
"Terimakasih pak, anda bisa pulang." Ucap Jeff setelah mereka sampai di unit apartemen milik nya, Kirana langsung menata belanjaan nya di kulkas. Tapi baru saja akan meletakan ikan di frezeer, sepasang tangan kekar langsung meraup pinggang ramping nya dari belakang.
"Aahhh.."
"Kenapa mendesaah sayang, aku bahkan belum melakukan apa-apa." Bisik Jeff di telinga Riana, membuat perempuan itu merinding seketika.
Suara Jeff masih selalu terdengar seksii bagi Kirana, hanya bisikan saja mampu membuat inti nya terasa berkedut manja. Untung saja dia masih dalam masa nifas, jadi Jeff tak mungkin melakukan apapun padanya, hanya memeluk saja. Tapi pelukan pria itu cukup erat membuat nya sesak.
Di lain situasi, Andre masih belum bisa tertidur juga. Dia sudah berguling kesana kemari, tapi rasa kantuk tak juga kunjung datang, membuat nya cukup frustasi. Belum lagi besok ada jadwal operasi di rumah sakit, belum juga dia harus melihat keadaan Queen di rumah nya, hari yang sibuk tapi mau bagaimana lagi, ini sudah pekerjaan nya.
"Yaelah, baru jam 12 ternyata. Ini mata sepet amat di ajakin tidur malah terus aja melek." Gerutu Andre, sambil bangun dari tiduran nya, tiba-tiba saja dia merasa lapar. Itu penyakitnya yang tak pernah berubah sedari dulu, kalau kebangun tengah malam pasti lapar.
"Laperr, tapi malu dong kalau ke dapur jam segini." Gumam Andre, tapi dia paling tak bisa menahan lapar, akhirnya dengan sejuta langkah keraguan dia keluar dari kamar dan pergi ke dapur, tapi saat di depan kulkas dia malah berpapasan dengan Hanna yang juga ingin minum.
"Kak Andre, kenapa disini malem-malem?" Tanya Hanna, dia memegang botol berisi air dingin di tangan nya. Andre mendadak salah tingkah dan menggaruk tengkuknya sambil cengengesan.
"Laper." Jawab nya, membuat Hanna terkekeh.
"Yaudah makan sana, ada makanan yang tadi." Tunjuk Hanna pada tudung saji di atas meja makan.
"Temenin dong, malu kalo makan sendiri, mana di rumah calon mertua lagi."
"Idih calon mertua, emangnya aku mau sama kamu? Kayaknya aku belum bilang mau deh." Ucap Hanna sambil tersenyum.
"Kalau kamu gak mau, mana mungkin kamu mau pas aku cium tadi, dua kali lho. Cuma aku masih baik sih, gak raba-raba itu kamu, padahal pengen. Kayaknya kenyal banget, by the way itu kamu besar ya? No berapa?"
"Jangan mesum, cepetan makan atau aku tinggal?" Ancam Hanna, dengan cepat Andre duduk di kursi dan memulai acara makan nya dengan Hanna yang menunggui nya dengan duduk berhadapan dengan pria itu.
"Udaranya dingin, tapi kamu malah pake tengtop gitu. Kenapa gak sekalian aja gak pake baju gitu, biar gak nanggung aku nafsuu nya." Celetuk Andre membuat Hanna mendelik sebal. Sepertinya lambat laun dia akan terbiasa dengan Andre yang selalu mesum, apapun topik pembicaraan nya pasti ujung-ujungnya ke arah sana.
"Kamu beneran gak punya pacar?"
"Nggak tuh, terakhir pacaran itu waktu SMA deh." Jawab Hanna, gadis itu anteng memakan buah jeruk.
"Kok bisa?"
"Ya bisalah, aku males pacar-pacaran. Kalo udah jodoh kan nanti datang sendiri, seperti kamu gitu." Cetus Hanna membuat Andre terkekeh geli.
"Ohh iya juga sih, aku juga terakhir punya pacar itu waktu kuliah kedokteran di luar negeri. Tapi ya seperti biasa, aku jadi korban ghosting, kalo gak di ghosting ya di selingkuhin. Miris memang." Ucap Andre pelan.
"Kok aku dengernya kasian ya?"
"Ya aku memang patut di kasihani, kisah cintaku memang semenyedihkan itu. Tapi setelah aku bertemu seseorang, aku berusaha mendapatkan nya dengan segala cara, tapi lagi-lagi aku gagal. Dia memilih menikah dengan pria lain yang lebih mapan, waktu itu aku hanya dokter biasa, belum seperti saat ini." Jelas Andre, tatapan mata nya terlihat sendu.
