
Di waktu yang sama, Hanna sedang kesal kuadrat karena orang tua menjodohkan nya dengan seorang pria yang bahkan dia sendiri tak tau seperti apa wajah nya. Tapi yang jelas dia adalah seorang dokter di rumah sakit harapan.
"Bersiaplah Nak, dan temui dia di bawah."
"Kenapa harus main jodoh-jodohan sih Ma? Aku kan sudah dewasa, aku bisa mencari suami sesuai keinginan ku sendiri. Lagi pula aku tak mau punya suami dokter!" Tegas Hanna dengan ekspresi kesal nya.
"Hanna, ini bukan perjodohan Nak. Hanya perkenalan saja, anak teman ibu ingin berkenalan dengan mu. Apa salah nya? Lagipun kalau memang kamu bisa mencari pria idaman mu sendiri, kenapa kamu jomblo?"
"Mama, Hanna cuma gak mau salah pilih laki-laki. Hanna cuma masih nyari pria yang baik dan tepat." Sangkal Hanna, padahal sejauh ini dia tak ada niatan untuk mengikat nya pada seseorang, menurut nya itu terlalu merepotkan.
"Sudahlah, ayo bersiap dan turunlah." Mama Dita, ibu Hanna Anastasia itu mengusap puncak kepala putri satu-satunya itu dengan lembut dan pergi keluar dari kamar Hanna dengan senyuman yang nampak sedikit di paksakan. Dia seorang single parent, ayah Hanna meninggal karena penyakit tumor ganas di otak saat Hanna berusia 5 tahun, gadis kecil yang ceria tak tau apa-apa harus mengalami kehilangan terberat dalam hidup, apa lagi kalau bukan kehilangan.
"Gimana Hanna nya jeng? Mau ketemu anak saya?" Tanya teman nya ibu Dita, mata tua nya menyipit saat wanita paruh baya itu tersenyum. Mama Dita menganggukan kepala nya.
"Sebentar lagi dia turun, sekarang masih siap-siap."
"Silahkan di makan hidangan nya, Nak Andre." Ucap ibu Dita dengan ramah. Sedangkan Andre, dia tersenyum canggung menampakan lesung pipit di pipi kanan nya, membuat senyum nya terlihat sangat manis.
Dia mengambil secangkir kopi dan menyesap nya pelan, rumah ini nampak sederhana tapi begitu rapih dan wangi.
Tak lama berselang, seorang gadis terlihat menuruni tangga dengan perlahan dengan gaya rumahan nya, celana hotpants dan kaos oblong dengan rambut yang di kuncir kuda, membuat leher putih nan jenjang nya terekspos. Andre yang melihat nya langsung tersedak kopi yang sedang dia minum.
Uhukk... Uhukk...
Andre terbatuk hingga kopi itu menyembur dari mulutnya, wajah nya juga memerah. Ibunya menepuk-nepuk punggung sang putra.
"Pelan-pelan minum nya Andre, kok bisa tersedak gitu, malu-maluin aja!" Mama Dita mengulum senyum nya saat melihat teman nya itu memarahi putra nya.
'Buseet, cantik bener. Mana seksi lagi, bisa-bisa ileran gue bentar lagi nih!' Batin Andre, sesaat setelah batuk nya mereda. Dia menatap Hanna nyaris tanpa berkedip, baru kali ini dia melihat gadis manis dan cantik yang alami.
"Ini putri saya satu-satunya, namanya Hanna Anastasya. Ayo perkenalkan dirimu, sayang."
"Hallo tante, nama saya Hanna." Hanna menjabat tangan ibu nya Andre dengan sopan, tapi berbeda dengan Andre yang nampak salah tingkah, apalagi saat gadis itu menunduk, belahan dada nya nampak begitu jelas, itu membuat nya kesusahan menelan ludah nya sendiri.
"Ini putra tante, nama nya Andrean Revano."
"Haii kak, saya Hanna." Sapa Hanna ramah, dia juga mengulurkan tangan nya untuk bersalaman, Andre langsung menerima nya dengan cepat tanpa keraguan sedikitpun. Setelah salaman nya terlepas, Hanna berusaha melihat wajah pria bernama Andre itu, tapi dia selalu menunduk.
"Ma, kenapa dia menunduk terus? Apa dia tonggos?" Tanya Hanna, membuat mama Dita terkekeh.
