Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 96 - Rencana Jahat Samuel


__ADS_3

Setelah selesai dengan semuanya, akhirnya Kirana dan Jeff sampai di rumah. Perempuan itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, bahkan melupakan kebiasaan super bersih nya. Entah kenapa dia sangat merasa lelah hari ini, padahal dia hanya bekerja seperti biasanya saja di kantor.


Jeff masuk ke dalam kamar, dia menggelengkan kepala nya saat melihat perempuan cantiknya sudah terlelap, bahkan sepatu yang dia pakai bekerja masih melekat di kaki nya, rok, blouse dan syal yang membalut leher nya pun masih terpasang rapi.


"Sayang, kenapa langsung tidur? Gak bersih-bersih dulu?" Tanya Jeffran sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya seharian ini.


Hening, tak ada jawaban apapun. Tentu saja itu membuat Jeff merasa heran, sebenarnya ada apa dengan Kirana nya? Tak biasa nya dia begini.


Jeffran duduk di sisi ranjang, dia menyentuh kening sang istri, suhu nya normal, itu artinya Kirana baik-baik saja, tak demam.


"Kamu kelelahan, Sayang?" Gumam Jeff, dia baru sadar kalau saat di perjalanan pulang, Kirana mengeluh capek dan ingin segera pulang untuk tidur.


"Hanya sebentar lagi, Sayang. Setelah aku menemukan sekretaris baru, kamu berhenti bekerja dan fokus mengurus keluarga kecil kita nantinya." Jeff mengusap lembut kepala sang istri, dia juga menyelipkan anak rambut Kirana ke belakang telinga nya.


Jeffran tersenyum, istri nya sangat menggemaskan jika sedang tertidur. Dia memutuskan mandi terlebih dulu dan membiarkan istri cantik nya beristirahat.


Di dapur, Carina kembali berkutat dengan bahan masakan. Tadi dia melihat Kirana yang terlihat pucat, membuatnya ingin memasak sesuatu yang bisa membuat nya bersemangat, sup ayam panas pasti akan membantu perempuan itu mendapatkan kembali tenaga nya.


Tak lama, Jeffran turun dengan pakaian santai dan kaos lengan panjang yang dia gulung hingga ke siku.


"Malam, Ma."


"Malam Nak, mana istri mu?" Tanya Carina, biasanya kedua insan itu selalu berdekatan. Jika ada Kirana, pasti ada Jeff begitupun sebaliknya.


"Kiran tidur Ma, dia kelelahan sepertinya."


"Riana nampak pucat, Nak. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Carina, dengan nada khawatir.


"Mungkin karena efek dia sedang datang bulan, Ma."


"Anna sedang halangan? Wahh, kau pasti sedang berpuasa ya?" Tebak Carina sambil terkekeh, membuat Jeff cengengesan salah tingkah.


"Ingin sesuatu?" Tanya Carina lagi.


"Kopi hitam saja, Ma." Jawab Jeff, Carina pun mengangguk dan tak lama kemudian Carina menyajikan secangkir kopi panas di depan Jeff.


"Terimakasih Ma, Papah kemana?"


"Di kamar, belum keluar." Jawab Carina. Jeff menganggukan kepala nya, lalu menyeruput pelan kopi hitam dalam cangkir yang di buatkan ibunya.


Kirana terbangun dari tidurnya, dia mengucek matanya pelan, dia mengedarkan pandangan nya, tapi tak ada suami nya disini.


"Ohh god, aku ketiduran?" Panik Kirana saat melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam, itu artinya dia tidur selama dua jam?


Perempuan itu buru-buru mandi dan berpakaian, lalu turun dengan tergesa-gesa, membuat Jeff yang sedang duduk diruang tamu bersama Papa Radit mengernyitkan dahinya.


"Sayang, kenapa? Kok buru-buru gitu?" Tanya Jeff, dia langsung mendekat ke arah sang istri.


"Kamu kok gak bangunin aku sih?"


"Ya memang nya kenapa? Katanya tadi pas pulang mau langsung tidur, yaudah gak aku bangunin. Kenapa gitu?"


"Eemm, gapapa sih. Tapi aku udah janji sama Mama, mau bantuin dia masak."


