
Jeff mengawali harinya dengan bekerja dan bekerja, lalu pulang ke apartemen dan bermanja dengan Kirana. Dia melupakan istrinya di rumah, benar-benar melupakan nya. Sudah lima hari, pria itu tak pulang ke rumah dan sibuk mengejar Kirana.
Meskipun seringkali Kirana menyuruh nya pulang dan bersikap adil pada istri nya, tapi Jeff terlalu egois hingga dia melupakan keberadaan istrinya.
Hari ini, Kirana akan ikut bersama Jeff untuk bekerja seperti biasanya, karena masa cuti nya sudah habis.
"Sayang, sarapan dulu." Panggil Kirana sambil menyajikan sarapan di meja makan.
"Iya, apa menu sarapan hari ini, yang?" Tanya Jeff sambil memberikan kecupan mesra di kening Kirana. Di rumah, dia dan Kirana seperti layaknya suami istri, tapi di kantor keduanya hanya sekretaris dan atasan.
"Lihat saja di meja." Jawab Kirana.
"Waw, ayam goreng? Sambel nya mana?"
"Masa sarapan makan pedes, nanti sakit perut."
"Dikit aja, boleh ya?" Bujuk Jeff.
"Yaudah, ini sambel nya. Tapi jeruk limo nya habis, jadi gak pake jeruk."
"Gapapa, sayang."
Kedua nya pun makan dengan lahap, sarapan bersama yang terasa sangat nikmat meskipun menu nya sederhana, hanya ayam goreng dan tumis pakcoy yang di campur dengan udang kering. Tak lupa sambel dan kerupuk.
"Bawa bekal, Yang."
"Hmmm, sudah aku siapkan." Jawab Kirana membuat Jeff tersenyum manis. Kirana selalu peka, tanpa di minta dia sudah menyiapkan nya terlebih dulu.
"Menu nya sama?"
"Beda, yang buat makan siang lauknya sama sambel cumi asin, terus sayur juga."
"Kenapa masak sayur setiap hari sih?"
"Kenapa memang nya, bosan?" Tanya Kirana dengan tatapan menyelidik, membuat Jeff salah tingkah.
"Bukan begitu, sayang. Tapi kenapa setiap hari ada sayur di menu."
"Semua nya harus seimbang, masa cuma makan ikan sama daging?"
"Hmmm, ya sudahlah." Pasrah Jeff, sejujurnya dia tak terlalu suka dengan sayuran. Tapi saat Kirana yang memasak nya, dia menyukai nya. Terutama rasa dan orang yang memasakan nya.
"Sudah selesai?" Tanya Jeff, Kirana mengangguk dan perempuan itu membereskan meja makan dan masih sempat-sempatnya mencuci piring dan peralatan masak yang tadi dia pakai memasak.
"Sayang, ayo berangkat kerja."
"Sebentar, ini cucian gak bakal bersih sendiri."
"Kan bisa nanti sepulang kerja, sayang."
"Capek, pulang kerja pengen nya langsung tidur. Bukan nyuci piring." Jawab Kirana tanpa menoleh. Jeff menyusul perempuan itu, lalu memeluk nya dari belakang.
"Kenapa?"
"Kamu terlihat seperti seorang istri yang melayani suami nya." Jawab Jeffran sedikit berbisik dengan suara sensual nya.
"Hmm, lalu?"
"Aku senang kalau kamu bertindak seperti seorang istriku, sayang." Jawab Jeff.
"Istri simpanan?"
"Aku berencana untuk menikahi mu secara siri dulu, bagaimana kamu setuju?"
"Setuju atau tidak, rasanya sudah terlanjur. Aku memang sudah seperti istri, setidaknya aku punya status yang jelas meskipun hanya istri siri." Jawab Kirana.
"Baiklah, aku akan mengurus berkas-berkas nya besok."
"Hmm, ayo pergi. Aku sudah selesai mencuci piring nya."
"Oke." Jawab Jeff, dia mencuri kecupan singkat di pipi Kirana dan melepaskan tautan tangan nya di perut rata Kirana.
__ADS_1
Kirana pun mengikuti langkah pria itu dari belakang, dengan menenteng tas kecil berisi barang-barang yang kira nya dia butuhkan di kantor.
"Kamu yang menyetir?" Tanya Kirana saat tak melihat keberadaan Pak Amar.
"Hemm, aku sedang bersemangat hari ini." Jawab Jeff, Kirana hanya menjawab dengan anggukan, lalu membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi. Tanpa menunggu Jeff membukakan pintu mobil untuknya.
"Yang.."
"Apa, dari tadi manggil mulu." Ketus Kirana sambil memalingkan wajahnya dari ponsel.
Cup..
Tanpa Kirana duga, Jeff mencium bibir nya bahkan sempat melumaatnya.
"Kangen banget deh." Ucap Jeff, sedangkan Kirana mematung, dia terkejut dengan ciuman Jeff baru saja.
"Sayang? Kok bengong.."
"H-aahh, apa?"
"Kenapa bengong? Kaget ya?"
"Heem, ngapain cium nya tiba-tiba?"
"Kalau izin dulu, rasanya kamu gak bakal ngizinin juga, jadi mendingan langsung aja aku cium." Jawab Jeff membuat Kirana mendengus.
"Lipstick ku jadi berantakan." Ketus nya, lalu mengambil kaca kecil dari dalam tas, lalu memperbaiki lipstick nya.
"Aku tak peduli, aku hanya ingin mencium mu, itu saja. Selebihnya itu urusan mu."
"Cihh, egois!"
