
Sore yang tenang seperti biasanya. Begitu masuk, Yusuf merasa senang rumahnya rapi tanpa harus ia rapikan. Segera ia mencari Ilyas setelah menutup pintu. Ia ingin memberitahukan bahwa motornya besok sudah selesai diperbaiki. Ia pasti akan senang mendengarnya.
Ilyas sedang tidur rupanya dikamar. Melihatnya, Yusuf seperti melihat adiknya kembali. Rasanya nostalgia sekali. Awalnya ia ingin membangunkannya, namun enggan. Dia lebih memilih untuk memasak makanan untuk nanti saja.
Haru ini ia masak kembang kol,salah satu makanan kesukaan adiknya. Rasanya ingin sekali mencoba lagi setelah sekian lama. Dulu ia sering sekali memasaknya, tapi sejak dia tinggal sendirian saja hampir tak pernah ia memasak kembang kol lagi.
"Akhirnya sebentar lagi aku punya pasangan," suara Arif saat sebelum pulang tadi terasa berputar kembali.
"Cewek mana yang bakal jadi pasanganmu?" tanya Yusuf penasaran.
"Tukang pecel yang itu lho, dia katanya mau sama aku," dengan penuh semangat ia berkata.
"Kau enggak suka karena nafsu aja kan?"
"Enggaklah. Aku benar-benar cinta padanya. Kenapa rupanya?"
"Soalnya kau bilang bodinya seksi. Tiap hari bakal kamu anuin."
"Ya namanya manusia. Nafsu itu pasti ada. Lagian itu masih wajar kan?"
"Iya sih."'
Kira-kira begitulah percakapan yang terjadi saat itu. Yusuf harap, dia memilih pasangan yang memang cocok untuknya. Walaupun ia kurang suka dengan pilihan temannya itu. Tapi ya itu sudah pilihannya, selama dia bahagia kenapa enggak?
Selesai masak ia bersiap mandi. Menyiram badan dengan air seusai bekerja adalah yang terbaik. Rasanya segala rasa yang membebani hari ini ikut pergi. Setelah ini ia berencana akan membangunkan Ilyas.
__ADS_1
***
Ilyas menguap saat ia terbangun dari tidurnya. Di usap matanya yang masih mengantuk. Di sebelahnya ada Yusuf yang sedang duduk memegang sebuah kaset.
"Kau dapet darimana ini kaset?" Tanya Yusuf begitu Ilyas terbangun.
"Dari laci lemari tv tadi. Maaf ya bang tadi aku menonton film di kaset itu. Lain kali aku enggak akan ngelakuin hal ini lagi."
"Santai aja. Dah kau tonton sampai habis ini film?"
"Belum. Baru lihat berapa menit aja dah ngeri sendiri. Rasanya takut, ngeri, pokoknya jadi satu."
"Mau nonton lagi?" Yusuf menawari.
"Enggak. Cukup satu kali aja. Enggak mau lagi aku."
"Seriusan? Enggak ada rasa ngeri gitu?"
"Uji nyali sih . Masak preman takut sama film horor."
Kaset itu adalah kaset film horor yang di dapat Yusuf saat ia iseng membeli lotre. Sebenarnya yang diincar olehnya adalah mobil tamiya yang amat populer kala itu.
10 tahun sejak saat itu. Lama sekali sudah usia kaset itu. Waktu awal ia mendapatkan kaset itu, ada niatan untuk memberikan kepada orang lain. Dari judulnya saja ngeri. Isinya lebih ngeri. Karakter utama di film itu adalah sesosok hantu tanpa kepala yang terus menerus mencari kepala yang hilang dari tubuhnya. Membayangkan manusia berjalan tanpa kepala walaupun sebentar saja rasanya ingin melarikan diri. Apalagi harus melihatnya selama satu jam lebih, rasanya ingin jadi psikopat saja .
Pernah sekali ia secara iseng mengajak adiknya menonton. Karena filmnya lumayan menakutkan, adiknya tidak tahan untuk terus menonton dan melaporkan kejadian itu kepada bapaknya. Yusuf akhirnya diomeli habis-habisan karena laporan itu. Yusuf tidak menyesal, ia malah senang karena sukses membuat adiknya yang masih kecil itu ketakutan.
__ADS_1
Sudah lama kaset itu ditaruh di laci lemari tv. Saat ia hendak membangun Ilyas, matanya tiba-tiba terfokus pada kaset itu yang berada tidak pada tempatnya. Dan pada akhirnya ia menanyakan hal itu padanya.
"Abang pernah lihat hantu enggak?" Ilyas bertanya seperti berusaha mengganti topik.
"Hmmmm... dulu sih pas masih SD aku ngelihat perempuan cantik pake selendang hijau muda dipinggangnya lewat depan rumahku pas aku lagi buka pintu. Dia enggak jalan, kayak terbang aja gitu, kakinya ngambang sekitar 15 CM dari permukaan. Pas aku ngelihatnya, kakiku rasanya kaku aja gitu, mulutku pas mau ngomong kayak ketahan gitu. Pokoknya dah kayak patung aja gitu. Cuma sekali itu aja sih. Alhamdulillah enggak ngelihat apa-apa lagi setelah itu. Kalau kau?"
"Aku sih enggak pernah. Tapi temenku ada yang ngaku bisa ngelihat hal-hal yang kayak gitu. katanya dia punya indra keenam. Bisa ngelihat gituan apa enggak takut ya? Kalau aku sih dibayar berapapun enggak bakal mau punya indra keenam."
"Aku aja pingin punya. Kelihatannya kayak keren gitu bisa ngelihat makhluk yang enggak semua orang bisa ngelihat," Dengan nada yang begitu percaya diri ia berkata.
"Seriusan?" Ilyas menimpali dengan penuh keheranan.
"Iyalah. Oh ya motormu besok dah bisa dibawa pulang."
"Tapi aku enggak punya uang buat bayarnya bang," Ilyas sebenarnya senang mendengar kabar itu. Tapi disisi lain ia sedih juga karena masalah uang .
"Udah usah pasang muka melas gitu lah. Aku dah bayar lunas kok."
"Makasih ya bang. Aku enggak tahu gimana cara membalas kebaikan abang ."
"Santai aja. Aku seneng kok bisa bantu. Kita makan yuk mumpung belum dingin sayurnya."
Di meja makan sambil menyendokkan nasi ke mulutnya, Yusuf sebenarnya ingin bicara mengenai masa depannya Ilyas. Ia ingin Ilyas menyambung sekolahnya lagi . Ia juga ingin membujuknya pulang. Tapi ia tak ingin menyinggung perasaannya lagipula ia senang punya temen dirumah lagi setelah sekian lama merasakan kesepian saat berada dirumahnya.
Sebenarnya ia tak ingin Ilyas pulang. Tapi disatu sisi, ia kasihan dengan orangtuanya. Walaupun sering berantem tapi ya masa iya anaknya kabur enggak ada yang peduli? Hingga selesai mencuci piring ia terus memikirkan hal itu.
__ADS_1
Pada akhirnya ia membuat keputusan untuk tidak berkata apa-apa mengenai hal itu. Ia juga takkan memaksa jika ia berkata ingin lanjut sekolahnya atau ia ingin bekerja diusia segitu. Ia juga takkan memaksanya untuk pulang kerumahnya. Selagi dia betah disini, tidak mengapa. Hidupnya biar dia yang memilih harus bagaimana. Selagi itu bukan hal yang buruk tidak mengapa.