"Gak usah sayabg, makan malam sudah siap. Ayo kita makan, Mama masakin kamu sup ayam pake ginseng." Ucap Carina membuat kedua mata Kirana berbinar. Samgyetang adalah makanan kesukaan nya, makanan khas korea itu memang cocok di makan saat tubuh sedang tak enak dan semua orang pun tahu akan hal itu.


Kirana berjalan cepat ke arah dapur meninggalkan Jeffran di belakang, dia langsung duduk dan menyendok nasi ke piring.


"Sayang.." panggil Jeff membuat Kirana menoleh lalu nyengir tanpa dosa.


Kirana bangkit lagi dari duduknya dan melayani Jeff seperti biasanya, sesekali pria itu minta di suapi oleh Kirana tanpa peduli kalau di meja makan itu bukan hanya ada mereka, tapi ada orang lain yang menjadi saksi kemesraan kedua insan itu.


"Sup buatan Mama, enak."


"Enak ya? Kalau begitu makan yang banyak, biar kamu semangat lagi. Ingat, kamu gak boleh sakit, cuma satu minggu lagi sebelum kita berangkat ke Bali." Peringat Carina.


"Iya Ma, dan lusa itu hari peringatan kan?"


"Iya Nak, kita akan ke makam kakak Queen untuk tabur bunga dan memanjatkan doa." Jawab Carina, tatapan mata nya berubah sendu.


"Sudah, jangan sedih ya." Ucap Radit sambil menepuk pundak sang istri. Carina mengangguk, tapi tetap saja dalam hati dia merasa terluka. Siapa yang tak sakit saat putri satu-satunya malah pergi untuk selamanya, takkan pernah kembali lagi.


Kedua pasangan berbeda generasi itupun melanjutkan acara makan malam mereka dengan keheningan, hanya sesekali terdengar suara dentingan sendok garpu yang beradu.


Malam harinya, Kirana dan Jeff sudah bersiap. Karena hari ini adalah acara yang paling di tunggu oleh sahabat nya, Hanna. Ya, hari ini Hanna dan Andre akan melangsungkan lamaran dan tak perlu jarak yang lama, satu bulan kemudian keduanya akan menikah.


"Sayang, aku kok mual ya?" Keluh Kirana, sambil memegangi perutnya yang terasa di aduk-aduk.


"Kamu masuk angin, Yang?"


"Bisa jadi, kalo hamil gak mungkin. Soalnya aku masih datang bulan." Jawab Kirana, sontak saja mendengar kata datang bulan, mood Jeff anjlok seketika.


Dia sudah membeli lingerie seksi untuk dinas, ehh sarang nya masih kebanjiran. Tentu saja membuat Jeff kecewa, kesal, marah bercampur jadi satu.


"Minum obat aja dulu, apa mungkin kamu punya penyakit maag?"


"Aku punya, soalnya dulu kan jarang makan, seringnya makan mie instan."


"Yaudah, nanti di rumah Andre kita minta obat nya. Sudah siapkan? Kita pergi sekarang?" Tanya Jeffran, Kirana pun menganggukan kepala nya.


Keduanya pun pergi dari rumah, tentunya dengan Pak Amar, sang supir setia yang selalu mengantar mereka kemana pun dan kapanpun jika Jeff membutuhkan.


Andre tertawa saat melihat Jeffran yang datang dengan tangan yang berpegangan satu sama lain dengan istri nya, Kirana.


"Lo datang juga, Dan."


"Kalo di undang ya pasti dateng." Jawab Jeffran datar.


"Yaudah, kita berangkat sekarang. Keburu malem banget."


"Gue baru dateng ini, langsung berangkat lagi?" Tanya Jeffran.


"Lu kan gak nyetir."

__ADS_1


"Ya, tapi kan Pak Amar juga manusia yang butuh istirahat. Bentar aja, kasian udah tua." Celetuk Jeffran membuat Pak Amar mendelik sebal, sudah tahu dia memang tua, tapi tolong saring sedikit. Jangan menyebutnya tua, berumur saja biar lebih sopan.


"Supir Lu mendelik tuh, Dan."