"Apa saat ini wanita itu masih punya posisi di hatimu, kak?" Andre mengangguk, membuat Hanna diam. Bagaimana bisa dia menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria yang hatinya masih di isi wanita lain?
"Ayo berjuang bersama, aku ingin melupakan dan merelakan nya, dan ingin memulai hidup baru dengan wanita yang baru juga, kamu mau?"
"Tentu saja, aku pasti akan menggantikan posisi wanita itu di hatimu kak." Ucap Hanna dengan percaya diri.
"Baguslah, apa disini tak ada kopi?" Tanya Andre sambil celingukan.
"Kopi? Di tengah malam seperti ini? Yang benar saja."
"Nanggung, aku pasti takkan bisa tidur lagi." Jawab Andre santai sambil melahap makan tengah malam yang masih tersisa cukup banyak di piringnya.
"Tapi aku mengantuk, ingin tidur."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita tidur bersama? Aku berjanji takkan melakukan apapun, mungkin hanya memeluk saja tak lebih." Ucap Andre memberikan usulan, yang tentu nya tetap dengan kemesuman yang sudah mendarah daging.
"Jangan modus, itu tak berlaku untukku. Aku tidur duluan ya, silahkan makan yang kenyang."
"Sayang, kamu tega ninggalin aku disini sendirian? Temenin bentar lagi aja, sampe makanan aku habis."
"Iya iya, ayo cepatan makannya. Aku harus kerja besok," ucap Hanna, dia kembali duduk di tempat nya dan mengupas buah jeruk lagi.
__ADS_1
"Suka amat sama jeruk."
"Iya, suka aja sih soalnya seger." Jawab Hanna, dia asik memakan buah berbulir dengan kandungan air yang melimpah itu.
Setelah pembicaraan itu, keduanya kompak diam-diaman. Hanna fokus dengan jeruk, Andre juga fokus dengan makanan nya yang belum habis.
"Sudah?" Tanya Hanna, dia bangkit saat melihat piring Andre sudah bersih, hanya tersisa sendok dan garpu nya saja.
"Kenyang sayang.."
"Yaudah, bobok sana. Aku cuci piring dulu." ucap Hanna, dia membawa piring kotor bekas makan Andre ke wastafel dan mencuci nya.
Pria itu bangkit dari duduknya lalu mendekat dan memeluk Hanna dari belakang dengan mesra nya, pria itu menyandarkan dagu nya di pundak Hanna dengan nyaman nya.
"Kenapa lagi?"
"Gak ada, kamu hangat banget. Pengen deh bisa tidur sama kamu, sambil peluk kamu erat, pasti nyaman." Jawab Andre dengan senyum manis nya.
"Nanti kalo udah nikah ya."
"Kalo udah nikah, di malam pertama pokoknya kamu gak boleh tidur, gak boleh pakai baju semalaman."
"Lah kok gitu? Nanti hipotermia dong." Ucap Hanna, mana bisa semalaman tanpa memakai apapun? Ngaco sekali pria itu.
"Nggak dong, kan ada aku yang siap kapan saja menghangatkan tubuh kamu." Jawab Andre, tangan nya mulai bergerak naik dan berhenti tepat di dua bulatan itu, membuat Hanna memekik dan langsung meronta.
Andre membalik tubuh Hanna, dia mengungkung perempuan itu di tengah tubuhnya. Dia kembali mencium bibir Hanna, ******* nya dengan nikmat, meski tanpa balasan apapun dari perempuan itu. Dia hanya diam saja saat Andre mencium bibirnya.
Andre merasa sangat gemas ingin meremaas dua bulatan kenyal di dada Hanna, dia melakukan nya dan tak mendapat perlawanan dari Hanna. Dia sudah larut dalam permainan bibir Andre, pria itu sangat pandai memanfaatkan situasi, apapun keadaan nya dia bisa menggunakan nya sebaik mungkin. Sudah tidak di ragukan lagi, kemesuman Andre sudah di level paling tinggi.
Balik lagi ke situasi di apartemen. Setelah selesai membereskan belanjaan, kedua nya pun langsung berbaring di kamar.
"Besok aku tak pulang, kamu yakin akan berani tidur disini sendirian?" Tanya Jeff pelan.
