Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
64. Air Mata Dalam Hujan


__ADS_3

Hujan makin deras, Yusuf yang masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia terima berhenti di sebuah jembatan. Ia terlihat sangat menyedihkan sekali. Dengan air mata yang terus mengalir ia berusaha mengeluarkan segala emosinya di balik suara hujan yang menenggelamkan suara yang lain.


Dibuangnya cincin yang hendak ia berikan kepada Fitri tadi . Malam itu rasanya ia tidak ingin hidup lagi. Suaranya yang menyedihkan memprotes takdir yang tuhan beri untuknya. Ia ingin menyusul keluarganya saja yang sudah tenang di alam lain. Pilihannya yang paling memungkinkan sekarang adalah bunuh diri. Ia ingin melupakan segalanya dengan terjun ke sungai yang airnya mulai naik.


Tapi ia enggan melakukannya. Kali ini bukan takut, tapi ia tidak ingin ibadahnya menjadi sia-sia. Mati konyol hanya karena cinta itu pilihan yang buruk , mati juga dia tidak akan pernah memilikinya lagi . Tapi ia juga bingung harus berbuat apa lagi. Harapan yang ia bangun setelah sekian lama harus kandas juga.


Harusnya waktu itu lebih baik usai saja hubungannya dengan Fitri waktu tahu bahwa ia anak orang kaya. Harusnya sejak awal sadar kalau dia itu tercipta bukan untuknya. Tapi kenapa? Kenapa ia mengabaikannya?


Entah mengapa disaat-saat yang menyedihkan setiap kenangan yang sangat manis terlintas dibenaknya. Otaknya dipenuhi oleh buaian manis sang cinta. Ingin rasanya amnesia saja.


Kenapa takdir tuhan itu aneh? orang yang ingin sekali menikah kenapa tidak dipermudah? Sedangkan mereka yang memburu kesenangan langsung mendapatkannya dengan mudah.

__ADS_1


"Aku minta maaf sekali lagi. Aku tidak menginginkannya sama sekali, tapi aku tidak mau menjadi anak durhaka," saat terakhir kali Fitri berkata begitu kepadanya terasa dunia benar-benar runtuh. Yusuf merasa bahwa ia menjadi orang paling menyedihkan di dunia ini.


Untuk kedua kalinya ia merasakannya. Rasanya tidak berubah, tetap sakit yang ia rasakan. Walaupun alasan yang sekarang tidak terlalu sakit karena ia sendiri tidak mengenal pria yang dijodohkan dengan Fitri. Tapi yang jelas pria itu adalah orang yang kaya juga. mana ada orang menjodohkan dengan orang miskin.


Kapan ya bisa menikah? Yusuf selalu memikirkan hal itu, lagipula ia juga sudah ingin sekali punya anak. Dia punya keinginan untuk punya anak sudah sejak lama. Dia sudah tidak ingin mengundur lagi. Lemas rasanya jika keinginan itu tidak terlaksana.


***


"Aku besok udah mau lamaran lho."


"Akhirnya aku bisa naik pelaminan juga."

__ADS_1


Beberapa contoh dari sekian banyak omongan yang di dengar oleh Yusuf membuat dadanya sangat sesak sekali. Kenapa mereka semua sepertinya sangat beruntung ya? Andai saja bisa, tapi apa mungkin?


Hujan mulai reda, Yusuf yang basah kuyup entah mengapa rasanya tidak ingin pulang. Ia ingin menuntaskan segala kesedihannya secepat mungkin tapi ia tidak tahu tempat untuk itu. Ingin rasanya menyewa seorang wanita atauoun meminum sesuatu yang bisa membuatnya melayang hingga langit ke tujuh untuk bisa melampiaskan rasa kecewanya, tapi itu bertentangan dengan prinsipnya.


Akhirnya dengan terpaksa dia pulang kerumahnya , berganti baju kemudian membanting tubuhnya ke kasur sambil memeluk bantal guling. Sebenarnya ingin juga memeluk Ilyas, tapi ia takut dibilang yang aneh-aneh. Sambil menangis dalam diam ia perlahan tertidur.


Di dalam mimpinya ia melihat dirinya sedang menikah dengan Fitri. Mereka duduk di atas pelaminan sambil memamerkan senyum. Sebuah hari yang benar-benar sempurna, walaupun hanya mimpi saja. Andai bisa menjadi nyata, Yusuf pasti senang sekali.


Di dalam mimpinya juga , ia melihat Fitri sedang mengandung anaknya, sesuatu yang benar-benar ia dambakan selama ini. Ia melihat dirinya sendiri sedang asyik membelai perutnya Fitri yang terlihat semakin membesar. Rasanya sangat bahagia sekali .


Impian selalu membuai setiap manusia. Tak jarang ia bisa membunuh manusia yang tak bisa mewujudkan mimpinya itu. Walaupun disisi lain ia adalah penyemangat manusia dalam menjalani kehidupan yang kejam.

__ADS_1


Saat Yusuf membuka matanya, seketika semuanya ambyar. Tak pernikahan, tak ada yang hamil, semuanya hanya khayalan. Yusuf duduk sambil memeluk lututnya. Wajahnya terlihat sangat depresi.


"Kenapa sih semuanya hancur? Apa aku enggak boleh bahagia? Kalau begitu untuk apa aku ada di dunia ini tuhan? Aku cuma ingin seperti orang lain, tapi kenapa susah sekali?" dengan suara yang pelan sekali ia berkata. Ia tidak ingin siapapun mendengarnya . Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di mata orang lain. Malam semakin larut, Yusuf tak bisa tidur lagi. Ia memandang ke depan dengan pandangan kosong sambil meratapi percintaannya yang tak mujur


__ADS_2