Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 111 - Baby Twins


__ADS_3

Jeff yang merasa heran dengan tingkah sang istri pun menghentikan langkah nya, otomatis Kirana juga ikut berhenti. 


"Kenapa, Mas?"


"Harusnya, Mas yang nanya. Kamu kenapa? Dari tadi senyam-senyum sendiri, kesambet apa? Di apain sama Hanna tadi, yang?" Tanya Jeffran, membuat Kirana tertawa. Suami nya ini ada-ada saja, masa kesambet sih. Hanna juga tidak melakukan apa-apa padanya. 


"Enggak di apa-apain, Mas. Udah, ayok ke dokter kandungan. Gak sabar aku, penasaran." 


"Penasaran apa, yang?" Tanya Jeffran dengan kening mengernyit. 


"Nanti, Mas tau sendiri." Dengan cepat, Kirana pun menarik tangan suami nya agar cepat-cepat menuju dokter kandungan. 


Namun, saat sampai antrian di dokter kandungan nya mengular cukup panjang. Sebenar nya, bisa saja Jeff meminta langsung masuk ke ruangan dokter itu dengan kekuasaan nya, tapi Kirana malah ingin ikut mengantri bersama ibu-ibu hamil lain nya.


"Sayang, menunggu itu membosankan." Rengek Jeffran. Bukan Kirana yang rewel, tapi justru suami nya, membuat wanita itu beberapa kali menghembuskan nafas nya dengan kasar menghadapi ke rewelan suami nya.


"Mas, jangan rewel bisa? Malu sama ibu-ibu yang lain, kamu ini." Ucap Kirana sambil menepuk pelan lengan suami nya.


"Suami nya manja sekali itu, Mom." Celetuk salah satu ibu-ibu yang duduk di samping Kirana.


"Iya nih, bu. Rewel banget kalo di ajak ke tempat ramai." Jawab Kirana sambil tersenyum kecil, sedangkan suami nya sudah menduselkan wajah nya di ceruk leher sang istri. 


"Hamil berapa minggu, mom?" 


"Jalan delapan minggu, ibu sendiri?" Tanya Kirana dengan ramah. 


"Sudah mau 32 minggu ini, sebentar lagi." 


"Wahh, sebentar lagi dong ya?" Ucap Kirana sambil mengusap lembut perut buncit ibu-ibu muda itu.


"Iya, Mom. Udah deg-degan dari sekarang." 


"Semoga persalinan nya lancar ya, Bu."


"Iya, kamu juga ya mom." Kirana menganggukan kepala nya, lalu tersenyum dengan manis.


"Delapan minggu, tapi perut kamu sudah membuncit seperti hamil empat bulan, apa dia kembar?" Tanya nya membuat Kirana tersenyum kilas.


"Itulah yang ingin saya pastikan, saya takut ada masalah kehamilan jika saya tak hamil bayi kembar." Jelas Kirana membuat ibu-ibu itu mengangguk.


"Iya, mending di periksa biar jelas keluhan nya. Mengalami gejala seperti morning sickness?" Tanya nya lagi.


"Tidak, tapi suami saya yang mengalami nya. Mood nya juga seperti ibu hamil, sensitif sekali." 


"Wahh, sama seperti suami saya. Dia suka makan rujak, dia juga muntah-muntah setiap pagi hari, hingga membuat nya lemas."


"Iya, suami saya juga begitu, Bu." Jawab Kirana. Tapi seperti nya suami nya tak terima dengan ucapan istri nya, dia merajuk dengan menarik-narik pakaian sang istri.


"Isshh, diem dong, Mas. Ngapain di tarik-tarik begini sih?"


"Sayang.."


"Apa sih?" Tanya Kirana sambil terkekeh, apalagi saat melihat wajah kusut yang di perlihatkan oleh suami nya.


"Aku gak gitu.."


"Iya-iya, kamu nggak gitu kok. Kamu pria dewasa yang kuat dan hebat, mana bisa hanya morning sickness saja membuat kamu berhenti. Iya kan, Mas?" 


