Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat

Kirana, Wanita Pelampiasan Hasrat
Bab 85 - Terciduk Lagi


__ADS_3

Siang harinya, Andre benar-benar membawa Hanna ke rumahnya. Selain ingin Hanna mengenal ibunya, dia juga niat lain tentunya, dan tidak jauh dengan hal-hal mesum pastinya.


"Aku bawa apa ya buat Mami?" Tanya Hanna, saat ini keduanya tengah dalam perjalanan ke rumah Andre dengan menggunakan mobil pria itu. 


"Udah gak usah, aku aja ke rumah kamu gak pernah bawa apa-apa." Celetuk Andre membuat Hanna mencebikan bibir nya.


"Gak ada inisiatif kamu mah, bawain bakso kek, seblak atau martabak, cemilan kek, es krim." Cetus Hanna membuat Andre terkekeh.


"Aku kira kamu gak suka makan, sayang. Soalnya badan kamu kecil banget, jadi pengen nindih deh."


"Enggak ahh, nyadar diri dong. Kamu tinggi besar gini, masa mau nindih aku yang imut ini." Balas Hanna.


"Di tindih enak lho, yang."


"Udah jangan mesum mulu, di toko kue berhenti ya, Mami suka brownies gak?" Tanya Hanna, dia mana tau Maminya Andre menyukai makanan apa.


"Mami sukanya tuh kue yang di cup itu lho, tapi yang coklat."


"Cupcake bukan?" Tanya Hanna.


"Aku gak tau namanya, sayang."


"Yaudah, nanti kamu turun juga ya." Ucap Hanna, Andre mengangguk dan kembali fokus menyetir. Tiba-tiba saja, Hanna merasa ingin pipis hingga membuatnya duduk tak nyaman.


"Kenapa sayang?"


"Kebelet, maklumlah gugup mau ketemu camer." Jawab Hanna sambil cengengesan, membuat Andre terkekeh geli. Gugup katanya? Padahal dirinya tak pernah merasakan gugup saat berhadapan dengan Mama nya Hanna, hanya saja tadi malam dia memang sedikit gugup karena ketahuan sedang bermesraan dengan Hanna di dapur. Memang dia tak marah, justru menyuruh mereka cepat menikah. Andre senang-senang saja mendengar nya, usia nya sudah sangat pantas untuk berkeluarga.


Andre menghentikan mobil nya di pom bensin, selain ingin mengisi bensin disini juga ada toilet umum yang bisa membuat Hanna lega, jika hajatnya sudah tertunai.


"Pipis dulu sana, nanti ngompol di mobil kan gak lucu."


"Iya iya, makasih." Jawab Hanna, lalu segera keluar dengan terburu-buru. Andre menyeringai, dia punya serangkaian rencana mesum untuk Hanna. Tanpa perempuan itu tau, Andre mengikutinya masuk ke dalam toilet umum.


Hanna memekik saat pintu toilet tiba-tiba saja terbuka, dia kaget bukan main, siapa yang berani masuk ke dalam toilet yang sedang ada orangnya? Dia buru-buru menutupi area sensitif nya dengan rok.


"Sayang.."


"Isshh, kamu ngapain masuk kesini?" tanya Hanna saat melihat Andre yang masuk. Di sisi lain dia merasa lega karena ternyata Andre yang masuk bukan orang lain, tapi disisi lain dia juga khawatir saat mengingat betapa sangean nya pria di depan nya.


"Pengen lihat kamu pipis, sayang. Lagian, kenapa pintu nya gak di kunci?" jawab Andre pelan, sangat pelan hingga hanya Hanna dan dirinya saja yang bisa mendengarnya.


"Malu dong, keluar cepet aku sudah selesai kok."


"Cebok dulu sayang, dan aku akan disini sampai kamu selesai." Jawab Andre tak mau kalah, Hanna cemberut, bagaimana bisa dia mesum di tempat umum seperti ini?


"Ayo cepat sayang, aku penasaran ingin melihatnya." Hanna terpaksa segera membersihkan area inti nya dengan air, bertindak seolah disana tak ada Andre, dia menganggap hanya ada dirinya sendiri disini.


Andre menganga saat melihat kacang kecil yang terjepit di antara irisan kecil yang di hiasi bulu-bulu tipis, terlihat sangat menggoda, membuat adik kecilnya langsung terbangun seketika.


