebak Kirana membuat wajah Jeff memucat.
"Eemm, emm maaf sayang. Aku tak sengaja, ini bukan salah kucing, tapi... Aku!" Jawab Jeffran mengakui kesalahan dan kecerobohan nya karena tak menutup kembali botol sabun cuci piring itu.
Kirana tak menjawab, dia hanya memutar matanya sebal dan melanjutkan aktivitas nya mencuci mangkok bekas mereka makan dan membersihkan nya sebersih mungkin karena besok dia akan meninggalkan semua yang ada di rumah ini.
"Sudah aku duga." Gumam Kirana sambil menggelengkan kepala nya.
"Sayang, jangan marah ya. Aku minta maaf, aku tak sengaja. Tadi aku mencuci piring bekas aku makan, niat nya ingin meringankan pekerjaan mu tapi malah kacau." Kirana masih diam, sebagai perempuan pecinta kebersihan dan kerapihan, dia cukup merasa kesal karena ulah Jeffran.
"Yang, bicara dong." Bujuk Jeff, dia bahkan memeluk Kirana dari belakang tapi perempuan itu masih diam tak bicara apapun atau bereaksi apapun. Detik itu juga dia menyadari, kalau perempuan di depan nya sama dengan istrinya yang akan diam ketika kesal atau marah.
Jeff menghembuskan nafas nya perlahan lalu secepat kilat membalik tubuh Kirana dan meletakkan kedua tangan nya bahu perempuan itu.
"Sayang, kalau kamu marah sebaiknya bicara. Jangan diam, sungguh aku tak bisa!" Ucap Jeff pelan, dia membingkai wajah Kirana lalu mengusap nya dengan ibu jari nya.
"Iya, aku marah karena kamu ternyata begitu ceroboh tak seperti penampilan mu yang selalu rapih." Cibir Kirana membuat Jeff terkekeh geli, secara langsung Kirana memuji sekaligus mengejek nya.
"Pergi dan tidurlah, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ini."
"Aku bantu ya?"
"Tak perlu, pergi dan tidurlah." Ketus Kirana. Jeff pun pergi dari depan Kirana dan memilih menunggu perempuan itu di kamar sebelum Kirana semakin marah.
Kirana kembali melanjutkan pekerjaan nya, meski sesekali ngedumel karena kamar mandi nya masih terlihat berantakan meski sudah dia tata serapih mungkin.
Setelah hampir satu jam berada di kamar mandi membereskan barang-barang yang tadi berserakan, akhirnya selesai juga dan Kirana bisa kembali ke kamar nya. Tapi ternyata Jeff masih belum tertidur dan terlihat serius dengan ponsel nya.
"Sudah selesai, sayang?"
"Aku takkan kesini kalau belum selesai, masih ngapain?" tanya Kirana, karena pria itu terus memegang ponsel nya, padahal layar nya sudah padam.
"Ada email masuk sayang, ini yang harus kamu buatkan berkas nya nanti."
"Ohh ya sudah lanjutkan, aku tidur duluan." Ucap Kirana, dia membaringkan tubuh nya di samping Jeff yang masih berkutat dengan pekerjaan nya beruntung nya kasur nya cukup besar hingga muat untuk berdua, tak lupa dia menarik selimut dan menyelimuti tubuh nya. Jeff mengusap kepala perempuan itu dan mengecup singkat kening nya mesra.
"Selamat tidur sayang, have a nice dream."
"Jangan terlalu malam tidurnya." Peringat Kirana, padahal mata nya sudah tertutup karena rasa nyaman dari usapan tangan pria itu di kepala nya.
"Iya sayang, sedikit lagi kok." jawab Jeffran, lalu kembali fokus mengerjakan tugas nya lewat ponsel agar cepat selesai dan segera menyusul Kirana ke alam mimpi.
Sudah setengah jam berlalu tapi Jeff belum selesai juga, dia sudah beberapa kali menguap tapi di tuntut pekerjaan yang membuat nya harus begadang. Sedangkan Kirana, dia sudah tertidur nyenyak, dengkuran halus terdengar dari mulut mungilnya.
Hingga akhirnya pria itu tak mampu menahan kantuk nya, dia tertidur dengan tubuh yang setengah duduk bersandar di kepala ranjang.
Pagi harinya, Kirana terbangun. Tumben dia tak merasakan ada beban pada tubuhnya. padahal biasanya jika dia tidur bersama Jeff, pria itu akan memeluk nya seperti guling.
Kirana melirik ke samping, hanya kaki Jeff yang terlihat. Dia mendongak dan melihat Jeff tertidur sambil duduk, membuat Kirana langsung bangkit dan membuat tubuh pria itu berbaring. Bahkan ponsel nya masih ada dalam genggaman nya, dapat Kirana tebak kalau Jeff pasti ketiduran.
"Huumm, pria gila kerja." Gumam Kirana lalu pergi dari kamar, tujuan nya hanya satu. Yaitu membeli sayur untuk sarapan nya dengan Jeff pagi ini.
Kirana keluar dari rumah dan menunggu di teras, dengan masih memakai daster rumahan nya dengan rambut yang dia jedai ke atas, memperlihatkan leher jenjang nan putih mulus itu. Tanpa make up pun Kirana tetap cantik, kecantikan nya alami tanpa di buat-buat.
"Kiran.." Sapa Bi Marni, tetangga yang sangat baik padanya. Dia duduk di samping perempuan cantik itu dan Kirana menyambut nya dengan senyuman manis.
