Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 88 - Kelakuan Jeffran


__ADS_3

Setelah selesai dan merasa penampilan mereka sudah rapih, Kirana berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu, terlihat Tuan Martin berdiri bersama Samuel di belakang nya, Martin tersenyum ramah begitu juga Sam, tapi Kirana hanya tersenyum biasa saja. 


Dia ingat terakhir kali saat dia tersenyum pada pria lain, dia di hukum semalaman oleh Jeff, memang bukan hukuman berupa kekerasan, tapi hukuman nikmat. Tapi tetap saja jika di masuki semalaman, sakit dan perih, ngilu juga. Belum lagi senjata Jeff yang besar dan tahan lama, itu sangat menyakitkan jika terus menerus melakukan nya tanpa istirahat dulu.


Kedua pria itu melangkah masuk, Jeff menjabat tangan Martin seperti biasa juga menebar senyuman ramah. Lalu mengajak dia duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Kirana berdiri di belakang Jeff, begitu juga Sam yang berdiri dengan menenteng tas di belakang sang ayah. Pria itu mengedipkan sebelah matanya genit pada Kirana, membuat perempuan itu mendelik sebal dan segera mengalihkan pandangan nya ke samping.


"Apa kabar, tuan Jeff?"


"Seperti yang anda lihat Tuan, saya baik-baik saja." Jawab Jeffran datar.


"Syukurlah, saya turut berduka cita atas meninggalnya istri anda."


"Terimakasih Tuan, kematian adalah sesuatu yang menyakitkan tapi sudah pasti terjadi." Jawab Jeffran bijak, meski memang kepergian Queen masih sedikit menyisakan sesak di dada. Tapi sekarang, rasa sakit itu perlahan terobati. Mungkin seiring berjalan nya waktu, Jeff akhirnya bisa berdamai dengan keadaan, juga bisa menyembuhkan rasa sakit itu dan melupakan semua rasa bersalah nya pada mendiang sang istri.


"Begini Tuan Jeff, saya ingin melamar Kirana untuk putra saya, Sam."


Jederr...


Kirana menganga begitu juga dengan Jeff, dia membulatkan kedua matanya. Dengan tangan di bawah meja terkepal erat, urat-urat leher nya menegang pertanda dia tak menyukai ucapan yang keluar dari mulut Martin.


"Aaahh, aku minta maaf. Mungkin ini terlalu mengejutkan, tapi aku hanya menuruti keinginan putraku, lagipun Kirana dan Sam sama-sama masih lajang." Ucap Tuan Martin seolah tanpa dosa, dia tak memperhatikan perubahan raut wajah pria di depannya dengan seksama seperti nya. Padahal wajah Jeff saat ini menunjukan ketidaksukaan nya dengan sangat kentara.


Sam tersenyum penuh kepuasan, apalagi saat melihat raut wajah Kirana. Kenapa hal semacam ini bisa terjadi? Padahal dia sudah sangat senang, beberapa bulan ini dia tak di ganggu oleh pria menyebalkan bernama Samuel Robertson.


"Kenapa anda melamar Kirana melalui saya?"


"Saya dengar dari Sam, kalau ibu nya Kiran koma setelah operasi, jadi saya pikir saya bisa meminta nya pada Anda." Jawab Martin, dia mendapatkan informasi itu dari putra nya.


"Ohh, anda tidak tau kalau ibu Kirana sudah meninggal satu bulan yang lalu?" Mendengar ucapan Jeff, Sam dan Martin kompak membulatkan mata mereka.


"Iya Tuan, ibu saya sudah meninggal satu bulan yang lalu." Kirana angkat bicara juga akhirnya, dari tadi dia hanya terdiam menyimak pembicaraan para pria itu.


"Saya ikut berduka cita, Kiran. Cukup terlambat memang, tapi tak ada salah nya mengucapkan bela sungkawa." Ucap Martin.


"Terimakasih, tuan." Balas Kirana lirih. Tak bohong jika kepergian ibu nya sangat membekas di hatinya.


"Ya, memang sudah terlambat. Seperti nya anda dan putra anda kalah cepat melamar Kirana, karena Kirana sudah menikah."


"Benarkah?" Tanya Martin tak percaya, dia tak mendengar apapun dari sang putra selain ketertarikan nya pada perempuan bernama Kirana itu.

__ADS_1


"Silahkan tanya saja sendiri."


"Benarkah? Kenapa aku tak tau, kapan dan siapa pria itu, Kiran?" tanya Sam cukup emosional. Sebenarnya Kirana malas bicara dengan Sam, tapi saat melihat Martin dia merasa tak enak hati karena pria paruh baya itu adalah salah satu klien penting di perusahaan tempat dia bekerja.


"Kenapa kau perlu tau? Lagipun aku rasa itu bukan urusan mu, memang nya siapa yang mau dengan pria kurang ajar seperti dirimu. Tapi maaf, Tuan Martin. Sam adalah tipe pria yang tak bisa menghargai wanita, dia pernah melecehkan saya." Ucap Kirana panjang lebar. 


Jeff tersenyum miring mendengar jawaban Kirana, dia puas dengan jawaban perempuan itu. Dia berharap kedua pria itu segera pergi dan dia bisa melanjutkan permainan panas nya bersama sang istri.


"Benarkah?" Tanya Tuan Martin, dia merasa belum percaya sepenuhnya. Padahal dia sudah sangat bahagia karena akhirnya putra nya kembali normal dan meninggalkan kebiasaan menyimpang nya, dan itu semua berkat Kirana.


"Iya Tuan, Sam memeluk saya tanpa izin, mencium saya, juga meraba-raba tubuh saya. Jadi saya minta maaf, saya tak bisa menerima lamaran anda. Lagi pun, benar yang di katakan tuan Jeff kalau saya memang sudah menikah."


