Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
22. Untuk Pertama Kali


__ADS_3

Yusuf tanpa tujuan mengendarai motornya. Hal ini ia lakukan untuk mengembalikan mood yang semalam hancur berantakan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melakukan hal ini. Karena saking lamanya, ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia melakukannya.


Pemandangan kota penuh gedung-gedung tinggi , kendaraan yang selalu penuh di jam sibuk memang terasa biasanya saja. Tak ada yang istimewa dari itu semua, namun saat melakukannya hatinya biasanya akan membaik . Segala masalah yang ada sepertinya berkurang.


Sambil menaiki motornya, Yusuf sesekali melihat kesamping kanan kirinya untuk mencari kuliner yang mungkin belum pernah ia coba ataupun makanan yang terlihat begitu unik dibenaknya . Apapun itu, ia akan mencobanya selagi halal.


Angin pagi terasa begitu lembut seperti melodi yang terkadang ia dengarkan. Ia bersyukur masih bisa merasakan hari ini dengan bersantai. Sebuah kenikmatan yang terasa begitu langka


***


Ilyas bernafas lega. Akhirnya ikan nila yang ia panggang sudah siap untuk disajikan juga. Walaupun belum sempurna setidaknya ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Ia harap kedepannya bisa lebih baik lagi.


Tugas berikutnya yang menunggunya adalah mencuci piring. Ilyas begitu melihat berapa banyak yang akan ia cuci langsung menelan ludah. Untuk pertama kalinya ia mencuci piring sebanyak itu. Ia bahkan berpikir apakah ia bisa menyelesaikannya. Dan ternyata ia bisa juga , ia bersyukur bisa menyelesaikannya dengan baik. Ia harap ini semua menjadi pertanda baik untuknya.


"Yas, habis ini kau mengupas bumbu ya. Bawang putih sama yang lainnya udah ku siapin dia atas meja dekat lemari. Nanti kalau dah jam 12 makan ya . Ngambil aja didepan kau maunya apa. Aku mau ke pasar dulu . Mau belanja ," sebuah pesan dari Riski yang ditujukan padanya sebelum pergi ke pasar. Kelihatannya banyak sekali yang akan ia beli.


Begitu melihat apa yang ada di atas meja dekat lemari ia sedikit tidak percaya dengan tugasnya itu. Menurutnya itu terlalu banyak walaupun sebenarnya normal untuk ukuran rumah makan.


Dari semuanya, ia paling ingin menyerah saat mengupas bawang merah. Rasanya air mata pedih sekali. Air matanya beberapa kali menetes saat ia sedang mengupas bawang merah. Mana yang ada tinggal kecil-kecil banget. Dilihat-lihat sepertinya itu adalah stok bawang merah terakhir .


***


Fitri sedang memasak untuk makan siang. Akhirnya setelah beberapa hari keluar dari rumah sakit, ia merasa badannya sudah lebih mendingan di banding sebelumnya. Kali ini ia ingin masak kentang balado. Akhirnya setelah sekian lama tidak memasak seperti ini.


Hari ini ia sendirian saja di rumah, jadi ia memasak porsi kecil aja. Yang penting cukup untuk diri sendiri , begitulah pikirnya.


"Kentangnya masih ada?" saat sedang asyik makan, terdengar suara abangnya yang sepertinya tergoda dengan masakannya.

__ADS_1


"Udah habis. Mau dimasakin lagi?" Fitri menawarkan diri kepada abangnya yang hari itu pulang lebih cepat dari biasanya.


"Enggak usah. Kalau enggak ada lagi ya udah," selesai berkata, abangnya langsung meninggalkannya sendirian. Tidak biasanya sikapnya sedemikian rupa. Fitri merasa abangnya sedang terkena suatu masalah .


***


Yusuf berhenti disebuah warung sate yang menurutnya unik. Ia segera memberhentikan kendaraan itu didekat warung sate itu dan segera memesannya. Orang yang melayani terlihat masih seumuran dengannya.


Benar saja, saat ia melihat penampakan sate di piring itu terlihat sekali keunikannya. Baru pertama kali ia menemukan sate dengan pucuk daun ubi rebus juga toge diatasnya. Bumbunya seperti perpaduan bumbu kacang dan juga kuah sate Padang.


