Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 97 - Kirana Hamil


__ADS_3

Jeffran menarik tangan istri nya, dia berjalan cepat hingga membuat Kirana harus sedikit berlari untuk bisa menyeimbangkan langkah nya dengan langkah lebar sang suami. Hatinya sungguh bergemuruh hebat, apalagi saat melihat tatapan Sam pada istri nya. 


Tatapan hangat dan penuh cinta, tentu saja itu membuat dia cemburu, hanya dia saja yang boleh menatap Kirana dengan tatapan itu.


"Sayang, jangan cepat-cepat jalan nya, sakit." Rengek Kirana membuat Jeff langsung berhenti, tentu saja Kirana yang tak menyadari kalau Jeff berhenti, menabrak punggung tegap pria itu hingga membuatnya hampir terjatuh, tapi beruntung nya Jeff dengan cepat meraih pinggang Kirana dan memeluk nya.


"Maafkan aku, Sayang. Kaki mu sakit?" Tanya Jeffran, dia lupa kalau Kirana menggunakan high heels yang tentu saja menghambat nya berjalan.


"Sedikit." Cicit Kirana membuat Jeff langsung berlutut, dia membuka sepatu istrinya dan melihat tumit perempuan itu memerah dan sedikit lecet. Tanpa banyak bicara lagi, Jeff langsung menggendong istrinya ala bridal style, membuat semua orang menatap pasangan itu dengan pandangan iri.


Jeffran mendudukan Kirana di kursi, dia mengambil sesuatu dari kantong celana nya dan mengoleskan salep di kaki istri nya yang memerah.


"Tahan Sayang, ini akan terasa sedikit perih." Ujar Jeffran, membuat Kirana hanya bisa menganggukan kepala nya.


"Kenapa, Jeff?" Tanya Andre, tadi dia melihat Jeff yang menarik tangan Kirana cukup kuat dengan wajah yang terlihat tak bersahabat, dia khawatir telah telah terjadi sesuatu yang membuat mood pria berwajah datar itu anjlok.


"Kaki istri ku lecet, Ndre." Jawab Jeffran santai, masih dengan wajah super datarnya.


"Bukan, tadi kenapa? Lu kayak emosi gitu."


"Biasa, ketemu bibit pebinor." Cetus Jeff membuat Andre mengernyitkan dahi nya.


"Si Samuel?" Tanya Andre lagi, Jeff mengangguk mengiyakan.


"Nah kan gue bilang juga apa, beresin secepat nya, gue yakin dia gak bakal nyerah secepat itu deh buat bisa dapetin Kirana."  Jeffran berdiri dan menarik tangan Andre sedikit menjauh dari posisi istrinya agar dia tak bisa mendengar percakapan antara dirinya dan Andre.


"Gue dah mikirin ini semua sebelum Lu kok, Ndre. Lu tenang aja, si Sam masih gak ada apa-apanya di banding gue!" Bangga Jeffran, tapi ekspresi wajah nya sangat berbeda jauh dengan ucapan yang terlontar dari mulutnya.


"Gue tahu Lu khawatir, Jeff. Sebelum Sam berbuat yang lebih nekat dari yang udah-udah, mendingan percepat aja kepergian kalian ke Bali. Gue tau si Sam tipe cowok ambisius, jadi apa yang dia mau harus dia dapetin dengan cara apapun." Ucap Andre, memang benar sepertinya. 


Terlihat dari usaha Sam yang terus berusaha mendekati Kirana, secara terang-terangan dia berani mendekati istri sahabat nya bahkan saat perempuan itu sedang bersama dengan Jeff. Tentu saja, itu sangat membuat nya gelisah. Dia tidak khawatir kalau Kirana nya akan berpaling, dia percaya pada perempuan nya itu sepenuhnya, tapi yang dia khawatirkan sekarang adalah bagaimana jika Sam berbuat nekat dan menyakiti Kirana nya?


"Ya, besok peringatan 40 hari kepergian Queen. Lusa kita berangkat ke bali, aku mempercepat semuanya. Beritahu Hanna untuk berkemas, dia harus menemani Kirana. Meskipun, mungkin Kirana akan sering berada di kamar di bandingkan bermain keluar." Jawab Jeffran membuat Andre terkekeh, lalu menggelengkan kepala nya.


"Tentu saja, aku akan memberitahukan nya." Jawab Andre, dia menepuk pundak Jeffran. Dia tahu benar bagaimana Jeff, dia mempunyai kecenderungan untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi secara berlebihan.


