Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 92 - Kok Basah? Kamu Ngompol?


__ADS_3

Setelah melamar Kirana dan perempuan itu menerima nya, keesokan harinya keduanya sedang dalam perjalanan ke sebuah tempat, ada sebuah tempat yang sangat ingin Kirana kunjungi, yaitu makam ibunya.


"Kamu senang, Sayang?" Tanya Jeffran, Kirana mengangguk cepat dengan senyuman yang tak pudar sedari tadi. Selain bahagia karena Jeff mengajak nya berkunjung ke rumah baru ibu nya, setelah hampir dua bulan dia tidak berkunjung kesana.


"Setelah ini, katakan saja apapun yang membuatmu senang maka aku akan memberikan nya." Jawab Jeffran membuat Kirana menoleh dan menatap wajah tampan suaminya.


"Terimakasih sudah memilih aku, padahal banyak wanita lain yang berharap mendapatkan mu tapi kamu malah memilih aku yang serba kekurangan." Ucap Kirana merasa rendah di hadapan Jeff yang memiliki segalanya, uang, jabatan, dan kekuasaan dia memiliki semuanya.


"Aku yang akan menjadi penyempurna mu, Sayang. Begitu pun aku, kamu yang akan melengkapi hidupku." Jawab Jeffran, membuat Kirana merasa sangat bahagia karena Jeff ternyata pria yang sangat baik.


"Tak ingin memeluk ku?" Tanya Jeffran membuat Kirana terkekeh pelan dan langsung memeluk suami nya erat. Seolah pelukan ini adalah yang pertama, padahal setiap detik, menit, hari, Jeff selalu memeluknya, termasuk saat tidur dia tak pernah lupa memeluk nya.


"Aku ingin, aku adalah tempatmu pulang, tempatmu berkeluh kesah, aku ingin menjadi yang pertama dan terakhir untukmu, Kirana. Aku ingin menjadikan mu perempuan yang paling bahagia karena mendapatkan aku, kamu bisa kan?"


"Saat ini saja, aku sudah sangat bahagia karena kamu memilih ku." Jawab Kirana tanpa mendongak, dia menikmati pelukan hangat Jeffran, menduselkan wajah nya di dada bidang pria itu.


Singkatnya, mobil yang di kemudikan Pak Amar berhenti tepat di depan rumah panggung sederhana milik mendiang ibu Kirana, rumah itu nampak masih berdiri kokoh dengan tanaman hias di bagian depan, menambah asri suasana rumah itu. Kirana turun dari mobil mewah Jeff di ikuti pria itu yang menggandeng mesra tangan Kirana.


Bi Marni mendekat dan langsung memeluk Kirana dengan haru, begitu juga Kirana. Dia menangis di pelukan Bi Marni, jujur saja dia sangat merindukan pelukan Bi Marni yang dulu adalah tempatnya membagi semua masalahnya.


"Apa kabar, Kiran? Kamu semakin cantik, Nak."


"Kiran baik Bi, bibi sendiri bagaimana?"


"Bibi juga baik, kamu merindukan bibi?" Tanya Bi Marni, Kirana menganggukan kepalanya dengan cepat, dia memang sangat merindukan Bi Marni.


"Bibi juga Nak, ohh apa ini? Kalian sudah bertunangan?" Tanya Bi Marni lagi saat tak sengaja dia melihat cincin berlian di jari manis Kirana.


"Kami sudah menikah, Bu." Jawab Jeffran yang membuat Bi Marni tersenyum, dia senang mendengar kalau Kirana sudah menikah dengan pria pujaan nya.


"Syukurlah, berbahagialah ya nak."


"Iya Bu, terimakasih doa nya." Bukan Kirana yang menjawab, tapi Jeffran.


"Jangan lupa, berkunjung ke rumah baru Ibumu, sudah lama kamu tak mengunjungi nya kan? Kabari dia Nak, kalau kamu sudah menjadi istri orang." Saran Bi Marni, memang itu tujuan Kirana kemari, dia ingin berkunjung ke makam ibunya. Tempat peristirahatan ibunya itu berada tak jauh dari rumah mereka, hanya perlu jalan kaki saja saking dekatnya.


