Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 51 - Kepergian Ibu Nita


__ADS_3

Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Dokter Bima keluar dengan kening yang di penuhi keringat, dia menatap punggung Kirana yang bergetar saat ini. Dia berjalan mendekat dan menepuk bahu perempuan itu, membuatnya langsung mendongak.


"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" Tanya Kirana lirih.


"Maaf Kiran, kita terlambat. Ibu mu sudah meninggal, denyut nadi nya sudah tak ada lagi." Jawab dokter Bima tak kalah lirih nya. Kirana menatap dokter Bima dengan wajah sendu nya dengan mata membulat tapi tak lama dia limbung dan tak sadarkan diri. Beruntung nya dokter Bima gerak cepat menangkap tubuh Kirana, lalu membawa nya ke ruangan lain untuk di tangani.


Dokter Bima menatap wajah Kirana dengan perasaan campur aduk, hati nya juga ikut merasa sakit karena beberapa bulan ini dia yang menangani ibu nya Kirana. Sejauh itu juga dia merasa dekat dengan sosok Kirana, tapi memang dia akui perasaan nya pada Kirana bukan sekedar pada putri dari pasien nya tapi lebih ingin memiliki.


Dokter Bima membaringkan tubuh lemah Kirana di brankar rumah sakit, lalu memberi nya minyak kayu putih di hidung nya, tapi percuma saja. Karena dia masih belum sadarkan diri juga, rasa sakit atas kehilangan satu-satunya orang paling berharga membuat Kirana tak bisa bangun secepat itu.


Kirana berdiri di sebuah ruangan yang sangat terang, ruangan serba putih. Perempuan itu kebingungan, dimana dia saat ini? Tempat yang begitu asing dengan semilir angin yang menyejukkan, menerbangkan sedikit rambut nya ke belakang.


"Ma, mama disini?" Tanya Kirana dengan pelan, saat ada sekelebat bayangan yang mendekat ke arah nya. Tapi nihil, tak ada jawaban, hanya keheningan yang menemani nya.


"Tempat ini begitu menenangkan, tapi dimana ini?" Gumam Kirana lagi, dia tersenyum saat melihat kursi dengan taman bunga yang di penuhi banyak jenis bunga dan kupu-kupu yang berterbangan bebas.


"Indah sekali tempat ini, tapi semua bunga nya berwarna putih. Kupu-kupu nya juga, semua nya warna putih, tak ada warna lain disini."


"Kiran..." Panggil seseorang dari belakang, suara nya tak asing membuat nya menoleh. Dia tersenyum saat melihat ibu nya berjalan mendekat, tapi kaki nya tak menginjak tanah, mengambang. Sekilas terlihat seperti tertiup angin, beliau juga memakai pakaian serba putih, raut wajah nya terlihat tenang.


"Mama disini?"


"Iya Nak, ini tempat baru Mama. Mama kesini untuk minta maaf padamu. Mama tak bisa membahagiakan mu seperti orang tua lain, mama menyesal karena terlalu terlambat saat ini." Ucap nya dengan senyum yang nampak berbeda, membuat Kirana merinding.


"Apa yang Mama katakan? Kenapa selalu minta maaf? Mama tak bersalah apapun sama Kiran, yang Kiran lakukan hanya kewajiban Kiran sebagai seorang anak pada orang tua nya." Jawab Kirana, dia ingin menggenggam tangan ibu nya, tapi dengan cepat ibu nya beringsut mundur.


"Pergilah Nak, dunia kita sudah berbeda. Mama hanya ingin menyampaikan kalau mama sangat menyayangimu, maaf Mama harus pergi, meninggalkan mu sendirian. Berjanjilah kamu harus hidup dengan baik meski tanpa Mama ya."


"Ma, jangan pergi. Jangan tinggalin Kiran sendirian Ma, Kirana takut hidup tanpa Mama." Ucap Kirana, namun sang ibu menggeleng, perlahan ibu nya mulai menjauh terbawa angin.


"Mama akan melihat mu dari alam lain, kamu harus hidup dengan baik. Pergilah, ada pria ya yag menunggu mu dengan khawatir. Pria yang akan menjaga mu Nak, Mama pamit ya. Kuatlah, kamu harus tegar menghadapi semua ini, jangan menangis agar mama bisa tenang di tempat peristirahatan Mama."


