
Hai sayang , good morning ya. Kapan nih ketemuan lagi? Aku kangen sama kamu.
Sebenarnya Yusuf tidak ada punya pikiran sama sekali untuk mengirimi Fitri pesan . Tapi pagi itu sebelum berangkat kerja tangannya secara otomatis mengetik. Dia sendiri bahkan seperti terhipnotis, begitu sadar pesan itu telah sampai kepada orang tersayang. Ia sebenarnya ingin menghapus saja pesan itu, tapi tak jadi. Lagian kalau di hapus malah jadi masalah serius lagi. Jadi dibiarin saja pesan itu terbaca. Lagian bukan sesuatu yang memalukan juga.
Sejak malam kencan dengannya kemarin malam, Yusuf agak canggung untuk menelpon atau sekedar berkirim pesan. Padahal malam itu seharusnya menjadi malam yang terindah karena menurutnya itu adalah waktu yang tepat untuk menyatakan keseriusannya. Tapi ternyata ekspektasi tak sesuai realita. Namun ada satu yang ia sadari, rasa ragu yang sangat besar dalam dirinya harus dihapuskan . Jika tidak, maka untuk selamanya ia tidak akan menemukan pasangan yang bisa diajak hidup bersama hingga maut memisahkan.
Ia hanya ingin kisah cinta yang menurutnya biasa saja, menikah punya anak dan bahagia selamanya walaupun ia sendiri bukan pangeran. Ia dulu pernah waktu kecil mengkhayal menjadi pangeran yang menjemput permaisuri soalnya, impian yang sudah lama hilang itu tiba-tiba saja muncul dalam otaknya. Rasanya senang sekali ya andai bisa mengulang masa yang pernah lewat kecuali sunat. Kalau masalah sunat menurutnya satu kali seumur hidup sudah lebih dari cukup. Dari semua pengalamannya, cuma satu itu saja yang tidak ingin diulangi lagi.
Walaupun menyenangkan juga sih saat itu. Saat dimana dirinya menjadi seperti raja walaupun harus menanggung rasa nyeri juga. Tapi dulu katanya rasanya cuma seperti di gigit semut, bilangnya tidak sakit sama sekali , taunya. Cuma ya enaknya semuanya keinginan tinggal bilang saja dalam sekejap langsung tersedia tanpa perlu bersusah-payah.
Pagi juga, kira-kira kapan ya kamu bisanya. Kalau nanti malam?
Baru juga ditinggal sarapan bentar , yang disana sudah membalas juga. Nanti malam ya? Mau mengajak dia kemana? Yusuf sendiri tidak punya tempat untuk mengajak kesayangannya kencan.
__ADS_1
Oke, siap . Nanti malam aku bisa.
Yusuf asal jawab saja. Lagian memang lebih baik jika lebih cepat bertemu kan? Itu lah pertimbangannya. Walaupun bayang-bayang mimpi kemarin belum hilang dari ingatannya, tapi ya dia tetap nekat saja walaupun bakal terluka pada saatnya nanti. Masalah itu sih belakangan, yang penting bisa cinta-cintaan dulu.
Oke, kalau ada apa-apa kabarin aku ya
Terlihat balasan dari Fitri. Kalau masalah itu sih gampang, tapi ia tetap berharap tidak apa-apa nantinya. Semoga di kencan yang akan dia lalui nanti malam , Yusuf memberikan cincin yang tidak jadi ia berikan di malam itu .
Siap bos!
***
Aku tak mau jikalau aku dimadu
__ADS_1
pulangkan saja ke rumah orang tuaku
baru saja kau berada sudah mau kawin lagi
Berbeda sekali dengan Yusuf merasa senang, ditempat lain terdengar suara sumbang sedang bernyanyi lagu yang tidak dimengerti oleh Ilyas sendiri. Ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai lagu yang sedang dinyanyikan oleh Riski sambil memukul salah satu baskom yang baru selesai dicucinya.
Suaranya yang lumayan sumbang terdengar hingga ke tempatnya memanggang ikan nila yang menjadi salah satu makanan terlaris ditempatnya ia bekerja. Entah apa yang merasukinya sehingga melakukan sikap yang aneh seperti itu. Ingin bertanya, tapi dirinya lagi malas untuk menanyakannya.
Nampaknya Riski sedang menggalau karena tidak ada teman sekaligus musuhnya, siapa lagi kalau bukan Hasan. Dia tadi secara tiba-tiba mengabari kalau dia tidak bisa datang karena perutnya rasanya benar-benar sakit. Rasanya seperti hampir meninggal, katanya lewat telpon. Lebay bener, salah sendiri makan bakso lava yang jelas tidak cocok untuk perutnya.
Padahal sudah dibilang, masih aja ngeyel. Emang parah , ingin sekali Ilyas kasihan padanya walaupun di satu sisi ingin menertawakannya juga sih. Siapa suruh makan itu bakso, dan yang parah menurut Ilyas adalah ia dijadikan tumbal buat menghabiskan bakso lava yang tersisa di mangkuk. Lagian masalah cewek lemah kali, playboy cap teri memang.
Hari ini Hasan tidak masuk, tapi sebagai gantinya bos yang menggantikan dia sementara. Setelah berhari-hari kerja, akhirnya ada kesempatan juga buat ngobrol sama bos. Sesekali ngobrol sama bos kan tidak salah asal tidak untuk cari muka. Walaupun kadang yang tulus malah bernasib tidak baik juga, contohnya yang paling baru itu kasus oknum polisi yang menembak bawahannya sendiri, padahal hubungan mereka sudah seperti keluarga. Ilyas ngeri sendiri mendengarnya, ia berharap semoga kejadian itu tidak terjadi juga padanya.
__ADS_1
Sambil memanggang, sesekali Ilyas melihat Riski yang nampak khawatir dengan sahabat yang bisa jadi musuh itu. Terdengar suara ia menanyakan kabar Hasan lewat telpon serta memberitahu bahwa yang menggantikannya adalah bos yang munculnya cuma sesekali. Ibarat film dia hanya numpang lewat saja, tidak lebih dari itu.