"Iya Bi, Kiran memang mau kesana sekarang."


"Pergilah, nanti kalau sudah selesai mampir ke rumah bibi ya. Bibi mau masak makanan kesukaan kamu."


"Gak usah repot-repot Bi." Ucap Kirana merasa tak enak pada Bi Marni, wanita paruh baya itu memang selalu baik padanya.


"Siapa yang repot, enggak kok. Jangan lupa nanti mampir dulu ya, bibi tunggu. Awas kalau kalian pulang sebelum mampir, bibi akan marah."


"I-iya Bi, terimakasih kalau begitu." Ucap Kirana, lalu pergi dengan bergandengan tangan, tentu saja karena Jeff selalu menggenggam tangan nya, seperti mau nyebrang aja padahal Kirana sudah besar tak perlu di genggam tangan nya terus.


Kirana tersenyum samar saat pemakaman sudah mulai terlihat, dia berjalan duluan sedangkan Jeffran membeli bunga terlebih dulu. Kirana berjongkok di depan pusara sang ibu, wanita yang sudah melahirkan nya 23 tahun silam. Kirana mencabuti rumput yang mulai tumbuh di sekitar gundukan tanah itu, dia menciumi nisan sang ibu dengan penuh perasaan.


"Ibu, apa kabar Bu? Maafin Kiran, baru datang lagi." Ucap Kirana, sambil mengusap pusara ibunya itu.


Jeffran menatap Kirana yang berjongkok sambil memegangi pusara ibunya, dia ikut berjongkok lalu mengusap lembut pundak perempuan cantik itu. Kirana menoleh, Jeff tersenyum manis menguatkan Kirana, dia tau hati perempuan itu pasti sedang tidak baik-baik saja sekarang ini.


"Bu, ini Mas Jeff. Suami Kirana , ibu tahu? Kirana bahagia sama dia, meski hubungan kami salah di awal, tapi ibu tak perlu khawatir karena mendiang istri nya juga sudah merestui hubungan kami. Ibu senang? Sayangnya, Ibu keburu pergi sebelum sempat menimang cucu dari Kiran." Ucap Kirana, berkali-kali dia menahan sesak di dadanya, mencoba agar tak menangis dan terlihat lemah saat ini, dia tak mau ibunya khawatir dan tak tenang dalam istirahat nya.


"Ibu mertua, aku adalah pria yang merusak masa depan Kirana, aku juga yang sudah melibatkan nya dalam kemelut rumah tanggaku, tapi sekarang aku berjanji demi nyawaku sendiri, aku yang akan menjaga Putri mu seumur hidupku. Aku akan membahagiakan Kirana semampu ku, aku juga akan mencintai Kirana dengan segenap hati. Jadi, ibu merestui hubungan ku dengan Kirana kan? Aku harap Ibu memberi restu pada kami."


"Taburkan bunga ini, Sayang. yakinlah ibu mu pasti bahagia dan tidur dengan tenang." Ucap Jeffran, dia mengulurkan sekantong bunga segar ke tangan Kirana dan perempuan itu langsung menaburkan bunga itu di atas makam sang ibu, Jeff juga membeli beberapa buket bunga dan meletakan nya di atas pusara Ibu Nita, ibu kandung Kirana sekaligus ibu mertua nya.


Singkatnya, acara berkunjung sudah selesai, tak lupa juga mampir di rumah Bi Mirna. Mereka juga pergi ke tempat peristirahatan mendiang Queen, mereka melakukan hal yang sama. Berkunjung dan memanjatkan doa-doa untuk ketenangan mereka beristirahat.


Jeff dan Kirana sedang dalam perjalanan pulang dengan supir setia, siapa lagi kalau bukan Pak Amar sang mantan pembalap.


"Terimakasih sudah mengantar kami ke banyak tempat hari ini, Pak."


"Sama-sama Nona." Jawab Pak Amar.


"Jangan tersenyum di depan orang lain semanis itu, Sayang! Ayo masuk." Tegas Jeffran dengan ekspresi wajah kusut sekusut bungkus nasi padang.


"Lho memang nya kenapa? Kan cuma senyum doang." Tanya Kirana, dia mana tau alasan Jeffran melarang nya tersenyum pada orang lain.