"Kamu anak yang Mama banggakan, berbahagialah Nak." Ucap nya lalu hilang seolah terbang terbawa angin, Kirana berteriak memanggil Ibunya, tapi tak ada jawaban hanya gemuruh angin yang datang dan menerbangkan bunga-bunga putih itu, membuat Kirana menutup wajah nya, menjerit memanggil ibu nya.


"Kiran, ibu yakin kamu anak yang baik, kamu pantas bahagia." Sayup-sayup terdengar suara ibu nya, tapi suara itu perlahan menghilang dibawa angin.


"Maaaaa..." Kirana bangun dari tidur nya, dia mengusap wajah nya yang berkeringat.


"Kamu sudah bangun, sayang?" Tanya seorang pria dengan nada khawatir nya, membuat Kirana melirik sekilas ke arahnya. Pria yang dia harapkan kehadiran nya kini berdiri tegak di depan nya.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Jeffran meraih tubuh Kirana kedalam pelukan nya, menyandarkan wajah perempuan itu di perut nya. Jeff juga mengusap lembut puncak kepala Kirana, apalagi setelah melihat Kirana yang terlihat linglung dan hanya diam dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


"Kenapa anda disini, Tuan?"


"Aku mengkhawatirkan keadaan mu sayang, aku yakin kamu membutuhkan bahu ku untuk bersandar." Jawab Jeff, mendengar jawaban pria itu membuat Kirana menunduk, sedari tadi menahan tangis nya agar tak meledak dia tak mau terlihat lemah di hadapan pria itu, tapi kali ini dia tak kuasa lagi membendung nya, air mata nya luruh perlahan membasahi pipi nya.


"Terimakasih sudah datang di waktu yang tepat." Ucap Kirana lirih, membuat Jeff tersenyum. Dia mengangkat dagu Kirana, membuat wajah cantik nya mendongak menatap wajah tampan Jeff, pria itu tersenyum lalu menggeleng perlahan.


"Ingin menangis? Menangislah sayang, menangis di pelukan ku." Jeffran merentangkan tangan nya, membuat kirana menghambur memeluk Jeff dan menangis sejadinya, dia melupakan status pria itu. 


Saat ini dia ingin menangis di pelukan pria itu, menangis untuk meluapkan semua rasa sakit nya. Jeff ikut terbawa suasana, dia sudah hampir berkaca-kaca tapi tidak, dia harus kuat untuk menenangkan perempuan itu. Kalau dia lemah, bagaimana dengan Kirana? Itu yang ada dalam pikiran nya saat ini.


Kirana menangis pilu dalam dekapan hangat Jeff, perempuan itu tergugu, membuat Jeff tak tega, dia mengeratkan pelukannya pada kepala Kirana. Membiarkan perempuan itu menangis dalam pelukan nya, sampai dia merasa tenang. Kehilangan memang suatu hal yang paling menyakitkan, apalagi kehilangan sosok ibu.


Setelah cukup lama, Kirana menghentikan tangis nya tapi dia masih sesenggukan. Jeff membingkai wajah Kirana dan mengusap air mata nya dengan jemari nya.


"Sudah merasa lebih baik, sayang?" Kirana mengangguk perlahan.


"Baiklah, kamu sudah kuat kan? Mari kita urus pemakaman ibu mu, dia tak bisa lama-lama disini."


"T-tapi.."


"Kamu harus ikhlas sayang, kehilangan memang menyakitkan. Tapi ini sudah takdir, dimana ada kehidupan disitu ada kematian. Kita tak bisa menghindari nya, sayang. Itu satu hal yang mutlak, tak bisa kita ubah." Jelas Jeff, dia mengusap lembut wajah Kirana yang bersimbah air mata.


"Saya tak yakin akan kuat melihat semua ini."


"T-uan berjanji?"


"Ya, aku berjanji." Jawab Jeff, dia menyunggingkan senyum manis nya lalu mengecup kening Kirana mesra.


"Mari, kita urus semua nya, kasian ibu mu."


"Tapi aku belum menyiapkan apapun, bahkan aku belum mengabari orang-orang terdekat untuk menyiapkan tempat peristirahatan Mama yang terakhir." Dia memang belum melakukan apapun, kemarin setelah mendengar berita kepergian ibu nya dia langsung tak sadarkan diri.


"Aku sudah menyiapkan nya, aku juga sudah mengabari kerabat dan tetangga mu tentang kepergian ibumu sayang, tak perlu khawatir."


