
Kirana tertidur pulas, melupakan sejenak rasa sakit dan kesedihan nya karena kehilangan anak pertama nya bersama Jeff, meski tak di harapkan tapi rasanya tetap sakit kan? Mengingat anak itu tak bersalah, yang bersalah adalah orang tua nya.
Sedangkan Jeffran, dia memutuskan berangkat ke luar kota malam ini juga. Dia pulang ke rumah untuk berkemas dan berpamitan pada sang istri.
"Sayang, aku berangkat malam ini ya.." Queen yang sudah tertidur, samar-samar merasakan ada suara suami nya, langsung membuka kedua mata nya perlahan.
"Mas, baru pulang?" Tanya Queen, dia melirik jam dinding baru menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Iya sayang, keberangkatan Mas ke luar kota di percepat. Jadi Mas harus berangkat kesana malam ini juga." Jawab Jeff, dia memasukkan beberapa setel pakaian nya ke dalam koper.
"Hati-hati di jalan Mas, berangkat dalam keadaan sehat, pulang juga harus dalam keadaan sehat ya."
"Iya, tentu saja sayang. Mas pergi dulu ya, sampai jumpa 3 hari lagi. Aku mencintaimu." Jeffran mengecup mesra kening istrinya, lalu pergi keluar kamar dengan menyeret koper nya.
Queen menatap punggung suami nya yang menghilang di balik pintu, terasa ada yang aneh dengan suami nya. Apa pria itu sedang punya masalah yang membuat nya ingin menghindar? Tapi apa itu, dia tak tau hanya bisa sekedar menebak tanpa berani bertanya lebih lanjut.
Jeff sedang dalam perjalanan ke bandara, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Hanya ada keheningan yang menemani sepanjang perjalanan mereka dari mansion hingga ke bandara, membuat Pak Amar yang tau masalah tuan nya itu memilih ikut diam saja daripada kena semprot tuan bos nya yang tengah di landa kegalauan itu.
"Tuan, sudah sampai." Jeff melirik ke samping, benar saja dia sudah berada di kawasan bandara.
"Terimakasih Pak, saya pergi dulu." Pamit Jeff pada supir nya.
"Hati-hati di jalan, Tuan." Jeff hanya mengangguk dan pergi menjauh dari hadapan Pak Amar.
Jeff memilih menghindar dari Kirana dulu, dia tak mau menyakiti perempuan itu dengan kata-kata pedas nya, padahal nyatanya Kirana sudah terluka dengan kata-kata nya yang seolah menyalahkan dirinya atas kepergian anak nya.
Singkat nya, Jeff sudah duduk di pesawat yang beberapa menit lagi akan lepas landas. Jeff menjadi pendiam, dia juga murung. Rencana nya ingin memadu kasih dengan Kirana gagal sudah, Kirana juga tak mengantar nya ke bandara seperti rencana nya, semua nya gagal total.
"Kiran, maaf aku pergi tanpa berpamitan. Sebaiknya aku menghindar darimu dulu, kecewa sekali dengan semua ini." Gumam Jeff, dia mengeluarkan ponsel nya. Menatap kilas poto Kirana yang dia ambil secara diam-diam saat kedua menghadiri rapat di cafe bintang purnama, Kirana terlihat cantik meskipun dari samping. Tapi dia terlanjur kecewa pada perempuan itu, dia menonaktifkan ponsel pintar nya dan kembali memasukan benda canggih itu ke dalam saku celana nya.
Jeff memutuskan tidur sepanjang perjalanan nya, melupakan sejenak ke kecewaan nya pada Kirana. Meskipun dia sadar benar ini semua bukan salah Kirana saja, tapi dia juga ikut andil dalam masalah ini. Dia yang begitu tak tau tempat, dimana saja dia menginginkan nya, dia melakukan nya tanpa peduli pada Kirana, dia begitu egois dan hanya peduli pada nafsuu nya saja.
Di rumah sakit, Dokter Bima berusaha menghubungi nomor Kirana tapi tak satu pun panggilan nya di angkat oleh perempuan cantik itu.
"Isshh, kemana lah Kirana ini." Gumam Dokter Bima, dia kembali mencoba menghubungi nomor Kirana lagi, tapi masih tak di angkat juga.