"Biarin aja, dah siap Lu mau lamar Hanna?" Tanya Jeff sambil menepuk pundak sahabat nya.


"Siap dong, keburu khilaf mendingan nikah dulu."


"Nikah nya keduluan gue!"


"Iya deh iya, iya iya." Jawab Andre sambil mendelik kesal ke arah Jeffran, pria itu selalu saja membanggakan dirinya yang sudah berhasil menikahi Kirana.


"Seminggu lagi rencana nya kita mau honeymoon ke bali, ikut gak? Bawa Hanna, biar bisa ehem."


"Wihhh ide cemerlang tuh, oke gue ikut." Jawab Andre antusias, dia tersenyum mesuum membuat Kirana cengo sendiri mendengar obrolan kedua pria ini.


"Ehem apaan, yang?" Tanya Kirana membuat kedua pria itu saling melempar pandangan.


"Dinas, Sayang."


"Ohh dinas ya, jangan lupa beli baju dinas nya." Celetuk Kirana, membuat keduanya kompak tertawa.


Akhirnya setelah celotehan tak berfaedah, rombongan pun mulai bergerak ke rumah Hanna, jarak nya yang lumayan dekat membuat waktu tempuh nya hanya membutuhkan waktu setengah jam saja.


Singkatnya, rombongan pun sampai di rumah Hanna. Semuanya mendapat sambutan hangat dari sang pemilik rumah, Mami Arina tersenyum dan memeluk Kirana saat melihat perempuan itu datang.


"Kamu cantik sekali, Kiran. Apa kabar? Kenapa gak pernah main lagi kesini, Mami kangen."


"Kiran baik-baik saja Mi, biasalah kerjaan di kantor banyak Mi, jadi gak sempet main." Jawab Kirana dengan senyum manis nya.


"Kata Hanna kamu sudah punya suami, yang mana?"


"Hallo tante, perkenalkan saya Jeffran Abian, suami Kirana." Jeff ikut nimbrung dan membuat Arina memekik saat melihat wajah tampan Jeff yang bak malaikat.


"Ganteng lho, Kiran." Puji mami Arina sambil terkekeh.


"Iya sih, Mi. Tapi ya ada minusnya." Jawab Kirana lalu membisikan sesuatu, yang membuat keduanya kompak tertawa.


"Apa sayang?"


"Nggak." Jawab Kirana singkat.


"Sayang.." rengek Jeff.


"Iya, tadi aku bilang kamu nya mesuman sama Mami Arin."


"Ihh, aku kan mesuum nya cuma sama kamu."


"Ya tapi kan sama aja, kamu mesuman. Udah dulu ya, aku mau ke kamar Hanna dulu sebentar." Pamit Kirana


"Hati-hati sayang." Kirana hanya menganggukan kepala nya dan segera pergi menemui sahabatnya, yang sebentar lagi akan menjadi istri orang.


Kirana membuka pintu dengan perlahan, dia melihat Hanna sedang duduk dengan tatapan lurus ke depan. Sesekali senyum nya tersungging manis, membuat Kirana terkekeh geli. Hanna menoleh dan melihat sahabat nya sedang tertawa.


"Aku pasti dateng, tapi ya maaf aku terlambat. Kamu cantik banget Han, Andre pasti pangling liat kamu." Puji Kirana.


"Ihh kamu bisa aja, kamu juga cantik." Ujar Hanna dengan malu-malu.


"Aku gugup, Kiran" Keluh Hanna, dia kembali duduk di kursi dengan kebaya modern yang entah kenapa model nya hampir sama dengan yang di pakai Kirana, hanya berbeda warna saja. Jika milik Kirana berwarna merah maroon, kebaya yang di pakai Hanna berwarna pink pastel dengan kain jarik bermotif batik, sama dengan yang di pakai Kiran.


"Ngapain gugup, Andre keliatan gak ada gugup-gugupnya tuh di bawah, pecicilan tuh calsu mu."


"Calsu? Apaan tuh?" Tanya Hanna.


"Calon suami, Hanna."


"Ohh calon suami ya, dia emang kek gitu Ki. Tapi aku suka dia yang gitu." jawab Hanna sambil tersenyum.