"Gue tahu kok, kita udah kenal lama dan bukan kali ini aja Lu kayak gini. Jangan terlalu khawatir, kau punya kuasa, kalau kau sebegitu khawatirnya, kenapa tidak kau selesai kan saja pria bernama Samitu?" Ucap Andre mengompori.


"Tunggu sedikit lagi, kalau dia berani menyakiti istriku secara fisik aku pasti akan menyelesaikan nya dengan cara yang paling menyakitkan!"


"Tapi pria itu sudah menyakiti batin Kirana kan?" Tanya Andre, dia ingat kalau Jeff pernah bilang kalau dalang dari gosip yang beredar di perusahaan nya saat ini adalah Sam, pria itu berulah karena menginginkan Kirana.


"Iya, tapi hal itu masih belum seberapa."


"Pikirkan lagi Jeff, luka batin lebih susah di sembuhin dari pada luka fisik." Ujar Andre, membuat Jeff menghembuskan nafas nya dengan kasar. Nyata nya yang di ucapkan Andre sangat benar, dia saja butuh waktu sangat lama untuk bisa memaafkan penghianatan atau luka batin yang di tinggalkan mendiang istrinya itu.


"Lu bener Ndre, apa gue selesaiin sekarang aja?"


"Terserah Lu aja, tapi apa Lu yakin tuh cowok biarin Lu bahagia sama Kirana? Gimana kalo dia bikin ulah lagi, Jeff?"


"Lihat nanti aja dulu, gue masih nimbang-nimbang buat ngasih hukuman." Ucap Jeffran lagi.


"Yaudah, balik aja Ndre. Gue liat istri Lu pucatan deh? Apa dia sakit ya?" Mendengar ucapan Andre, Jeff langsung berbalik menatap istri nya. Benar saja, wajah perempuan itu terlihat sangat pucat.


"Gue gak ngeh." Ucap Jeffran lalu segera mendekati Kirana, dia menatap wajah perempuan itu, benar-benar pucat dan nampak tak bertenaga.


"Darl, are you oke?" Tanya Jeffran sambil mengusap wajah cantik istri nya.


"Yes, im oke. Just a little dizzy." Jawab Kirana lirih, dia mengatakan dia hanya sedikit pusing saja, dia memegangi kepala nya yang terasa berputar.


"How about we just go home, Darl?" Tanya Jeffran lagi.


"Yeah, i think it's better." Jawab Kirana. Jeff langsung memapah Kirana, dia hampir limbung kalau saja suami nya tak cepat-cepat meraih tubuhnya.


"Tolong, sampaikan pada Hanna, aku pulang duluan. Maaf tak bisa disini sampai akhir acara."


"Ya, pulang dan beristirahatlah." Ucap Andre, Kirana menganggukan. Dia berjalan sempoyongan, persis seperti orang yang habis mabuk, beruntung nya Jeffran selalu ada di sampingnya, membantunya menyeimbangkan langkah.


"Darl." Panggil Jeffran, Kirana hanya tersenyum sebelum dia tumbang tak sadarkan diri di pelukan Jeffran.


"Sayang, kamu kenapa? Ya tuhan, kau selalu saja membuat aku khawatir!" Gerutu Jeff, dia segera menghubungi Pak Amar yang mungkin masih di dalam menikmati hidangan yang tersaji, begitu panggilan itu di angkat Jeff langsung meminta nya untuk segera datang.


Tak lama, pria paruh baya itu datang dengan tergesa. Dia buru-buru memutari mobil setelah melihat Jeff masuk ke dalam mobilnya dengan Kirana yang berada di pelukan nya.


"Kita kemana, Tuan?" Tanya Pak Amar.


"Ke rumah sakit Pak, istri ku tak sadarkan diri." Pak Amar mengangguk cepat dan langsung tancap gas ke rumah sakit terdekat. Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil itu sampai di depan rumah sakit yang cukup mewah dengan pelayanan fasilitas VIP.


Jeffran langsung berlari membawa istri nya ke ruang UGD, tentunya dengan di dampingi Pak Amar sang supir setia yang selalu mengikuti kemana pun kaki tuan nya berpijak.


"Sus, tolong istri saya, dia tak sadarkan diri." Ucap Jeffran saat melihat suster yang baru saja keluar dari ruangan UGD.