"Udahkan? Ayo pergi, gak enak lama-lama di toilet, bau." Hanna menarik tangan Andre keluar dari bilik toilet itu dan segera memasuki mobil. Mereka melanjutkan perjalanan, namun Andre tak fokus mengemudikan mobil nya karena senjatanya yang tiba-tiba saja aktif setelah melihat isi mahkota milik Hanna, celana nya terasa sesak karena benda itu membesar dan mengeras.


"Kenapa? Kok duduknya kayak gak tenang gitu, pengen pipis juga?" Tanya Hanna polos, dia mana tau kalau benda itu terbangun dari tidur panjang nya.


"Iya, pengen pipis enak. Kamu mau?"


"Pipis enak apa? Setauku pipis memang enak sih, bikin lega." Jawab Hanna, saking polosnya dia tak mengerti apa makna dari ucapan ambigu Andre.


"Kita ke hotel dulu ya?"


"Ihh mau apa? Jangan macam-macam ya kamu."


"Plis sayang, lihat dia terbangun." Hanna mengikuti arah telunjuk Andre yang mengarah langsung ke area pribadi nya, celana nya nampak menonjol membuat Hanna mengulum senyum.

__ADS_1


"Kenapa bangun? Perasaan aku gak ada goda kamu."


"Tadi di kamar mandi aku lihat punya kamu, ehh jadi pengen." Jawab Andre, suara nya mulai berat menahan gejolak panas dari senjata nya yang meronta ingin di keluarkan.


"Iya itu kan salah kamu sendiri, jangan nyalahin aku untuk perbuatan mesuum kamu."


"Tapi ayang, aduhh sesak banget ini." 


"Sesak ya? Keluarin aja kalo gitu." usul Hanna, membuat Andre berbinar.


"Mainin ya? Atau di makan kayak di video-video." Ucap Andre antusias.


"Idih, enggak deh, jijik." Jawab Hanna, Andre menginjak pedal rem nya, mobil itu pun berhenti di pinggir jalan yang terlihat sepi. Hanna mulai ketar ketir sendiri, berduaan dengan Andre bisa-bisa membuat nya serangan jantung mendadak karena terus saja berdebar-debar tak ada hentinya.


Andre membuka seat belt dan mencondongkan tubuhnya ke arah Hanna, membuat kursi yang diduduki Hanna menjadi posisi yang lebih pas untuk nya melakukan sesuatu, Hanna yang terkejut membulatkan mata nya, tapi sebelum perempuan itu sadar dari keterkejutan nya, Andre meraih kepala gadis itu hingga bibir mereka bersentuhan. Andre mencium bibir Hanna dengan mesra, dia juga membuka pengait dan resleting celana nya, membuat senjata nya bisa sedikit bernafas.


Tangan Andre mulai menggerayangii tubuh Hanna, meremas buah kenyal favorit nya dengan lembut, sesekali memainkan ****** nya dengan gemas, membuat Hanna melenguh beberapa kali dalam ciuman itu. Tangan Andre begitu tak tau diri, dia menyibak rok pendek Hanna dan menyelipkan tangan nya diantara paha Hanna, membuat nya langsung merapatkan kaki nya.


"Eemmpphhh.." Hanna meronta sebagai bentuk protes akan perbuatan lancang Andre yang terlalu berani melakukan hal itu, tapi pria itu seakan tak peduli dan tetap melanjutkan kegiatan nya. Tangan itu merayap nakal, hingga menyentuh area inti Hanna yang masih terhalang ****** ***** yang Hanna pakai. Andre tersenyum smirk dalam ciumannya, dia menjadi lebih berani dan menelusupkan tangannya ke dalam ****** ***** Hanna, mengusap inti perempuan itu dengan lembut, membuat Hanna kelimpungan.


Hanna menggigit bibir Andre, sontak saja pria itu melepaskan pagutan bibir nya, dia meringis karena bibir nya berdarah.


"Sayang.."


"Kamu di diemin malah ngelunjak ya, gak sopan!" Ketus Hanna dia membenarkan rok nya, gadis itu menyedekapkan tangan nya di dada, pertanda kalau dia sedang kesal saat ini.


"Cuma ngusap doang sayang, gak aku masukin."


"Mesuum."


"Aku mesumnya cuma sama kamu doang, sayang. Lagian, kamu kan udah tau aku mesumaan, yang." Ucap Andre, membuat Hanna memutar matanya jengah.


"Jadi ke rumah Mami gak? Kalau enggak, aku turun disini aja." Rajuk Hanna.


