
Yusuf segera bersiap untuk masak makanan yang akan dia sajikan nanti. Sejak orang tuanya bercerai dia sudah biasa masak untuk keluarga. Semua pekerjaan rumah ia yang memegang. Sekarang ia tinggal sendiri sejak adiknya meninggal. Ada rasa kesepian kadang, tapi ia sudah mulai terbiasa dengan semua itu.
Orang tuanya bercerai sejak ia masuk SMA. Dia tidak tahu apa yang membuat mereka bercerai. Padahal sebelumnya semuanya baik baik saja. Ia juga enggan untuk menanyakan hal itu. Mungkin ini yang terbaik bagi mereka .
Beberapa bulan saat orang tuanya cerai dulu, ia masih tidak percaya, adiknya juga masih kecil saat saat itu, kira-kira masih kelas 2 SD atau mungkin masih TK, ingatannya samar-samar mengenai hal itu . Ia bahkan tak ingin hal itu terjadi. Tapi semua yang terjadi ia berusaha menerimanya.
Hal gila yang pernah ia lakukan adalah mencoba meminum minuman keras pada saat ia tahu orangtuanya bercerai. Sebenarnya itu adalah ide seorang teman yang memang sudah terbiasa dengan itu. Katanya kalau mau melupakan masalah, ya dengan meminum minuman keras. Awalnya heran , tapi dicobanya juga sekali. Memang benar rasanya menakjubkan sekali, tapi ia tak ingin lagi meminumnya.
Ia hanya mencoba sekali teguk, dan dalam hitungan menit kepalanya rasanya sakit sekali. Temannya yang tahu hanya menertawakannya sambil dengan santainya meminum minuman itu.
"Cupu kali kau. Lihat nih aku, sebotol gini sih bukan apa-apa," Begitu katanya.
"Mau lagi enggak? mumpung masih ada? nyesel nanti kau kalau dah habis," Lanjutnya sambil menawari Yusuf.
"Enggaklah. Habiskan aja. Jangan malu-malu," Yusuf yang sudah tahu rasanya menolak, ada rasa menyesal di dalam dirinya karena sudah ikut ajakan temannya. Tapi nasi sudah jadi bubur, sudah tak bisa lagi ia putar waktu yang berlalu.
"Ayolah kawan. Malam ini kita party. Jadi enggak enak kalau cuma aku aja yang minum," Kesadarannya mulai hilang . Ia sudah benar-benar mabuk saat mengatakannya.
Saat menyadari bahwa temannya itu sudah mabuk , Yusuf segera pamit untuk pergi. Selain karena ia tak ingin bermain-main dengan orang mabuk, kepalanya juga sudah sangat sakit. Dia tak peduli orang itu mau ngapain, yang ada dipikirannya cuma kamar tidur saja. Dia tahu apa yang dilakukannya itu tidak bagus juga sebenarnya. Hanya kali itu saja ia meneguk minuman keras dan ia sangat menyesali kebodohannya itu. Untuk selamanya ia takkan lagi meminumnya, ia bersumpah.
***
Ilyas keluar dari kamar mandi masih dengan langkah kaki yang masih terpincang-pincang sambil menahan rasa perih dari lukanya. Melihat hal itu Yusuf tertegun sebentar sambil kemudian ia sadar , ia telah lupa melapisi lukanya agar tidak perih saat terkena air.
"Maaf ya lupa kasih pelindung buat lukamu biar enggak perih pas kena air. Nanti lukamu ku obati lagi , pakai baju terus nanti kita makan bareng ," saat melihat Ilyas, Yusuf berkata seperti itu .
__ADS_1
"Enggak apa-apa kok bang. Makasih ya udah perhatian sama aku," Jawabnya santai walaupun ia menahan rasa perih.
"Udah enggak usah ngomong gitu deh. Udah gih buruan," Yusuf menjawab ucapannya Ilyas.
Beberapa menit kemudian Ilyas sudah siap dengan pakaian peninggalan Adiknya Yusuf. Di depan meja Makan Yusuf yang melihatnya seperti merasakan adiknya telah kembali lagi disisinya. Mimpi yang mustahil itu rasanya seperti telah terwujud .