"Iya, tentu saja." Jawab Jeffran bersemangat, sedangkan Kirana hanya tertawa begitu mendengar jawaban suami nya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya nama Kirana di panggil juga. Kedua nya pun masuk ke dalam ruangan dokter perempuan itu. 


"Selamat siang, tuan dan Nona." Sapa nya dengan ramah.


"Siang dok." Jawab kedua nya dengan kompak, dokter wanita itu tersenyum begitu melihat pasangan yang nampak serasi. Perempuan nya cantik dan anggun, pria nya juga tampan dan berwibawa. Wajah nya terlihat datar dan tegas, namun hal itu tak mengurangi kadar ketampanan seorang Jeffran Abian Leonard.


"Ada keluhan apa, Nona?"


"Tidak, dok. Hanya ingin melakukan USG saja." Jawab Kirana.

__ADS_1


"Baik, silahkan berbaring di sana. Sus, tolong di bantu ya." Ucap nya pada suster pendamping yang setia berada di ruangan itu. 


"Baik, dokter." Jawab nya, dia pun membantu Kirana untuk berbaring di atas brankar nya. Jeff juga ikut membantu sang istri, dia juga berdiri tak jauh dari istri nya. 


"Asshh.." lirih Kirana, membuat perawat itu tersenyum kecil. 


"Maaf, Nona. Dingin ya?"


"Hehe, iya sus. Kaget." Jawab Kirana. 


Dokter pun mendekat dan mengambil alat kecil dan meletakan nya di perut Kirana, memutar benda kecil itu dengan perlahan. Benda itu terhubung dengan layar berwarna abu-abu, yang terlihat hanya ada dua bulatan. Yang satu nya besar, dan yang satu nya lagi kecil dengan dua titik di dalam nya.


"Ini rahim anda, Nona. Dan dua titik kecil ini adalah janin anda, selamat Nona anda hamil kembar."


"Kembar, dok?" Tanya Jeffran, sedangkan Kirana tersenyum manis. Ternyata mimpi nya benar-benar menjadi kenyataan. Hamil kembar? Aaahh ini sangat membahagiakan.


"Iya, tuan. Hanya saja untuk kelamiin nya belum bisa terlihat, karena usia nya masih terbilang kecil."


"Kapan bisa terlihat nya, dok?" Tanya Jeff antusias.


"Setelah kandungan nya berusia lima atau enam bulan, tuan." 


"Baik dok, lalu bagaimana? Kandungan istri saya sehat? Tak ada masalah apa-apa kan?"


"Kehamilan nya sehat, baby nya berkembang dengan baik sesuai usia nya, Tuan." 


"Aaahh syukurlah." Ucap Jeffran sambil menghembuskan nafas nya dengan lega. Dia sangat bahagia, istri nya hamil kembar? Dia beruntung karena sekali dapat langsung dua. Seperti nya, Tuhan mengganti kepergian anak mereka dulu.


"Pemeriksaan nya sudah selesai, semua nya sehat, baik-baik saja." 


"Terimakasih, dok." 


Perawat pun membersihkan sisa-sisa cairan yang tadi berada di perut Kirana, lalu Kirana pun bangkit dari rebahan nya dan turun dari brankar nya di bantu oleh suami nya. 


"Nona mengalami gejala morning sickness, atau perubahan mood?" Tanya Dokter itu. 


"Tidak, dok. Malah suami saya yang mengalami morning sickness, dia juga yang mood swing." 


"Iya, dok." 


"Silahkan tebus di bagian farmasi, Nona." Ucap Dokter itu, kedua nya pun berpamitan dan segera ke bagian farmasi untuk menebus vitamin sesuai resep yang di berikan oleh sang dokter. 


Setelah itu, pasangan suami istri pun kembali ke ruangan tempat Hanna di rawat. Disana ada Andre yang nampak termenung dengan tatapan lurus ke depan, nampak jelas kalau pria itu tengah memikirkan sesuatu. 


"Ngapain bengong aja?" Tanya Jeff sambil duduk di samping Andre.


"H-ahh? Enggak, dari mana kalian berdua?" Tanya balik Andre.


"Habis periksa kandungan."