"Andre orang baik deh, tapi dari wajahnya keliatan dia mesuum." Celetuk Kirana, membuat Hanna mendelik.


"Iya, dia mesum nya udah di tahap parah tahu, Kiran. Pertama ketemu aja langsung cium bibir gue."


"Tapi suka kan? Cuma bibir Hann, belum ke bibir bawah kan?" Pancing Kirana.


"Belum, cuma udah pernah di makan doang." Ceplos Hanna membuat nya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Dihh, ternyata kamu tak sepolos yang aku kira." Kirana tergelak, ternyata sahabat nya itu tak sepolos itu dalam hal ehem-ehem.


"Andre yang maksa."


"Kamu nya ngizinin." Tebak Kirana, membuat wajah Hanna bersemu.


"Tapi kamu gak lebih parah dari aku Hann."


"Maksudnya, kamu udah gak..."


"Iya, aku udah gak perawan lho Hann." Jelas Kirana memotong ucapan Hanna, tentu saja hal itu membuat Hanna tercengang, setahunya Kirana adalah perempuan baik-baik yang bisa menjaga kehormatan nya, tapi fakta yang keluar dari mulut nya sendiri membuat dia heran, kapan, dimana dan siapa yang sudah melakukan nya?


Tapi, saat mengingat kalau sahabat nya sudah menikah, Hanna langsung tertawa.


"Ya, iyalah. Kan udah punya suami, iya kan?"


"Sebelum menikah, aku udah jebol. Ya meski sama orang yang sekarang jadi suami aku sih."


"Kenapa? Apa bener, gue kaget lho denger ini, Kiran."


"Aku butuh uang buat biaya operasi ibu, aku berpikiran pendek dan ya akhirnya aku jual keperawanan aku sama Jeff." Jelas Kirana lirih, membuat Hanna menatap sahabat nya dengan sendu. Dia belum mengetahui hal ini, bahkan Andre sendiri pun tak tau tentang hal ini.


Dan sekarang, Hanna mendengar hal ini langsung dari mulut Kirana. Jujur saja, dia terkejut mendengar hal ini. Tapi, kalau sudah berurusan dengan orang tua, apapun akan di usahakan sebaik mungkin.


"Kamu serius kan ini? Kamu gak bercanda kan, Kiran?"


"Serius, nah setelah malam itu Jeff sering datang sama aku, minta jatah. Meski aku udah sekuat tenaga buat nolak, tapi tenaga aku gak sebanding sama Jeff, ya akhirnya aku cuman bisa pasrah. Dan akhirnya, aku malah terjebak dalam hubungan rumit antara Jeff dan Kak Queen." Jelas Kirana panjang kali lebar.

__ADS_1


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Hanna terhenyak. Dia tak bisa membayangkan rumit nya kisah cinta antara Kirana dan Jeff, meskipun kedua nya telah resmi menjadi suami istri saat ini, cobaan nya masih belum selesai sampai disitu.


"Kiran.." Hanna menatap sahabat nya dengan nanar.


"Kenapa? Lho kamu kok natap aku sendu gitu, aku gapapa kok. Lagian itu usaha aku buat ibu, tapi sayang takdir berkata lain."


"Aku bangga sama kamuz kamu rela ngorbanin masa depan kamu demi ibu kamu, Kiran."


"Ya mau gimana lagi, aku mau minjem uang tapi syarat nya itu yaudah aku gak bisa nolak, mau minjem uang sebesar itu ke siapa lagi coba?" Ucap Kirana, beberapa kali dia mengusap ujung mata nya yang tampak basah.


"Udah, yang kamu lakuin udah bener kok.. Aku gak nyalahin kamu, Kiran. Bahagia selalu ya, kamu berhak bahagia setelah menahan semua rasa sakit sendirian."


"Iya, tapi aku merasa sangat jahat, Na. Aku mendapatkan kebahagiaan tapi dengan cara merebut kebahagiaan wanita lain, apa itu pantas?" Tanya Kirana lirih.


"Tak apa, Kiran. Jangan menyesali semua yang sudah terjadi. Pikirkan masa depan kamu juga, Tuan Jeff adalah yang bertanggung jawab sama kamu."


