
"M-as.."
Jeff menghentikan ciuman nya, lalu menoleh ke belakang. Saat itu juga, kedua mata nya membeliak kaget saat melihat sosok istrinya tengah berdiri, menatap nya dengan tatapan sendu.
Kirana juga tak kalah terkejut nya, dia segera mendorong tubuh Jeff dari atas tubuhnya, lalu bergegas merapikan pakaian nya. Tadi, tangan Jeff sempat membuka hampir semua kancing blouse yang di pakai Kirana.
"S-sayang.."
"Maaf, saya permisi." Ucap Kirana, lalu keluar dengan terburu-buru, setelah selesai merapikan pakaian nya tentu saja.
Tapi di luar dugaan, Queen mencekal lengan Kirana, membuat langkah perempuan itu terhenti. Kirana menatap wajah teduh Queen dengan perasaan tak karuan, rasa takut begitu mendominasi nya saat ini.
"Kamu Kirana?"
"I-iya, Nyonya." Jawab Kirana lirih.
"Hmmm, keluarlah. Tak perlu takut, aku takkan menyakiti mu." Mendengar hal itu, Kirana mendongak menatap wajah Queen dengan tatapan penuh arti. Bibir wanita itu melengkungkan senyuman manis.
"Baik, Nyonya." Jawab Kirana, lalu secepat mungkin dia pergi. Dia ingin menghindari situasi yang terasa sangat mencekam.
Tapi, di luar dugaan nya. Kirana menyangka, Queen akan menjambak atau menampar nya seperti yang biasanya terjadi di film-film atau drama. Tapi nyatanya, Queen tidak seperti itu.
Meskipun cukup terpaksa, tapi Kirana adalah orang ketiga di antara Jeff dan Queen. Jujur saja, dia sangat takut saat Queen mencekal tangan nya tadi.
"Sayang.." panggil Jeff pada sang istri.
"Hmmm, kenapa Mas?" Jawab Queen, dia masih menyunggingkan senyum manis nya saat Jeff memanggilnya.
"Ke-napa kesini tanpa memberitahu Mas dulu?"
"Memang nya kenapa, Mas? Dari dulu, kalau aku ingin kesini, aku tak perlu mengabari mu. Kenapa sekarang aku harus mengabari dulu?" Balik tanya Queen, masih dengan senyum manis nya.
"Bukan begitu, sayang. Tapi.."
"Tapi, kenapa? Apa karena kamu tak bebas untuk bersama sekretaris mu? Hmm, atau kekasih mu, Mas?" Tanya Queen lirih.
"Sayang.."
"Aku sudah tau semua nya, Mas. Tak apa-apa, kamu berhak bahagia." Lirih Queen, membuat Jeff merasa sangat bersalah.
"Tadinya, aku kesini untuk menanyakan kabar mu, kenapa seminggu ini kamu gak pulang ke rumah. Ternyata, aku mendapatkan jawaban nya." Lagi-lagi, Queen tersenyum yang sialnya senyuman itu membuat hati Jeff merasakan sakit di ulu hatinya.
"Maafin Mas, sayang."
"Kenapa meminta maaf? Apa aku menyalahkan mu, Mas? Bukankah tidak sama sekali?" Tanya Queen, dia mengangkat wajah sang suami yang sedari tadi tertunduk, tak berani menatap nya.
"Kamu bahagia sama dia kan, Mas? Itu alasan nya kamu jarang pulang ke rumah. Rupanya, kamu sudah punya rumah baru ya." Mendengar ucapan istrinya, Jeff semakin menundukan kepala nya.
"Maafkan aku, tak bisa menepati janjiku untuk tetap setia padamu, sayang. Pada akhirnya aku kalah dengan nafssu." Jeff bersimpuh di depan istrinya. Pria itu menyesal karena tak bisa menepati janji nya pada sang istri, untuk tetap setia dengan nya.
"Aku sudah menyiapkan hatiku saat hal ini terjadi, aku cukup tau diri, Mas." Queen tersenyum manis, nyatanya sudah dari lama dia mengantisipasi hal ini.
"Sayang.."
"Nikahi dia, Mas. Jangan kau rusak perempuan baik-baik hanya untuk melampiaskan nafssu mu, Mas."
"Queen.."
"Iya, aku merestui kalian berdua. Bukankah Kirana adalah perempuan yang baik?"
"T-api, bagaimana dengan mu?"
"Aku? Kamu lihat sendiri, aku baik-baik saja." Jawab Queen.
__ADS_1
"Orang tua mu?"
"Mereka pasti akan mengerti, Mas. Jangan memikirkan mereka, biarkan aku yang bicara pada mereka, Mas."
"Kamu yakin mengizinkan aku menikah lagi, sayang?"
"Tentu, kenapa aku harus ragu? Ini demi kebahagiaan mu, Mas." Jawab Queen, dia mengusap rahang tegas sang suami dengan lembut.
"Sayang.."
"Kenapa lagi? Setelah menikah nanti, bawalah Kirana tinggal bersama kita di rumah, agar aku ada yang menemani. Tidak mungkin kan, setelah menikah kamu tetap memperkerjakan dia sebagai sekretaris?" Tanya Queen, membuat Jeff menggeleng.
"Baguslah, aku merasa tenang. Kalau bisa, nikahi Kirana secepatnya Mas."
"Apa alasan mu meminta ku menikahi nya, sayang?"