Singkatnya, keduanya sampai di rumah Andre, rumah bergaya eropa yang cukup megah dengan dua lantai. Rumah itu terlihat sangat hangat, apalagi saat Hanna memasuki nya.


"Hanna.."


"Mami.." Hanna langsung memeluk Mami Andre dengan erat, wanita paruh baya itu juga tak menolak pelukan calon menantu nya, malah menyambutnya dengan hangat.


"Apa kabar sayang? Kenapa mampir kesini gak bilang-bilang dulu?" Tanya Arina, maminnya Andre.


"Baik Mi, ini Hanna bawain kue. Kali aja Mami suka."


"Terimakasih sayang, padahal gak usah repot-repot. Kamu mampir kesini saja, Mami sudah senang." Jawab Arina, dia menerima sekotak kue itu dari tangan Hanna.


"Duduk dulu, Mami ambilin minum dulu."


"Baik Mi, terimakasih." Ucap Hanna, dia duduk di sofa empuk di ruangan tengah, sedangkan Andre, pria itu mungkin ke kamar nya untuk berganti pakaian atau mungkin bermain solo di kamar mandi, mengingat senjata pria itu yang menegang sedari tadi.


Keduanya pun mengobrol hangat, membuat siapapun yang melihatnya takkan menyangka kalau mereka adalah calon mertua dan calon menantu, mereka malah terlihat seperti ibu dan anak. Keduanya terlihat sangat akrab, padahal ini adalah pertemuan keduanya. Di pertemuan pertama, keduanya tak banyak bicara atau mengobrol.


"Andre kemana ya? Tadi dia datang bersama mu kan, Nak?"


"Mungkin di kamarnya, Mi." Jawab Hanna setenang mungkin.


"Tolong panggilkan ya sayang, sebentar lagi makan malam." Waktu sangat cepat berlalu, dia sampai ke rumah ini sore hari dan sekarang sudah hampir malam.


'Aduh, sama juga masuk kandang harimau kalau aku yang manggil pria mesum itu.' Batin Hanna, yang ada dia malah kena terkam nanti.


"Hanna, heii, kok malah bengong." Ucap Arina, dia melambaikan tangan nya di depan wajah Hanna.


"Eehh, iya Mi. Kamar Kak Andre yang mana ya?"

__ADS_1


"Di atas cuma ada 2 kamar, punya Andre yang pintu nya tinggi." Jawab Mami Arina memberi petunjuk. Hanna mengangguk dan pergi menaiki tangga, meski dengan langkah ragu tapi dia tak enak jika harus menolak permintaan mami Arina. Hanna melangkah pelan, aneh saja tiba-tiba hatinya terasa berdebar kencang saat melihat pintu tinggi di depannya.


Hanna mengetuk pelan pintu kayu jati itu, dengan hati tak karuan dia menunggu jawaban dari dalam, tapi tak ada sahutan apapun dari dalam. Dengan berani, Hanna membuka pintu yang ternyata tak di kunci itu. Dia celingukan mencari keberadaan pria itu, tapi tak ada tanda-tanda kalau dia berada disana.


"Kak.." Panggil Hanna, masih hening tanpa sahutan apapun.


"Ya, kenapa?" Tanya Andre, yang membuat Hanna terlonjak kaget saat mendengar suara Andre dari belakang. Hanna berbalik, saat itu juga dia dibuat menganga melihat pemandangan yang menyegarkan mata di sore hari ini. Bagaimana tidak, sajian enam roti sobek yang berjejer rapi membuat mata nya termanjakan. Belum lagi handuk yang melilit di pinggang nya, hanya menutupi senjata nya.


"Kenapa? Ngapain disini sayangku? Pengen lanjutin yang tadi ya? Biasa aja dong liatin nya, gak pernah lihat roti sobek gitu?" Goda Andre membuat wajah Hanna memerah seketika.


"E-enggak, tadi aku di suruh Mami buat panggil kakak."


"Terus kamu mau gitu?" Tanya Andre, tatapan mata nya begitu lekat menatap perempuan cantik di depan nya.


"Ya aku gak enak aja mau nolak permintaan Mami."


"Okelah, sekarang kamu sudah disini, jadi ayo kita lanjutkan yang tadi." Andre mulai mengikis jarak, memepet Hanna. Hanna terus mundur, hingga dia tak sadar sudah berada di dekat ranjang, dia tak bisa mundur lagi, akhirnya terjatuh ke ranjang dan tak sengaja menarik handuk di pinggang Andre hingga terlepas.