"Iya, dia memang pria yang bertanggung jawab. Hanya saja, aku merasa bersalah pada Kak Queen."


"Gapapa, yang sekarang bisa kamu lakuin itu jaga suami kamu, agar dia gak berpaling lagi. Jaga, apa yang sudah kamu dapatkan." Ucap Hanna, sambil menepuk pundak sahabat nya dengan perlahan.


"Di kantor, aku banyak mendapatkan tekanan saat ini, Han. Apalagi Jeff yang memutuskan untuk mulai mempublikasikan hubungan kami, aku jadi ngerasa kayak di kucilkan di kantor. Mereka menatap aku dengan tatapan benci gitu, Han."


"Udah, gak usah di peduliin ya. Mereka cuma iri sama kamu, karena bisa mendapatkan cinta seorang Jeffran." Jawab Hanna sambil tersenyum kecil.


"Iya, tapi mereka nyalahin aku gara-gara mau sama pria itu."


"Udah, gak usah dengerin komen orang lain Kiran, kamu berhak bahagia juga kok." Ucap Hanna, membuat Kirana tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu.


"Udah yuk, kebawah." Ajak Kirana, Hanna pun mengangguk dan menggandeng tangan sahabat nya itu keluar dari kamar.


Semua yang hadir di sana, memusatkan pandangan mereka ke arah tangga. Dimana kedua wanita yang nampak cantik itu sedang berjalan pelan dengan saling berpegangan tangan, bahkan tak sedikit yang mengira keduanya adalah kakak adik, padahal mereka hanya berteman saja, tak lebih dan tak ada hubungan darah.


"Cakep bener cewek gua!" Pekik Andre, membuat pandangan mata seketika langsung terarah padanya, Jeff yang berada di samping Andre,langsung menepuk pantaat Andre. Pria itu tersenyum canggung lalu kembali duduk, Hanna menggelengkan kepala nya, bisa-bisanya di saat begini Andre bersikap pecicilan.


Hanna duduk berhadapan dengan Andre, begitu juga Kirana yang duduk berhadapan dengan Jeffran. A-ndre tersenyum manis menatap calon istrinya, begitu juga Jeff


"Laki mu keliatan ganteng." Bisik Kirana pada Hanna, membuat wajah gadis itu memerah. 


"Diem, nanti suami mu denger. Kalo dia denger terus marah, aku gak ikut-ikutan ya kalo kamu di hukum gak pake baju semaleman." Bisik Hanna, lalu keduanya tertawa pelan sambil menutup mulut mereka masing-masing.


Singkat nya, acara lamaran itu pun sudah di puncak acara. Yaitu penyematan cincin, atau bertukar cincin. Keduanya berdiri bersisian di pelaminan yang dibuat seadanya untuk sesi berfoto. Mami Arin membawa sepasang cincin berwarna silver, Andre mengambil salah satunya dan menyematkan nya di jari manis Hanna, begitupun sebaliknya. 


Keduanya saling melempar senyuman manis, Hanna masih tak menyangka ide konyol Mama nya untuk menjodohkan nya dengan anak teman arisan nya akan jadi seperti ini. Dia malah jatuh cinta di pandangan pertama saat melihat Andre, begitu pun Andre yang nampak langsung menyukai Hanna.


"Selamat ya Hann, semoga kalian cepat ke pelaminan."


"Duluan aja." Cetus Andre, membuat Hanna terkekeh.


"Maksudnya?"


"Ya, mereka kan udah nikah duluan yang." Jawab Andre.


"Ohh iya, seminggu lagi aku sama Mas Jeffran mau bulan madu ke Bali. Kamu mau ikut?" Tanya Kirana dengan senyum manis nya.


"Aaaa seriusan aku di ajak? Mau dong, aku pengen banget berlibur ke bali."


"Boleh, tapi kamu harus mengajukan cuti lagi." Ucap Jeff datar membuat Hanna merasa terintimidasi.


"Biasa aja kali ngomong nya, jangan buat cewek gue takut."


"Takut? Emang nya gue nakutin gitu, perasaan gue ganteng deh kagak ada nyeremin nya." Ucap Jeffran masih dengan ekspresi datar nya.


