
Kedua nya turun dari mobil dan berjalan pelan, Kirana menggandeng lengan Jeff erat dia tak terbiasa menjadi pusat perhatian, kamera menyorot mereka hingga membuat Kirana yang tak terbiasa menjadi pusing.
Belum masuk saja dia sudah merasa pusing, entahlah bagaimana di dalam. Semoga saja tak ada blitz kamera yang membuat mata nya pusing.
"Are you okay, Kirana?" Tanya Jeff, menghentikan sejenak langkah nya.
"Yes, i'm oke." Jawab Kirana, setelah yakin kalau sekretaris nya itu baik-baik saja, kedua nya pun melanjutkan langkah mereka lagi.
Ternyata di dalam lebih mengejutkan lagi, hanya saja tak begitu banyak wartawan yang bisa masuk, hanya ada beberapa saja yang terlihat mengabadikan moment sakral pengusaha terkenal itu.
"Kita ke pelaminan dulu ya, setelah itu kita duduk." Kirana menganggukan kepala nya, dia sedikit mengangkat dress nya karena kesulitan berjalan, belum lagi sendal yang memiliki hak yang cukup tinggi, itu sangat menyulitkan nya. Biasanya Kirana hanya memakai sendal degan hak tahu.
"Kenapa hmm?"
"Sulit Tuan, gaun nya terlalu panjang dan sendal ini hak nya terlalu tinggi." Jawab Kirana pelan.
"Bisa di paksakan sedikit? Hanya menaiki beberapa anak tangga."
"Bisa tuan." Jawab Kirana. Dia mengikuti Jeff yang berjalan ke sisi pelaminan yang terdapat beberapa anak tangga.
"Ohh tuan Jeff, anda datang.." Sapa Azzendra yang di sambut baik oleh Jeff, mereka adalah rekan kerja yang punya hubungan baik, meskipun di luar pekerjaan.
"Tentu saja aku datang, selamat atas pernikahan dan kehamilan istri mu." Ucap Jeff, dia melihat istri Zen yang berdiri dengan senyuman manis nya. Terlihat mungil, apa dia mampu menandingi kekuatan seorang Zen di ranjang.
"Heehh, jangan menatap istri ku seperti itu Jeff." Peringat Zen, membuat Jeff salah tingkah.
"Maafkan aku Zen, sungguh aku tak punya niat apapun."
"Tak masalah, silahkan menikmati hidangan yang ada. Maaf, hanya seadanya."
"Janganlah merendah tuan, ini pesta yang sangat besar dan mewah." Ucap Jeff, memuji klien bisnis nya itu.
"Berasa aku lebih tua dari mu, Jeff." Ucap Zen sambil menepuk bahu pria itu.
"Aku turun dulu ya."
"Ya, terimakasih sudah datang."
"Selamat atas kehamilan anda Nona Wenthrisca." Ucap Kirana ramah. Ica pun menyambut nya dengan ramah juga.
"Terimakasih kak Kiran." Jawab Ica sambil tersenyum. Kirana mengangguk dan turun dari pelaminan dengan di bantu oleh Jeff.
"Mereka pasangan yang serasi ya, Dad."
"Husshh, jaga bicaramu Bby. Jeff sudah punya istri dan dia hanya sekretaris nya." Ucap Zen, membuat istrinya menganga. Dia menyangka kalau Kirana adalah istri Jeff, mengingat kalau mereka terlihat sangat mesra.
Kirana dan Jeff memilih kursi untuk duduk, Kirana mencomot kue dari piring kecil yang menjadi hidangan untuk para tamu, membuat Jeff geleng-geleng. Sudah di buat seanggun mungkin, ehh sikap nya gak hilang.
__ADS_1
"Enak, Yang?" Tanya Jeff pada Kirana yang sedang makan kue coklat.
"Enak kok, tapi cuma satu kok kurang ya." Jawab Kirana sambil cengengesan.
"Sadar diri, ini di pesta orang."
"Iya tuan, maaf saya lancang."
"Tak apa-apa, aku akan mengambilkan nya untukmu. Mau makan berat? Disana banyak makanan, ikut? Tawar Jeff.
"Tuan saja, kaki saya sakit Tuan."
"Baiklah, tunggu disini sebentar, aku takkan lama." Ucap Jeff, lalu pergi mengambil makanan untuk dirinya dan Kirana. Tapi sepeninggal Jeff, ada beberapa pria yang datang dan duduk satu meja dengan Kirana tanpa di undang. Mereka menatap Kirana penuh minat, membuat nya merasa risih karena tatapan mereka, lebih tepat nya menatap tubuh nya.
"Sendirian saja, Nona?" Tanya salah satu dari mereka. Kirana hanya tersenyum kaku sebagai jawaban.
"Datang kesini bersama siapa, Nona?"
"Tuan Jeffran." Jawab Kirana singkat, sungguh dia merasa tak nyaman dengan tatapan mesum para pria tua bangka itu.
"Tuan Jeffran? Ahh tak mungkin, istrinya kan sakit. Kau tak mungkin istri siri nya kan? Atau simpanan pria itu, Nona?" Tanya nya ngelunjak, bahkan salah satu dari mereka mulai kurang ajar dengan menyentuh wajah Kirana. Perempuan itu refleks memalingkan wajah nya dan berdiri, tapi tangan mereka lebih dulu mencekal tangan Kirana.