"Tentu saja, memangnya apa yang harus aku takutkan?" Balik tanya Kirana, membuat Jeff mendengus pelan. Dia sebenarnya tak mau pulang, dia lebih merasa nyaman disini, mungkin karena ada Kirana yang selalu memanjakan nya, kapanpun.
Keduanya pun tidur dengan saling memeluk satu sama lain, berbagi kehangatan di balik selimut tebal.
Pagi harinya, Kirana terbangun lebih dulu. Dia segera membersihkan tubuhnya, perempuan itu sudah sangat terbiasa bangun pagi buta, jadi tak memerlukan alarm apapun, jika sudah pukul 4 dia akan terbangun dengan sendirinya.
Setelah membersihkan tubuhnya, dia berpakaian dan pergi ke dapur untuk memasak dan melanjutkan pekerjaan kemarin yang belum selesai karena Jeff keburu merengek ingin tidur.
Kirana menekan saklar lampu dan segera memulai pekerjaan nya dengan menata bahan-bahan makanan yang kemarin dia beli, bahkan belum sempat mencicipi buah stroberi kesukaan nya semalam.
Iseng, dia mencoba memakan satu buah berwarna merah itu. Dia menggigit nya dan ternyata rasanya jauh berbeda dengan stroberi yang sering dia beli di pasar, ini rasanya sangat manis tak ada sedikitpun rasa asam, memang ada harga ada kualitas ya. Tapi gak 500 ribu juga kali.
"Pantesan mahal, manis banget, enak. Tapi kalo belanja nya gak sama dia, aku gak mau beli deh, mehong say." Gumam Kirana sambil terkekeh, dia mencuci semua buah dan sayuran yang kemarin dia beli.
Rencananya nanti malam dia akan membuat salad buah untuk Jeffran, meskipun pria itu mengatakan takkan pulang, tapi tak masalah bisa di simpan di kulkas, asalkan tetap dingin. Kirana mulai berpikir cukup keras, akan memasak apa dia pagi ini? Rasanya semua menu andalan nya sudah pernah dia masakan untuk Jeff, tapi pria itu selalu memakan apapun yang dia masak kan? Tapi tetap saja ini sangat membingungkan.
"Masak apa ya? Salmon steak aja kali ya, terus pake saus gitu." Gumam Kirana, akhirnya dia memutuskan memasak itu saja.
Di kamar, Jeff membuka kedua mata nya dengan malas saat tak sengaja tangan nya meraba sisi ranjang sebelahnya, ternyata sudah kosong bahkan kasur nya sudah terasa dingin.
"Sayang.." Panggil Jeff pelan, dia menyangka Kirana berada di kamar mandi. Tapi saat menoleh, pintunya terbuka berarti perempuan itu tak ada di dalam sana.
Jeff melirik jam kecil di meja nakas yang menunjukan pukul 4 lebih seperempat, seketika itu juga dia tau kemana perginya Kirana.
"Bangun sepagi ini, Kirana ku memang luar biasa!" Gumam Jeff, dia bangkit dari rebahan nya dan pergi ke kamar mandi, mencuci muka dan pergi keluar dari kamar menyusul sang pujaan hati yang sedang berkutat dengan alat masak.
"Sayang.." Panggil Jeff, membuat Kirana yang sedang sibuk membalik ikan di wajan itu langsung menoleh.
"Kenapa bangun?"
"Gak enak aja tidurnya, soalnya kamu udah bangun duluan." Jawab Jeff, pria itu mendekat dan memeluk Kirana dari belakang dengan mesra. Pria itu juga menyandarkan dagu nya di pundak Kirana dengan manja, bermanja-manja dengan Kirana memang tak pernah membuatnya bosan, yang ada malah ingin terus menerus.
__ADS_1
Kirana tersenyum samar, dia mengusap pelan tangan Jeff yang melingkar di pinggang nya.
"Masak apa sayang?"
"Salmon steak, habisnya bingung mau masak apa lagi." Jawab Kirana lirih.
"Pake saus barbeque terus kasih sayuran yang di panggang, pasti enak."
"Tapi ini kan steak ikan, bukan steak daging. Nanti gak nyambung rasanya."
"Saus barbeque selalu enak untuk steak apapun sayang, atau tidak pakai wasabi." Usul Jeff, tapi Kirana tak menyukai wasabi, menurutnya rasanya pedas dan menyengat, membuat hidungnya terasa sakit.
"Nggak deh, aku gak suka wasabi."
"Yaudah terserah kamu saja sayang." Akhirnya Jeff mengalah, biarkan saja perempuan itu berkreasi sendiri dengan kemampuan memasaknya.