"Susah emang ngomong sama tembok, beda kalo lagi sama pawang nya. Es nya mencair, tembok nya roboh." Celetuk Andre, membuat Jeffran terkekeh pelan.


"Kalian harus ikut sih, biar aku yang menanggung semua biaya nya, kalian hanya tinggal ikut saja. Anggap saja, ini sebagai hadiah lamaran kalian berdua." Ucap Jeff membuat Hanna bersorak kegirangan, dia membayangkan akan bermain air di pantai nanti nya.


"Ohh iya, selamat ya Ndre. Gue laper mau makan dulu." Ucap Jeffran, lalu menarik Kirana yang masih asik berbincang dengan Hanna.


"Duluan ya, susah kalo udah di tarik gini."


"Iya, hati-hati ya Kiran, kayaknya dia lagi mode galak." Ucap Hanna membuat Jeffran berbalik, secepat kilat Hanna bersembunyi di balik punggung Andre membuat pria itu tertawa melihat tingkah Hanna yang sangat menggemaskan menurut nya.


Kirana dan Jeffran duduk di ujung, keduanya menyantap hidangan yang sudah tersaji dengan tenang. Kirana memakan cake nya dengan lahap, tapi itu sebelum seseorang datang membuat selera makan nya hilang seketika.


"Haii Kiran, apa kabar?" Sapa nya membuat Kirana yang sedang minum tersedak, dia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu di tempat ini.


"Baik." Jawab Kirana singkat. Dia melirik ke arah Jeff yang sudah menunjukan ekspresi asam, sangat asam pertanda kalau dia tak suka pria itu datang.


"Kudengar kalian sudah menikah? Pantas saja tuan Jeff terlihat tak suka saat aku melamar mu hari itu."


"Lalu, apa urusanmu?" Ketus Jeff, tangan nya bersedekap di dada.


"Tidak sih, tapi kenapa kalian tidak mengundangku?"


"Karena aku tak mau mengambil resiko dengan mengundang orang picik seperti mu ke pesta pernikahan ku, lagi pun memang nya kau sepenting apa?" Tanya Jeffran tersenyum sinis, masih dengan nada bicaranya yang ketus dan datar.


"Kita klien bisnis kalau anda lupa."


"Aku punya urusan bisnis dengan ayahmu, bukan dengan mu." Cetus Jeffran, dia mulai jengah meladeni pria tebal muka di depan nya.


"Ayo sayang, disini tak nyaman." Jeffran menarik istrinya menjauhi pria yang tersenyum menyeringai menatap kepergian kedua insan itu.


'Takkan ku biarkan kalian bahagia, selamanya!' Batin Samuel. Dia terus menatap kepergian pasangan suami istri dengan mata yang memancarkan amarah dan kebencian.


Samuel Robertson, pria tampan berdarah amerika itu tergila-gila pada Kirana namun tak bisa menaklukan nya, mungkin lebih tepatnya dia kalah saing plus kalah cepat dengan Jeffran. Jika di bandingkan Jeff, Samuel masih tidak ada apa-apanya. Di hadapan Jeffran, Sam hanya pria biasa tak punya pengaruh apapun. Tapi ternyata dia berani menyebarkan berita yang kebenarannya belum di ungkap oleh Jeff dan Kirana.


Hingga menimbulkan banyak presepsi tentang Kirana, tak sedikit orang yang menyalahkan wanita itu atas kepergian Queen dan hancurnya rumah tangga kedua nya. Bahkan, ada yang secara terang-terangan mengatakan kalau Kirana adalah wanita egois yang tega merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaan nya sendiri. Padahal, kenyataan nya tak seperti itu.


Ya benar, Sam lah dalang dari gosip yang tersebar di perusahaan dan membuat Kirana merasa terpojok, dia bekerja sama dengan seseorang yang juga membenci Jeffran untuk menjauhkan kedua nya, tapi saat ini belum menghasilkan apa-apa. 


Tapi sepertinya itu semua belum cukup untuk membuat Kirana menjauh dari Jeff, malahan kedua nya terlihat semakin lengket dan romantis. Tentu saja, hal itu merupakan kegagalan bagi Sam dan dia tak menerima hal itu. Jadi dia memikirkan rencana jahat yang lain.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2