"Aku tidak suka, apalagi kau tersenyum pada laki-laki, itu membuat aku cemburu!"

__ADS_1


"Haaa?" Kirana menganga, cemburu katanya? Tapi kan Pak Amar sudah tua dan punya istri di rumah.


"Ayo masuk!" Tegas Jeffran lalu menarik tangan Kirana masuk ke dalam mansion. Perempuan itu terkekeh, wajah cemburu Jeffran sangat menggemaskan di matanya.


"Cieee yang cemburu." Goda Kirana, sambil menoel-noel lengan suaminya.


"Diamlah, aku tak suka ya! Awas saja kalau kau tersenyum manis seperti itu lagi di hadapan orang lain apalagi laki-laki, aku pasti akan menghukum mu." Ucap Jeffran dengan delikan di matanya, menandakan kalau dia benar-benar kesal.


"Iya iya, sebagai istri yang baik aku akan menurut pada suami tampanku." Jawab Kirana sambil menangkup kedua sisi wajah Jeffran dengan gemas, lalu mengecup bibir Jeffran singkat.


"Nahh gitu dong, uhhh cantiknya istriku."


"Eheemmm, kalau mau mesra-mesraan di kamar saja, bikin iri yang lain." Ucap Radit, sambil memalingkan wajahnya lalu keluar dengan secangkir kopi di tangannya, membuat pasangan itu salah tingkah dengan wajah yang memerah karena malu.


Sedangkan di rumah sakit, seorang dokter baru saja keluar dari ruangan operasi. Keringat nya membanjiri kening nya, dia baru saja menyelesaikan sebuah operasi besar yang menyangkut nyawa seseorang. Dialah Andrean Revano, dokter spesialis penyakit berat sama dengan dokter Azhar, mereka berdua dokter muda yang sukses di puncak karir sebagai dokter ahli bedah juga.


"Operasi yang cukup melelahkan, Az." Ucap Andre kepada Azhar yang juga baru saja keluar dari ruangan operasi lain, tentunya juga setelah menyelesaikan tugasnya.


"Sama, mana suster nya takut darah lagi, bukan nya ngebantuin malah nyusahin." Ketus Azhar, pasalnya tadi operasi itu di dampingi suster jaga yang ternyata takut dengan darah, dia malah pingsan di ruangan operasi itu, membuat yang lain panik padahal operasi baru saja di lakukan.


"Kenapa gak suster yang biasanya?"


"Dia gak masuk, sakit katanya." Jawab Azhar. Mereka memang punya suster jaga khusus yang akan menemani selama di ruangan operasi, tapi karena suster itu sedang sakit jadi di gantikan suster jaga lain, dan akhirnya terjadi keributan. 


Beruntung saja nyawa pasien masih bisa di selamatkan, operasi itu berhubungan dengan nyawa manusia yang tak ada cadangan nya, terlambat sedikit saja nyawa taruhan nya dan bisa saja keuarga korban itu melapor ke polisi atas kelalaian ahli medis, akhirnya mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Sudah ada beberapa dokter yang di penjara karena lalai saat melakukan operasi.


"Sakit apaan?"


"Sakit hati kali, denger-denger baru putus sama pacarnya." Jawab Azhar membuat Andre tergelak.


"Sakit hati sampe kagak masuk kerja."


"Baper akut, dia pacaran sejak kerja disini sih. Sekitar enam tahun lalu, lama juga jadi wajar aja dikit baper pas udahan."


"Ayangg..." Pekik seseorang membuat Andre dan Azhar menoleh bersamaan.


"Eehh, sayang." Andre berdiri dari duduknya dan merentangkan tangan nya, Hanna mendekat dan langsung memeluk Andre cukup erat.


"Kangen, kamu kenapa gak ke rumah?" Jawab Hanna manja.


"Sama, aku juga kangen sayang. Tapi kerjaan aku banyak, jadi kalo kamu kangen kesini aja. Lagian besok kita kan ketemu, aku bakal ke rumah."


"Pengen manja-manjaan aja, besok kan acara keluarga." Jawab Hanna lagi membuat Andre tersenyum. Dia membingkai wajah Hanna dan mendekatkan bibirnya di bibir Hanna, tapi sebelum bibir itu sempat menempel, sebuah suara mengejutkan kedua nya.


