Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
59. Cinta Yang Bodoh


__ADS_3

Setelah minum obat sakit perut, Hasan segera menaruh beberapa Poto kenangan bersama mantan yang sempat ia cetak ke dalam kardus bekas mie instan. Sebenarnya rela tidak rela, tapi ia tidak ingin larut dalam kesedihan. Walaupun kecewa tapi yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi kecuali dalam keadaan terdesak.


Sebenarnya ia tahu mantannya itu waktu masih belum mencampakkannya terlihat mesra dengan seorang pria yang nampaknya ganteng kali dompetnya. Waktu itu sebenarnya ada rasa cemburu yang membuatnya galau walaupun ia sudah berusaha untuk berpikir positif. Memang cewek kalau lihat yang dompetnya tebal langsung klepek-klepek. Tidak salah dia bersikap begitu, walaupun tidak semua tapi banyak juga wanita yang sama dengannya.


Mereka makan disebuah restoran yang terbilang cukup mewah waktu itu. Sebenarnya Hasan tak ingin melihatnya, hanya saja dirinya kebetulan lewat tidak bisa untuk tidak melihatnya. Pingin melabrak tapi rasanya kurang pantas juga, dibiarin malah bikin hati panas. Hasan berusaha bersikap tidak tahu saja daripada menimbulkan masalah.


Walaupun sudah bersikap begitu tetap saja perpisahan tak bisa dihindari. Memang kalau bukan jodoh mau gimana juga bakal putus juga. Rasa tidak rela pasti tetap ada, hanya saja mungkin perpisahan adalah jalan terbaik. Walaupun sesedih apapun sekarang, nanti juga bakal dapat yang baru.


***


"Woy, perutmu masih sakit?" terdengar suara Riski di telpon. Hasan sebenarnya malas mengangkatnya. Hari ini ia tidak ingin berbicara dengan siapapun , karena Riski saja yang menelpon jadi ia angkat.


"Udah sedikit membaik . Tadi juga udah minum obat. Gimana kondisi rumah makan?"


"Aman terkendali. Kau enggak masuk si bos yang kerja gantiin kau."


"Seriusan? Biasanya sibuk itu orang," Hasan berkata setengah tidak percaya.


"Serius. Entah enggak tahu ketempelan setan apa sampai tumben mau gantiin kau. Tadi pagi habis kau bilang enggak datang terus aku nelpon bos, tumben kali responnya cepat kali. Katanya sih dia lagi pingin ngerjain sesuatu juga soalnya lagi bosan aja sama yang biasa ia lakukan."


"Wow, amazing."

__ADS_1


"Kau besok dah masuk kerja kan?"


"Kayaknya iya. Maaf ya hari ini aku lagi gak bisa datang soalnya lagi terluka jiwa raga."


"Lebay kali. Kau putus sama cewek?"


"Jangan kencang-kencang ngomongnya, malu kalau ada yang denger."


"Beneran putus berarti? Ngulah sih kau."


"Enggak. Dia yang mutusin aku, parah banget kan. Padahal dia selingkuh aku biarin, dia mau aku beliin, emang parah tuh cewek," Karena ia tidak bisa memberi alasan akhirnya diakuinya saja.


"Goblok banget sih lu, tau selingkuh masih di gas aja," tanggapannya Riski tidak seperti di bayangan Hasan. Entah mengapa kali ini dia malah marah-marah mendengarnya. Ternyata dibalik sosoknya yang kadang dingin, Riski punya sisi lain yang membuatnya tersentuh.


*Makan tuh cinta. Aku ngerti perasaanmu , tapi ya realistis dikit kan bisa . Jangan jadi goblok cuma karena kau cinta. Kalau dia nyuruh kau bunuh diri apa masih kau turutin?" walaupun pelan, nadanya terdengar seperti mengomeli seseorang.


"Biasanya kan enggak pernah kayak gini . Entah kenapa pas sama dia aku enggak nolak apa yang dia suruh."


"Lupain dia, mulai sekarang fokus aja kerja. Enggak penting kali ngurusin cewek ."


"Iya. Aku bodoh, lain kali aku enggak bakal kayak gini lagi deh ."

