Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 55 - Pindahan Ke Apartemen


__ADS_3

"Sudah selesai sayang?" tanya Jeff.


"Sudah." Kirana menenteng dua tas besar di tangan nya, berisi pakaian dan barang-barang berharga yang dia punya. Mereka keluar dari rumah itu, tas langsung di ambil alih oleh pak Amar. 


Kirana menatap rumah sederhana nya dengan mata berkaca-kaca, tempat inilah yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup nya selama 23 tahun, tempat dia di besarkan tanpa kasih sayang seorang ayah, rumah yang menjadi saksi perjuangan keras nya menjalani kehidupan yang keras.


Tak terasa, air mata menetes dari kedua mata Kirana, meluncur bebas menuruni pipi mulus nya. Jeff menggenggam tangan Kirana dengan erat, memberikan sedikit kekuatan untuk perempuan itu.


"Pamitan dulu sama tetangga kamu, sayang." Kirana menoleh dan dia melihat Bi Marni sudah berdiri tak jauh darinya.


"Lho, kamu mau kemana, Kiran?"


"Kiran mau ikut sama tuan Jeff, Bi. Terimakasih sudah baik selama ini sama Kiranbjuga sama ibu Kiran. semoga kebaikan bibi bisa terbalas, meski bukan Kiran yang balas." Kirana memeluk Bi Marni, tetangga yang paling baik. tempat dia bertukar suka dan duka.


"Pergilah, pulang sesekali ya. Bibi pasti kangen sama kamu, anak cantik."


"Pasti Bi, Kiranbjuga bakal kangen sama bibi, sama Tio." Kirana kembali memeluk Bi Marni dan wanita paruh baya itu menyambut nya dengan hangat, bahkan dia menangis saat melepaskan kepergian Kirana


"Hati-hati di jalan, Kiran." Kirana mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang sudah siap, Bi Marni melambaikan tangan nya saat mobil mulai menjauhi rumah nya. Kirana menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil, terasa sesak sekali saat harus berpisah dengan orang baik.


Jeff setia mendampingi Kirana meski sesekali dia akan memalingkan wajah nya saat melihat wajah perempuan itu yang bersimbah air mata. Dia tak tahan melihat Kirana terluka, air mata nya adalah kelemahan nya sekarang.


"Ma, bagaimana tidur Mama? Nyenyak kan? Maafin Kiran, ya Ma." Ucap Kirana di sela tangis nya, hanya gundukan tanah yang bisa dia tangisi sekarang. Baru satu hari, tapi dia sudah sangat merindukan ibu nya.


"Kiran harus pergi dari rumah penuh kenangan dan kepahitan hidup itu Ma, Kiran mau ikut sama pria yang masih peduli sama Kiran. Kiran harap Mama tenang disana, tak usah khawatir Kiran baik-baik saja." Gumam Kirana, dia mengusap pusara ibu nya. Lalu menaburi bunga di atas segunduk tanah itu. Kemarin dia belum sempat menabur bunga di tempat peristirahatan ibunya yang terakhir.


"Sudah selesai sayang, bisa kita pergi? Cuaca nampak tak bersahabat, sebentar lagi pasti turun hujan." Kirana menoleh dan mengangguk perlahan.


"Kiran pergi dulu ya Ma, selamat beristirahat." Ucap Kirana pelan, lalu pergi bersama Jeff yang merangkul bahu nya.


Kirana menyandarkan tubuh nya di sandaran mobil sambil memejamkan matanya, Jeff menatap wajah Kirana yang nampak sendu. Pasti hati nya terasa sesak lagi saat ini.


"Kamu baik-baik saja, sayang?"


"Ya, aku baik-baik saja. Memang nya kenapa?" Balik tanya Kirana, dia membuka kedua mata indah nya dan langsung menatap Jeff yang ternyata sedang menatap nya juga.


"Dua hari ini kamu terlalu banyak menangis dan itu membuat mata mu membengkak, sayang. Jangan menangis lagi, sungguh aku tak tahan melihat mu menangis, aku lebih suka kamu yang ceria seperti biasa." 


"Entahlah, apa aku bisa seceria dulu atau tidak."


