Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 99 - After 40 Days


__ADS_3

Jeffran masih menunggu dengan setia rujak pesanan nya, beberapa kali dia menelan ludah nya kesusahan, terasa ada yang mengganjal di tenggorokan saking tak sabarnya ingin mencoba rujak bumbu kacang yang terlihat sangat menggiurkan itu, dengan berbagai buah yang masih segar dan bermacam-macam.


"Buah nya apa aja, Tuan?" Tanya sang penjual. Jeff langsung menunjuk semua buah yang menurut nya akan sangat menyegarkan jika di buat rujak. Ibu penjual itu pun langsung membuatkan pesanan Jeff dengan cepat.


Tak butuh waktu lama, sebungkus rujak dengan bumbu kacang sudah di tangan. Dia memakan nya sambil memberikan selembar uang berwarna merah, tapi ibu nya tak punya kembalian jadi Jeff memberikan nya saja. Dia memakan nya sambil berjalan dengan lahap, bahkan saat memakan buah mangga muda yang terkenal asam, Jeff tak menunjukan ekspresi apapun.


"Sayang, mau?" Tawar Jeff, Kirana menggelengkan kepala nya. Dia memang tak menginginkan rujak sekarang, tapi entah kalau nanti siang atau nanti sore.


"Gak asem apa, Mas?" Tanya Kirana sambil nyengir-nyengir, buah mangga itu tetap akan asam walau sudah memakai bumbu rujak, tapi Jeff terlihat sangat menikmati rujak itu.


"Enggak kok Darl, manis banget ini buahnya. Mau?"


"Nggak deh, aku belum makan. Kamu juga belum makan, langsung makan rujak mana keliatan nya pedes banget."


"Gak pedes kok, makanya cobain dulu, nih jambu nya enak." Jeff menusuk sepotong buah jambu dan mengarahkan nya ke mulut Kirana, perempuan itu memakan nya. Memang enak dan terasa segar, tapi bagi perutnya yang kosong ini adalah biang penyakit.


"Mas, aku mau makan bubur ayam yang di depan komplek itu deh."


"Boleh, Sayang. Nanti kita berhenti disitu ya, Mas juga mau." Kirana mengangguk saja sebagai jawaban, sedangkan Jeff kembali fokus memakan potongan buah dengan saus kacang dan gula merah itu dengan lahap.


Sesuai kesepakatan, Pak Amar menghentikan laju kuda besi mewah itu di depan komplek, tepatnya di depan tukang bubur ayam yang setiap harinya selalu ramai oleh pembeli, konon katanya bubur ayam nya sangat enak dan beda dari yang lain.


"Bang, bubur nya empat ya."


"Di bungkus, atau makan disini?" Tanya Abang-abang penjual bubur itu.


"Makan disini aja, Bang." Jawab Kirana. Dia memanggil suami dan Pak Amar untuk ikut makan bubur di tempatnya langsung. Tak butuh waktu lama, empat porsi bubur ayam tersaji di depan mata. Aroma nya menguar nikmat, membuat perut semakin keroncongan. 


Ternyata yang membedakan bubur ini dengan bubur ayam yang lain, satu porsi bubur nya di lengkapi dengan berbagai macam sate-satean, seperti sate telur puyuh, usus, ati ampela dan masih banyak lagi pilihan nya.


"Sate usus nya enak." Ucap Kirana, dia dengan lahap memakan sate usus berbumbu kuning dan wangi daun jeruk itu.


"Mas lebih suka sate telur puyuh, sayang."


"Yaudah, ayo di makan."


"Ini kok empat mangkok, siapa yang makan dua?" Tanya Jeffran.


"Ya akulah Mas, aku kan lagi hamil jadi makan nya dua porsi." Jawab Kirana membuat Jeff terkekeh, ada-ada saja istri nya ini. Tapi selama itu bisa membuat mood nya membaik, tak masalah yang penting makanan itu sehat dan di larang dokter.


Singkatnya, ketiga orang itu pun selesai menyantap bubur mereka hingga habis tak bersisa, Kirana mengusap perutnya yang kekenyangan. Beda lagi dengan Jeff yang seketika nampak pucat setelah mobil kembali melaju.


"Duhh mual.." Gumam nya, dia menahan desakan itu hingga wajah nya memerah dan berkeringat.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Kirana saat melihat wajah pria tampan itu memerah dengan keringat yang membanjiri kening nya.

__ADS_1


"Gapapa Sayang, hanya sedikit mual saja." Jawab Jeffran pelan. Kirana meraih kepala Jeff dan memijat kening nya dengan lembut, sedangkan Jeffran menduselkan wajah nya di leher Kirana, mengendus aroma yang memabukkan itu dalam-dalam. Dan ajaib nya rasa mual itu hilang seketika, berarti obat paling ampuh agar tidak mual adalah aroma tubuh istri nya yang selalu menenangkan.