"Jangan bengong sayang, ayo cepat kita antar ibu mu ke tempat peristirahatan nya yang terakhir." Ajak Jeff, tangan nya terulur mengajak Kirana pergi. Tanpa ragu, perempuan itu menerima uluran tangan Jeff dan berjalan bersisian dengan pria itu.


"Ibumu sudah ada di ambulance, aku juga sudah mengurus nya sesuai protokol, juga membeli peti nya."


"Sejauh itu?" Tanya Kirana, dia melirik Jeff sekilas dan setelah melihat pria itu mengangguk, Kirana semakin merasa bersalah karena sudah merepotkan pria yang notabene nya bukan siapa-siapa.


Jeff menarik Kirana ke dalam mobil nya, di dalam sudah ada pak Amar yang sedari tadi menanti kedatangan mereka.

__ADS_1


"Saya turut berduka cita, Nona." Ucap Pak Amar, begitu Kirana memasuki mobil.


"Ya, terimakasih pak." Jawab Kirana pelan, meski masih merasa tak terima dengan apa yang terjadi, tapi mau bagaimana lagi? Benar kata Jeff tadi, semua sudah takdir dan siklus kehidupan yang takkan bisa berubah meskipun kita menginginkan nya, kematian tetap menjadi hal yang pasti.


Jeff merangkul bahu Kirana, juga meggenggam tangan perempuan itu yang terasa dingin dan berkeringat.


"Kamu harus kuat, kamu tak mau ibu mu tak tenang disana kan?" Kirana refleks menggelengkan kepala nya.


"Kalau begitu, kamu harus kuat ya. Nanti ibumu sedih kalau melihat mu terus menangisi kepergian nya."


"Apa saya bisa, Tuan?" Tanya Kirana, dia ragu apa dia bisa menyaksikan ibu nya di masukan ke dalam liang lahat tanpa menangis?


"Kalau tak bisa, minimal kamu harus bisa mengontrol diri agar tetap sadar." Jawab Jeff, dia menyandarkan kepala Kirana ke dada nya. Kirana memejamkan mata nya, nyatanya pelukan Jeff begitu menenangkan dan nyaman.


Singkat nya, iring-iringan mobil itu sampai di pemakaman daerah Kirana. Perempuan itu turun dan langsung di sambut oleh ibu-ibu tetangga nya. Mereka menangis pilu, bagaimana tidak? Selama ini Ibu Nita di kenal baik dan ramah.


"Kami turut berdukacita ya, Kiran" Ucap tetangga nya lalu memeluk Riana.


"Iya Bi, terimakasih ya."


"Ibu mu orang baik, pasti mendapat tempat yang terbaik juga." Kirana menganggukan kepala nya, dia yakin ibu nya akan mendapat tempat yang dekat dengan nya, karena memang ibu nya orang baik.


Para pria berkerumun, membantu mengangkat peti dari ambulance, tak terkecuali Jeff. Dia bahkan ikut turun ke bawah untuk memastikan ukuran peti nya pas, membuat Kirana limbung. Tapi dengan cepat dia mengingat kata-kata Jeff, dia harus kuat, minimal bisa mengontrol diri agar tetap sadar.


"Ma-ma.." Lirih Kirana saat melihat peti berisi jenazah ibu nya mulai di turunkan, Kirana tak kuasa menahan tangis nya. Beruntung saja Jeff datang dengan cepat dan memeluk Kirana, agar sedikit tenang.


"Kendalikan dirimu, sayang.." Jeff memeluk Kirana sambil mengusap punggung nya. Hingga saat-saat terakhir dia melihat liang lahat itu mulai di timbun oleh tanah. 


Kirana kembali menangis, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, sedangkan Jeff terus mengusap-usap punggung perempuan itu. Tapi semua nya terasa sangat menyakitkan, hingga akhirnya Kirana limbung dan hampir saja terjatuh kalau Jeff tak menahan tubuhnya.


"Sayang, bangunlah.." 


"Tuan, sebaiknya anda bawa Kirana pulang saja." 


"Baiklah, tapi tolong selesaikan semua ini ya."


"Tentu saja, ibu Nita kami anggap sebagai keluarga." Jeff mengangguk, lalu pergi sambil menggendong Kirana bridal style


.......


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1



__ADS_2