"Kamu bisa, sampai kapan kamu akan begini terus?" Tanya Jeff, dia membingkai wajah Kirana dan mengecup singkat kedua mata perempuan itu.


"Saat bersamaku, aku ingin kamu selalu tersenyum. Aku tak ingin melihat air mata mu lagi, apapun alasan nya." Jeff menatap Kirana dengan tatapan berbeda, jika biasanya pria itu akan menatap Kirana dengan penuh nafsuu, tapi kali ini berbeda, tatapan nya begitu hangat dan penuh cinta. 


Kirana menganggukan kepala nya, Jeff tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala Kirana dan melabuhkan ciuman mesra di bibir nya. Ciuman yang terasa hangat dan lembut namun menuntut.


Pria itu melumaat bibir bawah dan atas bergantian, hingga menimbulkan bunyi decapan karena Kirana juga ikut membalas ciuma Jeff. Ciuman yang memabukkan, membuat Kirana secara tak sadar mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh pria itu.


Jeff menatap Kirana dengan nafas tersengal setelah ciuman kedua nya terlepas, pria itu menyatukan kening mereka dan mengusap bibir Kirana dengan jempol nya.


"Bibir mu terasa manis, enak sekali. Apa kau mengoleskan gula di bibir mu itu?" Tanya Jeff lirih seperti berbisik, membuat Kirana tersipu. Wajah nya memerah seperti tomat, buru-buru Kirana memalingkan wajah nya sebelum Jeff melihat rona di pipi nya, tapi seperti nya terlambat karena pria itu sudah melihat nya.


"Kamu terlihat sangat menggemaskan saat tersipu begini, aku semakin menyukaimu, Kirana." Bisik Jeff di telinga Kirana, bertambah merah saja wajah Kirana di buatnya.


Jeff tersenyum dan memeluk Riana, menyandarkan kepala perempuan itu di dada nya. Kirana juga dengan senang hati membalas pelukan Jeff, menikmati detak jantung pria itu. 


Sesekali mendusel mencari tempat yang lebih nyaman, membuat Jeff terkekeh karena geli, juga tingkah Kirana membuat sesuatu di bawah tubuh nya bangkit. Siapa lagi kalau bukan junior nya yang gagah, perkasa, besar dan tahan lama.


Sepanjang perjalanan, Jeff terus memeluk Kirana hingga dia tak menyadari kalau perempuan itu ternyata tidur nyenyak di pelukan nya.


"Ternyata dia tidur, pantas saja diam." Gumam Jeff, dia menggelengkan kepala nya pelan lalu terkekeh. Pria itu juga mengusap kepala Kirana, entahlah kenapa Jeff sangat suka mengusap kepala Kirana dan perempuan itu juga tak pernah menolak.


Sejak bersama Kirana, Jeff juga lebih sering tertawa. Wajah nya sering berbinar, tak kuyu seperti biasa nya. Mungkin dia kembali mendapatkan gairaah hidup nya lagi setelah bersama wanita itu.


Singkatnya, mobil yang di tumpangi kedua sejoli itu sampai di apartemen yang terlihat megah dengan bangunan yang tinggi menjulang mencakar langit.

__ADS_1


"Pak, tolong bawakan tas Kiran ya. Dia tidur, jadi saya akan menggendong nya." Ucap Jeff, Pak Amar mengangguk dan segera membawa dua tas berukuran besar milik Kirana yang berisi pakaian dan beberapa barang berharga milik perempuan itu.


Jeff keluar dengan Kirana di gendongan nya, dia berjalan santai seolah menggendong Kirana bukan beban untuknya, terasa ringan bagi Jeff. Pria itu dan Pak Amar memasuki lift, apartemen memang selalu terasa sepi kan? Begini lah adanya, suasana baru untuk Kirana pastinya. 


Perempuan itu biasanya hidup bertetangga, berbagi dan mengobrol bersama, tapi disini dia takkan bisa melakukan nya. Orang-orang penghuni apartemen ini adalah orang kalangan atas, yang biasanya takkan mudah berbaur dengan sembarangan orang.