"Apa mungkin masih tidur? Tapi biasa nya jam segini, Kirana sudah kesini." Dokter Bima melihat jam yang melingkar di tangan nya menunjukkan pukul 8 lebih, hampir jam 9 pagi. Sudah terlalu siang untuk pergi bekerja.
"Nanti saja ku hubungi lagi." Gumam Dokter Bima lalu pergi dari ruangan ibu Nita.
Kirana baru saja terbangun dari tidur nyenyak nya, dia meringis pelan. Perut nya terasa begitu ngilu, terasa ada luka yang menggores di dalam nya.
"Sudah siang rupanya." Gumam Kirana sambil melihat ke sekeliling, dia mendesah kecewa. Dia berharap Jeff disini menunggui nya, tapi ternyata pria itu tak ada. Salah nya juga terlalu berharap pada pria itu.
"Jangan terlalu berharap, Kirana. Sadar diri dia suami orang, isshh kau ini." Gumam nya sambil menepuk kening nya cukup keras.
__ADS_1
krieett..
Pintu terbuka, menampilkan perawat dengan seragam serba putih nya. Dia tersenyum manis saat melihat Kirana sudah bangun juga tengah melihat ke arah nya.
"Selamat pagi, Nona Kirana. Bagaimana, apa ada yang terasa sakit?"
"Perut sus, ngilu sekali."
"Itu wajar Nona, kemarin kan Nona habis di kiret."
"Kiret? Apa itu?" Tanya Kirana, dia mana tau hal apa itu.
"Mengambil janin Nona dari dalam rahim, jadi ngilu nya pasti karena goresan alat-alat medis."
"Tapi tak ada jahitan, Sus?"
"Tidak Nona, karena tangan dokter yang langsung masuk ke dalam."
"H-ahh?"
"Sudahlah Nona, ini sarapan dan obat yang harus anda minum. Untuk seminggu kedepan anda di rawat disini." Saran suster itu.
"Saya akan pulang sekarang, Sus. Saya harus melihat keadaan ibu saya di rumah sakit, Sus."
"Saya tak bisa melarang anda Nona, tapi Nona harus menebus obat terlebih dulu. Sarapan terlebih dulu." Ucap sang perawat.
Setelah sarapan dan memakan obat nya, Kirana meminta perawat itu membuka infusan nya, dia harus pulang. Dia tak ingin terus berada di tempat ini.
Kirana berjalan tertatih, meski begitu dia tetap berusaha kuat. Dia tak mau menyusahkan siapapun, atau bergantung pada siapapun. Dia menebus obat dengan uang nya sendiri, keluar dari rumah sakit dan menaiki taksi untuk sampai kerumah sakit tempat ibu nya di rawat.
Singkat nya, taksi yang membawa Kirana sampai di depan rumah sakit itu, perempuan itu turun setelah membayar ongkos nya sesuai argo. Lagi-lagi Kirana kesusahan berjalan, hampir saja terjatuh kalau saja sepasang tangan kekar tak menangkap nya dengan cepat. Kirana mendongak, rupanya Dokter Bima yang tak sengaja lewat dan melihat Kirana kesulitan mengatur langkah nya sendiri, dia berlari dan benar saja kalau dia tak gerak cepat Kirana pasti sudah terjatuh.
"Kau tak apa-apa, Kiran?" Tanya Dokter Bima dengan khawatir.
"Ti-tidak Dok, terimakasih sudah menolong saya." Ucap Kirana lirih.
"Wajah mu pucat, kau sakit?"
"Tidak, saya baik-baik saja. Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?"
"Masih seperti kemarin, Kiran. Kau darimana saja? Aku menelpon mu dari tadi pagi, tapi kau tak mengangkat nya sama sekali. Kau baik-baik saja kan? Apa kau punya masalah?"
"Tidak dokter, saya baik-baik saja. Saya permisi dok." Kirana kembali melanjutkan langkah nya dengan perlahan. Dia memaksakan langkah nya, perjuangan yang cukup panjang untuk sampai ke ruangan ibu nya di rawat.
Dokter Bima menatap Kirana yang nampak aneh, dia berjalan sangat pelan seolah ada yang sedang dia sembunyikan, sesekali memegangi perut nya dan juga ada plester di punggung tangan nya.