"Cocok enggak bang? ", ucapan Ilyas ini membuyarkan pikiran Yusuf.
"Cocok kok. Cocok banget malah. Ukurannya pas kan sama kau?"
" Alhamdulillah pas banget. "
"Kalau kau suka pake aja. Sini makan pake sayur kacang sama tempe tapi."
"Siap. Itu makanan Favoritku lho," Yang ditawari nampak. bersemangat sekali .
***
"Boleh enggak aku nanya? kalau misalnya ini kau enggak mau ngejawab enggak apa-apa."
"Tentang apa memangnya?" Sambil menyendok kan nasi ke dalam mulut Ilyas menjawab.
"Aku boleh tahu enggak Alasan kau pergi dari rumah? terus kenapa tadi kau bilang pingin mati aja? Ada masalah apa rupanya kau?"
"Hmmmmm...." Yang ditanya sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Kalau enggak mau dijawab juga enggak apa-apa kok. Aku enggak maksa," Yusuf setelah selesai menelan makanannya berkata begitu.
"Sudah dua bulan ini orangtuaku selalu saja bertengkar . Bahkan di meja makan pun tanpa sebab yang jelas mereka bisa bertengkar. Aku sudah enggak tahan kelakuan mereka. Yang buat aku ingin bunuh diri sebenarnya karena mereka menyalahkan kehadiranku. Mereka bilang aku anak haram. Aku pernah sih mau nyoba bunuh diri, tapi rasanya kok ngeri juga. Jadi ya lebih baik baik aku kabur aja. Kenapa juga aku masih terus ada disana kalau nyatanya aku enggak diharapkan mereka," Ilyas sambil menahan kesedihannya berkata panjang lebar.
Mendengarnya Yusuf jadi tidak tega untuk bertanya lebih lanjut mengenai ini dan itu. Dan ia juga mulai mengerti perasaannya sekarang. Pasti hancur hatinya mendengar hal itu, ditambah lagi dia mendengar saat orangtuanya sedang bertengkar. Kalau itu Yusuf, mungkin ia berbuat hal demikian juga.
"Sebenarnya waktu niatan buatan kabur aku agak kebingungan sama uang untuk makan , terus ada temanku yang bilang untuk ikut sama om om biar dapet uang. Aku tolak karena aku tahu apa yang akan terjadi kedepannya," Dia lanjutkan penjelasannya.
"Untung aja aku bisa kerja paruh waktu. Jadi ya aku kabur modal nekat, cuma bawa uang beberapa ratus ribu sama honda itu aja. Aku udah bener-bener muak sama mereka," penjelasan yang panjang sekali, mungkin setara jalan Anyer- Panarukan.
"Nanti lagi dilanjut ceritanya . Makan dulu, habisin ," Yusuf merasa cukup dengan cerita dari Ilyas itu.
Ia merasa salut pada Ilyas yang lebih memilih untuk bekerja paruh waktu di bandingkan ke pangkuan pria pedofil yang harus diberantas keberadaannya. Kalau masalah kabur dari rumah, kalau keadaannya begitu mungkin ia akan melakukannya juga. Ia tidak menangkap adanya kebohongan Dimatanya.
"Kau boleh tinggal disini selama yang kau mau . Disini aku juga tinggal sendirian. Ada kau kan lumayan, aku enggak terlalu kesepian," Setelah Ilyas menyelesaikan makannya Yusuf berkata begitu .
"Beneran bang?" mukanya terlihat begitu bahagia.
"Tapi kau bantu beres-beres rumah. Soalnya aku agak males juga kalo soal beres-beres rumah," Walaupun sudah biasa tapi memang Yusuf aslinya mageran kalau soal beres-beres rumah. Karena keadaan yang membuatnya harus, jadi ya mau tak mau dikerjakan juga.
"Gampang itu sih. Tapi aku belum bisa masak," Dia setuju tapi khawatir disuruh masak.
"Kalau belum bisa biar aku aja sambil nanti kau belajar juga. "
"Makasih ya bang. Aku enggak tahu harus pake apa bales kebaikan abang ," Mukanya terlihat seperti anak TK yang senang setelah diberi es krim .
__ADS_1
"Santai aja. Aku juga enggak minta apa-apa kok."
***