Jeff membuka pintu dengan card acces dan memasuki sebuah unit apartemen yang nampak rapih dengan fasilitas yang begitu mewah dan sempurna.


"Letakkan saja tas nya disana Pak, saya ke kamar dulu. Kalau mau pulang sekarang juga tidak masalah."


"Baik tuan, saya permisi dulu kalau begitu." Pamit Pak Amar undur diri dari hadapan Jeff, lalu menutup pintu nya perlahan. Jeff menaiki tangga dengan perlahan dan hati-hati, lalu membuka pintu dengan sebelah tangan dan menutup nya kembali dengan menggunakan lutut nya.


Jeff membaringkan tubuh Kirana dengan perlahan dan hati-hati, seolah Kirana adalah kaca yang mudah pecah.


"Tidur yang nyenyak, cantik." Ucap Jeff, lagi-lagi dia mengusap kepala Kirana dan mengecup kening perempuan itu, lalu keluar dari kamar. 


Pria itu membuat kopi dan duduk di ruang tengah sambil melamun. Di apartemen ini memang sudah di lengkapi dengan berbagai fasilitas mewah beserta isi nya tanpa ada yang kurang sedikit pun


Di rumah, queen tengah berjuang sendirian dengan segala rasa sakit nya. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat menyesakkan.


"Queen.." Panggil Dokter Andre dengan panik, dia segera memberi Queen minum, juga melakukan penanganan pertama hingga membuat nafas wanita itu kembali teratur.


"Terimakasih Andre, kau datang disaat yang tepat. Kalau tidak, aku pasti sudah mati." Ucap Queen lirih, dokter Andre melihat Queen yang semakin hari badan nya semakin kurus. 


Dia menatap nya dengan nanar, penyakit Queen sudah di tahap sangat parah. Sel-sel kanker nya sudah menyebar dan sudah ke tahap yang paling parah, takkan bisa di sembuhkan meski melakukan kemoterapi sekalipun.


"Queen, kau yakin masih kekeh tak mau memberitahukan suami mu tentang penyakit ini? Penyakit mu semakin parah, aku khawatir ini sudah tak bisa di sembuhkan lagi." Ucap Dokter Andre, dia begitu mengkhawatirkan keadaan Queen, perempuan yang sampai saat ini masih bertahta dalam hatinya.


Queen tersenyum mengejek ke arah dokter Andre, perempuan itu begitu tabah menghadapi semua ini, bahkan disaat penyakit nya semakin parah dia masih bisa tersenyum seperti itu.


"Aku sudah bilang padamu, Andre. Aku sudah menyerah dengan hidupku, tak masalah jika aku mati sekarang atau esok hari. Hanya saja terasa berat jika aku harus meninggalkan Jeff disaat dia masih belum punya pengganti ku!" Jawab Queen, lengkap dengan senyuman getir nya.


"Aku tau hati mu sakit, berhentilah tersenyum seperti itu. Aku tak suka kau berpura-pura seperti ini."


"Aku benar-benar sudah mengikhlaskan hidupku, Andre. Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Jawab Queen, membuat mata dokter Andre mengembun. Betapa tabah nya perempuan itu menjalani sisa-sisa hidupnya yang tak lama lagi.


"Aku tau Andre, aku tau. Hidupku takkan lama lagikan? Itulah alasan kenapa aku tak mau membuang waktu ku dengan melakukan kemoterapi." Jawab Queen masih bisa menyunggingkan senyuman nya.


"Queen.."


"Iya, kenapa memanggil ku? Jangan menangis, cengeng!" Ejek Queen membuat Andre sedikit memaksakan senyum nya.


"Senang bisa mengenalmu, Queen."


"Aku juga, terimakasih untuk semua nya. Aku tak berharap apapun saat ini, aku hanya berharap Jeff bisa menggantikan posisi ku dengan wanita lain agar dia tak merasa kehilangan saat aku pergi nanti." Celoteh Queen, membuat dokter Andre tak tahan lagi. Air mata nya meluncur bebas menuruni pipi berjambang tipis nya.


"Cukup Queen, jangan bicara omong kosong. Kau pasti mampu melewati semua ini."