Begitu ia menyendok, rasanya seperti mencicipi kenikmatan surga. Rasanya benar-benar mantap. Mungkin kalau disuruh memberi nilai antara 1-10, ia akan memberikan nilai 100 saking enaknya. Pingin nambah tapi malu karena ramai,tapi kalau cuma seporsi saja kurang . Setelah menimbang-nimbang , akhirnya ia memesan lagi untuk dibungkus buat makan ditempat lain. Kali ini ia tidak peduli dengan Ilyas.


"Kalau boleh tau ini dapet inspirasi satenya dari mana sih? Enak banget rasanya," Yusuf bertanya kepada penjual itu saat ia memesannya lagi.


"Enggak tahu. Di tempatku dulu banyak yang jual sate kayak gini . Mungkin kalau disini baru aku," jawab penjual itu. Logatnya terasa asing ditelinga Yusuf .


"Iya."


***


Jam 12 akhirnya tiba juga. Sebenarnya waktu makan siang sudah tiba. Tapi karena masih baru jadi ya rasanya masih agak gimana juga kalau ngambil makanan sendirian. Akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil makanan sebelum Riski kembali dari pasar.


"Makan dulu lho. Nanti keburu habis," seseorang tiba-tiba menghampirinya sambil memegang piring yang berisi makanan.


"Oh ya, namamu siapa?" tanya orang itu.


"Namaku Ilyas."

__ADS_1


"Namaku Hasan," orang itu berkata sambil menaruh bongkahan kecil es batu kedalam gelasnya yang berisi teh manis .


"Makan dulu sana. Nanti baru lanjut lagi ," kembali orang itu mengingatkan .


"Apa mau diambilkan?" katanya lagi.


Pada akhirnya Ilyas berjalan sendirian ke ke depan untuk mengambil makanan sendiri. Kemudian mereka berdua makan bersama. Nampak sekali keduanya masih canggung untuk memulai percakapan kembali. Mungkin karena masih belum mengetahui satu sama lain .


***


Fitri tidak ingin mengambil pusing sikap abangnya yang terlihat aneh . Dengan santainya ia makan sambil melihat lihat sosmed. Begitu selesai , ia langsung merapikan alat masak yang tadi ia pakai.


SO7 AKAN KONSER LAGI


Sebuah berita yang membuatnya girang sekali saat membacanya. Akhirnya setelah menunggu lama. Terakhir kali mereka menggelar konser saat ia masih di rumah sakit. Akhirnya yang dinanti tiba juga.


Kali ini ia bakal menagih janjinya Yusuf untuk menemaninya menonton konser itu. Ia tak peduli dengan apa yang dikatakan Yusuf nanti. Janji adalah hutang, harus dibayar saat waktunya itu.


Fitri segera masuk ke kamarnya yang dindingnya terpampang jelas poster berukuran lumayan besar bergambar artis kesukaannya itu untuk meluapkan kegirangannya itu. Entah kenapa di otaknya terlintas bayangan saat ia menonton konser itu sambil bersama menyanyikan lagu-lagu yang hampir setiap hari ia dengar lewat handphone nya.


***


Setelah menerima sebungkus sate, Yusuf segera melajukan kembali motornya itu sambil mencari tempat untuk makan satenya. Rasanya lebih enak makan ditempat saja sih, tidak perlu repot begitu. Cuma Yusuf terlalu gengsi untuk melakukannya.


Pilihannya sebenarnya di masjid, tapi pasti ramai orang disana apalagi waktu Dzuhur baru datang menyapa. Kalau pulang rumahnya jauh dari situ. Ada sedikit penyesalan dihatinya. Nyatanya keserakahan itu bukan suatu hal yang baik untuk dilakukan.


Karena tidak menemukan tempat makan yang pas, akhirnya ia berikan sebungkus sate itu kepada seorang pengemis yang kebetulan lewat didepannya. Setelah melakukan hal itu, entah mengapa ada rasa senang dihatinya . Sehabis memberikan makanan itu kepada pengemis, Yusuf segera bersiap untuk menunaikan sholat Dzuhur di masjid terdekat.

__ADS_1


__ADS_2