"Jeng, anak mu kenapa menunduk saja dari tadi? Anak ku penasaran ingin melihat wajahnya." Celetuk mama Dita, membuat Hanna refleks mencubit pelan lengan ibunya.
"Dia pemalu Nak, biasalah bertemu orang baru. Ayo tegakkan kepala mu, Nak." Pinta ibunya, Andre mendongak dan seketika Hanna menganga begitu melihat wajah tampan Andre.
'Ajee gilee, ganteng banget anjirrr!' batin Hanna berteriak. Andre memang memiliki wajah tampan juga manis, hanya saja ada hal yang belum di ketahui semua orang, dia pria sang*an, atau nafsuuan. Dia tak sepolos yang ibunya bilang, bekerja sebagai dokter tentu saja dia pernah memeriksa berbagai jenis perempuan, dari yang kurus kerontang atau yang kelebihan lemak, tapi ya itu resiko pekerjaan nya.
Andre tersenyum manis menampakan lesung pipit nya, membuat hati Hanna berdebar tak karuan.
'Gila aja kalau gue nolak kalo di jodohin sama pria secakep dia, bisa nyesel seumur hidup!' batin Hanna kembali menjerit.
"Kalau mau mengobrol berdua dulu, silahkan." Ucap mama Dita, membuat Andre tersenyum ceria.
Dia berdiri dan mengajak Hanna mengikutinya, sekedar mengobrol diluar sambil melihat-lihat rumah sederhana ini. Hanna mengekor di balik punggung Andre, pria itu berjalan di depan nya dengan kedua tangan yang di masukan kedalam saku celananya.
'Bang, kenapa tangan nya malah di masukin saku sih? Kenapa gak gandeng aku aja!' batin Hanna, dia tak mau di cap gadis agresif karena meminta berpegangan tangan di pertemuan pertama.
"Hanna.."
"Iya kak?" Jawab Hanna, dia berjalan menyusul Andre, menyejajarkan langkah nya dengan pria itu.
"Masih kuliah?"
"Hanna udah kerja kak, gak ada uang buat kuliah." Jawab Hanna jujur, memang itulah kenyataannya.
"Kerja jadi apa?"
__ADS_1
"Staf management di JF Group." Jawab Hanna.
"JF Group? Bukannya itu perusahaan milik Jeffran?' batin Andre, dia sendiri sudah cukup lama jadi dokter pribadi yang menangani istri pria itu, Queen Ariana.
"CEO nya siapa? Jeffran Anggra Kim?"
"Iya, Tuan Jeff adalah CEO disana. Kenapa kakak tau?"
"Aaa tidak, hanya tau dari televisi." Jawab Jeff gelagapan, membuat Hanna sedikit merasa curiga.
"Berapa usiamu, Hanna?"
"Tahun ini 23 tahun, kak. Kakak sendiri?" Balik tanya Hanna.
"33 tahun. Sedikit lebih dewasa darimu,"
"Aaa tak apa-apa kak, Hanna memang suka pria yang lebih dewasa tapi bukan om-om." Celoteh Hanna, membuat Andre terkekeh.
"Ohh ya, apa kamu menerima perjodohan kita?"
"Perjodohan ya? Tapi kata Mama ini cuma kenalan biasa." Jawab Hanna.
"Kita di jodohkan sejak remaja, kau tak tau?" Hanna menggeleng, mana dia tau. Mama nya tak pernah memberi tahu nya tentang masalah ini.
"Baiklah, jadi bagaimana menurut mu?"
"Apanya?" Tanya Hanna polos.
"Tentang perjodohan kita, Hanna."
"Kalau kakak gimana?" Balik tanya Hanna, lagi-lagi membuat Andre tergelak cukup kencang.
"Kamu ini di tanya malah balik tanya. Kalau aku sih oke-oke saja, tak masalah. Lagipun aku tak punya orang spesial." Jawab Andre membuat hati Hanna di penuhi bunga-bunga yang bermekaran indah.
"Kalau begitu kita jalani saja dulu ya Kak? Lagipun kita sama-sama lajang kan? Tak ada salahnya saling memberi kesempatan untuk mengenal lebih jauh satu sama lain."
Tiba-tiba saja, tangan pemuda itu terulur meraih tangan Hanna dan menggenggam nya cukup erat, membuat Hanna terhenyak.
"Tak ada perayaan untuk hari peresmian ini, Hanna? Misalnya ciuman." Wajah Hanna memerah, hati nya berdebar kencang.