"Sampai kapan hmm? Ada kala nya aku bosan merasakan penyakit yang setiap hari menggerogoti tubuh ku secara perlahan, pada akhirnya aku akan mati juga. Bahkan orang sehat pun akan mati, lalu aku yang berpenyakitan ini? Pasti akan mati juga Andre." Jawab Queen cukup emosional.


"Maaf Andre, tapi jangan terlalu berharap aku bisa melawati semua ini lagi. Aku lelah, ingin istirahat tapi aku takkan tenang sebelum Jeff ada yang mengurus."


"Kenapa kau masih memikirkan pria itu Queen? Apa dia peduli padamu? Bahkan saat ini pun, dia tak ada disini menemani mu."


"Karena dia suamiku, Andre. Pria yang pertama aku cintai, tapi satu kesalahan membuat aku kehilangan cinta suamiku. Kau mengerti kan? Meskipun begitu, aku yakin Jeff perlahan melupakanku, dia hanya bertahan karena merasa bersalah padaku." Jelas Queen membuat dokter Andre terdiam.


"Lalu, setelah tau semua ini kau masih mengutamakan pria itu?"


"Ya, karena aku bersalah juga padanya. Aku yang memulai penghianatan, jadi bukan salahnya seandainya pun dia tak mencintai ku lagi dan melupakanku, Andre. Kau mengerti kan?" 


" Apa Kau akan kuat bicara dengan selingkuhan suami mu sendiri?"


"Belum tentu Jeff berselingkuh kan? Wanita yang menjadi kandidat utama pun belum pernah aku temui. Aku ingin sekali pulih dan bertemu dengan wanita bernama Kirana itu, Andre." Jawab Queen, namun Dokter Andre malah terdiam.


"Kenapa malah bengong?"

__ADS_1


"Aku tak habis pikir dengan mu, Queen."


"Tak usah memikirkan aku, nasib ku sudah jelas."


"Heemm, terserah kau saja lah."


"Terimakasih Andre, dari dulu kau tak berubah."


"Mau bagaimana lagi, nama mu masih bertahta di hatiku." Jawab Andre pelan. Queen tersenyum manis, dia sangat bahagia karena setidaknya Andre selalu ada untuknya, dan masih mencintainya hingga akhir.


"Jika memang nanti ada kehidupan lain, aku akan berusaha menemukan dirimu dan kita akan hidup bersama dengan bahagia, Andre. Terimakasih sudah menemani ku hingga akhir." Ucap Queen tulus tak lupa dengan senyuman manis nya yang membuat Andre luluh lantah. Dia menangis dalam diam, lalu mengangguk cepat.


"Ya, mari hidup dan menua bersama nanti." Jawab Andre.


"Jika pun nanti aku pergi, aku akan menunggu mu di kehidupan selanjutnya Andre. Jadi selagi menunggu, kau bisa berbahagia dulu bersama wanita lain, tapi berjanjilah dia harus wanita yag pintar dan sederhana. Jangan seperti aku yang selalu merasa kurang hingga akhirnya kehilangan cinta dari semua orang."


"Kau masih memiliki cintaku, Queen." jawab dokter Andre. Queen tertawa lepas, ini pertama kalinya perempuan itu tertawa lepas setelah penyakit nya yang merenggut kebebasan nya, tapi di balik itu semua Queen mengerti, dunia tak selalu sama. 


Terkadang apa yang kita inginkan, tak selalu bisa kita dapatkan. Seperti Queen yang terus mengejar dunia hingga melupakan kewajiban nya terhadap suami nya, alhasil dunia itu semakin menjauh dan inilah yang dia dapat dari obsesi nya, buah dari keserakahan nya.


Di apartemen, Kirana baru saja membuka kedua matanya. Dia mengedarkan pandangan nya, suasana dan tempat yang nampak asing, hembusan angin pelan terasa menyapu lengan nya yang terbuka. Perasaan, dia memakai cardigan tadi. 