"Baik, Mari." Ucapnya, dia membawa brankar dengan cepat dan Jeff juga langsung membaringkan sang istri di brankar di rumah sakit itu. Suster membawa brankar itu ke dalam ruangan, tapi dia mencegah Jeff ikut masuk.


"Maaf Tuan, anda dilarang masuk. Silahkan tunggu di luar, ini takkan lama kalau anda mengikuti peraturan."


"Baik sus, lakukan yang terbaik untuk istri saya." Ucap Jeffran dengan panik. Suster itu mengangguk lalu menutup pintu kaca itu dan menutup gorden nya. Jeffran berjalan mondar mandir di luar, dia begitu gelisah. Dia tak bisa menebak, apa yang terjadi pada istri nya? Dia memang menyadari kalau tubuh Kirana sedikit berubah, dia sering mengeluh mual dan pusing, sering pucat dan terlihat lemas.

__ADS_1


Tak lama, pintu itu terbuka. Suster tadi memanggil Jeff dan pria itu langsung menerobos amsuk ke dalam ruangan UGD.


"Ada apa dengan istri saya?" Tanya Jeffran, raut wajah panik nya masih sangat kentara di wajahnya.


"Selamat Tuan, istri ada sedang mengandung." Jeff menganga mendengar ucapan dokter yang terasa begitu tiba-tiba baginya. Apa katanya, Kirana nya hamil? Bagaimana bisa?


"K-enapa bisa dok? Istri saya baru saja selesai datang bulan sehari yang lalu, bagaimana bisa dia di nyatakan hamil?" Tanya Jeffran, dia tak bisa percaya begitu saja. Meskipun yang mengatakan hal itu adalah dokter.


"Itu bukan datang bulan Tuan, dalam dunia medis itu disebut pendarahan implantasi."


"Apa itu berbahaya, dok?" Tanya Jeff lagi.


"Tentu tidak Tuan, banyak ibu hamil yang mengalami gejala semacam ini. Pendarahan seperti datang bulan, gejala nya juga sama seperti datang bulan, padahal ini bukan menstruasi tapi pendarahan implantasi, ini aman karena ini terjadi karena terjadi gesekan saat sel telur di buahi." Jelas sang dokter membuat Jeff manggut-manggut.


"Sudah berapa bulan, Dok?"


"Menurut perhitungan saya, Nona sudah mengandung 5 minggu, satu bulan lebih." Jawab nya, membuat senyuman merekah sempurna di bibir Jeff.


"Terimakasih, Dok."


"Sama-sama, saya pamit dulu. Permisi." Pamit dokter itu lalu pergi dari hadapan Danish, meninggalkan sepasang kekasih itu di dalam ruangan.


Jeff duduk di kursi yang tersedia di dekat brankar, dia memegang tangan Kirana yang ada jarum infus, seperti nya perempuan ini kekurangan cairan hingga membuatnya harus di infus.


"Darl, kejutan lagi yang kamu berikan sungguh membuat aku benar-benar senang. Terimakasih, aku sangat mencintaimu."


Di rumahnya, Hanna celingukan mencari sang sahabat yang sedari tadi tak keliatan lagi. Entah kemana dia, bahkan Jeff pun tak terlihat batang hidungnya lagi. Bukan cuma pasangan bucin itu yang menghilang, tapi tunangan nya saja menghilang juga. Tadi pamit sebentar, tapi sudah setengah jam berlalu pria itu belum juga kembali.


"Kiran kemana ya? Andre juga menghilang." Gumam Hanna, dia membuka ponsel nya bermaksud menghubungi pria yang sudah meminang nya beberapa menit yang lalu itu, tapi suara yang sangat tak asing membuat Hanna menoleh.


"Sayang, maaf lama." Ucap Andre, dia kembali duduk di kursi yang bersebelahan dengan calon istri nya itu.


"Darimana aja?"


"Habis ketemu sama Jeff, tau gak yang Kirana tuh wajah nya pucat gitu. Kayaknya lagi sakit deh."


"Ohh ya? Dimana dia sekarang?" Tanya Hanna dengan nada khawatir.


"Sudah pulang sama Jeffran, tadi dia nyuruh aku buat sampein ke kamu."


"Kirana kenapa ya, sekarang dia jadi sering sakit."


"Hamil kali." Celetuk Andre membuat Hanna mendelik.


"Mana mungkin hamil, mereka baru aja nikah sayang." 


"Jangan asal ngomong ya kamu, mana ada yang kek gitu."