"Alasan? Apakah harus aku jawab, Mas?" Balik tanya Queen, membuat Jeff mengangguk mengiyakan. Meskipun dia cukup senang saat istrinya mengizinkan nya menikah lagi, tapi dia ingin tahu alasan kenapa dia sangat tegar saat meminta suami nya menikahi wanita lain.
"Alasan nya simpel, karena aku tak bisa melayani mu sebagai istri, dari pada kamu terus berzina dengan perempuan lain. Sebaiknya kamu menikah lagi, Mas." Ucap Queen membuat Jeff menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
"Kamu serius?"
"Iya, tentu saja aku serius, Mas."
"Terimakasih, sayang. Aku akan mengajukan berkas-berkas nya hari ini." Ucap Jeff sambil memeluk tubuh ringkih istrinya dengan erat.
"Hmm, baiklah Mas. Bisakah aku pergi bersama Kirana untuk bicara?" Tanya Queen, Jeff melerai pelukan nya dan menatap istrinya.
"Untuk apa?"
"Ini urusan wanita, dan ada yang perlu aku bicarakan dengan nya, Mas. Tenanglah, aku takkan menyakiti Kirana, aku berjanji."
"Baiklah, sebentar." Jeff mengambil telepon dan menghubungi Kirana.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan. Aku takut sekali, bagaimana ini." Gumam Kirana sambil menggigiti kuku-kuku nya.
Di tengah kepanikan nya, telepon malah berbunyi. Perempuan itu mengangkat nya dengan tangan bergetar karena gugup.
"H-allo.."
"Ke ruangan ku sekarang."
"Ba-baik, Tuan." Jawab Kirana terbata. Hati perempuan itu berdebar tak karuan, jantung nya terasa berhenti berdetak saat itu juga. Kira nya, apa yang akan terjadi padanya di ruangan itu?
Dengan langkah gamang, Kirana keluar dari ruangan nya dan mengetuk pelan pintu ruangan Jeff setelah beberapa kali menghela nafas dan menghembuskan nya dengan perlahan. Ruangan nya berseberangan memang, tapi entah kenapa terasa sangat jauh.
"Masuk.."
Kirana membuka pintu dengan perlahan, lalu masuk dan kembali menutup pintu nya.
"Permisi, tuan dan nyonya."
"Duduk, Kiran." Ucap Queen dengan senyum manis nya.
"Baik, Nyonya." Kirana pun duduk di samping Queen.
"Eemm, ada apa ya?"
"Saya ingin mengajak kamu jalan-jalan, Kiran." Ucap Queen, membuat Kirana melongo.
"T-api, bagaimana dengan pekerjaan saya?"
"Tak masalah, pergilah." Ucap Jeff.
__ADS_1
"Hmm, baiklah." Jawab Kirana lesu.
"Heii, kok lesu gitu sih? Harusnya kamu seneng karena terbebas dari pekerjaan, ayoo." Ajak Queen sambil menggandeng tangan Kirana. Perempuan itu terlihat terkejut, namun saat melihat Jeff mengangguk meyakinkan, Kirana pun mengikuti langkah Queen.
"Enaknya kita pergi kemana ya, Kiran?"
"H-ahh?"
"Kamu nih bengong aja, aku tanya nih enaknya kita pergi kemana gitu."
"Eemm, saya sih terserah Nyonya saja." Jawab Kirana kaku.
"Ke cafe yuk, makan bareng?"
"B-oleh, Nyonya." Jawab Kirana.
"Kamu punya rekomendasi cafe yang makanan nya enak gak?"
"E-enggak nyonya."
"Kamu kenapa sih? Dari tadi kayak ketakutan gitu, tenang aja aku gak bakal gigit kamu kok." Ucap Queen sambil tersenyum.
"Maaf Nyonya."
"Gak usah formal, Kiran. Kamu kan calon istrinya Mas Jeff juga." Ucap Queen, membuat Kirana membulatkan kedua mata nya.
"M-aksud anda, Nyonya?"
"Sudahlah lupakan, ayoo kita pergi." Ajak Queen, kedua nya pun pergi di antar supir kantor yang selalu siap sedia kapanpun.
Kirana beberapa kali curi-curi pandang ke arah Queen yang nampak bahagia. Entah bahagia karena apa, hanya wanita itu yang tau.
"Kiran.."
"Iya, Nyonya."
"Sudah aku bilang, agak usah formal. Panggil kakak aja ya?"
"Tapi kan.."
"Sudah, gak usah banyak tapi. Panggil saja aku kakak ya."
"Baik kak." Jawab Kirana.
Setelah beberapa menit kemudian, mobil berhenti di salah satu cafe yang terkenal dengan makanan nya yang enak.
"Yuk, udah sampai. Ini cafe favorit aku lho, kamu harus coba makanan kesukaan aku nanti."
"Iya kak." Jawab Kirana, sejujurnya dia masih canggung dengan wanita di samping nya ini.
Queen menggandeng tangan Kirana ke dalam cafe, keduanya pun makan bersama. Meskipun Kirana lebih banyak diam, karena rasa canggung dan gugupnya. Tapi berbeda dengan Queen, wanita itu nampak sangat bahagia.
"Gimana, enak kan?"
"Iya, kak. Enak banget makanan nya." Jawab Kirana.
"Setelah ini kita ke taman sambil makan es krim ya."
"Oke, kak." Jawab Kirana, menyunggingkan sedikit senyuman canggung nya pada Queen.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1