"Hasil nya gimana?" Tanya Andre penasaran, pasalnya dia juga pernah menyarankan Kirana untuk periksa kandungan. Masalah nya, perut Kirana buncit seperti orang hamil empat bulan, padahal baru beberapa minggu saja. Dan, akhirnya saran nya di lakukan. 


"Bini gue hamil twins." Jawab Jeff sambil tersenyum manis, bahkan gula saja kalah manis nya di bandingkan dengan senyuman Jeff saat ini.


"Anjir, kembar woee? Selamat ya bro, sehat selalu." Ucap Andre sambil merangkul Jeff ala pria. Sedangkan Kirana hanya tersenyum kecil sambil mengusap perut nya yang terlihat membuncit. Ternyata, mimpi malam itu benar-benar menjadi kenyataan. 


"Jadi, ini kabar baik yang mau kamu kasih tahu sama Hanna?" Tanya Andre pada Kirana. Wanita hamil itu menganggukan kepala nya, lalu tersenyum lebar.


"Tapi tunggu, kamu periksa kan setelah berhasil menenangkan Hanna. Lalu, dari mana kamu tahu kalau kamu hamil kembar, sayang?" Tanya Jeffran.


"Nah, pertanyaan yang sama. Apa jangan-jangan kamu sudah tahu sebelum nya?" Tanya Andre membuat Kirana tergelak, apalagi saat melihat ekspresi kedua pria itu. 


"Oke, sabar dulu dong. Jadi, beberapa hari sebelum nya aku tuh mimpi bertemu dua anak kembar gitu, yang satu laki-laki satu nya perempuan. Mereka nampak sangat lucu dan menggemaskan, tapi yang aku gak ngeuh itu kalau wajah kedua nya begitu mirip dengan suami aku." Jelas Kirana.


"Lalu, setelah aku memikirkan nya baik-baik aku langsung ingat saran kamu waktu itu dan kebetulan Hanna malah di rawat, jadi sekalian aku periksa." 


"Ohh, pantesan kamu ngotot pengen periksa kandungan. Rupa nya udah ada petunjuk lewat mimpi ya?" Ucap Jeff sambil menjawil mesra dagu lancip sang istri. 


"Hehe, maaf gak ngasih tahu. Soalnya kan belum jelas gitu, nama nya mimpi kan bisa bener bisa juga salah." 

__ADS_1


"Iya, sayang. Tapi Mas sangat bahagia saat mendengar kalau kamu hamil kembar." Ucap Jeff sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.


"Apalagi aku, Mas." 


"Udah, gak usah menunjukkan kemesraan kalian di depan gue. Sana masuk, Hanna udah sadar. Dari tadi nanyain Kiran terus, kayak nya dia juga penasaran dengan kabar baik yang akan di berikan oleh sahabat nya." Celoteh Andre panjang lebar. Kirana pun masuk ke dalam ruangan, sedangkan Jeff memilih duduk bersama Andre di luar ruangan inap Hanna.


Kirana masuk ke dalam ruangan Hanna, membuat gadis yang tengah merasakan sakit di kepala nya langsung menoleh. 


"Kiran.."


"Iya, Hanna. Gimana, udah mendingan? Calon manten malah sakit gini." Ucap Kirana sambil tersenyum kecil.


"Hmm, kepala aku masih sakit, Kiran. Tapi demam nya udah mendingan sih." Jawab Hanna.


"Syukurlah kalau begitu, semoga cepat sembuh ya."


"Jadi, apa kabar baik tentang keponakan aku?" Tanya Hanna, wajah nya yang tadi sendu terlihat berbinar saat ini.


"Keponakan kamu ada dua, disini." Jawab Kirana sambil mengusap perut nya yang membuncit. 


"Dua? Maksud nya, kamu hamil kembar?" Tanya Hanna dengan raut wajah terkejut nya. Kirana mengangguk, membuat Hanna refleks menutupi mulut nya dengan kedua tangan. Dia tak menyangka kalau akan punya dua keponakan sekaligus.


"Ka-mu seriusan kan ini? Gak bercanda kan?" Tanya Hanna.


"Seriusan, nih hasil USG nya. Barusan aku habis USG kok." Jawab Kirana sambil menunjukkan kertas kecil berisi hasil USG nya barusan. 