Andre mendekatkan wajah nya, dia membingkai wajah Hanna dan mengecup kening, lalu turun ke kedua pipi gadis itu, hidung lalu terakhir bibir. Tapi bukan hanya kecupan, tapi ciuman di bibir karena Andre ******* bibir itu dengan mesra nya, menggigit kecil bibir itu karena Hanna benar-benar diam tak merespon ciuman nya.
"Kenapa tak membalas ciuman ku?"
"M-maaf, sebelumnya aku belum pernah ciuman, ini ciuman pertamaku." Jawab Hanna membuat Andre cukup shock. Bagaimana bisa gadis di depan nya belum pernah berciuman sama sekali selama 22 tahun dia hidup? Ternyata memang ada, dan itu gadis polos di depan nya, Hanna.
Setelah cukup lama berbincang, Hanna dan Andre kembali pulang ke rumah, kedua nya saling melempar senyum dengan tangan yang bergandengan mesra, aneh saja secepat ini keduanya bisa seakrab ini, hanya beberapa menit saja.
Mama Dita melihat putrinya di gandeng oleh Andre tersenyum kecil, dia bahagia kalau anaknya bisa bahagia meski caranya cukup salah dengan memperkenalkan paksa kedua nya, tapi lihatlah hasilnya.
Meski sempat menolak, mungkin karena belum saling mengenal dan melihat wajah nya, dia bersyukur dalam hati kalau ternyata putrinya bisa menerima Andre, semoga saja pria itu adalah yang terbaik untuk putri nya. Dilihat dari segi manapun, Andre adalah pria yang baik, ya meski belum terlihat sifat aslinya. Mungkin akan terlihat setelah kedua nya saling mengenal lebih lama.
"Sudah pulang?" Sapa Mama Dita dengan ramah, membuat kedua sejoli itu refleks melepaskan gandengan tangan mereka. Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah, ketahuan menggandeng tangan anak gadis orang di depan ibunya.
Sedangkan Hanna terlihat biasa saja, toh hanya gandengan tangan saja. Untung saja saat Andre mencium bibir nya tadi, tak ada siapapun yang lewat, karena pria itu mencium nya di sisi jalan.
"S-udah tante." Jawab Andre sedikit terbata.
"Tadi ibumu pulang duluan, ada keperluan katanya. Kamu nginap aja disini, sudah mendung pasti sebentar lagi turun hujan."
Andre mendongak dengan mulut menganga, bisa-bisanya ibu nya itu meninggalkan nya sendirian di rumah calon besan nya.
"Ayo masuk, angin malam tak baik." Ajak Mama Dita, dia tau benar kalau pemuda di depan nya sedang canggung, dalam hatinya pasti sedang merutuki ibunya.
Ibunya itu memang sengaja meninggalkan putranya disini agar mereka bisa semakin dekat. Padahal tak di dekatkan seperti itupun, keduanya sudah dekat bahkan sudah berani cium mencium.
__ADS_1
Kedua nya mengekor di belakang Mama Dita, Hanna melirik Andre yang berjalan di sampingnya. Dari samping saja terlihat sangat tampan, rahang nya tegas di tumbuhi sedikit bulu-bulu halus.
Tiba-tiba saja, pria itu menatap Hanna dan mengedipkan sebelah matanya genit, membuat Hanna tersipu.
"Makan malam dulu, tadi Ibu sudah masak sama Hanna." Ucap Mama Rita, sengaja menyertakan nama Putrinya di depan Andre, padahal dia tak membantu sama sekali. Hanna tak bisa memasak, dia hanya bisa makan saja.
"Wahh, Hanna bisa masak ya Tan?" Tanya Andre sambil melirik Hanna yang nampak tersenyum canggung.
"Bisa dong, anak perempuan harus bisa masak biar suaminya senang." Jawab Mama Dita membuat wajah Hanna memerah.
"Aku mau dong jadi suaminya Tan." Celetuk Andre, membuat wajah Hanna semakin memerah saja.
"Boleh dong, Nak Andre. Tapi, Hanna tuh anaknya manja jadi mungkin masih butuh dukungan dan kesabaran pastinya."
"Mama, bisa gak jangan nyebar aib anak nya sendiri. Kan malu." rengek Hanna manja membuat Andre tersenyum, justru dia sangat suka dengan wanita yang punya sifat manja.