"Kamu gak tahu Jeff gimana, Sayang. Kamu gak tahu Kirana pernah keguguran?" Tanya Andre, Hanna melotot. Apa benar hubungan Kirana dan Jeff sejauh itu? Apa mungkin sahabat nya itu begitu, rasanya tidak mungkin.


"Seriusan?"


"Ya serius Sayang, pas ibunya lagi koma, Kirana keguguran. Jeff kecewa malah pergi menghindar keluar kota, pas balik lagi kesini ibunya Kirana sudah meninggal."


"Jadi pas ibunya meninggal, Kirana dapat dua luka besar dong?"


"Iya, aku juga marah sama pria itu, selain perselingkuhan dia bertindak seolah dia bukan laki-laki bertanggung jawab, pergi untuk menghindari masalah. Itu bukan sikap seorang laki-laki gentel."  Ucap Andre, dia memang menyayangkan perilaku Jeff yang dengan tega nya meninggalkan Kirana sendirian disaat dia sedang terpuruk, padahal bukan hanya pria itu yang kecewa, tapi Kirana juga.


"Kasian sekali nasib, Kirana. Andai saja aku tahu hal itu."


"Sekarang juga dia lagi punya masalah sayang, di perusahaan gosip yang buruk sedang memanas."


"Gosip apa sih? Aku udah seminggu gak masuk kerja, jadi gak tahu ada apa di perusahaan."


"Ya, Kirana di cap pelakor karena mau jadi simpanan Jeff, Sayang." Jawab Andre, hatinya terasa sesak. Kirana sudah banyak mengalami pahitnya kehidupan, mulai dari fakta yang mengejutkan tentang ayahnya, lalu kepergian ibunya, satu-satunya orang tua yang dia punya sekarang sudah pergi, lalu sekarang? 


Sekuat apapun hati seorang wanita, jika di timpa masalah berat bertubi-tubi seperti ini siapa yang akan tahan? Pasti akan tetap menangis, bersandar di bahu orang lain yang bisa membuat hatinya tenang.


"Kiran.."


"Sudahlah Sayang, sekarang Kiran sudah bersama orang yang tepat. Jeff adalah pria yang baik, meski terkadang dia bersikap seenaknya."


"Ya, semoga saja Tuan Jeffran adalah pria yang tepat untuk mendampingi Kiran." Jawab Hanna lalu tersenyum.


"Sekarang, ayo ke kamar." Ajak Andre membuat Hanna terkejut, mau apa memang nya pria itu mengajak nya ke kamar?


"Ngapain ke kamar?"


"Malam pertama dong, Sayang." Jawab nya dengan kedipan nakal yang membuat Hanna tersipu.


"Kita kan belum nikah, masa udah malam pertama."


"Eemm, gak masuk mulut bawah gapapa lewat mulut atas aja." Pinta nya dengan senyuman genit.


"Isshh kamu tuh ya, masih banyak tamu lho ini."


"Lagi makan doang, kan ada mami sama mama mertua. Kita ngamar aja, yuk." Andre bersiap menarik tangan Hanna.

__ADS_1


"Enggak ahh, nanti aja."


"Seriusan ya nanti? Malem aku kesini lagi setelah nganter mami." Ucap Andre.


"Gak ada lah, aku gak mau gituan dulu."


"Kenapa? Enak lho, kalo gak enak Kirannjuga gak mungkin ketagihan pisang tanduk nya si Jeffran."


"Udah jangan bawa-bawa nama orang, intinya kamu mesuum."


"Gapapa mesuum, yang penting ganteng dan laku. Buktinya kamu langsung klepek-klepek sama aku, ketemu sekali langsung mau aku cium." Goda Andre, membuat wajah Hanna bersemu kemerahan.


"Itu karena kamu nyosor duluan."


"Tapi kamu gak nolak kan, itu tandanya ciuman aku tuh memabukan." Jawab Andre, membuat Hanna memutar matanya jengah, melayani kemesuuman Andre takkan pernah ada habisnya. Tidak mengenal kapan dan dimana kalau mesum nya mode on, bahkan disini masih banyak tamu tapi Andre malah ngajak ngamar.


Sedangkan di rumah sakit, Kirana baru saja terbangun dari pingsan nya. Dia membuka kedua matanya, dia tersenyum saat melihat sesosok pria sedang tertidur dengan kepala tertelungkup di samping nya. Pria tampan dengan rambut acak-acakan itu nampak membuat pulau di kasur, lagi-lagi Kirana terkekeh melihatnya. Selama menjalani hubungan dengan pria itu, baru kali ini Kirana melihat pria itu ngeces saat tidur, menggemaskan sekali.