Hanna mengambil nya lalu kembali menutupi mulut nya dengan kedua tangan, kedua mata nya membeliak kaget. Benar saja, kalau sahabat nya ini hamil kembar. 


"Aaaa selamat bestie, aku bahagia banget. Langsung dua? Aaaa, aku seneng." Ucap Hanna heboh seperti biasa nya, bukan Hanna nama nya kalau tidak heboh seperti saat ini. Padahal dia sedang sakit, tapi sifat nya tidak berubah sedikit pun seperti nya malah makin menjadi. 


"Diem tuh, nanti infusan nya lepas. Mau di infus lagi?" Tanya Kirana, membuat Hanna langsung kicep. Dia langsung terdiam seketika, Kirana yang melihat hal itu tergelak.


"Aku seneng banget, Kiran."


"Makasih ya, kamu udah ikutan seneng aku hamil."


"Iya, aku harap juga nanti kalau aku hamil kembar juga. Biar sekali langsung dua, hehe." Jawab Hanna sambil cengengesan.


"Nanti, kalo kamu udah nikah sama Andre jangan pake kontrasepsi dulu. Sedikasih nya aja."


"Aku pengen nya gitu, tapi setelah nikah aku harus diskusi dulu sama Andre tentang masalah ini kan? Aku gak mau ada perdebatan nanti nya." Jelas Hanna. Ya, setelah menikah nanti apapun yang dia lakukan harus berdasarkan izin dari suami nya, karena setelah menikah semua tanggung jawab nya akan beralih tangan pada sosok pria yang menjadi suami nya.


"Iya dong, harus diskusi dulu sama suami kamu nanti. Tapi, aku yakin Andre juga gak bakalan ngelarang kamu sih kalo kamu mau langsung hamil."


"Iyaa juga, usia Andre sekarang sudah matang dan pas untuk menjadi seorang ayah." 


"Hmmm, semangat ya. Kamu harus sembuh, inget seminggu lagi kamu nikah sama Andre." Ucap Kirana, dia mengusap rambut Hanna dengan lembut. 


"Siapa sih yang mau sakit, aku juga mau nya sembuh, hehe."


"Kalau kamu gak sakit, kamu juga gak bakalan tau kalau aku hamil twins. Iya kan?"


"Nah bener tuh, jadi ambil hikmah nya aja. Cuman semua orang tahu kalau aku phobia sama jarum suntik tuh separah itu."


"Gapapa, biar nanti orang-orang waspada sama phobia kamu, Hann. Setelah menikah nanti, aku saranin kamu melakukan terapi aja." Saran Kirana.


"Takut.."


"Enggak, gak bakalan kok. Ingat, kamu harus sembuh. Kamu gak bakal bisa gini terus, suami kamu dokter lho. Cepat atau lambat pasti kamu akan melihat banyak harum suntik di rumah kamu, karena apa? Balik lagi, karena suami kamu dokter." Nasehat Kirana membuat Hanna berpikir, apa yang di katakan oleh Kirana memang benar. 


Dia tak bisa terus terjebak dengan penyakit nya ini, tapi dia juga belum siap untuk melawan rasa takut nya akan benda itu. Tapi, dia harus berani kan ya? 


"Gak usah takut, ada aku, Mama kamu, Andre, kami pasti bakal selalu ada buat kamu. Kami bakalan terus dukung kamu buat bisa sembuh ya?" 


"Iya, Kiran. Makasih banget ya, aku beruntung deh punya temen kayak kamu." Ucap Hanna tersenyum kecil.


"Aku juga, kita harus saling melengkapi ya." Hanna menganggukan kepala nya, berteman dengan Kirana adalah keputusan yang paling tepat.


Dulu, Kirana adalah gadis yang pendiam dan tidak suka berbaur. Itulah yang membuat nya tak punya banyak teman, kalau pun istirahat jam kerja, Kirana pasti ke kantin sendirian, tapi setelah Hanna datang dia terus mendekati nya dan akhirnya Kirana mau berteman baik dengan Hanna hingga saat ini.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2