"Ehemm.." Azhar berdehem, dia merasa keberadaan nya tak di inginkan membuat mereka melupakan nya.


"Sayang, ini Azhar teman ku disini. Dia juga dokter ahli bedah juga sama denganku." Azhar mengenalkan teman nya pada Hanna, tapi gadis itu terlihat seperti memikirkan sesuatu, matanya memicing menatap Azhar yang nampak datar.


"Ohhh, gue ingat! Lo dokter sombong yang waktu itu nyipratin air ke rok gue kan? Pantesan wajah datar Lo keliatan gak asing!" Ucap Hanna setelah berhasil mengingat siapa sosok Azhar.


"Lah, Lo cewek somplak itu ternyata. Gue udah minta maaf waktu itu, lagian gue kagak sengaja." Jawab Azhar santai.


"Sialan Lo, awas aja ya gue masih kesel." Ucap Hanna lalu melepaskan sepatunya bersiap menimpuk Azhar dengan sepatunya, tapi Andre keburu mencegahnya.


"Sayang, sebenarnya ada apa sih? Kamu pernah ketemu dia, dimana?" Tanya Andre lembut.


"Pernah sayang, dia bawa motor nya kenceng banget aku lagi jalan deket genangan air terus doa lewat gitu aja, jelas dong rok aku kotor, basah juga kena air comberan, dan sialan nya dia cuma bilang maaf terus pergi lagi. Nyebelin banget tuh, temen kamu itu. Pukul napa sih, yang. Sebel liat wajah datar nya, berasa pengen nampol." Ucap Hanna mengadu.


"Ya sorry, gue kagak sengaja."


Pukk..


"Aiisshhh sakittt!" Ringis Azhar saat sepatu hitam mengkilat milik Andre itu mendarat sempurna di kepalanya. Ternyata Andre yang menimpuk Azhar dengan sepatunya, membuat pria itu mendelik.


"Gue gak ada salah sama Lo ya, Ndre."


"Tapi sama pacar gue, Lo punya Azhar." Jawab Andre, membuat Hanna tersenyum penuh kemenangan.


"Iya iya, gue minta maaf, gue gak sengaja waktu itu. Gue juga lagi buru-buru ada jadwal operasi pagi, sorry ya calon nyonya Andre."


"Ganti rugi sini," Azhar menghela nafas nya, lalu mengeluarkan dompet nya dan mengulurkan selembar uang merah dari dompet nya itu.

__ADS_1


"Sorry ya.."


"Okey, jangan lupa datang hari minggu." Jawab Hanna lalu menerima uang itu, tapi sedetik kemudian dia mengembalikan nya lagi. Membuat Azhar mengernyit, tadi dia meminta ganti rugi tapi sekarang dia malah mengembalikan nya, jadi maunya gadis itu apa sih?


"Gue gak butuh, Andre juga masih mampu ngasih gue duit."


"Yaudah, ayo ke ruangan ku Sayang. Kamu bawa apa?" Tanya Andre saat melihat rantang makanan di tangan nya.


"Makan siang buat kamu sayang, ikan gurame bakar sama sambal bawang."


"Wihh enak tuh, yaudah ayo." Andre menarik tangan Hanna ke ruangan nya.


"Jangan mesum oyy!" Pekik Azhar, membuat Andre berbalik dan bersiap menimpuk teman nya lagi, beruntung saja Azhar keburu menghindar.


"Gue mesum juga ada lawan nya, lah elu? Dasar jones!" Ejek Andre membuat Azhar mendelik sebal ke arah teman nya.


"Cihh si anjir, dia berubah kalau udah ketemu pawang nya." Gumam Azhar sambil menggelengkan kepalanya.


Andre dan Hanna duduk di sofa berdempetan tanpa jarak, Hanna sedang menyajikan makanan yang sudah dia masak, sedangkan Andre malah mendusel manja di bahu nya.


"Sayang, diem dulu bentar."


"Kangen.." Rengek nya manja, membuat Hanna terkekeh.


"Suruh siapa gak ke rumah?"