__ADS_1
'Entah apa masalah yang sedang kamu hadapi Kirana, tapi hatiku merasa kamu sedang tak baik-baik saja. Bahkan dari tatapan mu saja, aku tau ada kesedihan yang berusaha kau sembunyikan. Semoga kau bisa melewati cobaan mu sebaik mungkin.' Batin Dokter Bima. Dia berbalik dan pergi karena ada telepon penting dari seseorang.
Kirana membuka pintu ruangan ibu nya, tapi dia di buat terkejut setengah mati saat melihat siapa yang sedang duduk di sofa dengan tatapan lurus ke arah nya.
"Selamat siang."
"Ya, siang. Darimana saja kau?" Tanya nya, siapa lagi kalau bukan Sam yang belum kapok setelah di tendang dan di tampar oleh Jeff, pria itu masih menginginkan Kirana.
"Bukan urusanmu!" Jawab Kirana singkat, dia meletakkan tas slempang nya di meja nakas. Membuka botol minum dan meminum isinya hingga tandas.
"Kau kehausan?"
"Karena aku minum, ya berarti aku haus. Begitu saja kau tak tau?" Balik Tanya Kirana dengan ketus.
"Kenapa kau selalu saja ketus padaku, Kiran? Sedangkan pada Jeff, kau berubah jadi perempuan lembut. Apa kau menyukai pria itu? Sadarlah Kiran, dia pria beristri."
"Suka atau tidak itu urusanku, bukan urusanmu. Jadi berhentilah ikut campur dalam urusanku! Kau takkan di gaji karena mengurusi urusanku." Cetus Kirana membuat Sam bungkam.
"Pergilah, kumohon. Aku sangat tak ingin bertemu dengan mu, aku tak suka ada pria yang berbuat kurang ajar."
"Aku minta maaf, sungguh aku tak berniat melakukan itu padamu. Sungguh, Kiran!"
"Jangan bicara padaku atau menemui ku lagi, aku lelah ingin istirahat." Jawab Kirana tanpa menatap ke arah Sam.
"Baiklah, aku harap kamu bisa memaafkan aku."
"Pergilah." Usir Kirana lagi. Sam pun pergi dari ruangan rawat ibu Kirana, membawa rasa penyesalan.
Kirana membaringkan tubuh lelah nya di ranjang, sesekali dia melirik ke arah ibu nya yang masih terbaring lemah tanpa bergerak sedikit pun, dia begitu merindukan sosok bawel ibu nya.
"Bu, aku rindu. Aku benar-benar tak punya sandaran, tempat berkeluh kesah. Kemana lagi kalau pada Ibu." Gumam Kirana, dengan mata yang berkaca-kaca.
Di belahan bumi lain, Jeff baru saja sampai di hotel. Dia menginap dulu setelah landing beberapa menit lalu, dia menghela nafas nya. Terasa berat, apalagi disana dia menghindari masalah besar. Bukan nya dia tak mau masalah ini berlarut-larut, tapi melihat Kirana seketika hati nya terasa sesak.
Jeff membaringkan tubuh nya di ranjang empuk, menatap langit-langit kamar yang dia tempati. Hati nya bimbang, dia begitu merindukan Kirana tapi ego nya berkata jangan menghubungi perempuan itu sebelum hati nya merasa tenang.
"Kiran, maafkan aku. Aku begitu merindukan mu saat ini, sungguh aku tak bermaksud menyakiti mu dengan kata-kata ku." Gumam Jeff, dia menatap poto perempuan itu di ponsel nya. Hanya itu yang bisa dia lakukan, ingin sekali memeluk perempuan itu tapi apa daya.
Dia terlalu bertindak terburu-buru karena di kuasai emosi, dia baru sadar kalau Kirana pasti merasa sendirian sekarang. Tak ada dirinya yang menunggui nya di rumah sakit, bagaimana keadaan nya saat ini? Luka dalam nya pasti sangat menyakitkan.
Kiran, aku rindu." Jeff bisa apa, dia terlanjur berada di luar kota saat ini. Mau menghubungi duluan pun dia gengsi, jadi hanya bisa merutuki kebodohan nya dalam mengambil keputusan terburu-buru tanpa membicarakan masalah ini secara baik-baik.
Egois pasti berbuah dengan penyesalan, itulah yang di rasakan Jeff sekarang. Tapi menyesal kemudian tak ada guna nya, jadi dia hanya bisa merutuki nya dalam hati
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1