"Sudah kuduga, Sam! Kau selalu saja mempermalukan aku." Ucap Martin dengan kepala yang menggeleng, dia memijit kening nya yang terasa berdenyut mendengar kelakuan sang putra.


"T-api itu tak sengaja, pah."


"Sudahlah, maafkan saya mengganggu waktu anda tuan Jeffran. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Tuan Martin, lalu dia bangkit dari duduknya, menatap tajam wajah sang putra dan berjalan cepat meninggalkan ruang kerja Jeffran. 


Terlihat jelas kalau Tuan Martin sangat kecewa atas perbuatan putra nya yang sudah melecehkan wanita. Dia sangat marah pada Sam karena merasa gagal mendidik putra nya agar bisa menjadi pria yang menghargai wanita.


Kirana menatap punggung pria paruh baya itu dengan nanar, sebenarnya dia juga merasa bersalah telah menjawab seperti itu, tapi dia tak mau masalah ini berlarut-larut dan alot penyelesaian nya.


"Aku suka jawaban mu, Sayang." Ucap Jeff, dia berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan mendekat, namun kaki nya tak sengaja menginjak sesuatu. Jeff melihat ke bawah, seketika dia terkekeh. Dia mengambil benda yang dia injak dan memperlihatkan nya pada Kirana, perempuan itu berusaha merebut nya tapi Jeff menghindari tangan sang istri dan membawa benda itu ke atas kepala nya.


"Mass ihhh.." Rengek Kirana sambil berusaha mengambil benda miliknya itu dari tangan sang suami.


"Kenapa gak kamu pakai? Gimana kalau ada klien yang lihat ini, ceroboh sekali." Ucap Jeff masih dengan kekehan nya. Bagaimana bisa dia tak tertawa, celana dalaam istrinya teronggok begitu saja di lantai. Kain tipis berenda berwarna hitam, penutup aset berharga milik nya itu tergeletak mengenaskan di lantai, beruntung nya itu berada di dekat kursi kebesaran nya, jadi tak mungkin Martin atau Sam melihatnya.


"Tadi kan buru-buru, ihhh siniin."


"Akan aku berikan setelah permainan kita yang tadi di lanjutkan." Jawab Jeffran dengan suara berat nya, pria itu tersenyum licik ke arah Kirana.


"Udah gak mood, tadi lagi enak-enaknya malah keganggu." Jawab Kirana sambil cemberut.


"Makanya kita lanjut, Sayang."


"Enggak ahh, capek." Tolak Kirana, tapi sepertinya Jeff belum menyerah untuk membujuk istrinya agar mau melanjutkan permainan panas yang sempat tertunda tadi.


"Capek apanya? Kamu cuma tinggal tiduran, kan aku yang gerak." Jawab Jeffran.

__ADS_1


"Aku gak mau, sakit.."


"I will do it gently, Babe." Jawab Jeffran, dia menarik tangan istri nya dan membawa nya ke kamar rahasia di ruangan ini, Kirana bahkan baru tau ada kamar pribadi di ruangan ini.


Jeff masuk dan mengunci pintunya, dia membuka seluruh pakaian nya dan mendorong Kirana ke atas ranjang, dia membuka satu persatu kancing kemeja Kirana dengan mulutnya, tangan nya juga bekerja ekstra, mengusap lembut gundukan hangat yang terasa lembab di bawah sana, lembah hangat, basah nan nikmat yang menjadi sarang ular berbisa miliknya.


"Aahhh.." Kirana mendesah tertahan saat Jeff menenggelamkan kepalanya dia daerah inti nya, memainkan klitorisnya dengan lidah, memutar-mutar nya membuat Kirana berteriak nikmat, biasanya dengan pemanasan ini saja, Kirana bisa merasakan ledakan dahsyat yang disebut klimaaks.


"Please be gentle."  Ucap Kirana lirih, saat gigi suami nya mulai menggigit manja kacang kecil milik nya dengan penuh nafsuu. 


"Yes, i wana be gentle." Jawab Jeff, dia pun bangkit dan segera menyatukan inti tubuh mereka. Dengan gerakan pelan, dia mulai bergerak memompa sesuatu di bawah sana dengan gerakan yang berirama. 


Kirana melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami, sesekali mereka berciuman mesra. 


"Aasshh, Mas pelan-pelan.."


"Aku ingin meledaak, sayang." Jawab Jeff, akhirnya Kirana pun pasrah di bawah Kungkungan tubuh kekar sang suami, meskipun tubuhnya berguncang karena gerakan pria itu yang semakin cepat.


Hingga beberapa detik kemudian, rahim nya terasa menghangat saat Jeff berhasil mendapatkan pelepasan nya yang terasa sangat luar biasa. 


"Terimakasih sayang, pelayanan mu luar biasa." Ucap Jeffran, nafas nya masih tersengal setelah berhasil mendapatkan puncaknya. 


"Iya, Mas." Jawab Kirana. Jeff pun menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.


"Tidurlah.."


"Tapi pekerjaan kita, Mas."


"Bisa di tunda, sayang. Sekarang kamu istirahat saja dulu." 


"Baiklah, Mas. Aku merasa lemas setelah bermain." Jawab Kirana sambil tersenyum kecil.


"Hmmm, tidurlah." Jeff pun memeluk istrinya, menyandarkan kepala sang istri di dada bidang nya. Kedua nya pun tertidur lelap, melupakan sejenak beban pekerjaan. Padahal, maksud dan niat dari rumah mereka datang ke kantor untuk bekerja. Tapi setelah sampai di kantor, mereka malah bergulat di atas ranjang.


Kalau hanya untuk melakukan itu, kenapa tidak di rumah saja? Ada-ada saja memang pasangan suami istri ini.


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1



__ADS_2