Tapi sekarang kemana benda itu, Kirana bangkit dari rebahan nya dan betapa terkejut nya dia mendapati kancing blouse tanpa lengan nya itu terbuka, lengkap dengan bekas kemerahan yang hampir memenuhi buah kenyal nya itu. Kirana tak heran lagi, ini pasti perbuatan Jeffran, siapa lagi kalau bukan pria itu ya kan? Hanya dia yang bisa berbuat seenaknya pada tubuh nya.


"Sudah bangun, sayangku?"


"Kamu nakal, memainkan buah ku tanpa izin." Gerutu Kirana sambil merapikan pakaian nya yang terbuka.


"Kenapa aku harus minta izin? Lagi pula itu adalah milikku." Jawab Jeff santai, membuat Kirana mendelik.


"Ini menempel di tubuh ku, berarti ini milik ku bukan milik anda." Ketus Kirana lengkap dengan cebikan bibir nya.


"Haha, kamu juga milik ku, sayang." Jawab Jeff sambil tertawa, lalu berhenti dan merangkak menaiki tubuh Kirana yang masih terbaring.


"Ingat, jangan sampai ada yang menyentuh mu karena kamu adalah milikku. Apapun yang ada pada dirimu, adalah milikku. Jangan lupakan itu, sayang!" tegas Jeff membuat Kirana terdiam.


"Kamu tak berniat mandi atau menata barang-barang mu ke lemari? Atau aku buang saja dan aku ganti dengan yang baru, bagaimana?"


"Tidak perlu, barang-barang saya masih layak untuk di gunakan, semua nya masih bagus. Bahkan ada beberapa blouse yang belum saya pakai sama sekali." jawab Kirana, membuat Jeff mengangkat dagu Kirana, membiarkan mata mereka bertemu sejenak.


"Kalau begitu ayo mulai, kamu sudah terlalu lama tidur, jangan menimbun lemak nanti perut mu buncit, meski aku suka tubuh yang berisi tapi tak suka wanita yang perut nya membuncit ya kecuali kalau hamil."


"Iya, aku akan menata barang-barang sekarang. Tapi tolong menyingkirlah dulu, kaki saya tertindih oleh tubuh anda yang besar itu." Kirana berusaha menggerakan kaki nya, tapi tentu nya tubuh Jeff yang tinggi besar itu sangat sulit untuk di singkirkan.


"Kiss dulu, anggap saja itu sebagai upah karena aku sudah menggendong mu menaiki tangga."


"Lho, memang nya di apartemen ada tangga nya?" Tanya Kirana dengan kening yang mengernyit heran. Setaunya apartemen itu hanya seruangan tok, tapi Jeff bilang dia menggendong nya melewati tangga kan?


"Tentu ada, ini memang apartemen tapi ada 2 lantai, yang harus kamu tau ini apartemen kaum elit sayang, bukan apartemen biasa. Lagipula ini hanya dunia yang di ciptakan oleh halu nya author, Kiran." jawab Jeff sambil terkekeh.


"Oohh iya."


"Ayo, kiss dulu." Jeff menunjuk kedua pipi nya dengan telunjuk nya, membuat Kirana mau tak mau pun harus mencium pipi pria itu. Tapi satu sedikit lagi bibir Kirana menyentuh pipi Jeff, tiba-tiba saja Jeff menoleh dan membuat Kirana mencium bibir nya.


Jeff tersenyum di sela ciuman nya, tentu nya kalau sudah ciuman bibir takkan bisa lepas semudah itu, pasti akan ada sesi lumaat meluumat. 


"Eeemmhhhh.." Kirana memukul-mukul pelan dada Jeff, meminta di lepaskan. Tapi bukan nya di lepaskan, Jeff malah menahan tengkuk Kirana untuk memperdalam ciuman nya. Bahkan menggigit bibir Kirana hingga refleks membuat nya membuka mulut, kesempatan yang bagus untuk menyusupkan lidahnya. 


Dan ya, ciuman itu pun berlangsung beberapa menit hingga Kirana kehabisan nafas. 


"Ciuman yang memabukkan, aku menyukainya. Selalu suka dengan rasa bibir mu, sayang." Bisik Jeff membuat Kirana mendelik sebal, lalu memukul pelan lengan pria itu membuatnya tergelak.


.......


🌻🌻🌻

__ADS_1



__ADS_2