"Capek yang, kerjaan banyak. Ini juga baru selesai operasi besar, capek banget." Keluhnya, tangan nakal nya mulai beraksi merayap ke segala tempat yang bisa dia jangkau. Andre menyandarkan dagunya di pundak Hanna, dengan tangan yang menyusup ke dalam pakaian yang gadis itu pakai, meremaas buah kenyal sang gadis yang masih tertutup batok kelapa.


"Katanya capek tapi tangan mu aktif banget."


"Beda lagi dong, ini mah kerjaan yang buat mood aku baik lagi, enak kenyal-kenyal mana gede lagi. Pengen neneen boleh?" Pinta Andre dengan ekspresi yang sungguh menggemaskan, mata nya membulat lucu membuat Hanna terkekeh geli melihat cara membujuk versi Andre.


"Gak makan aja dulu?"


"Minum susu murni dulu, lebih enak biar aku sehat Sayang." Jawab Andre, makin tergelak saja Hanna di buatnya. Susu murni katanya? Ya memang susu murni, langsung dari sumbernya.


Andre membuat Hanna setengah berbaring di sofa, lalu sedikit menindih nya. Menyibak sweater yang gadis itu pakai dan langsung mengeluarkan kedua bukitan kenyal itu dari wadah penyangga nya, dia begitu lahap memakan puncak kecil di puncak buah kenyal milik Hanna, bagai bayi yang kehausan dia terus menguluum nya hingga merasa puas. 


Selain menguluum puttingnya, Andre juga memberikan gigitan-gigitan kecil hingga meninggalkan bekas kemerahan tanda cinta atau tanda nafssu entahlah tanda apa itu namanya.


Hanna mengusap rambut Andre, sesekali pria itu mendongak dan tersenyum samar ke arah gadisnya, mulutnya penuh dengan buah pepaya ranum yang begitu nikmat padahal tak ada rasanya sama sekali, tapi entah kenapa para pria menyukai susu itu. Padahal hanya gumpalan lemak tapi bisa membuat bergaiirah? Ahh entahlah.


"Eenghhh.." Hanna melenguh saat Andre mulai bermain di lehernya, dia juga melakukan hal yang sama di leher Hanna, memberikan nya beberapa tanda kemerahan.


"Sayang, sudah ya? Makan dulu, aku juga belum makan." Pinta Hanna, nafas nya sudah tersengal karena jujur saja sentuhan Andre membuatnya bergairah. Tapi karena dia punya prinsip, jadi dia menahan nya sebelum benar-benar kebablasan.


"Masih pengen dong, Yang. Belum kenyang."


"Mau kenyang apaan? Makan ini gak bakalan buat kamu kenyang, gak ada apa-apanya."


"Tapi enak, bikin nagih sayang." Jawab Andre.


"Yaudah, nanti aja lagi. Makan dulu, aku kesini pengen makan bareng bukan malah di makan gini." Terpaksalah, Andre melepaskan kedua buah kenyal itu. Hanna memasukkan nya kembali ke dalam wadahnya.


"Ehh btw, kamu kok bisa jadi dokter sih? Emang ada ya, yang mau berobat sama dokter somplak kayak kamu?" Tanya Hanna di sela makan nya.


"Aku serius kalo lagi mode kerja sayang, mode somplak cuma kalau lagi sama kamu aja."


"Pengen lihat deh kamu tuh seriusnya gimana, jadi penasaran."


"Makanya temenin suami kalo lagi kerja, kamu tidur mulu di rumah sih."


"Aku juga kerja sayang, mana bisa aku setiap saat kesini." Ucap Hanna.


"Resign aja nanti."


"Iya kalau kita udah nikah terus aku hamil, baru aku ngajuin resign, sayang lho kerjaan bagus di sia-siakan."


"Iya sayang. Ehh, kenapa celana kamu basah? Kamu ngompol?" Tanya Andre saat melihat sekelebat segitiga Hanna basah karena gairaah nya yang tiba-tiba saja bangkit karena sentuhan Andre. 


Wajah Hanna memerah, membuat Andre yakin kalau Hanna juga sebenarnya ingin melakukan hal yang lebih, tidak hanya sekedar ciuman atau menyusuii. Tapi dia masih waras dan memegang teguh prinsip nya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2