Singkatnya, mobil itu berhenti di parkiran mansion. Kedua orang tua Queen, bersiap menyambut sepasang insan itu di ambang pintu, pasangan suami istri yang selalu nampak harmonis meski sudah membina rumah tangga puluhan tahun itu tersenyum ke arah Jeff dan Kirana yang turun dari mobil dengan Jeff yang menggamit mesra tangan nya.


"Selamat datang, sayang." Ucap Carina lalu memeluk Kirana, perempuan itu mengernyit, ada apa? Terasa ada hal yang cukup mengganjal disini.


"Mama kenapa?"


"Kamu sedang mengandung pewaris keluarga Leonard, selamat Sayang." Ucap Carina dengan antusias, dia bahkan menciumi wajah Kirana bertubi-tubi.


"Mama tahu dari mana?"


"Siapa lagi kalau bukan suami mu yang sudah ember kemana-mana." Celetuk Radit sambil tersenyum geli melihat Jeff yang nampak pias.


"Kamu ini Mas, selalu aja ember."


"Ya emang nya kenapa sih Babe? Kan emang kamu lagi hamil."


"Iya iya, jadi sekarang kita ke pemakaman?" Tanya Kirana.


"Kondisi mu bagaimana? Kalau pusing atau lemas, sebaiknya kamu diam saja di rumah, sayang. Ingat kamu sedang hamil, harus memperhatikan kesehatan janin mu." Nasehat Carina, tapi Kirana yang merasa dirinya baik-baik saja kekeh ikut ke makam mendiang kakak nya, Queen.


"Yasudah, ganti pakaian mu dulu, sayang." Ucap Carina, Kirana mengangguk cepat dan pergi ke kamar nya untuk berganti pakaian serba hitam.


"Selamat ya Tuan Jeffran, calon Daddy nih." Ucap Radit sambil menepuk pundak menantunya.


"Tentu saja, Nak. Lalu bagaimana kelanjutan penyelidikan mu itu, apa sudah membuahkan hasil?" Tanya Radit, dia menatap menantu nya dengan tatapan tajam.


"Sudah Pah, aku Jeffran Abian mana ada yang bisa sembunyi dariku!" Bangga Jeff membuat sepasang suami istri itu kompak mencebikan bibir mereka.


Singkatnya, mereka pun berangkat ke makam Queen. Tak lupa, bunga dan beberapa buket untuk memperingati empat puluu hari kepergian wanita yang pernah menghuni hati seorang Jeffran Abian Leonard. Wanita yang menjadi cinta pertama bagi Jeff. 


Sepanjang perjalanan, Jeff terus menggenggam tangan Kirana cukup erat, hatinya bergejolak. Entahlah setiap mengingat nama Queen, mood nya selalu berantakan. Entah karena rasa bersalah atau apa, tapi yang pasti hatinya selalu tak baik-baik saja saat mengingat semua tentang sosok wanita itu, kebersamaan mereka yang terasa sangat singkat selalu membekas dalam ingatan Jeffran.


"Tak apa Mas, aku tahu ini bukan hal yang mudah. Tapi kuatkan hatimu, kamu pasti bisa melewati semua ini."


"Aku tahu, sayang. Meski pun Queen pernah menyakitiku dengan cara kotor tapi dia tetap cinta pertamaku!"


"Cinta pertama itu sangat sulit di lupakan ya? Tapi cinta pertama ku masih ada disini, dia orang yang paling baik dan bertanggung jawab."


"Siapa, sayang?" Tanya Jeffran, Kirana tak pernah mengatakan apapun tentang masa lalunya.


"Kamu, kamu adalah cinta pertamaku. Semoga menjadi cinta terakhir juga," jawab Kirana, membuat Jeff tak menyangka kalau dia adalah cinta pertama perempuan berparas cantik, pintar dan anggun itu.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu saja, aku tak pernah mencintai siapapun karena aku trauma dengan yang namanya cinta. Aku hanya khawatir kalau aku akan mengalami seperti yang ibu rasakan, korban dari keserakahan lelaki bejat! Tapi, setelah bertemu denganmu, tepatnya setelah malam itu aku mulai merasa nyaman dan ya akhirnya nyaman itu berubah jadi cinta." Jelas Kirana, membuat senyuman lebar tersungging di bibir Jeff.


"Terimakasih, sudah menjadikan aku cinta pertama."


"Sama-sama, aku tak meminta mu untuk melupakan cintamu pada kakak Queen, atau menghapus semua kenangan bersamanya, tapi setelah ini aku berharap kamu bisa fokus pada masa depan kita dan anak kita nanti. Bisakah aku meminta hal seperti ini?"