"Sudah merasa lebih baik, Kiran?" tanya nya. Kirana melirik sekilas lalu menggelengkan kepala nya pelan, rasa sakit nya setelah kehilangan anak nya saja masih sangat terasa, lalu sekarang dia kembali di landa cobaan yang membuat dunia seolah kiamat, hancur lebur.
__ADS_1
"Kiran hanya belum terbiasa dengan kesendirian ini, Bi. Mungkin seiring berjalan nya waktu, aku akan terbiasa dengan semuanya." Jawab Kirana lirih, dia memaksakan sedikit senyum nya.
"Bibi mengerti Kiran, tapi saat ini bukan saatnya untuk terus bersedih. Kamu tetap harus menjalani hidup mu, saat ini kamu punya pria yang akan menjagamu kan? Dia kelihatan nya pria baik."
"Tuan Jeff memang pria yang baik Bi, tapi ada suatu alasan yang membuat aku harusnya tak terlalu dekat dengan nya saat ini." Jelas Kirana, membuat Bi Marni mengernyitkan kening nya heran.
"Ada apa, Kiran? Kenapa?" Tanya Bi Marni lagi, Kirana hanya menjawab dengan gelengan kepala nya.
"Nanti bibi akan tau, tapi ini bukan saat nya. Ayo kita belanja, Kiran harus memasak untuk sarapan." Ajak kirana masih dengan senyumnya, lalu berjalan pelan ke arah gerobak sayur yang berhenti tepat di depan rumah nya
"Kemana kekasih tampan mu itu, Kiran?" tanya ibu-ibu rempong, malahan mereka terlihat mengintip ke balik pintu yang lupa Kirana tutup tadi.
"Masih tidur Bi, semalaman dia begadang karena pekerjaan." jawab Kirana, membuat ibu-ibu itu membulatkan bibir mereka.
"Masak apa ya, bingung.." Gumam Kirana, dia sungguh kebingungan ingin memasak apa untuk sarapan nya.
"Kenapa tidak menanyakan nya pada kekasih mu itu, Kiran?" ucap salah satu ibu-ibu itu memberi saran, padahal ada niat terselubung yaitu ingin melihat pria tampan itu di pagi hari yang sangat cerah ini. Pasti pemandangan yang sangat indah bisa melihat pria ganteng sepagi ini.
Tapi tak lama kemudian, Jeff keluar dengan rambut acak-acakan dan muka bantal nya, tapi sedikitpun itu tak mengurangi kadar ketampanan yang di miliki pria itu, malah tampan nya bertambah berkali-kali lipat. Dia berjalan tegap dengan wajah datar dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana nya.
Kirana menyadari tatapan ibu-ibu itu, dia berbalik dan mendengus begitu melihat Jeff mendekat. Tapi, sekelebat ide muncul di kepala nya, dia tersenyum kecil.
"Sayang, mau di masakkin apa?" tanya Kirana sengaja, dia cukup kesal saat melihat ibu-ibu itu begitu heboh saat melihat Jeff keluar rumah.
"Terserah kamu saja sayang, apapun yang kamu masak pasti aku makan." Jawab Jeff dengan senyuman hangat nya, yang pasti membuat siapa saja meleleh dibuat nya.
"Jangan terserah, aku bingung ini."
"Ikan gurame goreng sambal bawang, enak yang." Usul Jeff.
"Sayang, kamu sudah banyak sekali makan pedas. Gak baik buat perut kamu, apalagi kamu suka begadang." Peringat Kirana, membuat ibu-ibu itu melongo melihat pasangan muda mudi itu. Terlihat seperti pengantin baru.
"Kalo gitu ya terserah kamu aja, kok malah tanya aku."
"Aku bingung soalnya, mau masak apa." Ucap Kirana sambil cengengesan.
"Udah, di turutin aja napa sih? Lagian kalau dia sakit pun kan ada kamu yang ngurusin." celetuk ibu-ibu itu membuat Jeff merasa besar kepala dan tersenyum jahil ke arah Kirana yang mendelik sebal ke arahnya.
"Okey, tapi harus makan sayur juga ya?"
"Iya sayangku, mau tumis pakcoy pake udang." Jawab Jeff sambil tersenyum, dia bahkan mengacak rambut Kirana dengan gemas, membuat ibu-ibu itu baper melihat interaksi keduanya.
"Bungkus terus total ya, bang." Pinta Kirana, dia juga memasukkan dua bungkus cabai merah juga bumbu dapur seperti bawang merah dan putih.
"Total nya 65 ribu, Neng Kiran." Jeff dengan cepat membayar belanjaan Kirana dengan selembar uang berwarna merah.
"Kembalian nya ambil aja bang, makasih." Ucap Jeff, lalu kedua nya pergi dengan tangan yang saling bertaut mesra.
"So sweet banget ya kan? Cewek nya cantik, cowok nya ganteng. Serasi banget."
"Iya, kalau di lihat-lihat wajah mereka agak mirip." Celetuk ibu-ibu yang lain, membuat suasana agak heboh. Karena memang ada kemiripan dari wajah keduanya, yakni senyum, mata dan garis pipi nya juga.
"Tandanya jodoh, ya bagus kalo jodoh jadi Kirana ada yang jagain." Ucap Bi Marni. Semua nya kompak menganggukan kepala mereka setuju. Mereka juga merasa iba pada Kirana yang sendirian setelah kepergian ibu nya, tapi ternyata sosok Jeffran datang dalam hidup Kirana dan mengambil alih tugas orang tua Kirana untuk menjaga nya.
Indah nya hidup bertetangga.
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1