Jeff hanya terkekeh, lalu fokus mengemudikan kendaraan roda empat nya membelah jalan raya yang padat karena banyak orang yang akan berangkat bekerja.
Setelah hampir satu jam lebih bergabung dengan pengendara lain, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Jeff sampai di perusahaan. Jeff keluar lebih dulu, lalu di ikuti Kirana di belakang pria itu.
"Selamat pagi, tuan.." sapa karyawan yang sedang bekerja dengan ramah, Jeff hanya melirik sekilas tanpa menjawab.
"Terimakasih ya." Jawab Kirana dengan senyum ramah nya.
"Sama-sama, Nona."
"Lanjutkan bekerja ya, nanti tuan Jeff marah."
"Siap Nona." Jawab nya sambil terkekeh pelan. Kirana pun kembali berjalan, lalu masuk ke dalam bilik lift yang sama dengan Jeff.
"Bagus ya kamu.."
"Apa nya yang bagus?" Tanya Kirana.
"Siapa yang marah?"
"Ya Tuan lah, tuan kan pemarah."
"Hah, apa?"
"Eehh enggak kok." Ralat Kirana dengan cepat, sebelum Jeff marah.
"Mau di hukum?"
"Enggak-enggak, nanti aja di rumah."
"Cihhh, di rumah emang mau ngapain? Gak bisa masuk sarang, kan lagi banjir. Jadi percuma aja, kalo cuma cium-cium doang terlanjur ngac*ng doang."
"Dihh, bahasa nya di saring dong." Ucap Kirana sambil menepuk lengan Jeff.
"Di saring apaan, kan bukan kopi."
"Terserah anda saja." Pasrah Kirana.
Setelah beberapa menit, akhirnya kedua nya keluar dari bilik lift.
__ADS_1
"Selamat bekerja, Kirana ku."
"Hmm, terimakasih." Jawab Kirana, dia pun masuk ke ruangan nya sendiri.
Kirana pun mulai berkutat dengan pekerjaan nya, dia menghela nafas nya dengan kasar saat melihat tumpukan pekerjaan dan berkas-berkas yang menunggu untuk di kerjakan.
"Hai Kiran, udah masuk kerja lagi." Ucap Hanna sambil masuk ke dalam ruangan Kirana.
"Iya nih, sampai kapan mau cuti. Yang ada kerjaan numpuk, ini juga kayaknya harus lembur nih."
"Hemm, ini berkas dari divisi aku." Ucap Hanna sambil menyodorkan berkas.
"Nambah nih kerjaan, Han."
"Ini buat semangat, aku kasih cemilan."
"Wahh makasih, Han."
"Nih Boba juga, semangat kerja nya Kiran." Ucap Hanna.
"Yee makasih bestie, tau aja lagi pengen boba."
"Yaudah, aku lanjut kerja ya."
"Makasih ya, Han."
"Siap, santai aja." Jawab Hanna lalu keluar dari ruangan Kirana.
"Punya temen peka banget deh." Gumam Kirana, dia membuka minuman boba nya dan meminum nya dengan perlahan. Lalu kembali bekerja dengan fokus.
Di ruangan nya, Jeff masih bersantai sambil meminum minuman beralkohol. Ya, dia malas bekerja. Kalau bukan karena Kirana, dia akan memilih bermalas-malasan di rumah.
"Minuman ini terasa hambar, aku lebih menyukai rasa bibir Kirana dari pada minuman ini sekarang." Gumam Jeff sambil menggerakan gelas kecil berisi minuman kental berwarna merah itu.
Jeff bangkit dari duduknya, lalu berjalan pelan ke arah jendela besar. Kedua tangan nya dia masukan ke dalam saku celana bahan nya, mata nya menatap pemandangan perkotaan yang terlihat sangat panas hari ini.
"Kok lapar lagi ya." Gumam nya, Jeff melihat jam tangan mahal yang melingkar di tangan nya.
"Pantes saja, sudah jam makan siang. Sebaiknya aku menelpon Kirana." Jeff pun menghubungi sekretaris nya itu untuk ke ruangan nya. Tak butuh waktu lama, perempuan itu masuk dengan menenteng wadah bekal nya.
Kedua mata nya membeliak saat melihat beberapa botol minuman di atas meja.
"Anda minum?"
"Hmm, sedikit sayang." Jawab Jeff sambil berjalan mendekat.
"Kenapa Anda sangat suka minum minuman seperti ini? Apa rasanya secandu itu?"
"Tidak, aku rasa bibir dan tubuh mu lebih candu dari minuman ini." Jawab Jeffran sambil tersenyum smirk.
"Ckk, jadi memanggil aku kesini mau apa?" Tanya Kirana.
"Makan siang bersama, tapi sebelum itu aku ingin memakan bibir mu dulu."
"Jangan, ini di kantor."
"Lalu? Apa aku peduli hmm? Tidak sama sekali." Jawab Jeff, dia semakin mendekat lalu menyerang bibir Kirana. Pria itu mencium bibir mungil Kirana dengan liar, bahkan tangan nya merayap nakal meraba dada perempuan itu.
Kirana meronta sekuat tenaga, tapi sayang tenaga nya kalah jauh dengan Jeff.
"Eempphhhh…"
Jeff terus mencium dan melumaat bibir Kirana, bahkan menekan tengkuk perempuan itu hingga ciuman mereka semakin dalam. Akhirnya, Kirana pasrah dan memilih diam saja saat pria itu mengerjai nya, ruangan yang luas itu di penuhi dengan suara decapan nikmat.
Saat suasana semakin memanas, pintu ruangan itu terbuka, seseorang terpaku melihat pemandangan di depan nya.
"M-as.."
.......
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1