"Aaaaa..." Hanna memekik melihat sosis keriput yang menggantung di bawah pusar pria itu.


"Diam sayang, nanti Mami ngira aku perkosa kamu lagi. Tapi bagus juga sih, biar kita cepetan nikah, setelah itu aku bisa unboxing kamu sepuasnya." Andre kembali menyeringai, secepat kilat dia menindih tubuh mungil Hanna dan melayangkan ciuman panas ke leher Hanna, lalu turun ke dada dan akhirnya ke bibir.


"Kakak boleh menjamah yang atas, tapi tidak yang bawah." Ucap Hanna dengan nafas tersengal, setelah ciuman Andre terlepas.


"Kenapa?"


"Aku ingin kita melakukannya disaat status kita sudah suami istri." Jawab Hanna, membuat Andre tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


"Sekarang atau nanti, aku juga yang akan menikmatinya. Maafkan kelakuan ku tadi, sungguh itu di luar kendaliku, Sayang."


"Tak apa, lupakan saja." Jawab Hanna, membuat Andre lagi-lagi menyunggingkan senyum manis nya dan kembali mencium Hanna dengan mesra. Tapi disaat suasana semakin memanas, pintu tiba-tiba saja terbuka menampilkan wajah terkejut Mami Arina. Kedua mata nya membulat saat melihat kelakuan sang putra.


"Eehemm.." mendengar deheman itu, Andre menoleh. Dia langsung bangkit dari tubuh Hanna dan membenarkan handuk nya, Hanna juga langsung bangkit dari rebahan nya lalu merapikan pakaian nya yang sempat Andre acak-acak tadi.


"Mami.." Andre cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang yang tak gatal karena salah tingkah, kemarin terciduk calon mertua, sekarang malah terciduk Maminya sendiri. Hanna memalingkan wajahnya yang memerah seperti tomat saking malunya, baru pertama kali bertamu ke rumah calon mertua nya, tapi dia sudah membuat kesan yang cukup buruk.


"Sepertinya pernikahan kalian harus di percepat, kalau di biarkan bisa bahaya! Kamu bisa merusak anak gadis orang, Andre!"


"Yah Mami, cuma ciuman doang Mi." Jawab Andre masih dengan wajah datar nya.


"Iya, nanti dari ciuman bisa ke yang lain. Kemari Nak, ayo kita turun. Perjaka tua, gini jadinya kalo deket anak perawan, main sosor aja." Mami Arina menggerutu sambil menggandeng tangan Hanna, membawa nya keluar dari kamar sang putra.


"Sudah berapa kali Andre melakukan nya, Nak?"


"H-ah, apa Mi?"


"Berapa kali Andre mencium mu?" Tanya Mami Arina lagi.


"S-sering, Mi." Jawab Hanna seadanya, pria itu memang sudah sering mencium nya kan?


"Haisshh, bagaimana kalau kalian cepat menikah, Nak? Mami takut kamu jebol sebelum menikah." Mendengar ucapan Mami Arina, Hanna terhenyak. Apa katanya, jebol sebelum menikah?


"Andre itu sudah dewasa, tidak menutup kemungkinan dia bernafsuu kapanpun dan Mami gak mau kalian melakukan hal semacam itu sebelum kalian resmi menikah, jadi apa kamu siap menikah dengan Andre?"


"Mama juga nyuruh Kak Andre datang minggu depan sama Mami buat bicarain ini. Hanna sih siap gak siap, apa salahnya menikah muda kan Mi?"


"Ya bagus dong, yang namanya orang tua itu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Mami gak mau Andre rusak kamu, meski sudah cukup terlambat." Hanna tersenyum dan menganggukan kepala nya. Meski dia orang tua dari pihak pria, tapi Mami Arina sangat mementingkan nasib Hanna, itu yang dia suka dari sosok calon mertua nya.


"Bantu Mami masak yuk, buat makan malam." Ajak Mami Arina. Hanna mengangguk dan mengikuti Arina yang berjalan ke dapur lebih dulu. Sedangkan di kamar, Andre senyam senyum sendiri, dia sangat senang karena pernikahan nya dengan Hanna akan di percepat. 


Jujur saja dia tak sabar meminang sang gadis pilihan ibunya itu, selain cantik Hanna juga perempuan yang sangat baik, pilihan ibunya memang tak salah. Buktinya, Dia sampai kehilangan kendali jika sedang bersama Hanna.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2