"Bisa sayang, aku akan melakukan nya." Jawab Jeffran sungguh-sungguh, dia memeluk Kirana dan mengecup kening nya.


Mobil berhenti di area pemakaman khusus keluarga Jeffran, semua keluarga Leonard di makamkan disini termasuk janin yang pergi waktu itu. Kedua pasangan itu turun bersamaan dari mobil dan berjalan pelan menuju gundukan tanah yang mulai mengering, namun bunga nya masih nampak segar.


"Queen, aku datang." Gumam Jeff, dia mengusap pusara mendiang sang istri. Masih terasa basah luka yang di tinggalkan wanita itu, belum lagi kering air mata yang tumpah setelah kepergian nya, dan tak terasa kini tepat empat puluu hari sudah perempuan cantik bernama Queen Ariana itu pergi meninggalkan dunia yang di penuhi dengan rasa sakit ini.


Mereka menaburi bunga dan menyiram gundukan tanah itu dengan air, entah apa maknanya Jeff maupun Kirana tak tahu kenapa. Tapi orang tua Queen melakukan hal itu, raut wajah mereka nampak sendu dan tak lama air mata mereka menetes. Begitu juga Kirana, dia masih ingat kali terakhir dia bertemu dan bicara dengan Queen. 


Perempuan itu sangat ceria seolah tak punya beban apapun yang membuat hatinya takut, raut wajah kesedihan pun tak Kirana lihat saat itu, dia begitu pasrah dengan hidupnya.


Bahkan dengan tegarnya dia menitipkan suaminya kepada wanita lain, sungguh demi apapun mengingat itu semua membuat hati Kirana terasa sesak. Meskipun hanya satu kali bertemu, tapi Kirana yakin kalau Queen itu sebenarnya wanita yang sangat baik, hanya saja nafsuu membuat nya buta dan melupakan logika, mengejar kepuasan duniawi yang tiada habisnya.


"Kakak, aku sudah menepati janjiku padamu. Saat ini, aku sedang mengandung buah hati kamu. Aku meminta izin dan restumu agar hidup kami bahagia, anda juga harus bahagia di alam keabadian, kami semua menyayangimu." Ucap Kirana, dia mengusap pusara Queen lalu mencium nya dalam-dalam.


Kalau sudah tiada, mau mencium saja sulit. Hanya bisa menciumi pusara nya, mau bertemu pun hanya bisa menatap gundukan tanah tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Maka bersyukurlah saat orang terdekat kita masih hidup, mau bertemu kita bisa melihatnya tertawa, mau memberi pun sangat terlihat di terima atau tidaknya, berbeda dengan memberi pada orang yang sudah pergi, hanya memberikan hadiah berupa doa, itupun entah sampai atau tidak.


Kirana bangkit, dia melihat kedua mata Jeff berkaca-kaca. Kalau berkedip saja, pasti air mata itu luruh membasahi wajahnya. Kirana menggenggam tangan nya, dia tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Tumpahkan saja, tak apa-apa. Menangis bukanlah hal yang besar dan memalukan," ucap Kirana, Jeff berkedip dan benar saja air mata itu jatuh seketika. Dia memeluk Kirana dengan erat, menumpahkan tangis dan segala keluh kesah nya di pelukan wanita yang kini menjadi tempatnya berbagi.


Tak lama, terdengar suara deru mesin sepeda motor yang mendekat. Seorang pria dengan setelan serba hitam datang, dialah Andre. Pria yang juga mencintai Queen selama beberapa tahun ini, dan kini berkat Hanna dia bisa sedikit demi sedikit mengikis nama Queen di hatinya.


"Andre.."


"Selamat siang Mama Carin, papa Radit."


"Kau disini?" Tanya Radit.


"Ya tentu saja, aku tak bisa melewatkan peringatan empat puluh hari kepergian wanita yang pernah aku cintai." Jawab Andre membuat semua orang menganga, termasuk Jeffran.


"Maksudmu?"


"Maaf Jeff, aku diam-diam mencintai mendiang istrimu. Tapi hanya sekedar mencintai saja, tidak lebih." Jawab Andre membuat Jeff terdiam.


"Kita bicarakan semua ini nanti." Jawab Jeff datar, lalu memberi ruang pada Andre untuk menaburkan bunga di atas pusara Queen.


"Hai Queen, bagaimana kabarmu? Baik kan, aku sudah menemukan perempuan yang aku rasa dia cocok denganku. Tak apa, di dunia ini kita tak berjodoh. Tapi seperti ucapan ku di hari itu, aku pasti menepati nya." Gumam Andre sambil mengusap pusara Queen, jujur saja hati nya terasa sesak hingga tak terasa setetes cairan bening mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2