__ADS_1


"Terus aja ngomong gitu, dah sekarang kau istirahat aja dulu," Riski mematikan teleponnya. Nadanya terlihat kesal dengan Hasan. Walaupun bukan urusannya, tapi rasa kesal itu entah kenapa muncul sendiri di dada Riski saat mendengar cerita teman kerjanya itu. Tapi ya dia berpikir mungkin Hasan terkena pelet atau semacamnya, karena tidak biasanya ia menurut sekali dengan seorang wanita.


***


Api berkobar saat kardus yang berisi kenangan itu dibakar oleh Hasan setelah teleponnya dimatikan Riski. Sebenarnya berat untuk membayarnya saat mengingat hari-hari yang indah dulu. Canda tawa mereka saat dimabuk cinta rasanya ingin diulangi lagi. Saat menyalakan korek pun ia sebenarnya hampir tidak bisa melakukannya.


Yang dibakar kali ini tidak tanggung-tanggung, selain Poto ada juga baju couple yang pernah ia beli dulu. Hampir menangis dia melihat barang-barang yang menjadi saksi cintanya terbakar. Dia sebenarnya tidak benar-benar ingin membakarnya. Semuanya demi bisa melupakannya.


Ini kali kedua ia melakukannya, seingatnya dulu waktu ia berpacaran untuk pertama kali saat putus ia juga membakar kenangannya. Setelah itu, ia menjadi liar dengan wanita. Setelah sekitar berpacaran dengan 10 wanita ia melakukannya lagi. Setelah ini ia berharap tidak mendapatkan cinta dalam waktu dekat. Percuma juga pacaran kalau ujung-ujungnya putus. Padahal harapan setiap orang saat berpacaran adalah bisa langgeng sampai kapanpun juga dalam bahtera rumah tangga.


Sepertinya memang tujuan akhir setiap orang itu menikah , punya anak dan hidup bahagia. Hasan ingin juga seperti itu, ia sebenarnya sudah ingin punya anak sebenarnya diusianya sekarang. Ingin memberinya perhatian, kasih sayang dan juga kebahagiaan.


Sebenarnya apa yang diinginkannya itu sesuatu yang wajar, banyak yang menikah muda dan hidup mereka bahagia. Itu yang dilihatnya dari beberapa temannya yang nikah muda karena berbagai alasan, hidup mereka senang-senang saja nampaknya. Mungkin ada sedikit masalah, tapi nampaknya itu tidak berpengaruh dalam kehidupan mereka.


Lagipula dipikir enak juga bisa berhubungan intim tanpa perlu takut ketahuan. Katanya orang-orang nikmat, Hasan kadang penasaran juga rasanya. Ia ingin membuktikan sendiri bagaimana rasanya.


Hujan deras muncul tiba-tiba memadamkan api yang berkobar . Terlihat masih ada sisa-sisa kenangan yang belum terbakar . Nampaknya hujan tahu, bahwa ia masih belum rela untuk kehilangannya. Ia masih ingin mengulang hari-hari penuh canda yang pernah dilaluinya dulu.


Walaupun begitu ia senang juga melihat Riski bisa punya rasa peduli juga. Biasanya kan dia kalau ngomong sekalian nyari ribut juga. Ternyata dia kalau lagi serius mantap juga.


Daripada sibuk memikirkan kenangan yang belum sepenuhnya terbakar, Hasan bergegas membuat sarapan. Ditengah hujan deras yang turun tiba-tiba , Hasan merebus mie instan , dia pikir sepertinya enak juga makan sesuatu yang hangat ditengah hujan yang membawa hawa dingin. Rasanya pasti nikmat sekali.

__ADS_1


Tapi sepertinya realita tidak seindah ekpektasi. Saat sedang merebus mie, kompor gasnya mati. Rupanya gas yang digunakan untuk memasak sudah habis disaat mie nya belum matang. Terpaksa ia makan mie setengah matang, rasanya kurang memuaskan. Mau gimana lagi, warung jauh hujan juga. Mau masak sesuai ekspektasi mana bisa. Esok ia bertekad untuk membeli tabung gas satu lagi untuk cadangan biar kalau yang satu habis masih bisa masak tanpa perlu memikirkan tabung gas yang isinya sudah habis.


__ADS_2