"Ehemm.." Kirana berdehem, membuat Jeff langsung terbangun dan mengelap sudut bibirnya yang basah karena liur.


"Sudah bangun, yang?"


"Memangnya aku kenapa gitu? Ini dimana, tempatnya kayak asing."


"Kamu pingsan tadi, yaudah aku bawa kamu ke rumah sakit." Jawab Jeffran, wajah nya benar-benar berbinar membuat Kirana mengernyit, ada apa gerangan? Kenapa pria itu nampak sangat bahagia?


"Kenapa mesam mesem?" Tanya Kirana membuat Jeff tersenyum makin lebar.


"Aku bahagia, Sayang."


"Bahagia kenapa?"


"Kamu hamil lho sayang." Jawab Jeffran, membuat Kirana membulatkan matanya.


"H-amil? Kok bisa? Aku kan baru aja selesai datang bulan."


"Kata dokter itu bukan menstruasi sayang, tapi pendarahan implantasi. Itu wajar dan tak berbahaya, katanya banyak kok ibu hamil yang kayak kamu gitu." Jelas Jeffran, membuat Kirana menunduk menatap perut datarnya. Dia terharu, dia kembali diberi kepercayaan untuk kembali mengandung.


"Lho, kok kamu nangis Yang?"


"Aku bahagia, setelah kehamilan pertama ku gagal, akhirnya aku diberikan kepercayaan kembali." Jawab Kirana, dia menatap suami nya dengan sendu.


"It's okey Babe, semua yang sudah terjadi jangan pernah kamu sesali. Mari kita rawat anak kita dengan baik, aku berjanji akan menjaga kamu dan anak kita sebaik mungkin, dengan segenap jiwa raga ku."


"Kamu lebay." Ucap Kirana sambil terkekeh.


"Siapa yang lebay sih? Aku seriusan ini, babe."


"Iya deh, aku hamil berapa bulan?" Tanya Kirana.


"Kata dokter tadi sekitar lima mingguan."


"Ohh pantesan tubuh aku rasanya beda, lemes terus, mual sama pusing beberapa hari ini."


"Dan lagi-lagi aku tak peka dengan itu Sayang, aku minta maaf."


"Tak masalah, sudahlah. Yang penting kita sudah tau aku kenapa," jawab Kirana, Jeff bangkit dari duduknya dan mengecupi perut rata sang istri.


"Tapi sayang, karena kehamilan kamu masih rawan keguguran, jadi kita tunda keberangkatan kita ke bali."


"Di tunda?" Tanya Kirana, dari ekspresi nya saja dapat terlihat kalau perempuan itu kecewa karena keberangkatan mereka harus di batalkan karena hal tak terduga.


"Ini demi kebaikan kamu sayang, nanti setelah kehamilan kamu berusia sekitar empat bulan kita liburan ke bali ya?" Bujuk Jeffran sebisa mungkin dia harus bisa membuat mood bumil itu membaik.


"Baiklah, kalau itu demi kebaikan aku sama anak kita, aku gapapa." Jawab Kirana membuat Jeff tersenyum.


"Iya sayang, nanti setelah kehamilan kamu sedikit kuat, kita pergi berlibur ke Bali. Kita foto-foto di pantai, mau?"


"Mau, sayang mau banget."


"Iya, kamu nya harus sabar ya? Aku pasti bakalan ngabulin keinginan kamu kok, yang." Jawab Jeffran.


Awalnya, Kirana merasa kecewa karena keberangkatan nya ke Bali harus di tunda karena kehamilan nya yang masih sangat rentan.


Namun demi kebaikan nya, Kirana memilih menurut saja pada suami nya. Mau bagaimana lagi, dia tak bisa bersikeras ingin pergi, kini ada kehidupan lain di dalam rahim nya, dia tak bisa menyia-nyiakan nya lagi seperti nasib anak pertama nya dulu.


"Terimakasih, aku akan sangat bahagia."


"Apalagi aku, kita akan menjadi orang tua sebentar lagi dan ternyata benih ku tumbuh dengan baik di rahim mu."


"Ya, kali ini aku akan menjaga nya sebaik mungkin."


"Harus sayang, aku akan membantu mu menjaga anak kita." Jawab Jeffran sambil mengusap perut istri nya dengan lembut, keduanya saling melempar senyuman.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2