Jeff melerai pelukan nya, dia memilih duduk saja di kursi yang dekat dengan area dapur tempat Kirana memasak. Wangi yang lezat mulai menguar, akhirnya Kirana menuruti keinginan Jeff.
Meskipun dia tak yakin apakah rasanya akan seenak yang di ucapkan Jeffran? Atau malah akan terasa aneh, harusnya dia memasak steak daging saja tadi.
Dia belum menyajikan nya, masih terlalu pagi untuk sarapan, pria itu juga takkan mau makan sepagi ini. Kirana juga membuat pudding mangga dengan irisan buah mangga sebagai toping nya, tak lupa juga menambahkan krim kocok membuat tampilan puding itu sangat menggiurkan.
"Sayang, sudah selesai? Aku lapar." Ucap Jeff, Kirana yang sudah selesai pun segera menyejikan nya di meja, juga pudding yang suda dia buat tadi.
"Itu puding apa, sayang?"
"Puding mangga susu, dengan krim kocok." Jawab Kirana setelah selesai dengan cara tata menata makanan di meja, tepatnya di depan Jeff.
"Terlihat sangat enak sayang, aku tak sabar ingin mencoba nya. Kapan kamu akan membuat salad?"
"Nanti sepulang kerja." Jawab Kirana, dia memulai acara makan nya terlebih dulu. Ternyata rasanya sangat enak, apalagi di padukan dengan sayuran panggang yang juicy.
"Tapi nanti malam aku tak pulang."
"Kan bisa di makan besok sayang, atau aku bawakan ke kantor." Jawab Kirana membuat Jeff tersenyum, benar juga ucapan Kirana.
Jeff pun memulai acara sarapan pagi nya dengan lahap, Kirana selalu memanjakan lidah nya dengan masakan-masakan yang lezat, apalagi dia sendiri yang memasak dan menyajikan nya secara langsung di depan nya, membuat dunia nya terasa sempurna.
Singkatnya, sarapan sudah selesai. Kirana sedang bersiap-siap untuk bekerja, dan Jeff yang juga baru selesai mandi. Kirana memang selalu mandi terlebih dulu sebelum memasak, jika bukan waktu libur. Kalau libur bekerja, dia akan mandi setelah selesai memasak dan beberes apartemen yang cukup luas ini.
Jeff mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil, Kirana yang melihatnya segera merebut handuk dari tangan Jeff dan mengambil alih pekerjaan pria itu untuk mengeringkan rambut nya.
Jeff duduk di kursi meja rias dengan Kirana yang berdiri di belakangnya, penampilan perempuan itu memang tak pernah gagal membuatnya terpesona, padahal hanya blouse sederhana dan rok span selutut, sangat jauh dari kesan mewah, harga blouse nya saja hanya seratus ribuan, tapi semahal apapun pakaian nya tergantung orang yang memakai nya.
Pakaian nya mahal serba branded tapi yang memakainya murahan, tetap saja akan terlihat murahan. Begitu pun sebaliknya.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Kirana, dia menghentikan sejenak aktivitas nya di kepala Jeff.
"Sudah menyiapkan pakaian kerjaku?"
"Tentu saja, aku sudah menggantungnya di lemari." Jawab Kirana membuat Jeff tersenyum. Kirana bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, yeahh Kirana memang yang terbaik.
Semuanya sudah selesai, keduanya pun pergi dengan Pak Amar yang sudah menunggu di parkiran apartemen, setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Pak Amar melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, suasana pagi yang terasa berbeda, ada rasa yang sedikit menyesakkan dada, sepertinya akan terjadi sesuatu tapi entah apa itu.
'Ada apa ini? Kenapa perasaanku ku tak enak begini?' Batin Jeff, membuat pria itu melamun sepanjang perjalanan.
"Kenapa melamun saja? Kamu baik-baik sajakan?" Tanya Kirana, membuat Jeff terhenyak dan langsung menatap Kirana.
"Entahlah, hatiku terasa sedikit sesak, sepertinya ada hal buruk yang akan terjadi, tapi entah apa." Jawab Jeff pelan.
Deggg...
Jantung nya terasa ngilu, tiba-tiba saja dada nya terasa sakit. Kirana meringis pelan sambil memegangi dadanya, entah kenapa dia berpikir ini ada hubungan nya dengan kondisi kesehatan Queen saat ini
__ADS_1
........
🌷🌷🌷🌷🌷