Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
39. Lamaran


__ADS_3

Pulang, Ilyas langsung mandi . Hari ini ia tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya. Rasanya entah mengapa ia merasa jadi orang yang tidak berguna. Sambil mandi, ia terus menyalahkan dirinya. Kejadian tadi tak ingin ia ulangi lagi.


"Yas, ikut enggak nanti aku diajak ikut lamaran temanku," begitu selesai Yusuf menawari Ilyas.


"Enggak lah. Enggak kenal juga aku, disana malah cuma jadi orang linglung doang . Beda ceritanya kalau Abang yang lamaran. Abang punya pacar enggak sih? Kok kayaknya aku enggak pernah lihat Abang jalan sama cewek," secara otomatis Ilyas berkata begitu .


"Punya sih pacar. Cuma ya males aja bilang-bilang ke kau. Lagian kalau jalan sama kan enggak mungkin ngajak kau juga," Yusuf tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ilyas.


"Ya aku juga males kalau diajak. Ya kali jadi obat nyamuk doang."


"Nah makanya aku enggak mau ngajak kau. Malam ini masak sendiri ya. Aku mau siap-siap makan rendang nanti."


"Siap bos. Masalah itu beres. Mau di masakin juga enggak?"


"Kan aku dah bilang mau makan rendang. Yang kau kenyang aja," Sambil merapikan setrika yang baru saja dipakai ia berkata.


"Abang enggak mau gitu ikut ngelamar pacarnya Abang kayak temennya Abang?" Sebuah kalimat yang disampaikan dengan santai kadang rasanya nyampai ke hati.


"Gampang kalau itu sih. Doain aja secepatnya," Yusuf kembali berkata saat ia sedang memakai kemeja yang ia setrika tadi.


Ilyas segera masuk kamar, dibantingnya tubuh itu ke kasur sambil memeluk bantal. Hari ini rasanya ia ingin tidur secepatnya agar besok bisa berangkat secepatnya. Sebelum menyelesaikan pekerjaannya ia tidak akan merasa puas.


"Nanti nongkrong yok. Kalau enggak tahu tempatnya nanti aku jemput, biar aku tahu rumahmu juga," terdengar suara Hasan menggema di telinganya. Kebetulan tadi saat akan pulang Hasan memberikan nomornya.


"Aku mau sih. Tapi aku pingin tidur cepat. Tau kan besok aku menyelesaikan memarut kelapa?" Ilyas berkata sejujurnya.

__ADS_1


"Kalau marutnya sekarang gimana? Kan udah hidup lampu. Nanti santannya ditaruh di kulkas," Nampaknya Hasan agak sedikit memaksa.


"Tapi jadinya kurang bagus sih, kurang seger gitu. Besok lagi aja lah," Hasan akhirnya memakluminya.


"Maaf ya. Lain kali aku janji," Ilyas kemudian menutup telponnya.


***


"Beneran lamaran nih," saat Yusuf melihat temannya ia berusaha membuat lelucon. Di rumah terlihat ramai orang , sepertinya mereka adalah anggota keluarganya karena temannya bilang hanya mengajak beberapa teman dekatnya saja.


"Iyalah, aku kan jantan. Enggak kayak kau, pacaran doang dinikahin enggak. Kalau enggak mau serius jangan diberi harapan palsu."


"Bentar lagi. Tungguin aja, aku pasti bakal nyusul kok," Yusuf berusaha sok keren dihadapan temannya itu padahal sebenarnya ia kena mental .


"Ku tungguin lho . Kayaknya mantap besok punya istri bareng-bareng punya anak bareng-bareng juga. Kayaknya mantap," Temannya itu berkata seenaknya saja menurut Yusuf .


"Ku tinggal dulu ya. Aku mau nyiapin barang yang mau dibawa ke tempat calonku nanti," segera ia langsung pergi.


Yusuf perasaan campur aduk. Disatu sisi ia senang melihat temannya bahagia tapi disatu sisi ia sedih juga melihat dirinya yang tidak ada kemajuan. Ingin rasanya secepatnya lamaran juga, tapi masalahnya masih tentang orangtuanya Fitri . Ia merasakan firasat yang buruk mengenai mereka.


Itulah yang mengganjalnya untuk berkomunikasi dengan pacarnya walaupun ingin. Besok saat konser musisi kesayangannya Fitri, ia bertekad untuk tidak bersikap ragu-ragu lagi. Kalau memang jodoh, walaupun ada halangan pasti tetap akan ada jalan untuk bersatu juga.


"Hei Suf , ngapa ngelamun?" Arif yang datang sedikit terlambat darinya langsung berkata begitu bertemu dengannya.


"Siapa yang ngelamun?"Yusuf mengelak .

__ADS_1


"Aku ada kabar gembira. Kau tau kan tukang pecel tempat kita makan dulu? Dia sekarang sudah resmi jadi pacarku. Rasanya pingin secepatnya membawa ke pelaminan," Semangat kali Arif bercerita.


"Wah selamat ya. Aku juga seneng mendengarnya, akhirnya temanku ini enggak jomblo lagi setelah sekian lama," Sambil menjabat tangan, Yusuf berkata sambil tersenyum lebar.


"Doain ya semoga langgeng."


"Pasti. Kapan kencan?"


"Mungkin malam Minggu besok. Kan biar kayak anak muda ,"


"Lah emang dah tua apa kau?"


"Ya belum sih, tapi kan maksudku bukan kayak gitu ."


***


Ilyas masih gelisah di kasurnya, matanya entah kenapa belum bisa terpejam. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar, mengambil sebungkus mie kemudian memasaknya. Walaupun kerja di rumah makan, bukan berarti ia bisa masak. Kadang pingin minta Yusuf ngajarin masak tapi rasanya masih agak malu untuk berkata.


Dituangnya mie yang sudah siap disajikan ke mangkuk kemudian segera ia makan . Saat sedang memakan ia berpikir bagaimananya rasanya tinggal di rumah sendirian selama bertahun-tahun. Pasti sepi banget. Walaupun bebas juga karena semua dilakukan sesukanya. Di satu sisi memang mantap, tapi pasti ada rasa sepi yang amat sangat.


Dia heran kenapa ya Yusuf betah sekali tinggal sendirian. Kalau Ilyas jadi Yusuf belum tentu ia mampu. Apalagi saat hujan deras ditambah petir, mati lampu pula. Ia sangat takut saat-saat seperti itu. Walaupun sudah terlelap pasti tetap akan terbangun juga. Selain itu mungkin bisalah diatur.


***


Setelah semuanya selesai, Yusuf segera bersiap naik mobil untuk menemani temannya yang akan melakukan lamaran. Sebenarnya ia lebih enak menaiki motornya, tapi dia dipaksa untuk ikut masuk mobil. Untung saja ia tidak mabuk saat menaiki kendaraan roda empat atau lebih.

__ADS_1


Barang bawaan yang dibawa oleh lelaki yang hendak melamar ternyata banyak sekali. Ada buah, kue bolu, dan panganan lainnya. Pasti ribet sekali untuk mempersiapkan segalanya. Tapi ya seberat apapun pasti bakal bisa dipersiapkan dengan baik.


Tapi ya lumayanlah , Yusuf melihat dengan teliti semua barang bawaannya. Biar besok kalau lamaran ia sudah tahu sehingga tidak susah untuk mempersiapkan segalanya dengan matang.


__ADS_2