"Mau kemana Nona Manis, disini saja bersama kami. Kami juga butuh hiburan disini." Kirana berusaha melepas cekalan tangan pria itu, tapi genggaman nya terlalu kuat membuat Kirana merasa kesakitan.
"Duduk lah dengan tenang, kami hanya ingin di temani. Tak lebih dari itu."
Tapi bukan nya takut, mereka malah tertawa meremehkan ancaman Kirana.
"Kalau iya pun kau datang bersama nya, lalu kemana dia sekarang? Pasti dia meninggalkan mu sendirian kan?"
"Aku disini, lepaskan Kirana ku!" Tegas Jeff yang berdiri tegap dengan sorot mata penuh kebencian. Pria itu melepaskan cekalan nya pada tangan Kirana, membuat perempuan itu segera berlari dan bersembunyi di balik punggung Jeff.
"Tuan Jeffran.." Sapa mereka sok ramah.
"Apa kalian tak malu menunjukan kualitas murah kalian di pesta orang lain?" Tanya Jeff datar.
"Terlebih perempuan yang kalian remehkan adalah Kirana ku. Aku peringatkan pada kalian, dia milikku." Ucap Jeff lantang, membuat pusat perhatian mengarah pada nya.
Kirana mengeratkan pegangan tangan nya di jas Jeffran, dia benar-benar takut. Terlebih dia merasa sudah di lecehkan oleh pria-pria itu.
"Maaf tuan, bukankah anda sudah punya istri? Apa dia semacam istri siri, atau simpanan?" Tanya salah satu pria paruh baya itu dengan berani, membuat Jeff tersulut emosi.
Dia berjalan mendekati pria itu, mencengkeram kerah kemeja pria itu dan melayangkan tinjuan keras tepat di rahang nya, membuat pria itu tersungkur sambil meringis.
"Berani sekali kau mengatai Kirana ku seperti itu! Kau bosan hidup, mari aku akhiri sekarang juga!" Ucap Jeff, api kemarahan telah menguasai pria itu, wajah nya merah padam karena kemarahan nya.
"Kau juga yang sudah menyentuh Kirana ku, kan?" Jeffran menarik tangan pria itu, memelintir nya ke belakang hingga membuat pria itu berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Zen yang datang setelah melihat ada keributan di pesta nya.
Jeff menatap Zen, lalu melepaskan pelintiran tangan nya. Lalu mengusap tangan nya, seolah menyentuh pria itu adalah kotoran yang harus di bersihkan.
"Maaf merusak pesta mu Zen, tapi pria itu berani melecehkan Kirana ku. Itu tak sopan dan bukan kah itu harus di beri pelajaran?"
"Benarkah? Astaga, kenapa kau membuat rusuh di pesta ku hmm?"
"Bim, blacklist semua perusahaan nya, jangan biarkan ada yang bekerja sama dengan orang-orang yang tak bisa menghormati wanita seperti mereka!" Tegas Zen, dia tak mentolerir kesalahan yang berhubungan dengan wanita.
"Baik tuan, saya mengerti." Jawab Bimo. Pria tampan berlesung pipit di kedua pipi nya itu adalah asisten kepercayaan Zen, sekaligus suami dari sahabat istrinya, Hanisa.
"Tuan, tolong jangan begini. Kami mohon."
"Memohon bagai pengemis, menjijikan." Cibir Jeffran. Tapi tiba-tiba saja, semua perhatian orang-orang itu beralih saat mendengar sesuatu yang terjatuh.
Brukk...
"Kirana.." Panggil Jeff dengan panik, dia melihat Kirana terjatuh tak sadarkan diri. Belum lagi darah segar yang mengalir dari kedua kaki nya.
"Jeff, sebaiknya cepat bawa dia ke rumah sakit."
"Iya Zen, sekali lagi aku minta maaf karena sudah merusak pesta mu." Ucap Jeff merasa tak enak karena sudah membuat kekacauan di pesta Zen.
Jeff menggendong Kirana ala bridal style dan berlari membawa perempuan itu, darah seger menetes sepanjang jalan nya, membuat petugas kebersihan harus bekerja extra.
"Ohh tuhan, semoga Kirana baik-baik saja!" Gumam Zen, sambil menatap sendu punggung Jeff yang berlari dengan Kirana di pelukan nya. Wajah pria itu tampak sangat khawatir saat melihat sekretaris nya pingsan.
"Maaf atas ketidaknyamanan nya, silahkan lanjutkan pesta nya."
"Aku menyesal sudah mengundang kalian berempat!" Ketus Zen lalu pergi dari ke empat pria pembuat masalah itu. Kalau saja mereka tak melakukan hal semacam itu pada Kirana, ini semua pasti takkan terjadi.
Di mobil, Jeff di landa kepanikan setengah mati. Dia terus mendesak Pak Amar untuk mempercepat laju mobil nya. Padahal ini sudah kecepatan paling tinggi.
Sesampai nya di rumah sakit, Jeff kembali menggendong Kirana dan membaringkan nya di brankar dorong khusus pasien dan segera di tangani oleh dokter.
"Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu disini."
"Tapi, Kirana ku.."
"Kami akan menangani nya secepat mungkin, Tuan."
"Cepatlah." Jeff akhirnya mengalah dan memilih duduk di kursi tunggu, pria itu mengusap wajah nya dengan kasar. Sebenarnya ada apa dengan Kirana, hingga bisa pendarahan sebanyak itu
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1