"Malu kenapa? Lagipun itu bukan aib Nak, biar Nak Andre bisa menyiapkan diri menghadapi sikap manja kamu." Jawab Mama Dita.
"Gapapa Hanna, lagian aku kan calon suami kamu."
Blush..
Kedua pipi Hanna merona, ketika Andre dengan jelas menyebut dirinya sendiri sebagai calon suaminya. Duhh mimpi apa coba, dalam semalam dia punya calon suami yang ganteng nya kebangetan? Hanna si ratu jomblo, tiba-tiba saja punya calon suami?
Wahh ini pasti kabar yang akan membuat heboh satu perusahaan. Pasalnya Hanna memang di kenal tak suka menjalin hubungan seperti pacaran, atau dekat dengan lawan jenis, sungguh tak pernah. Tapi ya namanya hidup kan? Semua nya bisa saja terjadi tanpa terduga.
Andre menikmati makan malam nya dengan lahap, bahkan dia dua kali nambah padahal biasanya dia susah makan, tapi entahlah kenapa dia malah makan banyak di rumah calon mertuanya.
Hanna membereskan meja makan membantu ibu nya, lalu mencuci piring. Dia memang terbiasa melakukan ini, tapi untuk memasak dia benar-benar tak pernah melakukan nya, mungkin hanya bisa memasak mie instan saja.
Itu pun jerat jerit kalau air nya berbuih, biasa nya memang akan berbuih kalau merebus mie bersama telur kan? Nah itu mengundang heboh satu rumah kalau Hanna yang memasaknya.
Andre memperhatikan setiap gerakan Hanna yang menurut nya terlihat sangat sexy, apalagi celana pendek itu memperlihatkan paha putih mulus tanpa cela, membuat sesuatu di bawah sana tiba-tiba saja terbangun tanpa di pinta.
'Sial, kenapa harus di bangun di rumah calon bini sih? Kan tengsin kalo ketauan Hanna, dia pasti bilang aku pria mesum, tapi iya sih aku memang mesuum.' Batin Andre, wajah nya mulai memerah dengan keringat yang membanjiri kening nya.
"Nak Andre, kenapa berkeringat, apa terjadi sesuatu?" Tanya Mama Dita, dia melihat ekspresi tak biasa yang di tunjukkan pemuda itu.
"Ti-dak Tante, saya baik-baik saja." Jawab Andre dengan senyum yang dia paksakan.
"Sebaiknya Nak Andre beristirahat, tidurlah di kamar Hanna. Biar Hanna tidur bersama Ibu."
"Ba-ik tante." Jawab Andre, dia segera berlari ke kamar di lantai dua. Disana hanya ada dua kamar, yang satunya kamar Mama Rita dan satunya lagi kamar Hanna. Sedangkan di bawah, tak ada kamar, hanya ada ruangan tak terpakai berisi berbagai barang yang sudah tak di pakai, bisa disebut sebagai gudang.
Hanna yang melihat pria itu berlari, menggelengkan kepalanya. Kenapa terlihat terburu-buru? Padahal hanya untuk tidur kan?
"Hanna, menurutmu bagaimana Nak Andre?"
"Ganteng Ma." Cetus Hanna, membuat Mama Dita terkekeh. Kalau itu, sekilas pandang pun pasti orang lain juga tau.
"Itu Mama juga tau, tapi sifatnya. Menurut mu bagaimana?"
"Orang nya asyik sih Ma, gampang akrab gitu. Apa sifat nya emang kayak gitu ya, gimana kalau akrab sama semua cewek? Kan kampret." Jawab Hanna membuat Mama Dita refleks menepuk lengan putrinya pelan.
"Jangan bicara seperti itu Nak, gak baik." Mendengar ucapan ibunya, Hanna hanya nyengir saja.
"Jalanin aja dulu Ma, lagian aku belum tau bener gimana sifat nya, kita kan baru ketemu sekali Ma, jadi belum ketahuan."
"Iya juga sih, Mama bersyukur kalau kamu cocok sama Andre."
"Cocok atau gak cocok nya tergantung orang nya Ma, kalau Kak Andre nya bisa bikin Hanna nyaman, kenapa nggak kan?"
"Iya Nak, kamu sendiri yang pilih nanti. Kalau memang gak cocok, jangan di paksakan." Ucap Mama Dita, dia tersenyum lalu mengusap rambut putri nya.
......
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